
Tiba-tiba Abel merasakan di perutnya seperti ada yang mendorong ingin segera di keluarkan, rasanya seperti ingin BAB tapi bukan dan sangat sakit sampai tiba-tiba ia juga merasakan sesuatu yang basah dan berasal dari bawah. Abel melihat ke lantai tempatnya berdiri dimana terdapat cairan disana. Begitu juga dengan Excel yang ikut melihat.
"Sayang kamu ngompol ?". Tanya Excel yang mengira jika Abel tak tahan untuk mengeluarkannya di toilet dan memilih untuk mengeluarkannya disini sekarang.
"Nggak kak aku nggak ngompol, kayaknya ketubanku pecah".
"Eh, emang nggak bisa di tunda dulu, aduh". Dan seketika kepala Excel menjadi sasaran dari kekesalan mami Rita di saat itu juga. Heran dengan sang anak yang malah ingin menunda lahirannya Abel di saat seharusnya segera di bawa ke rumah sakit.
"Pi cepat siapin mobil, Excel bawa keperluan yang di butuhkan Abel nanti di rumah sakit". Spontan saja papi Jimmy langsung berlari ke garasi tempatnya tadi menaruh mobil dan ia keluarkam kembali, begitu juga Excel yang mengetahui saat Abel menyiapkan keperluan tempo hari dan tak menyangka jika ini akan terjadi secepat ini.
Di saat Excel masih ada di dalam, mami Rita menuntun Abel keluar rumah menuju ke dalam mobil yang sudah di siapkan. Mereka berjalan pelan namun pasti, karena mengetahui Abel yang sedang kesulitan. Untung saja Excel cepat datang dan segera ikut masuk ke dalam mobil hingga mereka segera menuju ke rumah sakit.
Mami Rita duduk di depan menemani sang suami yang sedang menyetir sementara Excel menemani Abel duduk di belakang. Ia merasakan perutnya yang beegejolak terasa sakit dan semakin membuatnya tak tahan.
"Aduh kok perutku sakit ya". Tangan kiri Excel memegang tangan Abel sementara tangan kanannya memegang perutnya sendiri berharap rasa sakit itu berangsur membaik, tetapi yang ia rasakan malah sebaliknya.
"Aduh Excel disaat seperti ini kau jangan malah menambah masalah, seharusnya kau tenangkan istrimu yang akan melahirkan". Tutur mami Rita dengan cukup ketus hingga Excel berusaha menahan rasa sakitnya.
Ia terus menggenggam tangan Abel dan melupakan apa yang saat ini sedang menyakiti perutnya, bahkan rasa sakit itu kian bertambah dan membuat keringatnya bercucuran di bagian dahi dan juga pelipis.
"Abel kau harus tenang ya, jangan panik semua pasti akan berjalan lancar, yang terpenting jangan panik". Mami Rita setiap beberapa menit sekali melihat ke belakang, mengecek Abel yang hendak melahirkan, ia khawatir tak akan keburu sampai di rumah sakit dan semua tekanan ini membuatnya lebih panik di bandingkan Abel sendiri.
"Iya ma ini aku nggak panik kok tapi kalau bisa lebih cepat lagi soalnya kayaknya aku mau melahirkan".
"Iya kau tenang saja". Mami Rita beralih menatap sang suami dan jalanan yang tak terlalu padat kendaraan. "Pi tambah kecepatannya, ini kalau melahirkan disini bisa bahaya".
"Baiklah kalian berpegangan karena aku akan menambah kecepatan, dan jangan salahkan aku nanti kalau ada polisi menilang". Sesuai dengan permintaan sang istri, papi Jimmy menambah kecepatannya hingga diatas rata-rata.
******
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang terasa sangat lama padahal hanya berjarak 45 menit saja dari rumah, kini mereka sampai di rumah sakit terdekat dan Abel langsung di bawa ke dalam ruang persalinan.
Excel masih senantiasa mendampingi sang istri dan menggenggam tangan Abel, ia bahkan seperti ikut merasakan sakit di perut yang teramat sangat tetapi berusaha ia tahan.
Menyadari akan rasa sakitnya yang tidak melihat kondisi, Excel berusaha tidak memperlihatkannya meskipun sakitnya seperti sudah sampai di ubun-ubun. Bahkan saat masuk mendampingi Abel yang berada di ruang persalinan, ia kian merasakan sakit yang tak kunjung reda bahkan malah semakin menjadi-jadi.
