Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Kesepakatan Gila


__ADS_3

Excel menghembuskan nafas lelah saat ia kembali diacuhkan oleh Abel, bahkan ia sendiri sudah tak ingat ini kali ke berapa dan sebagai seorang pria ia merasa harga dirinya telah hilang ke dasar laut terdalam.


"Kenapa itu muka kusut banget ? Oh gue tau pasti habis ditolak ya ? Kasihan bang bucin". Alvin tertawa dengan keras tanpa merasa berdosa sama sekali bahkan ia menikmati setiap hinaan yang telah terlontar dari bibirnya.


Excel hanya bisa mengelus dadanya yang setiap hati serasa semakin lebar saja setelah di elus mengingat kesabarannya benar-benar diuji untuk menghadapi kakak beradik yang selalu membuatnya ingin meledak.


"Sabar Excel sabar". Gumamnya dalam hati seraya memikirkan cara yang bisa membuat Abel memafkannya sekaligus membuatnya jadi dekat.


Terlintas satu ide yang menurutnya cukup berat dan gila tapi ia akan lakukan kalau memang ini berhasil, toh fikirannya sudah buntu dan tak bisa memikirkan cara apapun lagi seolah hanya cara ini yang tersisa.


Excel melihat ke kamar di sebelah Abel dengan pandangan yang tak bisa di jelaskan. Kamar tersebut adalah milik alvin dan ia berharap akan bisa membujuk Alvin untuk masuk membantunya mendapatkan Abel.


******


Alvin sedang mengunyah camilan dan juga menonton tv acara kesukaanya yang tak lain adalah acara bola dengan sangat semangat. Namun tiba-tiba Excel datang dan menutup layar tv hingga Alvin tak bisa melihat.


"Minggir nggak lo mau, gol tuh". Alvin mengibaskan tangannya menyuruh Excel agar pergi dan menyingkir namun bukannya menuruti Alvin malah Excel mengambil remot tv dan mematikannya.


"Apa-apaan lo!!". Sontak saja hal itu membuat Alvin marah lantaran acara yang telah ia tunggu kini terganggu, Alvin melihati Excel dengan tatapan membunuh seolah lelaki yang lebih tua darinya beberapa tahun tersebut adalah musuh.


"Aku ingin bicara denganmu". Ujar Excel kepada Alvin namun tanpa di gubris sama sekali olehnya bahkan alvin mengambil remot tv dan menyalakannya kembali. "Apaan ?". Jawabnya ogah-ogahan.


"Tolong bantu aku untuk mendapatkan Abel". Alvin menaikkan salah satu alisnya dan melihat Excel dengan pandangan remeh. Ia berfikir kalau harusnya Excel sudah tau jika ia tak akan pernah membantunya.


"Nggak cari aja orang lain jangan gue". Ujarnya santai sambil menikmati cemilan juga bola yang semakin tegang akibat striker hampir saja memasukkan bole tapi malah terpental ke pinggir gawang. "Yah nggak masuk lagi".


"Alvin aku serius dan butuh bantuanmu". Tak juga di tanggapi, Excel mengeluarkan salah satu barang yang dibawanya, yaitu satu sepasang sepatu buatan perancang ternama dan limited edition.


"Kalau kau mau membantuku ini akan menjadi milikmu, kau tentu tau apa ini kan ?". Excel mengamati penampilan Alvin yang ia rasa dari ujung rambut hingga kaki tidaklah murah dan pastinya Alvin suka membeli barang bermerek.

__ADS_1


Alvin melirik sedikit dan kembali melihat tv di depannya. "Gue punya banyak sepatu Louise Vuitton yang edisi itu juga gue udah punya". Ucapnya acuh.


Excel kembali mengeluarkan barang yang sudah ia siapkan lainnya dan membuka kotak yang agak kecil kemasannya di bandingkan dengan kemasan yang sebelumnya, tentu saja yang ini harganya lebih mahal.


"Bagaimana dengan ini ? Bahkan hanya 100 buah saja jumlahnya di dunia". Excel menyodorkan sebuah jam tangan Rolex yang berhiaskan beberapa butir berlian jugy di lapisi dengan emas.


"Enggak gue masih bisa beli sendiri". Jawabnya santai namun Excel malah lebih fokus dengan jam tangan yang melingkar di lengan Excel sebelah kiri, dan tentunya dibanding barang yang dua tadi di tawarkan, jam yang di gunakan excel lebih mahal harganya.


