
Suara dua pasang sepatu heels terdengar cukup keras dan tergesa menapaki setiap lantai di perusahaan dan memasuki lift untuk turun ke lantai satu. Pemilik kedua pasang sepatu tersebut adalah Abel dan juga Lucy yang hendak pergi ke sebuah restoran yang sudah di reservasi terlebih dulu untuk lokasi meeting kali ini bersama Excel.
Abel melihat jam yang melingkar di tangannya untuk kembali melihat pukul berapa sekarang, karena terlalu banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan terlebih dulu membuat waktunya kian sedikit apalagi ini sudah hampir jam makan siang.
Ia tak suka orang terlambat dan kini malah dirinya yang sudah terlambat lima menit sebelum jalan ke restoran. "Lucy apa mereka sudah sampai disana ?".
"Sudah nona, saya juga sudah mengabari kalau kita akan terlambat karena urusan penting dan mereka bersedia menunggu". Abel mengangguk dan bersamaan dengan itu terdengar bunyi denting lift yang menandakan kalau lantai tujuan mereka telah sampai.
Saat mereka sampai di restoran yang di tuju, keduanya langsung dapat melihat Excel yang mengangkat tangannya guna memberitahu posisi tempat duduk yang sudah di pesan. Langsung saja Abel dan Lucy duduk di hadapan kedua lelaki itu.
"Maaf menunggu lama". Ujar Abel saat ia sudah mendudukkan dirinya di kursi depan Excel.
"Tidak apa-apa lagi pula setelah ini aku tidak ada jadwal penting yang harus di hadiri". Jawab Excel.
Mereka memulai meeting dengan tenang dan serius sekali, mereka menjunjung tinggi profesionalisme hingga meeting yang diadakan cepat usai dan terselesaikan dengan baik. Selanjutnya mereka makan bersama karena memang sudah jam makan siang. Menu steak menjadi pilihan mereka berempat untuk mengisi perut setelah setengah hari bekerja.
Sebenarnya dari tadi meeting hingga kini makan bersama Excel mencuri pandang ke arah abel yang duduk tepat di depannya. Dan ia akan menunduk jika sekiranya ia sudah terlalu lama melihat Abel agar tak ketahuan.
Dan anehnya setiap gerakan yang tubuh abel lakukan dengan spontan tanpa gadis itu sadari membuat Excel menelan salivanya dengan sukar. Contohnya saja seperti saat ini di mana Abel menyisipkan rambutnya ke belakang telinga yang memperlihatkan leher putih dan jenjang itu. Rasanya Excel ingin meraba dan menyusuri kehalusan dari kulit bersih dan putihnya.
Juga dengan saus steak yang menempel pada bibir Abel dan cara Abel menghilangkan saus itu dengan cara sedikit menggigit bibirnya membuat Excel ingin mencicipi bibir mungil itu. Ia jadi teringat malam panas saat mencicipi bibir Abel dari mulai kecupan singkat hingga ******* yang menuntut, juga setiap sudut tubuh Abel tak lupa dengan dua gundukan yang menonjol di bagian depan.
Seketika Excel melihat tangannya sendiri, ia masih teringat kala menyentuh gundukan itu tanpa penghalang dan ia ingat ukurannya sangat pas di genggaman tangan Excel dan itu sangat membuatnya frustasi saat menginginkan untuk melakukannya lagi dan merasakan sensasi malam itu. "Gawat sepertinya aku ketularan sifat mesumnya papi". Gumamnya dalam hati.
Excel menundukkan pandangannya dan hanya fokus dengan makanan yang harus ia makan. Jika menatap Abel lebih lama yang ada ia akan melupakan kalau dirinya sudah punya tunangan dan semuanya akan kacau.
"Benarkan tuan Excel ?". Tanya Bagas namun tak ada sautan dari Excel saat lelaki itu bertanya hingga membuat mereka melihat ke arah Excel.
"Tuan ?". Tanyanya lagi.
"Indah". Ujarnya.
"Maksud tuan apa ? Indah apa ?". Tanya Bagas bingung, ia tadi bertanya tentang proyek yang mereka kerjakan bersama namun Excel sepertinya tak menyimak dengan baik.
