Love You Brother

Love You Brother
Melepaskan


__ADS_3

Matahari sudah berada diatas dengan sinar cahayanya yang menembus sedikit gorden apartemen tersebut. Excel mengerjapkan mata dan merasa sakit kepala karena efek alkohol yang tak pernah di sentuhnya tapi ia malah minum banyak.


Excel melihat ada orang lain selain dia di sebelah tempat tidurnya dan berusaha melihat kala matanya masih agak kabur. Ia mengucek matanya agar penglihatannya menjadi jelas dan semakin jelas bahwa yang ada di sampingnya adalah, " Abel ?".


Excel melihat ke dalam selimut ia dan Abel sama-sama tak memakai baju sehelai benangpun, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam namun yang ia ingat hanya saat Excel bersama Jennie di club malam setelah itu tak ingat apapun lagi.


"Bel bangun bel". Excel mengguncang tubuh Abel dengan tidak sabaran, ia ingin meminta kejelasan atas apa yang terjadi semalam dan semoga apa yang ada di fikirannya saat ini tidaklah benar.


Dengan mata yang berat, sekujur tubuh sakit dan juga rasa tak nyaman Abel berusaha untuk bangun dan mendapati Excel berada disampingnya dengan tatapan muka yang tak bisa ia baca tapi yang pasti saat ini tiada kesan ramah dari lelaki itu, "kak Excel".


Abel memegang selimutnya dan berusaha untuk duduk, ia sangat sedih, malu dan perasaan yang bercampur aduk hingga tak berani menatap Excel padahal ialah korban disini. "Katakan padaku apa yang terjadi semalam ? Kenapa kau ada di apartemenku ?" dan dimana Jennie?".


Excel menghujani Abel dengan beragam pertanyaan, ia sendiri bingung ingin bercerita bagaimana, "Tadi malam kau mabuk tapi Jennie malah berjoget dan tak mengurusimu, aku berencana mengantarkanmu ke apartemen dan langsung pulang tapi kau malah kau memperkosaku".


Excel langsung memegang kepala dengan kedua tangannya, ia tiba-tiba merasa sangat pusing hingga kepalanya serasa akan pecah. Semua yang Abel katakan seolah membuat dunianya runtuh. Bagaimana dengan Jennie kalau ia mendengar hal ini dan bagaimana juga dengan orangtuanya, semua fikran itu langsung terbesit dalam otak Excel.


Dengan cepat Excel memakai pakaiannya kembali, ia sangat bingung apa yang harus di lakukan tapi yang pasti ia harus berpakaian terlebih dulu. Barulah ia akan memikirkan ini mengingat semua yang terjadi di bawah alam sadarnya, dan tidak tau juga harus bagaimana.


"Kak__".


"Aku benar-benar minta maaf bel dan aku harap kamu tidak mengatakannya kepada Jennie".


Bagai disambar petir, disaat seperti ini bahkan yang Excel fikirkan masih Jennie, bahkan Excel tak melihat Abel entah dia enggan atau apa yang pasti perlakuan dan perkataan Excel benar-benar melukai hati Abel.


"Maaf". Setelah mengatakan itu Excel keluar dari kamar dan menutup pintu, ia keluar dari apartemennya untuk menjernihkan fikiran, meninggalkan Abel yang tidak sanggup lagi membendung air matanya hingga bulir bening itu jatuh dengan deras.

__ADS_1


Abel menatap kepergian Excel dengan matanya yang nanar, sedih bahkan sangat sedih ia tak menyangka kakak kesayangannya akan setega ini padanya, setidaknya Excel bisa berbuat yabg lain, tanggung jawab misalnya karena telah merenggut hartanya yang paling berharga sebagai seorang wanita namun nyatanya tidak dan Excel tak peduli.


"Kamu jahat kak hiks hiks". Abel menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya yang ia tekuk. Menangis sejadi-jadinya dan hanya dinding yang menjadi saksi bisu bagaimana hancurnya ia saat ini.


Sudah setengah jam lamanya Abel menangis bahkan bibir, hidung dan matanya terlihat memerah. Abel memakai bajunya dengan susah payah kala rasa perih dan sakit di sekujur tubuhnya seakan menyiksanya.


Dengan langkah gontai ia meninggalkan tempat itu, ia sungguh sangat kacau dan melajukan mobilnya kembali ke rumah. Tempat satu-satunya ia merasa nyaman, ia hanya ingin istirahat dari segala rasa sakitnya dari segala rasa kecewanya, andaikan malaikat maut saat ini menjemputnya ia tak keberatan bahkan laju mobilnya sangat cepat.


Tak peduli dengan bahaya yang akan ia temui di jalan namun ternyata ia masih selamat dan sampai di rumah. Saat masuk Abel langsung di hampiri oleh Alvin dan juga sang mama yang ia yakini akan menghujaninya dengan pertanyaan. "Bel kamu dari mana mama sampai khawatir ?".


"Kok lo nggak angkat telfon gue, lo tau nggak kita lagi kacau gara-gara elo". Tak menghiraukan pertanyaan sang mama dan Alvin, Abel terus berjalan dengan tatapan mata kosong seakan tiada nyawa, "jawab bel". Bentak Alvin.