"Yang lo pakai bagus tuh".


Excel melihat arah pandang Alvin yang merujuk pada lengan kirinya, dan tanpa di jelaskan lagi ia sudah faham kalau Alvin menginginkan jam tangannya tersebut. "Nggak yang ini bukan untuk di jadikan barter atau di jual".


Bukan soal harga yang membuat Excel enggan untuk untuk melepaskan jam tersebut dan di berikan Alvin tapi karena jam itu adalah hadiah dari sang papi saat ulang tahunnya, itulah yang membuatnya enggan melepaskan.


"Tidak kau bisa minta yang lain tapi jangan yang ini". Tawarnya lagi dan seolah enggan dengan yang lain, Alvin memilih untuk tak tertarik lagi dengan penawaran Excel.


Excel menutup jam tangan tersebut dengan tangannya yang sebelah kanan kemudian melepaskan ikat pinggangnya hingga membuat Alvin gelagapan seketika.


Excel menghela nafas kasar dan menggeleng dengan reaksi Alvin yang malah salah faham dengan dirinya yang melepas ikat pinggang. "Ikat pinggang ini seharga seratus lima puluh juta dan baru aku pakai dua hari".


Alvin menghembuskan nafas lega, ia kira dirinya akan kehilangan keperjak44nnya taunya hanya menawarkan ikat pinggang. "Nggak gue nggak tertarik apalagi cuma ikat pinggang, gue ingetin itu uang juga bisa gue dapetin sendiri".


"Bagaimana jika mobil ?". Excel menelan salivanya dengan sukar, entah apa yang di lakukannya benar atau salah ia benar-benar sudah nekat sekali bahkan ia merasa jika akal sehatnya telah hilang saat menawari Alvin dengan mobil yang nilainya tidaklah sedikit.


"Ok gue maunya Lamborghini".


Mata excel membulat dan langsung menggelengkan kepala dengan persyaratan yang di ajukan oleh Alvin sebagai ganti membantunya mendapatkan Abel. Karena harga mobil tersebut sangatlah mahal.


"No yang lain saja, bagaimana jika Audi". Ucapnya.

__ADS_1


"Itu gue yang no". Alvin memberikan delikan tajam ke arah Excel yang kini tengah barter denganya, dan ia merasa seperti negosiasi dengan penjual di pasar. Sangat merepotkan dan tak kunjung selesai.


"Lo kasih gue Lamborghini atau kesepakatan ini nggak akan pernah terjadi, gue cuma mau ingatin aja kalau yang lo deketin tuh adek gue dan udah bolak balik bikin lo bikin dia nangis, seenggaknya biaya yang lo keluarin harus setimpal lah".


"Ok aku setuju, tapi ingat kamu harus maksimal bantuin aku sampai dapat". Excel mengulurkan tangannya dan di jabat oleh Alvin.


"DEAL dan gue mau besok sore mobilnya harus udah datang". Alvin melepaskan jabatan tangannya dan melihat barang yang lebih dulu di tawarkan oleh Excel, tanpa menunda atau menyianyiakan kesempatan dengan cepat Albin membawanya menuju kamar.


"Itu sepatu sama lainya mau kau bawa kemana ?". Excel merasa heran lantaran Alvin sudah sepakat dengan mobil berharga tinggi bahkan bisa untuk membangun rumah. Tapi mengapa Alvin malah membawa barang yang ia tawarkan lebih dulu tadi, bukannya Alvin sudah menolak dan di ganti dengan mobil ?.


"Ini gue bawa, kata orang barang yang udah di kasih jangan diambil lagi". Ujarnya dengan santai tanpa ada terlihat rasa bersalah dn malah menutup pintu kamarnya.


"Hah dia benar-benar membobol tabunganku". Gumamnya pelan tanpa ada yang mendengar.


Excel merogoh hp di saku celananya dan menghubungi Bagas selaku sekertarisnya. Tak lama suara di seberang menyahuti saat telfon sudah terhubung.


"Aku tidak jadi membeli restoran lagi, sepertinya bulan ini aku terlalu boros". Setelah mengatakan itu Excel menaruh hpnya kembali dan memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut memikirkan total nominal yang harus ia keluarkan.


.


.


.


.



Me : Bang Engsel bangkrut ya, sono jualan kuaci aja 😂😂😂

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2