Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Akan Kupastikan


__ADS_3

"Di dalam koper ini ada semua barangku karena aku akan pindah kemari".


"APA ??!". Pekik rereka semua dan beranjak dari duduknya namun masih diam tak bergerak.


Hanya senyuman yang Excel tampilkan saat melihat semua yang ada disana masih diam dalam keterkejutannya. Ia berencana pindah untuk mengejar Abel dan agar lebih dekat dengan gadis itu.


"Boleh kan pa, bukankah papa bilang dulu kalau ini juga rumahku dan pintu rumah ini selalu terbuka untukku ?". Excel mengatakan itu supaya papa Rey setuju, ingatannya saat masih kecil sebelum di bawa oleh orang tua kandungnya harusnya bisa membuat Excel kembali lagi ke rumah ini. (Baca Novel Wanita Simpanan CEO).


Abel menatap papa Rey seolah mengisyaratkan agar tidak menerima Excel ke rumah ini lagi, kalau tidak bisa-bisa ketenangannya hilang. Sayangnya papa Rey tak melihat tatapan mata Abel hingga ia setuju Excel pindah kerumahnya.


"Tentu saja aku tidak lupa, kau boleh tinggal disini kapanpun kau mau". Ujarnya jumawa tanpa tau jika Abel sangat tidak setuju. "Tapi pa dia kan bukan bagian dari keluarga ini, lagipula dia sudah punya keluarga sendiri". Ujar Abel mencoba untuk membatalkan niat papa Rey yang menerima Excel.


"Mer jangan seperti itu, bagaimanapun dia tetap Kakakmu". Abel hendak mengutarakan keberatan lagi tapi papa Rey memberikan ultimatum dari tatapan matanya hingga Abel menoleh ke arah mama Dina, mencoba meminta pertolongan tapi sepertinya mama Dina juga tak ingin ikut campur.


Dulu waktu Excel kecil dan sebelum orangtua kandungnya menjemput, mama Dina dan papa Rey sudah menganggap Excel seperti anak kandung dan mereka amat berat melepaskan Excel. Tapi mereka tau bagimanapun Excel akan tetap ikut orangtua kandungnya tapi mereka akan selalu menerima Excel di rumah ini, jadi mama Dina tak bisa melarang Excel untuk pindah kerumah ini.


Abel melipat tangannya di dada, ia menyerah dan pasrah ketika Excel di perbolehkan tinggal disini tanpa ada perlawanan dari yang lain. Meminta bantuan Alvin juga percuma kalau mama Dina saja hanya diam seraya memberika senyuman canggung tentu Alvin susah tak bisa membantunya.


"Kau bisa taruh barangmu di kamar, kau masih ingat dimana kamarmu dulu kan ?". Tanya papa Rey untuk memastikan, kalau tidak Excel akan diantar olehnya ke kamar lama Excel.


"Tentu pa aku selalu ingat". Excel masih ingat letak kamarnya karena bersebelahan dengan kamarnya Abel. Ia melihat Abel dengan tatapan penuh kemenangan, tak lupa juga dengan senyuman yang mengisyaratkan ke Abel bahwa ia menang.


Setelah itu Excel melangkahkan kakinya ke kamar yang dulu ia jadikan tempat untuk belajar, tidur dan melepas lelah. Setelah membuka kamar ia tersenyum melihat kamar itu masih rapi dan tak ada yang berubah sama sekali bahkan meja belajarnya juga masih ada, kamarnya juga masih sangat bersih seperti dibersihkan setiap hari.


Excel membuka kopernya dan mulai memindahkan isi koper ke dalam lemari. Ia tak tau sampai kapan ia tinggal disana karena tentu membujuk Abel agar mau memberinya kesempatan sekaligus mengejar cintanya tidaklah mudah.

__ADS_1


"Kali ini apa rencanamu ?". Excel seketika menoleh, mendapati Abel yang melipat tangannya di dada dan bersender pada kusen pintu, gadis itu melangkah mendekati Excel seraya memberikan tatapan tajam.


"Kau fikir dengan tinggal di rumah ini, kau akan seenaknya ? Jangan pernah berfikir aku akan diam saja". Ujarnya dengan menunjuk Excel.


