
Abel terdiam menatap Excel yang melangkah menghampirinya, jika mereka masih akrab seperti dulu mungkin mereka akan saling sapa tapi kini semua sudah berbeda dan Abel hanya bisa bersikap sebagai orang asing yang acuh.
"Yang tadi itu siapa ?". Tanya Excel kala sudah berada di hadapan Abel, gadis itu tak langsung menjawab dan melihat wajah datar Excel. "Yang pasti dia tidak ada hubungannya denganmu". Jawabnya ketus.
Abel menolak untuk memberitahu lagipula ia dan Excel sekarang adalah orang asing jadi untuk apa Abel memberitahu Excel siapa Robin. Tapi nampaknya Excel masih penasaran hingga melontarkan pertanyaan lagi.
"Kalian terlihat sangat dekat, apa kalian punya hubungan ?". Abel memutar matanya jengah, mengapa Excel senang menanyakan hal yang tak ingin ia beritau, tapi menutupinya juga percuma toh akan ketahuan juga, lagipula tak ada manfaatnya menyembunyikan ini dari Excel.
"Dia pacarku". Jawabnya singkat, padat dan jelas.
"Pa-pacar ? Sejak kapan ?". Abel sudah jengah dengan pertanyaan ini terlebih lagi ia tak senang dengan keberadaan Excel di perusahaan lagipula ia tak merasa memiliki jadwal pertemuan dengan Excel.
" bukankah kita tidak ada jadwal untuk bertemu lalu apa yang anda lakukan disini ?". Abel menggunakan bahasa formal untuk menjelaskan kalau mereka tidak ada kaitan hingga mencampuri urusan masing-masing.
"Aku mau bertemu papa, aku sudah ada janji dengannya". Abel menaikkan satu alisnya, mengapa Excel hendak bertemu dengan papa Rey tapi ia tak mau tau lebih lanjut.
"Ternyata kalian ada disini". Suara papa Rey membuat keduanya terkesiap dan menoleh mandapati papa Rey berjalan ke arah mereka. "Oh ya Excel kau tunggu saja di ruanganku karena aku harus meeting dulu".
Papa Rey lalu beralih menoleh ke arah Abel, "ayo Mer kita sudah di tunggu yang lain di ruang meeting". Abel mengangguk dan mereka berjalan ke lift bersama-sama namun dengan tujuan yang berbeda.
Jika Abel dan papa Rey ada di ruang meeting maka Excel akan menunggu papa Rey di ruangan. Kesunyian membentang kala lift tersebut hanya di isi oleh 3 orang karena memang lift tersebut di khususkan untuk petinggi perusahaan saja.
Tapi bukan itu yang aneh melainkan papa Rey merasa Abel dan Excel sangat diam bahkan tak mengatakan satu katapun dalam ruangan itu, papa Rey jadi curiga kalau keduanya sedang berselisih.
"Kenapa diam ? Apa kalian sedang bertengkar ?". Keduanya menoleh pada sang papa namun masih diam. Tak tau harus mengatakan apa karena sebenarnya hubungan persaudaraan antara keduanya memang telah lama putus dan kini bagaikan orang asing.
"Nggak pa kita baik-baik aja". Jawab Abel dengan cepat sebelum Excel bersuara, ia tak ingin sang papa malah jadi kefikiran. Abel menoleh ke arah Excel yang berdiri tepat dei sebelahnya dengan tatapan tajam, "iya kan ?".
Tatapan Abel seolah mengisyaratkan kalau ia menyuruh Excel untuk menyetujui yang diucapkan dan untunglah Excel cukup pintar untuk mengetahui itu, "iya pa kami baik-baik saja mungkin cuma perasaan papa".
__ADS_1
Papa Rey hendak bertenya lagi namun bersamaan dengan itu suara denting lift berbunyi menandakan kalau mereka telah sampai, "ya sudah bagus kalau kalian tidak ada apa-apa, Excel papa tinggal dulu".
Excel mengiyakan karena memang Excel masih larus naik beberapa lantai lagi untuk sampai di ruangan papa Rey, berbeda dengan Abel yang ikut papa Rey meeting.
