Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Malu


__ADS_3

Baik Abel dan juga Jennie menoleh ke arah sumber suara, mereka terkejut dengan adanya Excel di sana yang sedang melangkah mendekat dengan wajah yang tak ramah dan berdiri di samping Abel lalu memeluknya dari samping, memegang bahu Abel dan mengeratkan tubuh istrinya dengan tubuhnya.


"Excel sayang kau datang, aku tau kau pasti datang untuk menjengukku dan masih mencintaiku". Jennie tersenyum, setelah mendekakam beberapa bulan di dalam penjara, untuk pertama kalinya Excel datang menemuinya.


"Kau salah Jennie aku tidak menjengukmu tapi aku mencari istriku disini". Excel semakin mengeratkan tangannya yang memegang bahu Abel, menunjukkan bahwa Abel yang di maksud dengan istrinya. "Abel adalah istriku karena kami sudah menikah". Jelasnya.


Bagai di sambar petir, Jennie menggeleng menampik kenyataan yang baru saja ia dengar dan tak mau ia akui kebenarannya. Walau hal itu berasal dari mulut Excel sendiri, Jennie tertawa sumbang. "Excel kau jangan bercanda, tidak lucu sama sekali jika kau menikah dengannya".


"Memang tidak lucu karena kami tidak sedang bercanda". Abel sedikit mendongakkan kepalanya melihat Excel yang juga melihatnya. "Benarkan sayang ?".


"Tentu saja".


Abel kesini berniat untuk mengunjungi Jennie dan mengetahui keadaan wanita itu di dalam penjara, namun tak menyangka kalau Excel akan menyusulnya kesini. Dan ia tak rela jika Excel bertemu dengan Jennie lagi, walau sudah di dalam penjara namun rasa cemburu itu masih ada.


"Kak kita pulang yuk". Ajaknya, ia tak ingin terlalu lama disini, takut jika Excel akan merasa iba dengan Jennie atau malah mempunyai perasaan yang dulu mereka punya itu kembali. Karena sekarang Abel adalah istrinya jadi sekarang Abel akan mempertahankan apa yang ia punya dan tak akan pernah ia lepaskan.


"Iya kita pulang". Excel tersenyum kearah Abel namun senyumnya luntur saat melihat Jennie. "Jennie kami pulang dulu". Pamitnya dan mereka berbalik melangkah semakin jauh dari sel tahanan Jennie.


"Excel jangan pergi, Exceeel". Jennie mengguncang jeruji besi yang mengurungnya di dalam, tapi semua percuma ia hanya bisa menatap nanar kepergian Excel dan Abel dari dalam jeruji penjara.


Mereka menjauh menuju ke depan untuk pulang, namun Abel sesekali mencuri pandang kepada Excel yang menggengam tangannya saat mereka berjalan. Ia menoleh saat Excel manangkap basah telah melihatnya. "Ada apa ?". Tanyanya.


"Kak Excel kok tau aku ada disini ?". Abel heran soalnya ia hanya bilang akan mengunjungi Grace dan bahkan tak ada rencana untuk mengunjungi Jennie. Namun mengapa Excel bisa tau keberadaanya sekarang.


Abel kurang suka Excel bertemu dengan Jennie yang merupakan mantannya, mereka bahkan pernah bertunangan dan ia takut jika Excel datang karena merindukan Jennie. Abel takut rasa yang pernah ada pada diri suaminya untuk wanita lain kembali hadir, ia memang istrinya Excel sekarang tapi rasa takut kehilangan tentu membuatnya waspada.


"Aku nyuruh orang buat lacak keberadaan kamu karena dari tadi kamu nggak pulang-pulang". Dan seketika Abel bernafas lega, ia kira Excel memang ke penjara karena merindukan Jennie tapi ketakutannya tak terbukti.

__ADS_1


"Gimana kak ?". Langkah Abel terhenti dan tangan yang sedari tadi tertaut seketika membuat Excel juga ikut menghentikan langkahnya. Ia menatap Excel dengan pandangan penuh tanya.


"Gimana apanya ?".


