Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Abel Kedua


__ADS_3

Excel mengepalkan tangannya erat saat mengingat kejadian tadi dimana Abel mengatakan kalau Abel yang dulu telah mati dan berganti panggilan menjadi Merry. Ia sangat tersinggung lantaran itu adalah nama ia ia berikan ke Abel dulu saat gadis itu lahir.


Bukankah nama Novabel dengan panggilan Abel sangat bagus ?. Tapi sepertinya Abel tak menyukai nama yang berikan, atau bahkan mungkin tak menyukai orang yang telah memberikan nama itu untuknya.


Ia sadar telah banyak berbuat salah kepada Abel dan ia tak menyalahkan Abel jika membencinya tapi membenci nama yang telah menjadi nama tengahnya selama ini dan juga panggilan itu, ia sangat tersinggung.


"Baiklah jika kau tau mau menggunakan nama itu". Excel menatap kesal sebuah pintu kamar yang tertutup dimana tadi Abel melewati pintu itu untuk masuk ke kamarnya. Dan Excel masih berdiri di tempatnya, tidak bergerak sama sekali.


Mungkin kesabaran Excel selama ini telah menyentuh titik batasnya hingga ia sangat kesal sekali, tapi ia akan bermain halus karena mengingat jika ini adalah balasan dari apa yang telah ia perbuat kepada Abel.


******


Mama Dina sedang menyiram bunga yang selama ini ia tanam sendiri dan kini telah bermekaran dengan cantik serta bau khas bunya yang terasa sedap di hidung. Tapi ia merasa aneh di bagian kaki layaknya ada bulu halus yang sedang menggelitiki kakinya.


Mama Dina melihat ke bawah untuk mencari tau apa yang telah di rasakan tadi oleh kakinya, dan ia cukup terkejut dengan kemunculan kucing berwarna kecoklatan yang sangat menggemaskan.


"Eh kamu datang dari mana ?". Mama Dina meletakkan selangnya dan mengangkat kucing itu untuk melihat wajah menggemaskan dari si pemilik bulu yang telah mengelus akkinya hingga menimbulkan perasaan menggelitik dan geli.


Ia tak pernah melihat binatang apapun dirumahnya jadi jika ada kucing tentu ia akan berfikir kalau kucing itu adalah milik tetangga sebelah yang kebetulan nyasar saat bermain. Dan mama Dina berniat untuk memberikan susu bagi si kucing barulah ia akan menanyakan ke tetangga sebelah jika merasa kehilangan peliharaan.


"Itu kucing punya siapa ma ?". Tanya Abel saat melihat mama Dina yang kembali dari kebun belakang dan membawa serta kucing di gendongannya yang tak ia ketahui sebelumnya milik siapa.


"Mama juga nggak tau, mungkin kucing tetangga yang nyasar". Jawab mama Dina dan membuka kulkas untuk mencari susu dan ia tuangkan ke wadah bagi si kucing.


Abel mendekat untuk melihat kucing yang menarik perhatiannya karena selama ia tak pernah punya hewan peliharaan. "Ini kucingnya lucu banget ma, gemes".


Alvin yang datang ke dapur hendak mengambil buah dari kulkas tak sengaja melihat Abel dan mama Dina tengah bersama, ia penasaran akan bahasan kedua wanita itu namun ia lebih penasaran akan kehadiran makhluk asing yang tak lain adalah seekor kucing yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Kucing siapa tuh ?". Tanyanya penasaran seraya menggigit Apel yang telah ia ambil dari dalam kulkas.


"Itu kucingku".

__ADS_1


Semua mata tertuju ke arah sumber suara dimana Excel berjalan mendekat dan mengambil kucing dari tangan Abel, untuk ia gendong dan elus. Dan dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya ia melihat ke arah semua orang yang masih disana.


"Kau memelihara kucing ?". Sebuah sumber suara lain yang juga membuat semuanya menoleh dengan kedatangan papa Rey karena tadi dari kejauhan ia melihat semuanya berkumpul di dapur, menimbulkan rasa penasaran yang membuatnya ingin mengetahui apa penyebabnya.


"Iya pa". Jawabnya singkat.


"Siapa namanya". Tanya papa Rey lagi dan sebelum menjawab terlihat Excel tersenyum ke arah kucing yang berada di gendongannya, membuat semua yang ada disana menjadi penasaran.


