Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Lamaran Resmi


__ADS_3

Deretan baju telah selesai ia pilih dengan hanya satu baju yang di kenakan sementara yang lainnya berubah menjadi gunung di pulau kapuk. Setelah sapuan bedak dia pakai ke wajahnya, tak lupa juga dengan polesan lipstik ke bibir merah nan bulat layaknya buah cerry yang segar.


Ia memandang wajah cantiknya pada pantulan cermin di depan, malam ini suasana hatinya sedang bagus dan terasa berbunga-bunga mengingat kalau Excel akan segera datang bersama orangtuanya dan melamarnya secara resmi.


Sungguh suatu yang sangat di nantikanya sedari dulu, masih sulit percaya karena ia pernah menjadi pelak*r amatir saat mengetahui hubungan antara Excel dan Jennie si rubah. Sekarang posisi Abel akan resmi menjadi calon istri dari Excel, membayangkannya saja membuat wajahnya tambah merona.


"Kamu sudah siap ? Mereka sudah datang". Mama Dina masuk ke kamar Abel dan memberitahukan kalau tamu yang mereka tunggu sudah tiba dan mama Dina memeriksa penampilan Abel dari atas sampai bawah sebelum turun menemui tamu.


"Kamu sangat cantik sekali". Puji sang mama saat melihat Abel sudah selesai mempersiapkan diri, dan senyuman yang melengkung di di bibirnya kian mempercantik penampilannya saat ini.


"Aku gugup ma, acara ini bakalan lancar kan ?". Abel merasakan tangannya berubah menjadi dingin dan ia meremas jemarinya untuk menyalurkan perasaan cemas akan acara yang hendak di langsungkan dan yang lebih membuat cemas adalah orang tua kedua belah pihak.


Ia takut kalau acara ini malah menjadi ajang bagi para orang tua untuk saling memisahkan Abel dan Excel, tentu itu adalah mimpi buruk yang tak ingin Abel rasakan. Dan usapan di bahu Abel rasakan saat mama Dina berusaha untuk menenangkannya.


"Jangan khawatir, ayo kita turun". Abel turun dan di bawah sana sudah terlihat Excel yang datang bersama kedua orangtuanya membawa seserahan. Memang hanya tiga orang saja yang datang termasuk Excel, begitu juga Abel tak mengundang siapapun selain keluarganya sendiri.


Abel turun dan berpijak pada tangga seraya tersenyum lembut ke arah Excel yang juga sedang melihatnya dengan penuh kekaguman atas kecantikannya malam ini. Saat sudah turun mereka duduk di kursi yang saling berhadapan.


Atmosfer kecanggungan terasa sekali saat para orangtua saling diam dan hanya berbasa-basi saja bahkan bingung untuk saling bicara seperti orang yang baru kenal. Tentu ini membuat Abel dan Excel cemas sekali.


"Kami datang kesini untuk melamar putrimu bagi putra kami Excel dan kami akan memperlakukannya dengan baik sebagai menantu sekaligus anak, kami harap kalian berkenan menerima lamaran ini untuk putri kalian".


Papi Jimmy mengutarakan maksud dan tujuannya datang dengan lantang, namun papa Rey masih diam bahkan papa Rey terkesan angkuh dengan tangan yang di lipat, sontak saja Abel yang sedang duduk di samping papa Rey memberikan sikutan.


Mengerti akan maksud Abel, papa Rey menghela nafas berat dan menurunkan tangannya lalu menjawab pertanyaan orang tua Excel yang meminta Abel untuk menjadi menantu mereka. "Aku menerima lamaran kalian untuk putriku dan tolong Excel jagalah ia dengan baik, jangan sampai kecewakan aku".


Abel menundukkan kepala seraya tersenyum senang, hatinya seolah di penuhi oleh bunga bermekaran saat papa memberikan restunya. Tak jauh berbeda dengan Abel, Excel juga sangat senang bahkan raut wajahnya memperlihatkan kebahagiaan.


Acara lamaran dilanjutkan dengan membahas penikahan yang telah di setujui akan di langsungkan empat bulan lagi sekaligus untuk mempersiapkan apa saja yang di butuhkan. Dan setelah semua niatan telah tersampaikan kini waktunya Excel beserta orangtuanya untuk pulang.


Excel sedari tadi melihat Abel yang tersenyum penuh kebahagiaan, rasanya enggan untuk pulang dan ingin tetap berada di sini bahkan jika papi Jimmy tak mengajak Excel pulang, ingin sekali lelaki itu menginap. Itu juga kalau papa Rey mengizinkan.