"Aduh sakit sekali". Excel mencengkram perutnya, rasanya seperti di serang puluhan tinju yang menyerang pada tempat yang sama, ia sampai meringis kesakitan. "Sakit sekali".
"Kak Excel kenapa ?". Abel sedari tadi melihat Excel, ia khawatir di saat seperti ini malah Excel juga terlihat kesakitan, bahkan sepertinya lebih kesakitan di bandingkan dengan dirinya yang hendak melahirkan.
"Nggak tau rasanya sakit banget". Masih mengcengkram kuat perutnya, Excel berganti memegang tangan Abel tetapi kembali ia lepaskan, takut jika Abel malah menjadi sasaran akan rasa sakitnya yang kian kuat.
"Ibu sudah siap, tenang saja ya bu ikuti aba-aba saya dan tarik nafas". Abel tidak terlalu mendengarkan ucapan sang dokter, ia terfokus dengan Excel yang memegang pinggiran brankar dengan kuat, wajah sang suami sangat memerah dan ia semakin cemas.
"Tunggu dok suamiku kelihatannya sakit". Ia menggenggam lengan Excel yang mengalirkan keringat dingin, baru kali ini melihat Excel sampai seperti itu. "Kak Excel nggak apa-apa kan ?". Tanyanya cemas.
"Kalau memang bapak sakit lebih baik keluar, karena bisa menggangu proses persalinan". Ujar sang dokter perempuan yang tidak terlalu heran karena ada juga pasien yang seperti ini, jengah karena Abel bukannya terfokus akan persalinannya tetapi malah mengkhawatirkan yang lain.
"Excel kenapa kau malah keluar ? Harusnya kau mendampingi istrimu di dalam ?". Keluarnya Excel membuat mami Rita heran dan melontarkan beberapa pertanyaan kepada sang putra. Ini adalah momen penting, tidak hanya bagi Abel tetapi bagi mereka semua dan Excel malah memilih untuk keluar ruangan.
"Perutku sakit sekali mi, aku tidak bisa menahannya".
"Kalau begitu cepat ke kamar mandi dan segera kembali lalu masuk ke dalam lagi". Perintahnya.
"Tapi mi ini bukan karena sakit itu tetapi yang lain". Excel kembali merasakan sakit di perutnya, kali ini beebeda dan semakin kencang juga seperti ribuan pukulan menghantam di saat yang beruntun, mencoba menarik seluruh tulangnya hinga terasa lemas. "Aduh mi tolong aku tidak tahan, sakit sekali mi".
Excel lemas dan semakin terjatuh bahkan ia berguling di lantai rumah sakit depan ruang persalinan Abel, kedua papi dan mami heran di saat seperti ini tetapi sang putra malah kesakitan bahkan merintih dan menjerit meminta tolong.
"Ini gimana pi ?". Tanyanya kepada sang suami.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, Excel cepat bangun kau jangan bercanda dan mempermalukanku".
"Aku serius, aku tidak bercanda rasanya sangat sakit sekali aduh du pi aaaaaah". Sejenak nyawa Excel seperti di cabut dari raganya secara paksa, sangat sakit hingga ia mati rasa dan wajah pucat menguasai ketampanannya yang sejenak memudar di telan rasa sakit.
Dan di saat setelah jeritan dari luar ruangan, nyatanya dari dalam ada seorang bayi kecil dan mungil yang gengah menangis kencang, memberikan sapaan kepada dunia dengan tangisannya yang memenuhi ruangan.
Bahkan Excel, mami dan papinya ikut mendengar suara lantang bayi yang telah hadir dalam hidup mereka, menjadi penerus keluarga sekaligus pelengkap rasa cinta ibu dan ayahnya. Sang dokter keluar dan langsung di sambut antusias oleh keluarga yang tengah menantikan kabar bahagia.
"Bagaimana dokter ?". Tanya mami Rita kian tak sabar menunggu sang dokter.
"Bayinya lahir dengan sehat dan ibunya juga selamat".
"Apa jenis kelamin cucuku dok ?"
"Jenis kelaminnya.....".
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hayuk dukung karena udah mau end, jangan lupa like, komen, subscribe, vote dan juga tip.