"Gimana rasanya ketemu sama mantan ? Nyesel nggak dulu putus?". Abel mencoba memastikan, setelah sekian lama Excel tak bertemu dengan Jennie mungkinkah rasa rindu itu datang, dan Excel hanya pura-pura biasa saja didepannya. "Jujur aja kak aku nggak mau di bohongin".


Tangan yang sedari tadi tertaut kini Excel lepaskan, ia memilih menangkup kedua pipi Abel dan mendongakkannya. Hingga mata mereka bertemu, kilatan di mata keduanya menandakan arti yang berbeda. Disaat rasa takut muncul di mata Abel, Excel malah sebaliknya. "Rasanya biasa aja". Jawabnya dan Abel masih kurang yakin.


"Jawab yang jujur kak". Entah Abel yang kurang percaya dengan cintanya Excel atau apa. Yang pasti sekarang Excel berdecak saat ia merasa cintanya di ragukan apalagi setelah melewati begitu banyak rintangan.


"Ini aku jujur ya".


Abel mangangguk dengan semangat, menanti jawaban dari Excel yang sangat ia tunggu walaupun ada rasa takut jika jawabannya membuat sakit hati. " Apa ?".


"Rasanya memang biasa aja, malah aku takut tadi dia nyakitin kamu, putusnya hubunganku ke Jennie nggak meninggalkan rasa lagi karena semuanya sudah hambar dan aku memang sudah nggak cinta lagi sama dia". Excel menghela nafas, ia mengeluarkan apa yang di rasakan saat tadi bertemu dengan Jennie, tak ada kebohongan karena memang rasa itu telah tiada.


"Iya sayang, kayaknya nanti kamu harus di hukum karena udah buat aku ketemu sama Jennie, kamu juga nggak izin kalau mau ketemu sama Jennie dan nggak pulang". Pipi Abel jadi sasaran, dua cubitan di kedua pipinya menjadi sasaran kekesalan Excel.


"Aduh kak sakit". Abel mengusap pipinya, terasa sedikit kebas dengan cubitan Excel yang nyatanya hampir seperti capitan kepiting. Ia harus hati-hati jika Excel mau mencubitnya di lain hari.


Excel gemas dengan Abel yang terlihat sebal, entah mengapa malah membuatnya tambah gemas. Rasanya menyenangkan menggoda Abel seperti itu, sifat Abel yang kekanakan seperti dulu kini kembali namun sudah lebih dewasa. Jika nanti mereka punya anak mungkin Abel akan berubah mempunyai sifat keibuan. Ngomong-ngomong tentang anak, ia jadi ingin buat.


Kepala Excel mendekat ke telinga Abel, ia berbisik. "Kayaknya nanti malam kita nggak usah tidur, kamu temenin aku sampai pagi".


Seketika semburat merah di wajah Abel terlihat, ia kembali merasa malu kalau di goda Excel dengan hal seperti itu. Lelah memang setelah bekerja namun ia masih mampu jika harus begadang malam ini, demi suami tercinta.


"Iya kak". Abel tertunduk malu, dan tangan Excel menangkat dagunya hingga mata mereka saling bertemu dengan rasa saling mendamba, semakin dekat wajahnya dengan wajah Abel dan kurang sedikit lagi kedua bibir itu saling menempel sampai.....

__ADS_1


"Ehem, ini kantor polisi bukan taman untuk bermesraan, kalau mau pacaran jangan disini apalagi melakukan hal tidak pantas, kalian bisa kena hukuman". Suara polisi mengagetkan mereka, seketika tersadar dan sangat malu.


"Maaf pak". Ujar keduanya, tadi mereka hendak keluar dari kantor polisi namun karena Abel berhenti saat kurang beberapa langkah lagi, dan mereka berdebat kecil hingga lupa di mana tempat mereka berada saat ini. Jadinya sekarang mereka kena teguran dari polisi dan di lihati beberapa polisi yang sedang berada disana.


Keduanya sangat malu dan langsung keluar sebelum malah di jebloskan ke penjara karena masalah sepele, padahal mereka suami istri dan bukannya pacaran. Tak ada yang salah jika melakukan hal apapun namun, yang salah tempatnya.


"Aku malu kak".


"Sama aku juga".


.


.


.


.


.


.


.


.


.Dukung author dengan cara klik like,komen, vote dan tip.

__ADS_1


__ADS_2