Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Hanyut Dalam Lamunan


__ADS_3

Abel memutuskan untuk pulang ke rumah daripada harus bekerja dengan luka yang berada di wajah dan juga tangannya, bahkan ia sudah tak ada mood sama sekali untuk bekerja namun saat berjalan ke arah lift, sayup-sayup ia mendengar beberapa lelaki yang tak terlaku muda membicarakan papa Rey.


"**Dari dulu sampai sekarang, itu ceo kita tambah tua tapi kalau ngomong juga tambah pedes, setiap habis dimarahi rasanya nyawaku berkurang sehari".


"Aku juga habis dimarahi padahal aku sudah bekerja sampai lembur tapi tetap saja mulutnya sangat pedas, jangan-jangan tadi malam dia tidak dapat jatah dari istrinya".


"Aku juga untung aku tidak punya riwayat penyakit jantung, tadi saja berkas yang kuberikan hanya di baca sebentar langsung di banting, kalau begini aku bisa mati di tempat**".


Tangan Abel mengepal, entah apa saja yang di lakukan papa Rey kepada mereka karena yang jelas ia tak suka papa Rey di bicarakan seperti itu. Bahkan papa Rey adalah bos mereka mengapa sampai mejelek-jelekkan papa Rey di belakang.


"Tolong ya bapak-bapak dari pada ngerumpi tidak jelas lebih baik selesaikan tugas kalian, lagipula papa saya menggaji kalian bukan untuk membicarakannya".


Semua merasa terkejut dan takut akan kehadiran Abel yang tanpa mereka sadari bahkan Abel sudah mendengar mereka menjelekkan papanya yang ada nanti surat pemecatan akan melayang dan menempel di muka mereka.


"Kami minta maaf". Mereka langsung meminta maaf seraya menundukkan kepala takut jika Abel akan mengadukan ini dan memecat mereka.


"Lebih baik kalian kembali ke meja masing-masing dan selesaikan pekerjaan kalian". Perintahanya.


"Baik". Mereka semua langsung pergi setelah mendapat perintah sebelum si anak macan mengamuk dan mengeluarkan taringnya siap menerkam dan saat sudah di rasa Abel masuk ke dalam lift mereka menghembuskan nafas berat.


"Bapaknya kayak setan anaknya lebih nyeremin". Lanjutnya.


"Iya muka cantik kayak bidadari tapi mulutnya kayak malaikat pencabut nyawa, serasa mati". Imbuh yang lain lalu mereka semua kembali ke meja masing-masing dan mengerjakan tugasnya.


Siapa yang tak tau Abel, Abel yang merupakan anak pemilik perusahaan bahkan semenjak Abel menginjakkan kaki di perusahaan gadis itu sudah di gadang-gadang akan mewarisi perusahaan, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat dan perisapan yang matang maka singgahsana akan jatuh ke tangan Abel seperti halnya kedua kakanya yang lain.


Saat di dalam lift Abel menekan tombol lantai paling bawah yang merupakan tempat mobilnya terparkir disana, namun tanpa di duga ada sebuah tangan yang menghalangi lift menutup dengan sempurna sampai kembali terbuka, bahkan belum sampai terbuka sepenuhnya Abel sudah bisa melihat wajah Excel di depan lift.


"Ngapain lagi sih, heran deh dimana-mana selalu ada, apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengikutiku ?". Gadis itu menatap Excel dengan wajah kesalnya seraya melipat dada, ia mendengus kesal setelah semua yang tunangannya itu lakukan padanya bahkan di kantor tempatnya bekerja sekarang Excel yang menghantui ia kemanapun pergi.


"Aku nggak ngikutin kamu, aku mau ke perusahanku tapi kalau memang kita tidak sengaja bertemu mungkin tandanya kita berjodoh". Excel tersenyum dengan jumawa, namun berbeda dengan Abel yang berdecih di dalam hati mengapa ia selalu saja bertemu dengan lelaki di sampingnya itu padahal ia tak mau bertemu atau berdekatan.


Abel mengambil jarak sejauh mungkin dengan Excel bahkan sampai berpepetan dengan dinding agar bisa berjauhan dengan lelaki itu tapi mau sejauh apapun besarnya lift tetap tak membuatnya jauh.

__ADS_1


Tiba-tiba jalannya lift tidak lancar bahkan seperti macet atau memang macet yang pasti itu cukup membuat Abel tak nyaman sama sekali, di tambah dengan guncangan juga lampu yang menjadi penerang berkedip layaknya api yang sudah hampir kehabisan bahan bakar.


Abel sejenak menutup mata dan membuka matanya kembali berusaha tenang dari keadaan yang ia tak sukai yaitu lift yang macet dan lampu mati hingga membuat kedua tangannya menepal kuat menahan rasa takut.


"Abel jangan takut, kau tenang ya". Excel berusaha menenangkan Abel agar tak takut mengingat terakhir kali ia melihat Abel yang sangat ketakutan hingga menangis dan memeluknya pasti sekarang keadaan Abel sedang tak baik.


"Kenapa harus takut ? Aku baik-baik saja". Abel bersuara dengan mengontrol semua ketegangan juga ketakutannya, ia tak mau terlihat lemah dan diremehkan oleh Excel bahkan ia akan menbenci dirinya jika terlihat memprihatinkan.


"Kau tenang sebentar lagi semua akan berlalu dan kita akan keluar". Excel berusaha meraba tempat di mana Abel berdiri tadi, dan ia mengelurkan hp untuk mengidupkan cahaya guna menerangi lift tersebut.


"Jangan mendekat atau akan kulempar sepatuku lagi". Ancamnya dan berhasil membuat Excel berhenti untuk mendekati Abel, namun lelaki itu tetap melihat Abel dan mengawasi siapa tau Abel hanya berusaha menyembunyikan raut wajah takutnya.


