
Suara dari seseorang di dalam sana membuat semuanya menoleh, terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar dan mengejutkan mereka akan kehadirannya. Dan saat menampakkan diri seketika raut wajah Abel terlihat kecewa.
Ia fikir jika itu adalah Excel tapi nyatanya tidak karena Excel masih berada di luar negeri. Mungkin dirinya terlalu merindukan lelaki itu sampai mengharapkan kehadirannya. Karena yang keluar adalah Andre, bukannya ia tidak senang kalau Andre datang hanya saja yang ada di fikiran Abel saat ini adalah Excel.
"Udah sehat lo ?". Tanya Andre saat melihat Abel dengan kondisi baik seperti sedia kala, namun anehnya raut wajah adiknya itu terlihat sendu. "Kayaknya udah baik tapi kok lu malah murung ? ".
"Nggak apa-apa kak aku cuma lelah". Abel berusaha untuk tersenyum namun yang keluar hanyalah senyuman yang di paksa.
Andre mendekat dan mencubit pipi Abel lumayan kencang. "Ini di buat dari plastik bukan ?".
"Iya plastik gorengan kak Andre kemarin". Jawabnya kesal dan menyingkirkan tangan Andre dari wajahnya.
"Berminyak dong".
"Nyebelin banget sih". Kesalnya, namun suara tertawa Alvin sangat keras hingga membuat Abel kembali kesal.
Semua anggota keluarga kini memasuki rumah yang sudah kembali ramai dengan kehadiran mama Dina dan juga Abel. Mereka terlebih dulu duduk di ruang keluarga, sejenak untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah. Dan bi Asih langsung sigap membawakan minuman untuk atasannya.
"Bibi ikut senang non udah sembuh, kangen bibi nggak ada non dirumah". Kata bi Asih setelah menaruh gelas minuman dan melihat kondisi Abel seperti sedia kala sebelum terjadinya ledakan yang menimpa Abel. Sempat berfikir apakah jika bibi yang berada di dapur maka dirinya yang akan terkena ledakan.
"Iya bi aku juga kangen bi Asih". Jawabnya senang namun tetap kurang semangat.
"Kayaknya aku dilupakan ?". Seruan dari arah luar membuat mereka menoleh, terkejut akan kehadiran tamu yang tak diundang namun di harapkan kehadirannya. Senyuman lelaki itu menghiasi wajahnya dan pandangan matanya bertemu dengan Abel, bahkan keduanya saling memandang dan enggan menoleh ke arah lain.
"Kak Excel". Abel beranjak dari duduknya dan berhambur memeluk lelaki itu, rasa rindu karena tidak bisa bertemu membuatnya ingin menangis meluapkan segala perasaan yang terpendam, ia lengkap dengan berdua dan merasa kurang jika salah satunya tidak ada. "Aku kangen banget".
"Aku juga". Excel mengeratkan pelukannya ke Abel, tak jauh berbeda rasa rindu yang ia rasakan saat dirinya ingin bersama namun keadaan memisahkan keduanya. Hingga harus bersabar dan saat keadaan kembali seperti semula maka barulah ia bisa menemui Abel.
Abel dan Excel saling berpelukan dan melupakan keberadaan semua yang ada disana hingga mereka menjadi tontonan keluarganya Abel. "EHEM". Papa Rey berdehem, barulah mereka sadar dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kasihanilah jomblo ya Tuhan, kenapa gue di kasih lihat adegan berpelukan ala Teletubbies". Alvin mengambil satu buah Abel yang berada di meja dan ia makan dengan kesal sambil menatap Abel dan Excel dengan tatapan micing.
Tak jauh berbeda dengan papa Rey yang melipat tangannya di atas perut, ia kesal karena sebagai kepala keluarga tak dihargai dan seenaknya berpelukan. Memperlihatkan adegan mersa tanpa tau tempat dan tata krama.
"Kalian duduk". Seketika Abel dan Excel menunduk seraya menurut arahan papa Rey untuk duduk diam, Excel lupa jika menyangkut Abel maka papa Rey akan segalak singa yang melindungi anaknya.
"Apa urusanmu di US sudah selesai ?". Tanya sang papa, masih memperlihatkan kewibawaan serta ketegasannya. Papa Rey ingin memastikan sesuatu dan kini kebetulan Excel sudah pulang jadi ia ingin semuanya jelas.
"Sudah pa bahkan rencananya aku mau langsung menemui Abel di Thailand tapi untung saja aku lebih dulu menelfon dokter dan dokter mengatakan kalau Abel pulang hari ini, jadi aku langsung kemari".
"Sebenarnya aku ingin menanyakan soal pernikahan kepadamu, harusnya pernikahan sudah di langsungkan beberapa hari yang lalu tapi karena kejadian di luar dugaan, kita harus mengundurnya dan Abel sudah sembuh, kau juga sudah kembali maka kita bisa membahas pernikahan ini lagi".
