
Sang dokter keluar dan langsung di sambut antusias oleh keluarga yang tengah menantikan kabar bahagia.
"Bagaimana dokter ?". Tanya mami Rita kian tak sabar menunggu sang dokter.
"Bayinya lahir dengan sehat dan ibunya juga selamat".
"Apa jenis kelamin cucuku dok ?"
"Jenis kelaminnya laki-laki, sekarang keduanya sudah boleh di temui, saya undur diri dulu". Mami Rita dan juga papi Jimmy mengucapkan terima kasih kepada sang dokter yang telah menengani persalinan Abel.
Kebahagiaan mereka lengkap sudah dengan adanya malaikat kecil yang hadir, baik mami Rita dan juga papi jimmy sangat antusias untuk melihat cucu sekaligus penerus mereka dan langsung masuk ruangan begitu saja, meninggalkan Excel yang masih mencari keberadaan nyawanya.
Excel menghirup nafas sebanyak yang ia bisa seolah nyawanya telah ia temukan dan paksa untuk masuk kedalam raga kembali. Keringat dingin bercucuran membasahi wajah dan juga tubuhnya, demi apapun baru kali ini ia merasakan rasa sakit yang luar biasa.
"Sayang selamat ya". Mami Rita merasakan kebagiaan yang berada pada puncaknya saat ini, ia mengalus kepala Abel yang masih lemah berbaring di brankar sedangkan sang bayi masih di bersihkan.
"Makasih ya mi pi". Sorot mata Abel mengitari ruangan itu, mencari sosok keberadaan sang suami yang sedari keluar ruangan masih belum kembali, dan seharusnya orang yang berada bersamanya saat ini adalah Excel, lalu dimanakah ia berada ?.
"Kak Excel mana mi ?". Tanya Abel.
"Aku disini". Excel berjalan dengan sekuat tenaga yang masih tersisa, ia masih memegang perut dimana rasa sakit itu sudah berangsur menbaik tapi mesih terasa linu. Dan di belakang Excel ada dua orang lain yang tadi di hubungi tapi ternyata persalinanya malah sudah usai.
Ya, dua orang lainnya adalah mama Dina dan papa Rey yang langsung saja ke rumah sakit setelah mendengar kabar bahwa Abel akan melahirkan. Secepat mungkin mereka semua meninggalkan aktivitas masing-masing dan langsung ke rumah sakit.
"Kamu gimana keadaannya ? Lalu di mana bayinya ? Semua baik-baik saja kan ?". Papa Rey baru datang tetapi sudah melontarkan banyak pertanyaan ke Abel hingga gadis itu bingung sendiri mau menjawab yang mana dulu.
Ia mengerti akan kekhawatiran sang papa dan senyuman ia berikan sebagi jawaban. Belum sampai membuka suara, terlebih dulu perawat memberikan bayinya yang berjenis kelamin laki-laki dengan berat dan tinggi badan yang sempurna tanpa cacat dan dalam kondisi baik.
"Anakku". Abel tak bisa menyembunyikan rasa harunya, ia menangis seraya tersenyum melihat sang buah hati yang masih merah tubuhnya dan bahkan tadi pagi masih berada di dalam kandungan, tetapi sekarang sudah bisa melihat dunia.
"Anak kita". Timpal Excel yang mendekat, melihat putra pertama mereka yang masih terpejam. Tangan mungil itu mengepal kuat dan enggan untuk membuka mata.
__ADS_1
Berkali-kali Abel mencium bayinya dengan penuh kehati-hatian agar sang bayi tidak merasakan sakit dengan tubuh yang masih ringkih.
Excel ingin menggendong dan mengambil putranya tersebut dengan hati-hati, ia masih agak takut untuk menggendong bayi yang masih merah dan kecil tubuhnya, tetapi rasa senang, bahagia dan juga haru lebih besar di bandingkan dengan rasa takut itu sendiri.
"Ternyata melahirkan nggak sesakit yang aku banyangin, cuma sakit di bagian mau keluar aja, seterusnya kayak biasa aja gitu, ntar kalau aku udah sembuh kita punya anak yang banyak ya kak".
"Eh". Semuanya teekejut, hening sesaat sampai suara gelak tawa mengisi ruangan itu mendengar penuturan Abel. Kalau wanita yang baru melahirkan pada umunya akan merasakan trauma dan enggan untuk hamil lagi, atau setidaknya bukan dalam jangka waktu dekat, maka Abel sebaiknya.
Rasa sakit yang di luar perkiraan itu tidak menghalanginya untuk memiliki keinginan menambah anggota keluarga baru, bahkan karena mudahnya proses persalinan normal ia jadi ingin hamil lagi. Tetapi Abel tidak mengetahui jika Excel meringis di tempatnya berdiri saat ini, ia merasa trauma dan enggan untuk merasakan rasa sakit yang baru saja ia rasakan.
