
Abel memasuki sebuah restoran yang bisa di bilang mewah dan mengharuskan bagi pengunjung untuk terlebih dulu reservasi sebelum datang karena kalau tidak, bisa di pastikan pengunjung tersebut tak di perbolehkan untuk masuk dan merasakan hidangan yang ada.
Sebuah lambaian tangan terlihat saat Abel mengedarkan padangan mencari seorang laki-laki yang sudah janjian dengannya. Laki-laki tersebut juga yang mengusulkan tempat itu untuk membahas mengenai bisnis.
"Maaf apa kau menunggu lama ?". Tanyanya saat duduk di hadapan Steve, dan mereka duduk berhadapan layaknya orang kencan karena tak membawa sekertarisnya masing-masing.
"Tidak aku juga baru sampai". Keduanya langsung membahas pekerjaan hingga selesai dan Steve ternyata sudah memesankan makanan untuk mereka agar bisa di santap setelah selesai membahas pekerjaan.
Hanya dentingan garpu dan juga pisau yang terdengar disana karena mereka diam. Tidak tau apa yang harus di bicarakan akibat masa lalu dan canggung dengan kejadian yang tidak terlupakan dan sangat mempengaruhi kondisi sekarang.
"Apa kau datang sendiri tadi ?". Tanya Steve memecah keheningan diantara keduanya karena kesunyian sangatlah membuat tidak nyaman mengingat keduanya pernah kenal dan Steve pernah memiliki perasaan kepada Abel meskipun tak terbalas.
"Iya aku kesini sendiri". Jawabnya singkat dan mereka memakan makanannya sejenak dengan damai sebelum steve kembali melontarakan pertanyaan.
"Apa kau sudah punya pacar atau mungkin suami ?". Abel terkejut dengan pertanyaan Steve namun ia lebih di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang amat ia kenal bahkan Abel tak menyangka kalau orang itu berada disini.
Orang itu tak lain adalah Excel yang berjalan dengan dua orang lelaki yang mengapitnya di sebelah kanan juga kiri layaknya orang penting karena mereka bertiga sama-sama memakai setelan kerja lengkap dengan jas dan dasi.
"Kenapa dia disini ? Apa dia mengikutiku lagi ?". Abel tak bisa memalingkan pandangannya dari Excel yang ia sadari juga melihatnya dari sana dengan tatapan yang tak bisa ia baca. Namun ia menghela nafas lega karena walaupun Excel melihatnya tapi lelaki itu tak menghampiri.
"Abel ?". Tanya Steve karena pertanyaan Abel tak di jawab bahkan gadis itu sepertinya tak fokus dengan pertanyaanya dan malah melihat yang lain.
"I..iya aku belum punya pacar ataupun suami". Jawab Abel agak ragi disertai rasa malu, pasalnya dulu Abel menolak cinta Steve tapi pada akhirnya ia tak bersama dengan siapapun, tentu malunya menjadi berlipat, bahkan mungkin jika Steve ingin menertawainya Abel akan mempersilahkan.
__ADS_1
"Steve permisi aku mau ke toilet". Abel beranjak dari duduknya pergi ke toilet nyang berada di restoran tersebut guna menetralkan suasana hatinya yang agak kacau drngan kecanggungan yang luar biasa memakan energinya walau ia sendiri sedang makan.
Tapi obrolan tadi membuat makanan yang ia makan layaknya sayur tanpa garam karena terasa hambar dengan situasi yang menegangkan layaknya bermain jet coaster. Untuk itu ia sejenak menghindari Steve.
Namun langkahnya terhenti saat tangannya terasa ada yang memegang dengan kuat bahkan ia ditarik hingga berbalik menubruk seseorang di belakang cukup keras. Abel mendongak untuk mengetahui siapa orangbyangbtelah beraninkurang ajar menarik tangannya seperti itu.
Dan ketika mengetahui siapa pelakunya entah kenapa ia sudah tak terkejut, mungkin karena Abel sudah biasa di tarik seperti itu oleh Excel seenak hati. "Apa-apaan kau itu ?".
"Siapa laki-laki tadi ? Dan untuk apa kalian hanya berdua disini ?" Tanpa menghiraukan pertanyaan yang lebih dulu di lontarkan oleh Abel, ternyata Excel menjawabnya dengan Pertanyaan juga.
"Bukan urusanmu dan kau jangan ikut campur, lagipula ini tempat umum jadi aku bebas kesini dengan siapa saja". Abel kesal dan melipat tangannya yang sudah terlepas dari genggaman Excel tadi.
