
Beberapa baju yang tadinya mereka bawa untuk menginap beberapa hari di hotel kini di kemas dan di masukkan ke dalam koper. Saat untuk check out telah tiba dan mereka harus kembali ke rutinitas masing-masing besok pagi. Sedih juga disaat keduanya masih ingin menikmati masa bulan madu, apalagi Excel yang memang sedari awal ingin cepat punya anak. Targetnya adalah Abel bisa hamil setelah mereka pulang, namun nyatanya mereka hanya melakukannya 2 kali saja.
"Kak aku lapar". Abel menggosok perutnya, terasa lapar karena setelah mereka semenjak bangun tak ada apapun yang masuk ke dalam mulut selain angin. Bahkan waktu mereka habiskan untuk berkemas.
"Barang sudah rapi semua kan ?". Abel mengangguk dan Excel melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah pukul 10 pagi dan hampir siang bahkan sebentar lagi waktunya makan siang. "Kita darapan dulu, sekalian bawa kopernya kebawah dari pada bolak-balik".
Mereka menyeret kopernya, hanya membawa sedikit barang saja karena menginap 3 hari 4 malam. Dan koper tersebut juga berukuran kecil, jadi tak terlalu merepotkan jika makan sambil membawa koper dari pada harus bolak-balik naik lift ke lantai atas tempat mereka menginap.
"Eh kak". Abel terkejut saat Excel mengambil alih koper yang berada di tangannya. "Biar aku aja kak yang bawa". Ia tak enak hati dan merasa masih bisa membawa kopernya sendiri.
"Biar aku aja". Jawabnya dan mereka telah sampai di restoran, mengisi perut yang sedari tadi minta untuk diisi bahkan sudah demo serentak hingga setelah kenyang mereka kembali ke tujuan awal.
Sebenarnya baik Abel maupun Excel sebelumnya hubungi orangtuanya masing-masing agar setelah kembali dari hotel bisa menginap dan tinggal disana. Dan itu menjadi pilihan berat untuk Abel dan Excel yang rencananya akan tinggal di apartemen sampai mereka mempunyai rumah sendiri.
Kedua orangtuanya tetap bersikeras untuk mereka berdua tinggal disana, namun setelah mengatakan kepada orangtuanya Abel dan Excel kondisi dimana baik kedua orangtuanya Abel dan Excel yang tak mau mengalah, akhirnya mereka mengerti dan membiarkan Excel juga Abel tinggal di apartemen demi kebaikan semuanya.
Mereka cukup mengerti dengan Excel yang adalah anak tunggal sementara' Abel adalah anak perempuan satu-satunya. Mereka bernafas lega setelah orangtua masing-masing mau mengerti.
Mereka telah sampai di apartemen tempat tinggal Excel sebelumnya, setelah menikah kini waktunya Abel untuk ikut kemanapun suaminya berada dan meninggalkan rumah orangtuanya. Ia harus beradaptasi di apartemen ini, dimana dirinya tak pernah tinggal di tempat selain rumah papa Rey sebelumnya.
"Selamat datang". Excel menyambut Abel saat dirinya membuka pintu, disana Abel tersenyum melihat tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya sekarang, bersih dan rapi seperti sebelumnya.
"Makasih".
__ADS_1
Mereka menuju ke kamar Excel yang sekarang akan ditempati oleh Abel juga, namun ia merasa kalau kamar Excel terlalu maskulin tanpa ada warna terang selain warna biru disana. Mungkin nanti dirinya harus bilang ke Excel agar menambah warna lain suapaya ia merasa betah.
Cukup lama mata Abel mengitari sudut kamar hingga ia merasa terkejut akan kedua tangan yang melingkar dari arah belakang. Bau parfum yang sangat ia kenali tersebut terasa menenangkan dan juga nyaman.