Abel telah sampai di kamarnya dengan mama Dina dan Alvin yang mengikuti di belakang, ia berbalik dan melihat Alvin dengan jelas, "Tolong tinggalin aku sendiri".


Hanya itu yang bisa ia katakan saat ini, Abel langsung masuk dan mengunci pintu kamarnya tak peduli dengan sang mama dan kakaknya yang khawatir setengah mati, "Vin mama khawatir sama Abel, emang apa yang terjadi ?".


Prank prank


Suara barang pecah terdengar dari dalam kamar Abel membuat perhatian mama Dina dan Alvin teralihkan, Alvin terus mencoba membuka pintu namun kamar di kunci dan ia tak bisa mendobrak pintu. "Ma nggak bisa kebuka".


Mama Dina sangat panik mendengar suara barang pecah, fikirannya melayang takut Abel kenapa-napa di dalam, "Gimana ya Vin mama sendiri bingung". Alvin teringat pintu penghubung kamarnya dengan kamar Abel, ia segera masuk ke kamarnya dan membuka pintu itu diikuti mama Dina namun sialnya pintu tersebut juga Abel kunci. "Ma tetep nggak bisa, apa nggak ada kunci cadangan ma".


"Iya kayaknya ada bentar mama ambil". Mama Dina turun dan mengambil kunci cadangan kamarnya Abel dengan tergesa-gesa dan kembali ke atas, membuka pintu kamar Abel dan ternyata bisa. Mereka masuk kedalam dan langsung terkejut ketika melihat semua barang sudah berserakan.


Beberapa menit sebelum mama Dina dan Alvin berhasil masuk ke kamarnya Abel, gadis itu membuang semua barang-barangnya, melemparkan ke segala arah dan membuang semua foto yang tergantung disana, ia juga melihat dirinya di cermin, "aku kotor aku sangat kotor".

__ADS_1


Abel mengambil gunting dari dalam laci dan menggunting rambutnya asal tak peduli jika kecantikannya berkurang, ia sangat jijik dengan dirinya sendiri. Dan juga sangat malu dengan semua hal yang ia lakukan dan hasilnya berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan.


Air mata terus menetes membasahi pipi, rambut yang biasanya ia rawat kini helai demi helai berjatuhan dan kian pendek bahkan sangat pendek. Bersamaan dengan itu mama Dina dan Alvin datang. "ABEEEL". Pekik keduanya.


"Yaampun Abel apa yang terjadi padamu jangan lakukan ini nak". Alvin merebut guntingnya dan mama Dina mendekap tubuh Abel dalam pelukan. "Kenapa nak kenapa seperti ini". Kesedihan Abel membuat mama Dina juga ikut bersedih dan menangis. "Vin tolong ambilkan air minum untuk Abel".


Alvin mengangguk dan mengambilkan air bagi Abel. Mama Dina terus mendekap tubuh putrinya yang menangis dengan deras dan tubuh bergetar dengan hebat. "Ma kenapa ma apa kurangnya aku kenapa dia memilih wanita lain apakah aku sangat tak berharga ?". Mama Dina seakan tersadar dan mengelus punggung putrinya.


"Apa kau jatuh cinta Abel ?". Abel mengangguk dalam tangisnya dan mama Dina melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Abel yang kini menjadi sembab akibat terlalu banyak menangis. "Abel dengarkan mama jika melangkah akan membuatmu semakin sakit lebih baik lepaskanlah, memang akan sakit saat awal tapi akan lebih baik daripada mengharapkan sesuatu yang memang tidak untukmu".


Abel terdiam walau begitu air matanya yang terasa kian hangat semakin membasahi pipi, ia dengan sangat terpaksa mengangguk karena memang itulah yang terbaik untuknya. "Iya ma aku akan melepaskan cintaku".


Mama Dina kembali mendekap tubuh Abel, ia tau akan sangat berat bagi putrinya dan Abel perlu pengawasan lebih juga agar hal seperti ini tak terjadi lagi. Alvin yang kembali membawa air minum memberikannya kepada Abel dan segera Abel minum.


******


Mama Dina menutup pintu kamar Abel setelah berhasil menenangkannya, mungkin Abel terlalu lelah menangis hingga ia kini tertidur. "Gimana ma ?".


"Abel lagi istirahat, Alvin apakah kau tau siapa yang Abel sukai ?". Alvin mengepalkan tangannya dengan erat, ia tau dengan pasti siapa yang Abel sukai dan akan memberikan pelajaran untuk lelaki itu, "orang yang Abel sukai dia Excel ma".


"Jadi gitu ya, udah mama kira". Mama Dina menghela nafas dan detik itu juga tatapan mata heran terlihat di wajah Alvin. "Mama udah tau ? Kok bisa ?".


"Karena cuma Excel yang bisa buat Abel jadi begitu seperti dulu saat kalian masih kecil". Mama Dina lalu menatap Alvin dengan tatapan dalamnya, "mama harap kamu nggak memperpanjang masalah ini, bagimanapun Excel juga bagian dari keluarga kita".


"Tapi ma". Alvin terhenti dan menatap mata mamanya, walau sang mama diam tapi diamnya itu menyiratkan seribu kata tanpa harus dikatakan, "baiklah ma".

__ADS_1


"Mama juga harap papa nggak tau tentang ini".


"Iya ma".


__ADS_2