********
Abel menghampiri keluarganya yang tengah berkumpul di sana, mama Dina dan papa Rey yang sibuk berbincang berdua sedangkan Alvin duduk di sofa yang sama tapi fokus menonton tv di depannya.
"Geser dong". Abel memaksakan duduk di sofa yang telah di duduki oleh tiga orang yang kini menjadi sesak karena bertambah dengan dirinya, "sempit nih mending lo duduk di bawah aja kenapa sih ?". Seru Alvin kala dirinya terjepit papa Rey dan pinggiran sofa.
"Nggak mau". Abel tetap memaksakan duduk di antara mama Dina dan papa Rey hingga tangan orang tuanya yang tadi saling tertaut kini terlepas. Abel menyenderkan kepalanya di bahu papa Rey dan mengenggam tangan mama Dina, entah mengapa gadis itu ingin bermanja kepada orangtuanya.
"Pa capek nih kerja terus kali-kali liburan yuk udah lama kita nggak liburan keluarga". Ujarnya seraua menyelus lengan sang papa, ia mencoba membujuk karena sudah merasakan penat dengan aktivitasnya.
"Boleh juga tapi kita ke villa punyanya opa saja yang ada di puncak, papa sudah merindukan tempat itu, bagaimana menurut kalian". Papa Rey menatap ke arah kedua anaknya dan juga mama Dina, menanyakan dengan pendapat mereka.
"Iya pa tempatnya adem apalagi villa itu kayak rumah kayu di jepang". Ujar Abel dan juga mendapat anggukan oleh mama Dina, "kalau kamu gimana vin ?".
"Kalau begitu sudah di putuskan kita akan berlibur sekalian nanti Andre diajak, Robin juga sekalian". Abel mengangguk menyetujui keputusan papa Rey.
******
Hari yang di rencanakan telah tiba dan semuanya kini berkemas memasukkan barang mereka ke dalam bagasi mobil, bahkan Robin juga sudah datang dan membantu Abel memasukkan barang yang hendak di bawa.
"Pa kok bang Andre belum dateng juga ?". Ujarnya seraya melihat jam tangan yang sedari tadi tak kunjung datang, "Andre nggak jadi ikut katanya, istrinya mendadak ada kerjaan ". Seketika terlihat raut wajah kecewa Alvin hingga lelaki itu berdecak.
Sejak menikah Alvin tak ada teman nongkrong atau bermain game lagi, yang ada hanya kerja, kerja, dan kerja. Padahal ia berharap Andre datang agar lebih ramai lagi suasananya, "jadi kita cuma berempat nih pa ?". Tanyanya memastikan.
Papa Rey menggeleng seraya tersenyum, "nggak cuma kita ada lagi satu orang biar tambah ramai".
__ADS_1
Abel, Alvin dan mama Dina saling menatap seolah bertanya siapa lagi yang ikut dalam acara liburan mereka, namun suara mobil yang mendekat dari kejauhan, membuat mereka semua melihat ke arah mobil yang mereka kenali siapa pemiliknya tersebut.
"Papa ngajak Excel ?". Tanya Alvin dengan nada sedikit tinggi yang di balas anggukan dari sang papa, Alvin melihat Abel yang yang terdiam menatap mobil Excel dengan pandangan tak suka lalu bergeser ke sebelah mama Dina untuk berbisik.
"Gimana nih ma sama Merry yang ada ntar kacau liburannya". Mama Dina menggendikkan bahu seraya menggeleng dengan wajah muram, "mama juga nggak tau, papa nggak bilang sebelumnya ya gimana lagi Excel udah mau nyampai nggak mungkin juga kita ngusir dia".
Excel keluar dari dalam mobilnya membuat Abel yang masih diam di tepatnya tak bergerak seraya mengepalkan tangan, ia tak habis fikir mengapa juga Excel masih mendekati keluarganya sekalipun papa Rey memintanya bukankah Excel bisa menolak dengan berbagai macam alasan tentunya.
"Maaf aku terlambat". Ujar lelaki itu kala baru keluar dari mobil tapi yang lebih mencengangkan lagi ada seseorang yang juga keluar dari mobilnya Excel, "Hallo semuanya aku boleh ikut kan ?".
"Jennie ?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Votenya kencengin rankingnya anjlok ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