
Malam telah datang dengan hembusan angin yang tak terlalu kencang juga jutaan bintang yang bersinar indah saat mendung sirna. Sebuah mobil berwarna hitam melintas, membelah jalanan yang tak terlalu padat kendaraan.
Pemilik mobil tersebut tak lain adalah Andre yang serta membawa keluarga kecilnya untuk menjenguk Abel. Sejak kejadian ledakan itu memang ia belum membawa istri dan anaknya untuk melihat adik bungsunya tersebut.
Ia berharap kedatangan anaknya bisa menghibur Abel, apalagi anaknya dan Abel sagatlah cocok jika sedang bersama, Abel akan langsung memeluk juga mencium bahkan membawanya ke taman belakang untuk bermain.
Istri Andre menoleh ke jok belakang, di mana ada anak mereka yang sedang melihat jalanan juga mobil lain yang melintas keluar jedela yang di buka setengah. "Sayang kaca jendelanya di tutup ya angin malam nggak bagus".
"Iya bunda". Anak itu menurut dan menutup kaca jendela lalu melihat ke depan, di mana mobil yang mereka kendarai sudah bisa melihat sebuah rumah besar yang menjadi tujuan kedatangannya.
Anak kecil itu tersenyum seraya menggerakkan kedua kaki kecilnya senang karena sebelumnya sudah di beritahu akan berkunjung ke rumah kakek dan neneknya. Ia sungguh tak sabar sekali namun bukanlah anak yang aktif bahkan terkesan agak pendiam.
Dari pada mirip Andre, anaknya malah lebih menurun sifat istrinya. Walau begitu tak ada masalah anak itu tetap akan seperti anak biasa yang berbaur baik dengan teman sebayanya.
Mereka telah sampai dan langsung turun lalu masuk ke dalam tanpa permisi terlebih dahulu, sudah kebiasaan Andre karena ia merasa kalau itu masih rumahnya. "Pa ma". Sapanya saat melihat kedua orangtuanya yang telah berbicara di ruang keluarga.
"Nenek kakek". Anaknya Andre langsung berlari medekati kedua orang paruh baya yang selalu memanjakannya jika berkunjung, dan dirinya langsung di angkat oleh sang kakek.
"Cucu kakek datang ternyata, apa kau merindukan kakek dan nenek ?". Tanyanya kepada bocah kecil itu setelah menciumi kedua pipinya yang tembam.
"Iya tapi aku lebih rindu sama tante Abel, tante Abel sakit ya kek ?". Mata bulat nan bening juga bibir yang mungil itu seakan membuat kedua nenek dan kakeknya tak tahan untuk tidak kembali menciumi.
"Iya sekarang tante Abel sedang sakit dan ada di kamar, apa kau mau menghiburnya ?".
"Iya aku mau". Ia turun dari gendongan kakeknya dan berlalu menemui sang tante yang katanya sakit, tak sabar setelah cukup lama tidak bertemu, yang ada di fikiran bocah itu adalah menghiburnya, setelah diajari menyanyi di TK ia sudah optimis jika nyanyiannya bisa menghibur sang tante.
Sementara Ayah dan bundanya menyapa papa Rey dan juga mama Dina, membiarkan bocah berusia 5 tahun yang sudah hafal tempat di rumah itu untuk naik ke atas sendirian mencari sang tante tanpa rasa khawatir.
Sekarang ia sudah sampai di depan pintu yang ia yakini tantenya berada di dalam, dirinya diajarkan untuk mengetuk pintu sebelum masuk, "Tante Abel, aku boleh masuk ya ?".
"Iya masuk aja". Setelah mendengar jawaban dari dalam ia masuk, dan dirinya melihat sang tante yang sedang berdiri di depan jendela membelakanginya namun, menoleh saat mendengar dirinya masuk.
"Tante seneng banget kamu datang". Abel menoleh ke arah anaknya Andre, namun senyuman bocah itu langsung luntur saat melihat bagaimana rupanya Abel saat ini.
__ADS_1
Bocah itu terpaku dengan tubuh yang gemetar dan kedua tangan di tutupkan ke wajah. "Hiks hiks ada monster, ayah aku takut". Ia berbaik meninggalkan kamar Abel dan segera berlari akibat ketakutan. "Ayaaaah ada monster". Teriaknya.
Suara teriakan bocah kecil itu membuat semuanya terkejut dan menghampirinya yang sudah menangis sesenggukan karena takut akan sosok yang ia yakini monster padahal itu adalah tantenya sendiri.
"Sayang mana ada monster ?". Tanya mama Dina.
"Di kamar tante ada monster nek hiks hiks dia pasti sudah memakan tante karena suaranya seperti tante dan tadi Monster itu mau memakanku". Ujarnya seraya menangis dalam gendongan Andre.
Kini mereka semua mengerti siapa Monster yang di bicarakan, tak menyangka jika anaknya Andre akan ketakutan melihat Abel yang sekarang padahal mereka kira kedatangan anaknya Andre akan membuat Abel memiliki semangat lagi, tapi nyatanya tidak.
