Love You Brother

Love You Brother
Melupakan


__ADS_3

Ucapan Abel terhenti kala melihat ada seorang perempuan yang mendekat dan langsung mencium pipi Excel tepat di depan Abel. Seketika rok Abel menjadi sasaran remasan tangannya yang mengepal kuat.


"Jennie apa yang kau lakukan disini ?". Excel terkesiap dan langsung memegang pipinya yang telah di cium.


"Aku tadi janjian makan dengan temanku tapi dia malah ada urusan waktu kesini dan melihatmu disini aku langsung menghampirimu, aku gabung tidak apa-apa kan ?". Jawabnya.


Entah mengapa Abel tak percaya begitu saja atas penjelasan dari Jennie apalagi ketika melihat Jennie menarik salah satu kursi dan duduk tepat di sebelah Excel seraya bergelayut manja pada lengan lelaki itu tanpa tau malu karena tak hanya ada mereka saja disana, terlihat sekali ingin memanasi Abel.


"Aku rasa ini bukan wak__"


"Kalian lanjutkan saja jangan hiraukan aku disini anggap saja aku tidak ada". Ujarnya dengan senyuman tanpa dosa yang ia perlihatkan.


Abel berdecak dalam hati, tidak hanya memotong ucapannya dua kali tapi Jennie benar-benar sangat menganggu padahal wanita itu bilang jangan menghiraukannya tapi lihat saja ia bergelayut pada lengan Excel dan sangat menganggu.


"Aku minta maaf semua, Jennie jangan seperti ini aku aku sedang bekerja dan kami sedang meeting". Excel berusaha untuk melepaskan tangan Jennie, walau terlihat enggan tapi Jennie melepaskan tautan tangannya dan beralih menumpu dagunya melihat Abel. "Silahkan lanjutkan". Ucapnya dengan nada halus penuh ejekan ke arah Abel.


"Bisa kita lanjutkan ? Tadi kau mau bilang apa ?". Excel menanyakan apa yang tadi hendak di katakan oleh Abel sebelum kehadiran Jennie hingga membuat perkataan gadis itu terpotong. Abel sendiri enggan untuk melanjutkan meeting ini, ia benar-benar sudah badmood dan Jennie berhasil membuatnya tak berselera lagi untuk berada di sana.


"Tidak ada". Abel mengambil bolpoin dalam tasnya dan membubuhkan tanda tangan di kontrak tersebut lalu menggeser map itu ke arah Excel, "giliranmu".


Sedikit terkejut kala Abel tak melanjutkan apa yang hendak di katakan dan langsung tanda tangan begitu saja, tapi bukankah tujuan mereka di tempat ini memang untuk tanda tangan kontrak, jadi tanpa bertanya lagi Excel juga membubuhkan tanda tangannya di kontrak tersebut.


"Meeting sudah selesai ayo Luci kita kembali ke perusahaan". Abel mengambil tas jinjingnya dan berdiri hendak pergi namun Excel mencegahnya. "Tidakkah sebaiknya kita makan siang lebih dulu aku sudah memesankan makanan sebentar lagi datang, makanlah dulu aku yang akan mentraktir".


"Abel melihat Excel dan berganti melihat Jennie yang tersenyum mengejek ke arahnya, sebentar saja Abel melihat mereka serasa hatinya terbakar apalagi jika lebih lama. "Tidak terima kasih atas tawaran anda tuan harsaya tapi saya punya banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan". Abel beralih melihat ke arah Jennie, "karena saya bukan pengangguran yang kerjanya hanya menganggu kerjaan orang lain permisi".


Abel bisa melihat perubahan lada raut wajah Jennie yang kesal bahkan tangannya mengepal di atas meja itu, setelah tadi Jennie memanasi Abel membuatnya ingin membalas perbuatan rubah betina itu, "aku sudah bilang jika kau menggangguku maka aku akan membalasnya dua kali lipat kalau perlu". Gumamnya kemudian pergi.


Abel melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, sebuah helaan nafas muncul kala ia sudah masuk ke dalam mobil, "Luci aku lelah dan akan tidur sebentar kau bangunkan aku kalau sudah sampai kantor ya dan pesankan makanan jika kita sudah di kantor".

__ADS_1


"Baik nona". Luci mengemudikan mobil itu, mobil pribadi milik Abel permberian dari papa Rey kala ia sudah lulus kuliah, setelah mendapatkan mobil Abel tak lagi memakai supir ataupun mobil yang lain.


Luci sudah dipercayanya untuk duduk di belakang kemudi sedangkan ia sendiri berusaha untuk tidur sebentar guna melepaskan rasa lelah.


