Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Lambe Ndower Netizen


__ADS_3

Sinar matahari masuk melalui celah kaca jendela yang tertutup gorden, dan sinar tersebut mampu membuat Abel terbangun dari tidur lelapnya setelah semalaman berolah raga dan berusaha menjinakkan ular. Yang nyatanya pertempuran tersebut di menangkan oleh ular dan ia berhasil lemas oleh semburan bisa.


Abek masih enggan untuk terbangun, namun matanya sudah tak bisa terpejam dan memilih untuk melihat lelaki yang tengah terlelap dalam mimpi. Ia masih belum terbiasa tidur dengan Excel, apalagi sedari kecil Abel sudah mempunyai kamar dan tidur sendiri.


Ia tersenyum saat mengingat kejadian tadi malam dan satupun hadiah dari keluarganya tak ada yang di gunakan. Baik baju zirah dari mami Rita dan juga perisai balon yang cara pakainya tidak perlu di tiup dari Alvin. Namun yang masih menjadi misteri adalah pil dari papi Jimmy. Ingin bertanya kepada Excel tapi laki-laki itu masih terlelap, ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk beranjak mandi.


CUP


Satu kecupan singkat Abel berikan di pipi Excel yang masih tertutup. "Good morning my hubby". Bisiknya dan ia sadar kalau Excel tak bisa mendengar, tapi ia yakin Excel masih bisa merasakan cintanya pagi ini.


Setelah selesai mandi dan masih berbalut handuk di tubuhnya, Abel mencari pakaian yang ia lupa untuk bawa ke kamar. Tapi fikirannya terlintas drakor yang biasa dirinya tonton bersama Felly, jadi ia ingin seperti adegan di drakor tersebut.


Gorden terlah di buka semua hingga sinar matahari bisa leluasa masuk dan menyinari seluruh isi kamar. Bahkan sinar tersebut mampu membangunkan Excel yang sebelumnya terlelap. Ia meraba ke samping dan mencoba membuka matanya menyadari Abel yang tidak ada, namun suara kosmetik yang berbenturan dengan meja membuat perhatiannya teralihkan.


"Selamat pagi". Ucapan selamat pagi Abel berukan disertai dengan senyuman manisnya dari bibirnya yang terolesi lipstik merah. Abel mendekat ke arah Excel yang sudah duduk namun dada polosnya terlihat karena semalam belum memakai pakaian.


"Kok kamu udah cantik aja ?". Excel ikut tersenyum dan membelai pipi Abel yang terdapat semburat merahnya, ia menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi pipi cantiknya. Namun merasa ada yang janggal dengan pakaian Abel yang terlihat kedodoran.


"Kok kayak pakaianku ya ?". Excel mengamati kemeja lengan panjang itu dengan baik, mirip sekali dengan kemeja yang ia beli tempo hari, bahkan warnanya juga sama.


"Emang ini kemejanya kak Excel, aku pinjam soalnya biar kayak drakor gitu kak". Abel tersenyum namun dalam hatinya khawatir jika Excel akan marah, bahkan Excel tak mengatakan apapun dan masih melihatinya seperti itu. Ia jadi menyesal meniru adegan di drakor.


"Kamu niat mau godain aku ya". Excel menyentuh bagian paha Abel yang lebih besar dari paha ayam tersebut, hanya menggunakan hotpants yang tenggelam akan panjangnya kemeja Excel bahkan seperti tak memakai celana.


"Ih nggak". Jawabnya spontan, hanya meniru saja yang ada di drakor tapi bukan untuk menggoda Excel, apalagi sampai lelaki itu meminta tambah yang ada ia tak bisa jalan. "Kak kita jalan yuk dari pada dikamar terus".


"Aku malah kepingin naik ke puncak gunung". Abel mengernyit, namun saat Excel menunjuk kancing tengahnya, ia mengerti. "Kak Excel mesum".


"Mesum sama istri sendiri kan nggak ada yang larang". Jawabnya dengan kekehan, tak menyangka hal yang pertama kali akan di lakukan di pagi setelah menikah adalah menggoda Abel, dan ternyata sangat menyenangkan.


Abel sangat kesal dan mencoba mengalihkan perhatian, ia melihat hp yang berada di atas nakas dan diambilnya. Ingin mengumbar kemesraan mereka berdua dan mengabadikannya agar saat mereka sudah lama menikah nanti bisa di lihat dan dikenang.

