
Abel meronta merasakan yubuhnya diangkat dan hendak di masukkan ke dalam mobil. Karena sapu yangan yang di gunakan untuk membekap mulutnya tidak bi beri obat bius setidaknya ia bisa melawan walaupun tubuhnya tak sebanding dengan dua laki-laki yang mengenakan penutup muka berwarna hitam.
"Apa yang kalian lakukan ?". Ketiga orang itu terkesiap melihat ada Excel yang datang dan hendak menolong Abel hingga mereka berdua berkelahi sedangkan laki-laki yang satunya tetap memegang Abel agar tak lari.
"Em em em". Hanya suara tak jelas yang bisa keluar dari mulut Abel mengingat ia sedang di bekap dan berusaha mencari pertolongan guna menolong dirinya dan Excel yang saat ini sedang berkelahi.
"Diam". Sentak salah satu penjahat itu.
Abel berada dalam bekapan penjahat tersebut dan tak bisa melawan. Walaupun ia benci tapi saat ini ia benar-benar berharap Excel bisa menang melawan dua pejahat tersebut dan membebaskannya.
Pertarungan sengit Excel dengan salah satu penjahat itu membuatnya terkena beberapa kali pukulan hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Tapi ia berhasil mengalahkanya dan kini giliran yang satunya melawan Excel.
Kesempatan bagi Abel untuk melarikan diri kala lelaki yang menahannya kini berkelahi dengan Excel namun entah mengapa ia tak bisa meninggalkan Excel begitu saja. Bahkan untuk meminta tolong juga tak ada orang yang lewat. "Cepat pergi". Teriak Excel.
Namun Abel sangat bingung antara pergi meninggalkan Excel atau tetap disana. Tapi tanpa mereka sadari penjahat yang Excel lawan malah datang ke arah Abel hendak melukai gadis itu, dengan sigap Excel memukukulnya dengan keras hingga tak sadarkan diri.
"Kau baik-baik saja ?". Abel tak menjawab pertanyaan dari Excel, tubuhnya kaku dan gemetaran melihat hanya jarak beberapa langkah dari kedua penjahat itu. "Bel kau tidak apa-apa ?". tanyanya lagi.
"A-aku baik". Jawabnya dengan nada yang bergetar.
"Kenapa ada yang berniat jahat kepadamu ? Apa kau punya musuh ?". Abel melihat tajam ke arah Excel seakan berkata "satu-satunya musuhku adalah tunanganmu". Namun Abel tak mengatakan itu dan mengambil hp-nya dalam tas untuk menghubungi seseorang guna membereskan dan menyelidiki siapa yang menyurh mereka.
"Apa kau butuh bantuanku untuk mencari tau siapa yang berniat jahat kepadamu ?". Abel dengan cepat menggeleng dan kembali memasukkan hpnya dalam tas. "Tidak perlu aku sudah punya orang kepercayaan untuk menyelidiki ini, tidak perlu bantuanmu lagi".
"Kau yakin tidakkah sebaiknya memanggil polisi biar orang itu segera di tangkap". Abel menggeleng, ia ingin memberikan pelajaran sendiri kepada orang yang berniat jahat kepadanya. "Tidak perlu".
Abel melihat tubuh Excel dari ujung kepala hingga ujung kaki, lelaki itu nampak kacau dengan dagu lebam dan sudut bibir yang berdarah akibat berkelahi. Abel berdecak sebal lantaran ia ingin lepas dari Excel kini malah membuat dirinya berhutang budi dengan lelaki itu. "Ikutlah denganku aku ada kotak p3k di ruanganku".
__ADS_1
Abel berbalik ia tak jadi pulang dan kembali menuju ke arah ruangannya diikuti oleh Excel yang ada di belakang. Gadis itu mengambil kotak p3k yang ada di laci dan duduk di sofa bersama dengan Excel, ia terlebih dulu membersihkan luka Excel. "Ah pelan-pelan". Desisnya.