"Namanya Abel".


"HAH". Pekik semuanya akan nama yang di berikan untuk kucingnya.


Semua yang ada disana tercengang dengan apa yang baru saja mereka dengar dan berharap jika tadi mereka salah dengar.


"Kau bercanda kan ?". Mama Dina memastikan bahwa yang ia dengar tadi salah, lagipula memberikan nama Abel untuk seekor kucing itu sangat keterlaluan, apalagi itu adalah namanya Abel sebelum Abel minta untuk di panggil Merry.


"Aku tidak bercanda lagipula Abel maksudku Merry sudah tidak mau lagi nama itu kan ? jadi aku rasa tidak masalah memberikan nama yang ku buat sendiri untuk siapapun, aku ke kamar dulu ya".


Excel melangkah ke kamarnya membawa serta kucing yang berwarna coklat tersebut, meninggalkan mereka akan kebingungan yang baru saja ia ciptakan.


BRAAKK


Abel membuka pintu kamar Excel yang kebetulan tak di kunci dengan keras sekali, menimbulkan suara yang tercipta antara benturan pintu dengan dinding hingga membuat Excel dan si kucing terkejut.


"Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk ?".


Tak memperdulikan Excel yang mengguruinya tentang tata krama cara masuk ke kamar orang, Abel memilih untuk mengutarakan tujuannya sampai masuk ke kamar Excel yang tak pernah ia sambangi lagi sejak lama.


"Kenapa kucingmu kau beri nama itu ?". Abel enggan untuk menyebutkan namanya sendiri karena ia sudah tak menginginkan nama itu lagi berkat orang yang telah memberikannya nama tersebut juga memberikan ia kesedihan yang teramat besar.


"Kenapa lagipula kau tak mau di panggil dengan nama itu lagi kan ? Toh aku yang menciptakan nama itu jadi hakku untuk memberikan nama itu bagi siapapun yang aku kehendaki, bukankah kau bilang sendiri kalau Abel sudah mati maka dari itu aku menciptakan Abel yang lain".

__ADS_1


Tangan Abel mengepal kuat bersamaan dengan kata-kata Excel barusan, entah mengapa ia merasakan rasa sakit yang tak di ketahui apa alasannya padahal memang benar nama Abel adalah pemberian Excel sekaligus lelaki itu juga yang menciptakkannya.


"Tapi aku tidak suka jadi cepat kau ganti nama kucingmu". Perintahnya tak terbantahkan namun Excel tetap pada pendiriannya untuk memberikan nama si kucing dengan nama tersebut, tak peduli lagi toh Abel sendiri yang telah membuang nama itu.


"Aku tidak mau lagipula si Abel suka dengan nama itu". Excel yang menatap Abel kini beralih menatap kucingnya lalu ia gendong.


"Benarkan Abel ?".


"Meong"


"Tuh kan si Abel sudah cocok dengan namanya jadi aku tidak perlu minta pendapatmu".


Abel mengepalkan tangannya erat seraya berusaha menahan amarah yang sejak tadi ia rasakan tapi walau begitu ia tak bisa memarahi Excel lebih lanjut karena ia sendiri yang membuang nama pemberian dari Excel dengan alasan tak suka orang yang memberikan namanya.


Abel melangkah dengan kaki yang menghentak keras lantai kamar Excel akibat marah dan menutupi pintu itu dengan keras juga.


Excel hanya menggendikkan bahu, ia mungkin telah terbiasa dengan sikap Abel yang selalu marah-marah setiap harinya bahkan ia sudah tak pernah lagi melihat senyuman gadis itu. Tapi ia yakin setiap perjuangan yang ia lakukan tak akan ada yang sia-sia dan hasil tak akan menghianati.


Excel kembali duduk di ranjanganya dan mengangkat si kucing untuk ia letakkan di dadanya. Sejenak bermain dengan hewan berbulu itu ia rasa pasti akan menghilangkan stres.


"Jangan di hiraukan ya Abel, dia mungkin sedang datang bulan tapi anehnya datang bulannya setiap hari".


"Meong".


.


.


.


.

__ADS_1


.


Hayo sudah doble up jangan lupa tinggalkan jejak ya


__ADS_2