__ADS_1


"Kak Foto dulu yuk". Abel mengarahkan hp agak tinggi namun Excel belum siap.


"Bentar aku pakai baju dulu". Ia mengambil bajunya yang berserakan di bawah dan setelah selesai ikut tersenyum sembari satu tangannya melingkar memeluk Abel dari samping tetapi mukanya menghadap kamera.


"Ganti gaya kak". Abel mengarahkan Excel agar jadi telunjuk dan ibu jarinya menyatu membentuk hati, namun Excel tak mengerti akan maksud lambang itu.


"Ini gaya apa ? Ngitung diut ?". Tanyanya dan masih lekat memandang kedua jarinya. Cukup banyak foto yang mereka ambil hingga Abel terfikirkan untuk mengambil salah satu kado dan ia melihat obat yang papi berikan sebagai dalah satu contoh.


"Kita foto pakai ini kak".


Mata Excel mmebulat hingga hampir meloncat dari tempatnya, tersenyum miris melihat botol obat lucknut pemberian sang papi yang berada di tangan Abel dan dengan senangnya berfoto ria. "Sayang mending jangan foto sama kadonya papi, mending sama kado yang lain aja".


"Kan aku pengin foto sama kado pemberian mertuaku kak, masa ganti pakai kado dari mami kan malu, mending foto pakai kado dari papi Jimmy". Abel sedikit kesal padahal ia ingin mengabadikan pagi pertama dengan Excel dan juga kado yang di dapat dari mertuanya.


"Udah yuk foto, tangan kak Excel kayak yang tadi". Abel kembali mengarahkan hp-nya dan banyak mengambil gambar berserta obat yang papi Jimmy berikan, tak lupa dengan merek yang sengaja ia arahkan ke kamera, juga Excel yang mau tak mau ikut berfoto dengan jari berbentuk hati tapi hatinya sendiri meringis.


"Kak gambarnya bagus, upload ke instagram ah".


"Yaudah aku mandi aja ya, biar seger". Excel beranjak dengan tubuh lemas, bukah karena masih lelah tapi karena melihat galeri sosial media milik Abel yang kini bertambah dengan adanya foto pil yang hendak ia singkirkan karena ternyata sangat membawa bencana.


Tak terlalu lama bagi Excel membersihkan diri, hanya butuh waktu 10 menit dan ia sudah keluar dengan kepala yang masih basah dan ia keringkan dengan handuk. Excel mengambil sisir untuk merapikan rambutnya, namun tiba-tiba....


Aaaaaa


Suara jeritan Abel membuatnya terkejut dan sisirnya menjadi jatuh, segera ia mendekati Abel yang masih duduk diatas ranjang namun hp-nya terlempar ke bawah. Untung tidak sampai pecah.


"Ada apa ? Katakan padaku ?". Excel khawatir padahal beberapa detik yang lalu Abel masih baik-baik saja dengan hp-nya dan sekarang benda pipih itu tergeletak di bawah.


"Kok kak Excel nggak bilang ?". Excel masih mencerna ucapan Abel yang tak jelas, bahkan gadis itu memberikan tatapan kesal padahal ia tak merasa melakukan hal yang salah. Abel memungut hp-nya di lantai dan memperlihatkan layar yang masih menyala. "Nih baca komennya".


Excel mengambil alih hp tersebut dan membaca komen pada postingan Abel. Cukup banyak bahkan mencapai ratusan.

__ADS_1


Netizen 1 : Wah habis pakai obat kuat tuh, gimana kuat dan besar nggak punya si paksu ?.


Netizen 2 : Sekarang endors obat gituan ya, pasti tiap malam kuda-kudaan terus, asyik ya celap-celup.


Netizen 3 : gimana rasanya, kalau emang beneran kuat dan besar gue mau coba tau aja bini suka ?.


Netizen 4 : Nyimak.


Netizen 5 : Harganya berapa ? Mau beli biar si pisang kepok gue jadi pisang tanduk.


Netizen 6 : Belinya dimana ?.


Excel mengalihkan pandangannya ke Abel yang menatapnya dengan tatapan nyalang, ia meneguk salivanya dengan sukar. Tak berani bersuara namun dalam hati bergumam. "Matilah aku".


.



.


.


.


.


.


.


Kaca mata mana 🙈🙈🙈

__ADS_1


Dosaku bertambah 😭😭😭


__ADS_2