Namun Abel tak menghiraukan dan tetap membersihkan luka Excel dengan cukup kasar. "Bisakah kau pelan-pelan ?". Pintanya.
"Bisakah kau tidak terus bergerak tahan hampir selesai". Abel kini tinggal membalutkan plester ke tempat yang tadi mengeluarkan darah dan kini selesai, ia membereskan kotas p3k tersebut dan kembali memasukkannya ke dalam laci.
"Ku kira kau tidak akan peduli dengan lukaku". Ujarnya.
Abel mengernyit dan kembali duduk di sofa bersebelahan dengan Excel, tangannya bersedekap dan tatapan tajamnya mengarah ke lelaki itu penuh tanya. "Apa yang kau lakukan disini, tidak cukupkah kau dan tunanganmu membuat keributan tempo hari ?".
Excel menyerahkan map yang tadi di bawanya kepada Abel, "ini proposal pengajuan kerjasama yang telah ku buat ulang". Abel menerima proposal itu dan membacanya sekilas lalu menaruhnya di meja terdekat. "Kau lebih gigih dari yang aku kira".
"Kenapa ? Tidakkah seharusnya kerja sama ini tidak terlalu penting, kau bisa mencari rekan kerja sama yang lain setelah mendapat penolakan dariku, lagipula Hasa grub tidak akan bengkrut kan hanya karena satu kali gagal bekerja sama dengan perusahaanku". Abel bisa melihat helaan nafas Excel hingga membuatnya penasaran dengan jawaban lelaki itu.
"Apa yang sudah menjadi tujuanku aku tidak biasa mengubahnya dan akan menuntaskannya sampai akhir sekaligus memperbaiki hubungan kita yang tengah retak". Abel terkesiap dan seketika menoleh ia menatap tajam kearah Excel seakan baru saja mendengar hal sensitif yang seharusnya tidak lelaki itu katakan.
"Aku tau aku salah untuk itu aku meminta maaf dan aku juga tak berharap bisa mendapatkan maafmu, tapi aku masih berharap kau mau menjadi adikku lagi". Abel berdecih dalam hatinya, ia mengepalkan kuat tangannya berusaha untuk tak menampar Excel kalau tidak mengingat tadi sudah di selamatkan.
"Cari saja yang lain yang mau jadi adikmu, aku sudah cukup punya dua kakak dan kehidupanku sangat sempurna tanpa dirimu, sekertarisku akan menghubungimu mengenai kerja sama perusahaan kita, aku anggap ini sebagai balas budi tadi kau telah menyelamatkanku".
Abel lalu beranjak dan membukakan pintu ruangannya mempersilahkan Excel untuk keluar atau lebih tepatnya mengusir lelaki itu, "kalau tidak ada yang dikatakan lagi silahkan keluar".
Excel berdiri dan melangkah menuju pintu keluar namun langkahnya terhenti untuk melihat Abel yang tak sudi melihatnya. "Aku akan pergi". Setelah mengatakan itu Excel keluar dan langsung pintu tersebut Abel tutup.
*******
Abel mengerjakan tugasnya di kantor seperti biasa, semakin lama ia semakin bisa beradaptasi dengan dunia sang papa juga kedua kakaknya. Dan ia malah bersyukur dengan banyaknya pekerjaan membuatnya tak memikirkan mengenai Excel dan kejadian itu.
__ADS_1
Suara bunyi hp membuatnya berhenti sejenak untuk mengangkat telfon, ia mengernyit kala tertera nama dari orang yang ia suruh untuk menyelidiki siapa yang mengirimkan orang untuk berbuat jahat kepadanya.
"Bagaimana apakah kau sudah tau siapa yang menyuruh mereka ?" ~ Abel
"Iya sudah nona yang menyuruh mereka adalah seorang perempuan namanyanya....Jennie".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
sedih akutuh kalian minta up tiap hari tapi lupa tinggalin jejak sama vote 😔😔😔
__ADS_1