"Kau bisa memelukku jika kau takut ?". Tawarnya dan itu malah membuat Abel memberikkan delikan tajam kepada Excel.


"Jangan mengambil kesempatan atau berfikiran aneh di saat seperti ini".


Diam, hening, tanpa ada yang membuka suara hingga beberapa menit kemudian lampu kembali menyala dan lift kembali berjalan menuruni setiap lantai untuk sampai di lantai dasar. Setelah sampai Abel berjalan menjauh dari Excel dan menghembuskan nafas lega karena akhirnya suasana menakutkan itu bisa ia lalui. Namun tanpa di duga sebelum Abel masuk Excel menarik tangannya sampai masuk ke dalam mobil dan langsung Excel kunci hingga Abel tak bisa kabur.


"Apa-apaan sih ?".


Mobil Excel memasuki garasi rumah dan saat pintu sudah di buka dengan langkah kesal Abel keluar dari mobil Excel tanpa menunggu lelaki itu turun dan masuk bersama, begitu Abel masuk ke dalam rumah gadis itu disambut oleh mama Dina dengan beragam pertanyaan tentang mengapa wajahnya terluka dan beragam lainnya.


"Kok kamu udah pulang ? Papa mana ?". Tangan mama Dina terulur menyentuh dagu Abel dan memperhatikan wajah putrinya yang di plester juga goresan yang lain dengan darah yang bercampur obat merah yang mengering.


"Ini kenapa ? Tadi kamu jatuh apa kepentok pintu ?". Tanyanya.


"Habis kena cakaran kucing garong ma". Jawaban Abel berhasil membuat mama Dina mengerenyit keheranan dan kurang percaya, lagipula untuk apa kucing garong main di perusahaan.


Namun kebingungan itu sedikit memudar saat mama Dina melihat Excel dari arah pintu rumah yang juga masuk, ia langsung memberikan tatapan pertanyaan kepada keduanya mengapa mereka bisa sama-sama pulang padahal hari masih pagi bahkan belum ada jam sebelas.


"Ini kalian berdua pulang bareng, siapa yang mau jelasin ?". Tanyanya kepada mereka berdua dan sejenak mereka masih diam memikirkan alasan yang pas tanpa membuat mama Dina berubah sikap.


"Aku cuma nggak enak bada ma makanya...". Abel sejenak berhenti dan berganti melihat Excel dengan tatapan micingnya. "....aku pulang dan dia lagi main ke perusahaan jadi dianter tadi". Jawabnya ogah-ogahan bahkan itu terlihat sekali.

__ADS_1


Setelah menjelaskan ke mama Dina bahwa ia baik-baik saja dan hanya tergores sedikit bahkan goresan tersebut akan hilang beberapa hari lagi lalu Abel izin masuk ke dalam kamar.


*******


Walau sudah istirahat namun suasana hati Abel masih kesal saat setiap isi di fikirannya memikirkan pergelutannya dengan Jennie. Wanita yang ia katakan sebagai rival, setidaknya dulu entah ia benar-benar menganggap Jennie sekarang atau rival ia sendiri masih belum yakin.


Alasan mengapa ia dan Jennie bertengkar adalah seorang lelaki, disaat seharusnya lelaki yang memperebutkan perempuan dan sekarang sebaliknya seolah derajat perempuan sangat rendah sehingga untuk mendapatkan seorang lelaki saja perlu adanya perkelahian yang memalukan.


Sekarang Abel di ayunan yang berada di belakang rumah yang ia gunakan sebagai tempat yang tepat untuk menyendiri dan mengembalikan mood agar lebih baik. Bahkan ayunan yang saat ini ia duduki itu sudah berusia sangat lama karena tempat inilah dulu Excel sering menyendiri setelah mengetahui jika lelaki itu bukan anak kandung mama Dina dan papa Rey.


"Aku mencarimu sedari tadi, mama memanggilmu untuk makan".


Suara dari seorang laki-laki yang sangat ia kenal dan tak lain adalah pemilik ayunan ini dulu yaitu Excel menyadarkannya akan lamunan ketika mereka masih kecil dan banyak ilalang tinggi yang di gunakan sebagai tempat bermain. Namun setelah kepergian Excel kini ayunan itu menjadi milik Abel karena hampir setiap hari Abel menunggu disitu berharap sang kakak akan segera kembali dan bermain berasamanya.


"Aku nggak laper". Jawabnya singkat dengan mata yang masih memandang ke depan, ia tak mau melihat Excel karena takut akan hanyut dalam lamunan masa lalu yang berbeda dengan kenyataan sekarang dimana semuanya seperti berusaha untuk di kembalikan layaknya ketempat semula tapi Abel berusaha untuk menjauh.


"Kamu ngapain disini ? Daripada disini nggak ngapa-ngapain mending main nikah-nikahan yuk kayak dulu ?".


Abel seketika menoleh dengan tatapan tajam karena Excel berhasil menyulut amarahnya, tidakkah lelaki itu tau mengapa ia sampai seperti ini dengan semua bekas luka dan membuatnya pulang kerja dan sekarang bahkan Excel masih mau mengganggunya.


"Kalau nggak mau yaudah jangan natap aku kayak gitu". Abel kembali melihat ke depan namun tatapan Abel tadi tak membuat nyali seorang Excel menciut bahkan ia menyeringai akan perkataan yang hendak diucapkannya.


"Kalau gitu gimana kalau kita nikah beneran ?".


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ini jumlahnya 1400 kata lebih dan kalau kalian bilang ini masih dikit silahkan di tambah sendiri saja di imajinasi masing-masing.😑


Jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2