__ADS_1


Abel beserta dengan kedua orangtuanya mengantarkan kepulangan Excel sampai ke depan gerbang dan saat mobil semakin lama menjauh ia melompat kegirangan sambil memeluk sang papa. "Makasih banget ya pa, papa emang the best".


"Kalau lagi ada maunya aja bilang the best kemarin aja ngembekan sampai banting pintu". Abel tersenyum nyengir mengingat kelakuannya yang terkesan seperti anak kecil. Tapi jujur saja hatinya sedang panas saat ia dan Excel bisa bersama namun malah terhalang restu.


"Maaf deh pa".


"Dasar malu-maluin palingan juga kalau mereka tau sifat lo kayak gini bakalan mikir dua kali buat jadi menantu mereka". Alvin yang sedari tadi diam mendengarkan para orang tua berdiskusi kini membuka suara saat acara telah usai.


"Jangan sirik dong kak, makanya cepet cari pasangan biar nggak sirik mulu". Abel kesal namun tak apa karena daat ini ia sedang bahagia dan tak akan ada yang mengacaukan kebahagiaannya malam ini.


******


Abel menghapus riasannya setelah semua acara selesai dan ia merasa lelah padahal hanya duduk saja tadi sedangkan para orang tua yang bicara, mungkin juga karena tegang yang membuat badannya terasa pegal.


Namun suara dering hp membuatnya menghentikan aktivitas. Dan beralih mengambil hp yang sedang berada di depannya, ia menaruh kapas pembersih saat tau jika nama Excel yang tertera disana, entah mengapa Excel menelfon padahal mereka baru saja bertemu.


"Hallo kak ada apa ?" ~ Abel


Ia penasaran, mungkinkah ada hal penting yang mengharuskan Excel menelfon di saat malam begini bahkan mereka belum sampai 24 jam berpisah.


Abel melihat kaca di depnnya yang memperlihatkan pantulan wajahnya yang merona padahal blush on yang ia pakai sudah hilang karena di bersihkan, mungkinkah ini perasaan dirindukan mengapa ia jadi senang ?.


"Kita kan baru saja bertemu, kamu ini bagaimana ?" ~ Abel


"Bagaimana aku sendiri bingung, padahal empat bulan lagi kita menikah kenapa rasanya sangat lama, bisakah kita menikah sekarang saja ?" ~ Excel


Ingin sekali Abel memukul dada Excel dengan pelan kalau saja lelaki itu sedang ada di depannya karena berhasil membuatnya malu sekaligus senang.


"Sabar kak sebentar lagi" ~ Abel


Terdengar helaan nafas di seberang sana yang ia yakini Excel sedang menahan kesal, ia sendiri menginginkan untuk secepatnya melangsungkan pernikahan namun karena Excel dulu pernah menjalin hubungan dengan Jennie maka otomatis kehidupan Excel masih dalam pengawasan pencari berita.

__ADS_1


Menjengkelkan sekali bukan ? Padahal Jennie sedang ada di penjara tapi para orang tua bilang agar tak terlalu cepat melasungkan pernikahan demi menjaga image agar masyarakat tak berfikiran buruk mengenai Excel yang menikah sementara Jennie berada di dalam jeruji besi.


"Ini juga aku sudah berusaha sabar tapi sangat susah" ~ Excel


Abel terkekeh mendengar Excel yang sedang kesal seperti itu. Dan mereka saling berbicara hingga detik demi detik bahkan berganti menit dan juga jam mereka lalui tanpa sadar jika waktu sudah larut malam.


Enggan bagi mereka untuk saling memutus telfon dan masih ingin tetap bersama namun jika tak ingat kalau waktu terus berganti dan semakin larut mungkin mereka akan teruskan sampai pagi.


"Kak udah jam dua pagi nih" ~ Abel


Excel di seberang sana langsung melihat jam yang tergantung di dinding dan menepuk dahinya karena tak sadar saking asyiknya menelfon. Tak menyangkan kalau hari sudah berganti dan mereka harus tidur kalau tidak kondisi badan mereka tak akan baik.


"Baiklah selamat malam calon istriku" ~ Excel


"Selamat malam juga calon suamiku" ~ Abel


Abel memejamkan matanya dan bersorak tanpa suara saking bahagianya, ia merasa jantungnya hendak meledak memenuhi seisi kamar, layaknya gadis masa puber yang baru mengenal cinta, ia benar-benar bahagia.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1



Jangan lupa tinggalkan jejak (like, komen, subscribe dan vote)


__ADS_2