Excel diam dan hanya tersenyum, sepertinya Abel sudah salah menilainya tapi tak apa. Ia memegang jari Abel yang menunjuknya dan ia genggam lalu mencium punggung tangan Abel hingga membuat gadis itu mendelik tajam dan dengan cepat menarik tangannya.


"Apa yang kau lakukan, jangan kurang ajar ya". Nafas Abel naik turun bersaam dengan amarahnya yang coba ia tahan. "Aku pastikan kau tidak akan lama tinggal disini".


Abel melangkahkan kakinya kembali dan menarik gagang pintu, namun ketika pintu itu baru terbuka setengah Excel mendorong pintu itu dari belakang hingga tertutup kembali. "Aku juga akan memastikan kalau kau suatu hari akan menjadi istriku".


Abel dengan kesal mendorong Excel dan kembali membuka pintu, ia pergi dengan perasaan aneh bahkan saat ia masuk ke dalam kamarnya sendiri, tangan abel tergerak memegang dadanya yangbberdetak kencang. Ia sadar kalau jantungnya berdebar.


"Ih nyebelin". Abel merutuki hatinya yang tak singkron dengan apa yang baru saja diucapkan. Bahkan saat ia berusaha melupakan Excel mengapa lelaki itu kini malah mengejarnya, aneh bukan ? Padahal dulu Abel mengejar Excel mati-matian tapi Excel malah akan menikah dengan wanita lain dan sekarang malah sebaliknya.


Abel merasa jika ia seperti dipermainkan oleh takdir yang membuat semuanya menjadi rumit. Ia tak mau menuruti hatinya tapi di lain sisi ia tak bisa menutupi perasaan, yang sebenarnya masih ada di sudut hatinya terdalam, bahkan paling salam hingga terlihat samar.


Excel mencari Abel ke segala penjuru rumah, namun keberadaan gadis itu tak kunjung ketemu juga padahal ia melihat mobil Abel masih di garasi harusnya Abel dirumah. Sejak pagi Excel tak melihat Abel dan ia ingin bertemu dengan gadis itu.


Excel melihat Alvin yang hendak ke kamar dan ia dengan cepat melangkahkan kaki berjalan mendekati Alvin bahkan langkahnya seperti orang yang berlari dari pada di bilang berjalan. "Tunggu vin, dimana Abel ?".


"Dia di ruang gym". Ujarnya singkat namun membuat Excel mengernyitkan dahi.


"Sejak kapan rumah ini ada ruang gym ?". Tanyanya serius.


"Sejak lo nggak ada, udah sono minggir". Alvin langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya dengan cukup keras. Walau Excel menggeleng dengan perilaku Alvin yang tak sopan tapi ia tak mempermasalahkan hal tersebut dan melangkah untuk mencari keberadaan ruang gym tersebut.

__ADS_1


Rumah yang luas membuat Excel tak tau letak ruang gym dimana hingga mengharuskannya untuk bertanya kepada pembantu di rumah. Di depan ruang gym Excel berpapasan dengan papa Rey yang ternyata habis selesai berolahraga.


"Excel ada apa ?". Tanya papa Rey kepada Excel saat mereka saling bersimpangan.


"Ti-tidak pa aku hanya lewat". Excel mencari alasan lain, ia tak mau ketahuan papa Rey kalau sebenarnya hendak mendekati Abel dan bahkan menaruh perasaan kepada anak gadis orang yang sudah memperlakukannya dengan baik. Takut kalau papa Rey justru akan mengusirnya dan melarang Excel untuk berdekatan dengan Abel.


"Oh ya sudah papa tinggal dulu mau mandi". Papa Rey melangkah pergi dan saat dirasa sudah jauh Excel kembali melanjutkan niatnya memasuki ruang gym untuk mencari keberadaan Abel.


Namun saat ia melihat Abel disana, matanya membulat sempurna bahkan tubuhnya terasa kaku hingga tak bisa bergerak.


"A-Abel kau__".


.


.


.


.


.


.


Ayo yang belum like dan vote

__ADS_1


Mohon vote di kencengin khusus hari ini dan besok ya. Entar aku doain biar cepet di kasih pasangan kalau yang udah punya ya biar di tambah pahalanya


__ADS_2