"Asal kau tau kalau restoran ini baru saja ku beli jado aku bebas melakukan apapun kepada siapapun karena restoran ini milikku". Tegasnya dan itu mampu membuat Avel terperangah drngan kata yang baru saja Excel ucapkan.
Tapi ia enggan untuk menanggapi karena harus segera kembali mengingat jika Steve masih menunggunya disana dan mencuhkan Excel tapi sepertinya lelaki itu tak suka diacuhkan dan malah melangkah lebih dekat dengan Abel hingga mengikis jarak diantara keduanya.
Abel menahan Excel dengan cara mendorong dada lelaki itu agar menjauh darinya namun karena tenaga mereka yangbtak sebanding membuat lelaki itu dengan mudahnya menyingkirkan tangan Abel dan mendaratkan bibirnya hingga bibir mereka saling tertaut.
Abel mendorong Excel dengan kedua tangannya sekuat tenaga namun itu semua sia-sia bahkan rasanya ia merutuki dirinya sendiri yangbtak mampu melawan dan Excel yang semakin menjelajahi mulutnya hingga ciuman mereka terlepas.
Keduanya terengah-engah mencoba meraup okesigen sebanyak mungkin setelah ciuman keduanya terlepas dan mereka salin memandang walau pandangan mereka memiliki atri yang berdeda, jika Excel merasa senang maka Abel sebaliknya memberikan tatapan tajam.
Belum lama mereka menghirup okesigen lebih banyak, Excel dengan segera menarik tangan Abel menjauh dari tempatnya berdiri hingga gadia itu agak kesulitan berjalan karena langkah Excel yang lebar.
__ADS_1
"Kau mau bawa aki kemana ?, lepaskan tanganku !!". Excel sejenak melihat ke belakang namun enggan untuk melepaskan tangannya dari lengan Abel.
"Kita akan pulang". Jawabnya.
"Lalu bagaimana dengan Steve ?".
"Aku tidak peduli".
Excel sampai di depan mobilnya dan membuka pintu untuk Abel namun ia sedikit kasar lantaran Abel yang berusaha untuk lepas darinya. Tentu Excel tak membiarkan Abel untuk kembali dan menemui lelaki yang ia lihat tadi.
Kini Abel hanya bisa menghela nafas pasrah saat mobil telah di kunci dan mulai membelah jalanan menjauhi restoran. Abel melihat ke belakang di mana restoran itu semakin tak terlihat seiring dengan laju mobil yang semakin menjauh. Kalau begini ia hanya bisa menghubungi Steve kalau dirinya pulang lebih dulu.
*****
Seseorang turun dari mobil dengan langkah pasti masuk ke dalam sebuah kafe yangbtak terlalu ramai namun sangat nyaman dengan suasana yang begitu memanjakan mata. Bahkan restoran tersebut lengkap dengan air mancur di depan yang memperlihatkan jika tema yang di suguhkan adalah keindahan alam.
"Aku kesini memastikan apakah besok acaranya bisa maksimal ?". Tanya lelaki itu yang tak lain adalah Excel kepada manajer yang mengurus segala sesuatu yang di butuhkan restoran termasuk juga pesanan Excel mengenai sebuah kejutan yang ia persiapkan untuk Abel.
Ia sengaja mengecek apa yang diinginkan kepada manajer restoran satu hari sebelum kejutan itu ia berikan kepada Abel dan lokasi kejutannya adalah di kafe tersebut. Dengan suasana yang mengusung konsep alam tentu Excel yakin jika Abel akan suka.
"Tentu tuan semua sudah disipkan, besok saya sendiri yang akan memastikan kalau semuanya berjalan sesuai rencana dan tanpa ada kesalahan sekecil apapun". Manager itu berusaha semaksimal mungkin karena ini adalah acara khusus yang di inginkan oleh Excel selaku oemilik restoran yang baru untuk melamar seorang gadis.
Dan jika semua berjalan dengan lancar tentu tak hanya pujian yang di berikan untuk sang manajer tapi juga dengan bonus yang tak sedikit tentunya jika semua berjalan lancar dan Abel menerima permohonanya, karena permohonan Excel adalah untuk meminta Abel agar mau menikah dengannya.
__ADS_1
Excel emngeliarkan cincin yang sudah ia beli jauh hari untuk hari besok dan ia yakin semuanya perjuangannya akan berakhir dengan manis dan Abel akan menerimanya karena Excel percaya jika rasa yang Abel miliki kepadanya dulu belum hilang sampai sekarang walau Abel tak mau mengakuinya.
"Abel bersabarlah sebentar lagi, besok aku akan melamarmu".