*******


Abel melempar tasnya diatas kasur juga tubuhnya yang langsung ambruk begitu saja akibat kelelahan bekerja. Tapi lebih dari itu ia menyentuh dadanya yang tadi terasa nyeri bahkan ia masih merasakan sakit itu saat mengingat kembali kejadian tadi siang.


Terfikir olehnya jika Jennie tadi memang sengaja untuk mengikuti Excel dan bukannya janjian dengan teman. Sekarang wanita licik itu tau kalau ia menaruh perasaan pada Excel dan sialnya lagi bahkan wanita seperti itulah yang Excel pilih.


"Bagaimana caranya aku melupakan laki-laki itu". Abel mengusap rambutnya dengan kasar hingga berantakan, ia sangat frustasi karena tak bisa mengusir Excel dari hatinya, hampir 20 tahun ia selalu mengagumi lelaki itu membuatnya susah untuk melupakan.


Abel mengambil hpnya yang berada di tas dan mengetikkan tulisan 'bagaimana cara melupakan seseorang yang kita cintai' pada kolom pencarian. Beberapa pilihan tertera disana namun ada stu yang membuat Abel merasa itu adalah cara paling ampuh dan efektif untuk melupakam Excel, 'temukan cinta yang baru'.


Abel beranjak dan keluar dari kamar, ia mencari seseorang yang dirasa bisa membantunya menemukan cinta yang baru, "kak lihat papa nggak ?". Alvin yang tengah menikmati rujak di sofa ruang tv menoleh ke arah Abel, "ada tuh di meja makan".


Tanpa bicara apapun lagi Abel segera ke meja makan dengan wajah seriusnya yang membuat Alvin merasa penasaran dan mengambil piring berisi rujak sambil mengikuti Abel untuk tau apa yang hendak adiknya lakukan."lo mau ngapain ?". Tanyanya namun tak dijawab Abel.


"Ntar aja ngomongnya yuk makan dulu, biar papa juga selesaiin makannya". Ucap mama Dina yang mengambilkan piring untuk Abel namun ia tak merasa lapar dan ingin mengatakan tujuannya segera.


"Pa cariin aku pasangan".


"Uhuk uhuk". Papa Rey tersedak oleh makanannya begitu juga Alvin yang tersedak rujak buah hingga merasa tenggorokannya sakit akibat buah yang belum sempat di kunyah namun langsung masuk ke perut.


Mama Dina mengambilkan air putih untuk Alvin dan papa Rey agar keduanya tak tersedak lagi. Abel jadi merasa bersalah melihat mereka sampai tersedak seperti itu namun ia tetap pada tujuannya.


"Jadi gimana pa ?". Tanyanya kala melihat papa Rey sudah tidak tersedak lagi dan sudah lebih tenang. "Lo yang bener aja". Timpal Alvin.


"Aku serius, papa pasti punya banyak kenalan kan tolong kenalin salah satu anak rekan bisnis papa ke aku pa please". Papa Rey kembali mengambil gelas berisi air itu untuk ia minum dan sejenak berfikir sebelum berucap. "Kamu yakin ?".

__ADS_1


Abel mengangguk dengan cepat memperlihatkan jika ia tak main-main dan serius dengan apa yang di katakannya, mungkin hanya inilah jalan satu-satunya agar ia bisa melupakan Excel dan segala rasa cintanya karena Abel merasa kalau rasa cintanya ke Excel harus segera di basmi sampai hilang.


"Tapi kenapa tiba-tiba seperti ini memangnya ada apa ?". Abel tak menjawab, ia tak bisa mengatakan kalau ingin melupakan Excel.


Mama Dina dan Alvin yang menyadari diamnya Abel tau apa alasan di balik gadis itu ingin cepat-cepat dicarikan pasangan, hanya saja rasanya terlalu miris dengan cara minta di kenalkan oleh papa Rey dengan salah satu anak rekan bisnis papa Rey, kesannya seperti minta di jodohkan saja padahal siapapun yang akan menjadi pasangan Abel tak masalah bagi papa Rey dan mama Dina asal Abel bahagia.


"Yasudah papa akan carikan pasangan buat kamu, tapi ini kamu yang minta ya kalau papa sudah menemukan yang cocok akan papa kasih tau". Abel dengan cepat mengangguk dan tersenyum, jika memang jodohnya bukan Excel makan secepatnya ia harus mencari tambatan hati yang lain.


"Makasih ya pa".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak dan vote juga


turun nih malah rankingnya padahal aku udah rajin upnya 😔😔😔


__ADS_2