Semua yang ada di sana diam, mendengarkan penuturan papa Rey yang tiba-tiba membahas pernikahan. Hanya papa Rey dan juga Excel yang berbicara dan setelah melakukan kesepakan jika pernikahan akan di langsungkan 1 minggu lagi, maka Excel akan memberitahukan kepada orangtuanya.
Seharusnya ada kedua orangtuanya Excel namun karena papi Jimmy masih berada di luar negeri dan baru pulang besok maka Excel meyakinkan kalau cukup dirinya yang membahas pernikahan lalu nanti akan mengatakannya kepada papi Jimmy dan mami Rita. Ia rasa orangtuanya tidak akan keberatan, lagipula pernikahan memang harusnya di langsungkan beberapa hari yang lalu tapi karena kondisi Abel jadi diundur.
Saat ini Abel dan juga Excel kembali mempersiapkan apa yang di butuh untuk pernikahan mereka yang sempat diundur, dari mulai undangan yang kembali di kirim, hotel, juga WO yang mulai di persiapkan kembali. Orangtuanya Excel sudah di beritahu dan mereka setuju saja dengan keputusan itu.
Untuk baju pengantin keduanya dan juga cincin sudah lama siap dan tidak ada masalah. Setelah seharian mereka sibuk dan kini semua selesai, tinggal dilangsungkan saja dan menunggu hari H.
"Kita langsung pulang aja ya, aku anterin kamu ?". Excel merasa lelah, ia butuh istirahat karena semuanya persiapan yang ia lakukan tidaklah sederhana. Apalagi dengan pekerjaannya yang juga membuatnya sibuk akhir-akhir ini.
"Iya aku juga capek".
Mobil melaju dengan tujuan rumahnya Abel namun saat disana, Abel merasa heran dengan adanya mobil yang ia kenali sudah terparkir disana. Bahkan mesin mobilnya masih menyala, itu tandanya si pemilik masih di dalam.
Abel keluar dari mobil begitu juga dengan anak kecil yang saat melihatnya langsung berhambur memeluknya. "Tante aku kangen". Ujarnya seraya memeluk kaki Abel karena tingginya yang tak sama.
Abel mensejajarkan tingginya dan balas memeluk keponakannya yang tempo hari mengatainya monster, tapi ia mengerti jika itu hanyalah perkataan anak kecil yang tak tau apapun dan tak tau jika itu dirinya. "Tante juga kangen sama kamu".
__ADS_1
"Baru datang malah peluk-peluk ?". Ujar Andre saat melihat kedekatan anakanya dengan Abel. "Gara-gara insiden tempo hari, dia katanya takut nggak mau kesini lagi, ini aja tadi aku paksa".
"Iya tante, dikamar tante ada monster besar tapi suaranya kayak tante, aku takut banget".
Abel mengedarkan pandangan saat menyadari jika disana kurang satu orang. "Kakak ipar nggak iku kak ?". Tanyanya.
"Nggak, tau sendiri kan dia lagi hamil jadi aku larang terlalu sering bepergian, ini aja nanti cuma sebentar untuk menjengukmu".
Mama Dina keluar dan melihat semuanya yang berkumpul disana. Ia menyarankan agar melanjutkan perbincangan di dalam rumah saja, apalagi cuaca masih panas dan sinar matahari menerpa wajah mereka hingga agak silau.
"Terus gimana waktu ketemu monsternya ?". Lanjut Abel saat mereka berempat telah masuk rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
"Aku lari tante cari ayah sama bunda, monsternya serem banget". Ujarnya seraya mempraktikkan kedua tangan yang ia gunakan untuk menutup wajah seperti halnya saat melihat Abel sebelum di oprasi.
Lalu mereka minus es jus yang bi Asih sediakan dan terasa snagat menyejukkan saat melewati tenggorokan. Dahaga mereka seakan hilang seketika, namun tiba-tiba baju Andre di tarik ringan oleh anaknya. "Ayah aku pengin pipis, anterin".
"Yaudah ayo ayah anterin". Sebenarnya anaknya Andre tau di mana letak toilet bahkan di rumah bocah itu sudah bisa pipis sendiri, tapi di karenakan masih ada perasaan takut karena melihat Abel dulu, membuatnya tak berani dan minta di temani.
Selepas kepergian Andre dan anaknya, baik Abel dan Excel masih memandang kepergian bocah itu sampai benar-benar menghilang. Excel menoleh ke arah Abel seraya tersenyum hingga Abel heran akan senyumannya tersebut. "Ada apa sih kak kok senyum terus ?".
"Anaknya Andre lucu ya ?".
"Namanya juga anak kecil ya pasti lucu semua". Ujarnya tanpa mengerti maksud Excel sebenarnya.
Entah mengapa setelah melihat anaknya Andre, timbul perasaan iri dan juga ingin memiliki anak yang lucu dan menggemaskan, ia jadi tidak sabar untuk menunggu dirinya versi junior, atau malah Abel versi junior. Membayangkannya saja membuatnya sangat tak sabar.
"Nanti kalau kita sudah menikah jangan di tunda ya, aku mau secepatnya punya anak".
"Iya".
__ADS_1