Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Turun Pangkat


__ADS_3

Empat kaki kaki kecil nan menggemaskan melangkah memasuki rumah dengan pelan seraya sesekali berhenti untuk menggosok tubuhnya yang terasa sangat gatal akibat banyaknya debu yang menempel dan berhamburan saat berjalan. Pemilik kaki kecil yangberjumlah 4 buah tersebut adalah si kucing kecil yang Excel namani Abel.


Dan dentingan lonceng menyertai langkahnya memberikan suara dan tanda akan kedatangannya sekaligus memberitahu jika kucing itu mempunyai pemilik yang tinggal di rumah yang luas tersebut.


"Abel aku cari kamu kemana-mana ternyata disini". Excel mengangkat tubuh kucing yang beberapa hari lalu ia beli di toko hewan dipelihara untuk mengusir rasa suntuk sekaligus pengusir rasa stres akibat dari perjuangannya yang selalu mendapat makian dari seorang gadis.


"Kamu kotor banget, pasti habis main sama kucing tetangga, kan aku sudah pernah bilang jangan main sama kucing itu karena tidak baik nanti kalau kamu hamil gimana, ayo aku mandiin".


Excel membawa kucing itu untuk ia bersihkan dari segala kotoran yang menepel di badan sang kucing sebelum nanti mengotori rumah yang ia tinggali. Meskipun tak ada yang protes kalau ia memelihara kucing tapi Excel bertanggung jawab akan kebersihan peliharaannya.


Entah Excel tadi sadar atau tidak waktu ia berbicara dengan kucingnya sebelum menggendong kucingnya dan ia bawa ke kamar mandi ada Abel yang tengah sibuk dengan hpnya di sofa. Dan tentu saja Abel bisa mendengar semua yang Excel katakan ke kucing itu apalagi tentang main bersama kucing lain dan sampai hamil, ia benar-benar merasa tersindir.


Entah karena namanya dan nama si kucing sama hingga ia merasa tersindir dan hendak memarahi Excel kalau tadi ia tak ingat jika sekarang ia tak mau di oanggil dengan nama itu dan nama tersebut hanya tertulis di KTP sedangkan ia tak mengakuinya lagi.


"Excel nyebelin". Rutuknya dalam hati saat mendengar apa saja yang tadi Excel katakan, ia benar-benar berhasil di buat kesal oleh Excel dengan mendatangkan seekor kucing yang dengan sengaja di beri nama sama oleh Excel.


Abel melangkahkan kaki ke dapur setelah tadi di beritahu mama Dina lewat hp jika mama Dina dan bi Asih sedang belanja bulanan akibat semua kebutuhan mereka telah habis. Dan ia beranjak dari duduknya ke dapur guna memasak karena tak ada makanan sedangkan mama Dina masih lama kembalinya.


Abel membuka kulkas dan melihat bahan apa saja ia bisa ia gunakan untuk dimasak namun akibat bahan yang sudah habis dan hanya tersisa kangkung juga tempe maka makanan sederhana yang akan ia masak untuk siang ini adalah tumis kangkung dan tempe goreng.


"Alvin yang datang ke dapur seraya memegangi perutnya akibat rasa lapar yang menyerang, membuat instingnya untuk mencari makanan di dapur namun merasa kecewa saat tak mendapati apapun di kulkas atau di meja makan.


Alvin mendekat setelah mencium bau masakan juga suara berisik yang tercipta akibat minyak panas yang di campur bumbu. Ia berdiri di sebelah Abel dan melihat wajan yang sedang Abel bolak-balik isinya.


"Lo masak apa ? gue laper nih".


"Tumis kangkung sama tempe goreng". Jawabnya setelah sejenak melihat sang kakak yang memegang perut dan kembali melihat masakannya.


"Emang nggak ada yang lain apa ? Gue tuh manusia bukan kambing lo suruh makan rumput". Alvin mendengus kecewa lantaran perutnya sudah lapar dan Abel hanya memasak makanan yang bahkan tidak ada dagingnya sama sekali layaknya binatang yang makannya tumbuhan.

__ADS_1


"Dimakan aja sih kak apa yang ada, mama sama bi Asih lagi keluar buat belanja soalnya pada habis semua di kulkas, lagian ini kangkung bukan rumput".


Dan di saat Alvin harus pasrah oleh tumis kangkung yang Abel pindahkan dari wajan ke piring dan ia berikan ke tangan sang kakak agar di makan, disaat itu juga Excel datang membawa bungkusan plastik yang berisi sterofom dengan steak salmon di dalamnya dan ia pindahkan ke wadah makan si kucing kesayangan.


