
Excel menepuk dahinya, serasa ingin marah dengan hadiah pemberian sang papi yang tiada bandingannya. Jika ada sang papi di depannya mungkin ia akan melayangkan tatapan nyalang. Tapi itu nanti jika mereka bertemu karena sekarang yang di dekatnya adalah Abel, ia harus menetralkan keadaan dan bersikap biasa saja.
"Ini di buang aja, nggak bakalan terpakai". Excel hendak beranjak dan ingin membuangnya ke tempat sampah, namun Abel terlebih dulu merebut botol obat lucknut tersebut seraya mengidentifikasinya karena belum tau apa kegunaan obat tersebut.
"Ini obat apa kak ?". Abel hanya membaca tulisan besar disana yang bermerek vimax, namun untuk apa obat tersebut ia tak tau dan penasaran mengapa sang mertua malah memberikannya obat karena baik ia maupun Excel tak sedang sakit.
"I-ini cuma vitamin aja, udah mending dibuang kita nggak butuh itu". Excel sedikit bernafas lega Abel tak tau fungsi obat tersebut, setidaknya Abel tak akan berfikiran macam-macam kepadanya, apalagi dirinya belum mendapatkan hak yang selalu di tunggu para pengantin di malam pertama mereka.
Walau mereka pernah melakukannya namun akan berbeda lantaran yang pertama Excel tak sadar waktu membobol gawang sementara yang kedua Abel yang tak sadar dan dalam pengaruh obat. Mengingat waktu dulu, membuatnya menyayangkan dirinya yang tak sadar pengalaman pertama itu, pasti Abel masih sempit dan nikmat.
"Kalau vitamin jangan di buang kak mending disimpan aja, siapa tau kita butuh". Abel meletakkan botol obat tersebut di atas nakas dengan polosnya, andaikan gadis itu tau entah akan seperti apa reaksinya nanti.
Excel meringis melihat pil lucknut yang malah terpajang disana, ia bersumpah akan membuang ke tong sampah saat Abel sudah lupa. Dan akan meminta penjelasan dari sang papi yang tak percaya akan kekuatan ularnya.
"Kita lanjut buka kado ya kak". Abel mengambil beberapa kado lagi dan ia buka diatas ranjang, isinya standar seperti kado untuk pengantin pada umumnya. Ada yang memberikan mereka jam tangan pasangan, dan bermacam-macam hingga membuat Excel menguap karena mengantuk.
"Kak ada yang kasih dasi, ini bagus banget pasti cocok kalau kak Excel pakai". Abel menoleh ke arah Excel setelah mengalihkan perhatiannya dengan seutas dasi di tangan, namun ia terkejut mendapati mata Excel yang hendak tertutup dan kepala yang bertumpu pada tangan.
"Kak Excel ngantuk ya ?".
"Nggak". Excel membantah padahal ia kembali menguap dan matanya terasa berat juga berair, ia terlalu lelah setelah seharian ini menjadi pusat perhatian dan kesempurnaan harus ia emban dari bangun tidur, pantas jika tubuhnya terasa ingin di istirahatkan, namun sedari tadi ia masih menunggu malam pengantin.
"Kalau ngantuk bilang dong kak". Abel mengambil semua kado yang berserakan di ranjang dan ia letakkan di bawah, seketika mata Excel yang tadinya sudah hampir terpejam kini terbuka lebar, ia semangat setelah Abel mengerti akan maksudnya.
"Yaudah yuk tidur". Abel membaringkan tubuhnya dan menarik selimut sampai ke batas leher, membuat Excel terheran mengapa Abel malah seperti itu.
"Lho kok, kamu malah mau tidur ?".
"Kan emang aku bilang tadi kita tidur, ya begini kan yaudah tadi kak Excel ngantuk jadi istirahat sini". Abel menepuk sebelahnya agar Excel ikut berbaring, padahal tanpa Abel tahu jika Excel sedang menjerit dalam hati minta ularnya memasuki gua.
__ADS_1
Excel pasrah dan berbaring di sebelah Abel dengan berat hati, ia berharap segara tertidur agar tak menginginkan hal yang sudah tak mungkin terjadi malam ini. Dan ularnya juga sedang murung karena tak berhasil mengunjungi gua yang sudah dijanjikan untuk berkunjung.
Namun matanya terbuka seketika saat merasakan tubuhnya di timpa. Ia melihat Abel yang telah menjadikannya guling dengan satu kaki yang berada di atas tubuhnya, padahal ia sudah menahan diri namun mengapa cobaan datang bertubi-tubi.
Mata Abel memang terpejam, namun ia tersenyum dalam hati setelah menggoda Excel yang pastinya sedang tersiksa. Ia lebih berani dengan menggesekkan kakinya di sekitar paha Excel layaknya orang yang tak tenang tidurnya. "Salah sendiri dulu merkosa aku tapi aku malah ditinggal gitu aja, sekarang rasain". Gumamnya dalam hati.
Abel menggesekkan kakinya ke sekitar paha Excel, namun ia merasa aneh seperti ada benjolan padahal tadi belum ada. "Ini apa ya". Gumamnya seraya terus menggesek bagian yang seperti benjolan tersebut dan anehnya terasa semakin besar.
Muka Abwl memerah, ia baru sadar kalau mengganggu tidurnya sang ular hingga membuatnya terbangun. Abel menyingkirkan kakinya perlahan, matanya tertutup rapat tak berani melihat reaksi Excel. Namun saat hendak berbalik tiba-tiba tangannya di tarik cukup keras dan Excel mengungkungnya.