"Sekarang kita akan tinggal disini, secepatnya aku akan cari rumah tapi kalau kau mau mendesign sendiri aku akan panggil orang yang berpengalaman agar membuatkan rumah sesuai keinginanmu".
Abel melepaskan tangan Excel yang melingkar di perutnya, ia berbalik dan berganti tangannya yang melingkar di leher Excel, tersenyum manis akan setiap kata Excel yang begitu meneduhkan. "Kalau boleh aku mau design sendiri kak".
"Tentu saja boleh, apapun akan kulakukan untukmu agar kau bahagia". Tangan Excel ia letakkan di pinggang Excel namun tak tinggal diam begitu saja, tangannya naik dan mulai mencari keberadaan resleting disana. Setelah menemukan ia turunkan releting tersebut dan berbisik. "Gimana kalau kita naik ke puncak gunung lagi".
"Aaa". Belum sempat Abel menjawab, terlebih dulu Excel mengangkat tubuh Abel dan membaringkannya di ranjang. Mulai mengulang kegiatan mereka di tempat sebelumnya mereka pernah lakukan. Tetapi sekarang kondisinya berbeda dengan keduanya yang telah berstatus suami istri.
Seketika Abel tak sadar jika tubuhnya telah polos tanpa penutup, siap mengatakan selamat datang kepada ular yang hendak berkunjung kembali. Pertarungan kembali terjadi dengan desahan sebagai penyemangat si ular untuk mencapai keinginannya, hingga bisa ia tinggalkan sebagai penutup dan mengucapkan terima kasih, juga akan berkunjung lagi di lain waktu.
Mereka melewatkan makan siang karena perut yang baru terisi jam 10 tadi membuat mereka mempunyai energi, namun kini telah surut setelah bertarung dan meninggalkan banyak keringat yang membasahi tubuh keduanya dan tersenyum puas.
"Iya".
*****
Abel dan Excel kembali aktifitas masing-masing dan pagi ini Excel hendak mengantar Abel biar mereka menggunakan satu mobil saja. Namun Abel menolak dan mengatakan hendak ke suatu tempat saat pulang. Ia juga mengatakan kemana tempat tujuannya kepada Excel.
Reaksi yang Excel berikan saat ia mengatakan hendak mengunjungi Grace di penjara sangat mengejutkan laki-laki itu. Bagaimana tidak, karena Excel tau siapa dalang di balik ledakan yang hampir membuat Abel meninggal bahkan pernikahan mereka sampai tertunda. Bahkan Excel sempat melarangnya, namun Abel bersikeras hingga Excel memaksa untuk mengantarkan dan menemaninya.
__ADS_1
Sekarang Abel sampai di penjara tempat dimana Grace di tahan, ia penasaran mengapa Grace sampai melukainya hingga hampir membunuhnya. Ia geram sendiri dan ingin melihat kondisi Grace setelah di tahan, apakah akan berubah atau malah sebaliknya ?.
Di dalam jeruji besi ada salah satu tahanan yang bersender pada dinding, menunduk dan melihat ubin yang terasa sangat dingin ketika malam tiba, karena hanya beralaskan tikar tanpa kasur empuk atau bantal yang nyaman untuknya tidur.
"Grace ada yang mengunjungimu". Kata salah seorang sipir penjara.
Grace mendongak setelah mendengar namanya disebut, ia menatap datar polisi itu. Bahkan semejak di tahanan sorot matanya menjadi sayu, tanpa ada semangat hidup dan tujuan lagi. Ia hanya pasrah kepada keadaan dan pasrah kemanapun polisi menggiringnya.
Dirinya dibawa polisi menuju ke tempat seorang wanita yang sedang menunggunya, ia kira itu adalah Robin tapi ternyata tidak. Dan ia tak merasa mengenali siapa wanita tersebut sampai Abel berbalik dan mereka saling bertatapan.
"Kau.....".
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Dukunglah author dengan cara klik like, komen dan vote juga tip ❤️