__ADS_1
"Tidak apa-apa jangan di fikirkan ucapanku yang tadi". Semua kembali fokus dengan pembicaraan berbeda dengan Excel yang kini mengusap tengkuknya akibat perasaan ini melihat mahkluk indah di hadapannya dengan desiran yang muncul akibat terbayang malam panas itu.
********
Di Lain Hari
Abel tak langsung pulang ke rumah karena hari ini Robin hendak mengajaknya untuk makan malam di luar. Abel setujui saja dan berfikir kalau ini salah satu rencana yang Robin gunakan untuk memperbaiki kesalahan yang lelaki itu lakukan.
Bukan maksud Abel langsung melupakan kejadian itu begitu saja, tapi ia sekalian ingin melihat apa yang hendak Robin lakukan. Rasa percayanya kepada Robin sudah jatuh akibat kesalahan fatal yang Robin lakukan.
"Kita akan makan dimana ?". Tanya Abel.
Kini mereka berdua sedang berada di dalam mobilnya Robin namun masih di sekitar paerusahaan Abel dan mobilnya Abel di tinggalkan karena Robin yang memaksa untuk menjemputnya.
"Nanti kau juga akan tau, aku sudah memesan tempat yang bagus untuk kita". Setelah mengatakan itu Robin melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan.
Selalu saja setiap Abel bertanya kemana tujuan mereka Robin tak pernah memberitahu. Jika memang tempatnya bagus dan bisa Abel sukai tak masalah tapi yang ia kurang suka adalah kalau Robin membawanya ke tempat aneh layaknya saat lelaki itu membawa ke night club.
"Silahkan lewat sini". Ujar salah satu pelayan yang mengarahkan mereka ke rooftop restoran dimana tidak ada pelanggan satupun di rooftop tersebut. Abel menatap Robin seakan tau jika rooftop tersebut telah di sewa hanya untuk mereka namun Abel tidak bertanya dan bersikap seolah ia tak tau.
"Apa kau suka tempatnya ?". Tanya Robin.
Abel menolehkan kepalanya ke sekitar, ia memang sudah pernah ke tempat itu namun hanya ke lantai bawah dan belum pernah ke rooftop yang ada di sana. "Tempatnya bagus".
Ia jujur mengatakan itu kerena memang pemandangan dari atas sangat bagus, mereka dengan mudahnya bisa melihat pemandangan kendaraan yang melintas di bawah juga bisa melihat lampu yang menerangi setiap rumah dan jalanan.
Bahkan angin alami yang terasa menerpa wajah begitu mereka datang langsung menyambut.
Pelayan membawakan hidangan pembuka sampai penutup untuk mereka juga tak lupa permainan biola yang Robin pesan untuk menambah kesan romantis layaknya makan malam yang sangat spesial. Entah mengapa ini terasa sangat spesial nampaknya ia bukan acara makan malam biasa karena ini terlalu berlebihan bagi Abel.
"Sepertinya ini bukan acara makan malam sederhana ya ?". Tanyanya namun pandangan Abel masih setia pada pemain biola yang berada di sana dengan mata terpejam seolah menikmati biola yang sedang di mainkan sendiri.
Alunan melodi lembut di bawakan dengan cara tenang dan elegan untuk menghidupkan suasana romantis diantara mereka.
__ADS_1
"Sebenarnya aku mengajakmu ke sini bukan hanya untuk makan malam".
Pandangan Abel kini berfokus kepada Robin yang duduk di depannya sedang merogoh sesuatu dari dalam saku celana. Entah apa yang hendak lelaki itu ambil hingga menampilkan wajah yang kini berubah serius.
Sebuah kotak beludru kecil berwarna navy Robin buka di hadapan Abel, menampilkan cincin cantik berhiaskan berlian yang menambah kesan mewah dan cantik. Tapi lebih dari itu Abel bertanya dalam hati mengapa Robin memperlihatkan cincin kepadanya.
Tangan Robin yang satu memegang kotak berisi cincin sedangkan yang lain memegang tangan Abel. Pandangan lelaki itu nampak sangat serius hingga membuat Abel gugup sekaligus takut.
"Merry aku jngin kita menikah, maukah kau menikah denganku ?".
.
.
.
.
.
.
.
.
Kalau menurut kalian ini di terima atau di tolak ?
A. Di terima ๐
B. Ditolak ๐
C. Dih Ogah banget๐
__ADS_1