"Kak ??".
"Maaf tapi aku udah nggak tahan". Excel ******* bibir merah tanpa sapuan lipstik, sangat rakus dan menuntut. Tangannya tak tinggal diam membelah gunung kembar yang masih tertutup penghalang, ia membuka penghalang itu agar lebih leluasa mendaki dan juga menjajahnya hingga si empunya melenguh.
Ciumannya berganti turun dan memberikan tanda kepemilikan, begitu juga tangannya yang meluncur tanpa hambatan di kulit mulus yang pernah ia rasakan namun tetap membuatnya ketagihan. Sampai pada gua yang masih tertutup, ia menelusupkan tangannya dan merasakan gua yang sudah basah dengan di tumbuhi rerumputan yang tak terlalu tinggi lalu tangannya kembali ia tarik untuk kembali membelah gulung. Excel gesekkan ular pada gua tertutup yang telah meronta ingin di lepaskan dari kandang untuk berkenalan dengan gua yang akan si ular sambangi.
"Kak aku takut ?". Abel menatap lekat Excel, ia masih takut dan trauma akan pengalaman pertamanya yang diambil paksa, tanpa cinta dari Excel dan tanpa ampun. Tak peduli saat itu ia menjerit kesakitan, dan saat ini Excel penuh kabut gelora, yang Abel takuti akan seperti malam dulu.
"Bolehkan ?". Excel meminta izin untuk kembali melakukan aksinya, dan saat Abel mengangguk memberikan persetujuan maka ia tak ragu menyingkirkan tangan Abel dan melihat area sensitif itu, terlihat sangat menggiurkan untuk di masuki dan di jajah.
Excel kembali meminta persetujuan saat si ular tinggal beberapa centimeter saja untuk masuk gua, dan saat kembali dapat persetujuan, ia mempersilahkan si ular masuk dengan pelan namun pasti.
"Aaargh". Abel meringis, ia kembali merasakan sakit saat benda asing masuk dan menyatu dalam dirinya, berbeda dengan malam dulu yang tanpa ampun, kini Excel berhenti agar si ular terlebih dulu beradaptasi dengan tempat barunya yang masih sempit.
Abel meraih benda apa saja yang bisa ia gunakan untuk menyalurkan rasa perih dan juga sakit. Kembali merasakan apa yang terjadi pada malam dulu bersama Excel. Namun dirinya kini lebih rela untuk di jajah dan di jamah berbeda dengan sebelumnya. Sprei putih yang tadinya rapi kini menjadi pelampiasan Abel hingga lecek dan taburan kelopak bunga menempel dan menjadi saksi bisu pergulatan mereka.
Dan setelah Abel merasa lebih tenang, si ular kembali bergerak lebih dalam memasuki gua, memporak porandakan dan juga semakin masuk ke dalam. Nyatanya si ular suka dengan gua itu hingga menjadikan gua favoritnya dan hanya gua itu yang akan si ular sambangi sampai tua nanti. Setelah di rasa kian memanas dengan aksinya, si ular mengeluarkan bisa tanpa ragu dan dengan suka cita menyemburkan Excel junior yang tercipta akibat gelora panas bukti pergulatan mereka.
Ucapan terima kasih dan bilang akan berkunjung lagi si ular sampaikan sebelum keluar, meninggalkan gua yang sudah di porak porandakan isinya dengan keadaan basah akibat bisa. Rasanya ingin kembali memasuki gua itu, namun si ular takut akan membuat gua tersebut hancur dan menolak kedatangannya kembali.
__ADS_1
"Kak sakit capek". Katanya dengan nafas yang berusaha di kumpulkan setelah pergulatan yang di menangkan si ular.
Kecupan yang cukup lama Excel berikan ke bibir dan dahi Abel sebagai tanda sayang dan setelah kebutuhannya sebagai laki-laki terpenuhi. Ia fikir akan gagal tapi nyatanya malah sukses, walau rasanya ingin lagi dan lagi, tapi Excel tak mau memaksa Abel, ia tau Abel telah lelah melayaninya malam ini dan juga capek setelah seharian menjalani prosesi pernikahan.
"Makasih ya sayang, sekarang istirahat ya". Excel menarik Abel dan menggunakan tangannya agar menjadi bantalan gadis itu. Ia senang malam ini terjadi dan malam-malam selanjutnya juga akan bebas menyambangi gua itu kembali karena tak akan ada yang menghalanginya. Semua yang Abel miliki, baik gunung kembar maupun gua adalah miliknya dan orang lain tak boleh mengambil maupun menyentuhnya.
Abel telah tertidur dengan berbantal tangan Excel dan pipinya menempel pada dada bidang tersebut. Berbeda dengan Excel yang masih terjaga walau sama lelahnya, namun lebih dominan rasa senang saat hari ini semuanya berjalan lancar.
Excel melihat wajah Abel sebelum tidur dan akan kembali melihat wajah itu saat bangun, begitu juga hari-hari setelahnya. Ia siap menjalani rumah tangga yang akan ia isi dengan kasih sayang dan juga cinta. Bersama Abel dan malaikat kecil mereka kelak.
"I love you my wife".
.
.
.
.
.
.
.
Kaca mata mana, mataku ternoda 🙈🙉
Yang minta adegan iya iya tuh aku kabulin
__ADS_1
Mana like, komen, vote dan tipnya 😅