Dikamar Abel menitikan air mata, tak menyangka jika respon yang ia dapat dari keponakannya akan seperti itu, ia berdiri di depan cermin kamar dengan pantulan dirinya yang terlihat mengerikan, ia melempar semua alat make-up hingga membentur kacar dan pecah, menimbulkan suara khas serpihan kaca yang pecah dan jatuh hingga kedua orang tuanya Abel naik ke atas untuk tau apa yang terjadi dan mendapati Abel yang mengamuk.
"Aku monster, aku sangat jelek sekarang hiks". Air matanya meleleh setelah mendengar penuturan anak kecil yang bagaikan cerminan dari kejujuran, mereka tidak akan berbohong tapi tak menyangka jika kejujuran yang ia dapatkan akan sangat menyakitkan.
"Ya ampun Abel". Pekik mama Dina saat melihat kondisi kamar Abel tak seperti saat terakhir ia datang, semua berantakan dengan alat makeup yang tergeletak dibawah juga pecahan kaca dari meja rias.
Ia menyadari jika kemarahan dan juga kesedihan Abel di karenakan pernyataan cucunya, tak bisa juga menyalahkan anak kecil karena mereka hanya mengatakan apa yang mereka ketahui dan lihat. Tapi di satu sisi Abel jadi sangat terpukul.
"Tidak kau bukan monster, kau akan sembuh sayang mama percaya itu".
"Tapi kapan ma, tubuhku terasa sakit semua bahkan pernnikahanku sudah dekat ?". Mama Dina membawa Abel ke dalam pelukan, berulang kali ia mencium puncak kepala Abel yang telah bersedih tersebut.
"Sabarlah sayang, bersabarlah".
******
"Abel bukalah pintunya". Excel mengetuk pintu kamar Abel seraya berteriak, ia tak mengetahui jika Abel telah di bawa pulang, bahkan dirinya di kabari setelah Abel sampai di rumahnya.
Dia merasa tak di hargai dan tak dianggap padahal ia sudah sagat khawatir akan keadaan Abel, lalu bagi Abel dirinya ini apa ?. Tidak taukah kalau saat ini dirinya bergitu mengkhawatirkan kondisi Abel.
"Pergilah, kumohon aku tidak ingin bertemu denganmu sekarang". Hanya kalimat itu yang mampu Abel utarakan sebagi jawaban, ia masih ingat betul bagaimana keponakannya yang polos menganggapnya sebagi monster, ia tak ingin Excel juga menganggapnya begitu dan membatalkan pernikahan.
Excel merindukan Abel layaknya rembulan yang datang dengan sinarnya menerangi gelapnya malam, ia merindukan gadis itu yang selalu membuat hidupmya gelisah hanya karena takut jika diambil orang. Ia rindu wanginya Abek yang seberbak bak bunga yang baru mekar saat berpelukan.
__ADS_1
Excel jatuh terduduk, ia lelah dan tak bisa beristirahat dengan tenang bahkan hanya mampu memejamkan mata beberapa menit saja untuk sekedar mengecek hp siapa tau Abel menelfon. Nyatanya tidak ada kabar satupun dari gadis itu selain komunikasi dari mama Dina dan papa Rey.
Excel duduk sambil bersender pada pintu kayu dibelakangnya, sekelebat bayangan masa lalu saat dirinya terpampang nyata, ia merindukan gadis kecil yang selalu merengek minta ini dan itu dan sekarang gadis kecil itu sudah besar berganti dengan dirinya yang mampu di lumpuhkan oleh sebuah kata cinta dari gadis kecil yang kini sudah besar.
"Abel apa kau ingat dulu kau selalu minta di gendong, minta ice cream rasa coklat dan saat aku akan pergi kau minta tidur bersamaku, lalu mengangguku sampai kau tertidur". Excel sengaja mengatakan itu, ia tau sebenarnya Abel mendengarnya, tidak apa pintu tidak di buka tapi ia harap Abel mengetahui perasaannya saat ini.
"Lalu saat pertunanganku dengan Jennie kau mengatakan kau mencintaiku, saat itu untuk pertama kalinya aku merasa ada yang salah, aku kehilangan adikku yang manis, aku tak ingin membuatmu kecewa dan sedih, aku tak bisa melihatmu menangis dan sekarang aku tau jika sejauh apapun aku pergi dan kai menghindar dan tetap aku akan kembali karena hanya kau yang aku inginkan untuk menemaniku menjalani sisa hidup sampai aku menutup mata".
Terdengar gagang suara gagang pintu yang bergerak, Excel beranjak dan Abel keluar dari kamar berhambur memeluknya di sertai tangisan juga isakan. "Maafkan aku kak aku tak bermaksud untuk jahat kepadamu, aku terlalu malu dengan kondisiku sekarang takut kak Excel akan meninggalkaku".
Excel mengeratkan pelukannya lalu saat pelukan itu merenggang ia bisa melihat kondisi Abel yang selama ini di tutupi, terlihat Abel menunduk malu saat ia akhirnya mengetahui apa yang terjadi dan dirinya sangat sedih saat setiap inchi tubuh Abel hampir semuanya terbakar juga melepuh, kesedihan gadis itu tentulah besar dan ia memaklumi.
"Jangan khawatir aku akan selalu bersamamu dan tidak akan meninggalkanmu karena aku sangat mencintaimu my Abel".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sengaja anaknya nama Istri dan anaknya Andre disensor, biar kalian penasaran.
__ADS_1