Tubuh seakan di kuliti dan di lepas semua tulangnya bahkan nyawanya seperti di cabut dari raga. Itulah yang ia rasakan hingga rasa trauma menghinggapinya, menambah rasa takut akan yang namanya melahirkan dan juga muntah pada saat sang istri hamil.
"Sabar ya sayang yang ini aja belum gede". Jawabnya serata menunjuk sang buah hati dengan dagunya.
"Tidak apa lahirkanlah banyak cucu untukku". Timpal sang papi seraya menepuk pelan punggung Excel, ia lupa jika yang merasakan ngidam dan juga sakitnya melahirkan adalah Excel hingga tak menyadari kekesalan yang di layangkan oleh Excel kepadanya.
Berbeda dengan papa Rey yang kurang setuju, bukannya tidak suka Abel mempunyai anak banyak tetapi hanya saja ia takut jika sang putri akan kembali mengalami rasa sakit, dan beratnya masa kehamilan.
Walau begitu kekesalannya ia pendam, menyadari jika ini bukan saat yang tepat untuk debat perihal itu. Karena yang lebih penting untuk saat ini adalah baik Abel dan bayinya selamat, sehat dan bahagia.
Tentu saja mereka sudah menyiapkan dua nama untuk dua bayi karena tidak tau apakah yang lahir bayi laki-laki atau perempuan. Excel menolak mengetahui dari alat USG karena ia ingin menerima apapun jenis kelamin anaknya nanti. Dan tiba saat ini maka nama anak laki-laki yang akan di gunakan.
"Namanya Marcel Antonio". Jawab Abel dan Excel bersamaan.
"Tidak ada marganya ? Harusnya di tambah 'Harsaya' nama keluarga kita". Imbuh sang papi.
"Tidak, nama belakangnya harus Admaja". Papa Rey tidak mau kalah hingga ia melayangkan tatapan peperangan kepada besannya, ia ingin nama belakang untuk anaknya Abel menggunakan nama keluarganya dan bukan dari keluarganya Excel.
Baik papa Rey dan juga papi Jimmy saling mengibarkan bendera perang yang terlihat tatapan keduanya, suasana yang tadinya bahagia kini menjadi hening dan udara kian terasa dingin padahal tidak ada pendingin udara maupun angin yang masuk.
Berbeda dengan kedua kekek dan juga opa-nya, si bayi nampak tenang pada gendongan Excel yang seakan tak mau ikut campur dengan masalah para orang tua, ia memilih pasrah akan namanya.
__ADS_1
Jika di biarkan seperti ini yang ada tidak akan ada penyelesaian, maka dari itu Excel dan Abel harus memutar otak menyelesaikan persoalan yang bagi mereka tidaklah terlalu penting tapi sangat memepengaruhi hubungan keluarga. Tadinya mereka gidak ingin ada marga di nama si bayi karena ingin membuat si bayi tumbuh mandiri layaknya namanya yang tanpa embel-embel marga.
Dan sekarang sepertinya marga itu terlalu penting hingga tidak bisa di sepelekan begitu saja. "Sudahlah itu hanya nama belakang, biarkan nama anak kami tidak ada marganya biar adil". Tutur Excel.
"TIDAK BISA". Jawab papi Jimmy dan juga papa Rey bersamaan.
Keduanya tak ingin mengalah, bagi papi Jimmy anak Excel sangat penting karena cucu pertama mereka, apalagi jenis kelaminnya laki-laki dan bisa di jadikan sebagai penerus. Sedangkan papa Rey juga menganggap anak Abel penting karena Abel anak perempuan satu-satunya.
"Begini saja bagaimana kalau kalian suit". Semua langsung menatap Abel, heran akan ide konyol untuk menentukan nama belakang dari si bayi, dan sepertinya tidak terlalu dianggap baik usulan dari Abel.
"Mana ada menentukan marga dengan suit". Ujar papi Jimmy.
"Itu terlalu kekanakan sayang". Imbuh papa Rey.
"Tidak apa jika memang kalian masih bersikeras dari pada semakin membuat keributan, lebih baik suit jadi nanti kita bisa tau menggunakan marga yang mana dan siapa yang kalah harus berlapang dada". Mama Dina mencoba menjadi penengah dan di setujui oleh mami Rita.
Papi Jimmy dan papa Rey sebenarnya masih enggan melakukan suit layaknya anak kercil, walau begitu tetap mereka lakukan karena memang tidak ada yang mau mengalah, hingga suasana ketegangan teejadi saat keduanya melayangkan suit dan di menangkan oleh.....papi Jimmy.
"Sial". Spontan papa Rey kesal, ia kalah dari sang besan dan tambah sebal melihat besanya senang karena menang.
"Baik karena sudah jelas, jadi nama anak kami Marcel Antonio Harsaya". Tutur Excel.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Sebentar lagi tamat, ayo mana dukungan kalian pada reader, aku menunggu 🙂🙂