Sejak steak itu datang aromanya sudah memenuhi dapur hingga membuat mata Alvin terdiam tak bergerak memandangi betapa menggiurkan steak itu dan terlihat sangat lezat kontras dengan satur kangkung di tangannya.


"Itu steak beneran buat si kucing ?". Tanyanya memastikan karena ia merasa keheranan dengan kucing peliharaan Excel yang di beri makan makanan mewah sedangkan ia yang manusia saja makannya sayuran. Elit sekali kucingnya.


"Tentu saja". Setelah menjawab pertanyaan Alvin dan membuang bungkus steak yang sudah ia pindahkan ke piring, segera Excel mencari kucingnya dan memberi makan binatang peliharaan tersebut tanpa memperdulikan dua orang yang masih melihatnya dari tadi.


"Gila si kucing di kasih steak, gue berasa turun pangkat sumpah".


Abel kesal setengah mati, bisa-bisanya Excel memperlihatkan steak yang akan ia berikan ke kucing seakan memamerkan makanan yang ia punya lebih baik dari masakannya tanpa mau menawarkan, bahkan malah memberikan ke kucing yang harusnya di makan oleh manusia.


Ia juga tersinggung dengan Alvin yang seakan tak bersyukur dan menginginkan yang lain. Dengan kesalnya Abel mengambil sayur kangkung yang telah ia masak dari tangan Alvin tak peduli dengan omelan sang kakak.


"Eh balikin gue laper".


*******


Excel sudah siap dengan setelan baju kerjanya beserta koper berukuran kecil yang akan ia bawa karena harus keluar kota untuk beberapa hari karena ada urusan pekerjaan bahkan jadwalnya akan sangat padat di sana, contohnya saja saat sudah tiba disana ia langsung akan menghadiri pertemuan penting dan meninggalkan si kucing kesayangannya di rumah karena tak bisa ia bawa.


Excel menyerahkan pengurusan kucingnya kepada bi Asih dan ia sudah menjanjikan beberapa nominal bahkan sudah memberikan DP sebagai biaya pengasuhan kucingnya karena tak mau merepotkan yang lain. Apalagi menyuruh Abel yang ia rasa malah akan mengusir kucingnya.


"Kamu jaga diri baik-baik ya sampai aku pulang, jangan pergi malem-malem, jangan godain kucing luar dan jangan keseringan main sama kucing tetangga ntar bisa-bisa kamu dewasa sebelum waktunya". Pamitnya kepada si kucing yang entah mengerti atau tidak tapi di balas dengan satu kata.


Meong


Walaupun ucapan Excel di tujukkan ke arah kucingnya tapi entah mengapa Abel yang duduk di sofa ruang tamu dan tidak sengaja mendengarkan jadi merasa jika ucapan Excel tadi di maksudkan untuknya.

__ADS_1


"Ma aku pergi ya". Pamitnya kepada wanita paruh baya yang ia anggap sebagai ibu sendiri bahkan ia sangat menghormati wanita itu. Karena talah menganggap dirinya seperti anak sendiri tanpa membeda-bedakan juga kelembutan mama Dina yang selalu membuat hatinya terasa tenang, mungkin itulah yang papa Rey lihat dari mama Dina.


Dan sifat itulah yang mama Dina wariskan ke Abel sebelum gadis itu berubah menjadi gadis dengan mulut yang pedas, tapi ia tak menyalahkan Abel karena bagaimanapun ia tau apa alasan di balik ucapan yang selalu terlontar pedas layaknya bubuk cabai level 15. Pedas dan sangat menyengat.


"Iya kamu hati-hati dijalan". Balasnya seraya merapikan setelan kerja Excel yang sedikit berantakan di bagian kerah.


"Pergi aja kalau perlu nggak usah balik ke sini sekalian". Tukas Abel.


"Abel nggak boleh ngomong gitu". Mama Dina lalu kembali melihat ke Excel yang ada di depannya. "Jangan di masukkan ke hati ya ?".


"Nggak apa-apa ma udah biasa juga".


Excel melangkahkan kakinya melewati pintu keluar dan sebelum masuk ke mobil ia berbalik menatap pintu berharap ada yang keluar dan mengatakan. "aku disini menunggumu pulang dengan selamat".


Tapi nyatanya itu hanya keinginannya dalam hati saja karena ia harus merasakan kecewa saat mengingat ucapan terakhir yang terlontar dari mulut gadis itu.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak


Ternyata reader kalau nggak disuruh vote, nggak pada vote ya


__ADS_2