Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Sebentar Saja


__ADS_3

Suasana sangat ramai dalam sebuah mall karena memang bertepatan dengan weekend, banyak yang ke sana untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari atau bagi yang sudah punya pacar untuk berjalan-jalan menikmati quality time.


Excel mengedarkan pandangan kepada orang yang berlalu lalang di depannya, namun dari semua orang yang ada tidak ada satupun orang yang sedang di tunggunya terlihat. Berkali-kali ia melihat jam tangan yang melingkar dan semakin bertambah menitnya sejak mendudukkan diri.


Suara sepatu yang semakin terdengar membuatnya menoleh mendapati lelaki yang datang dengan kaos putih yang di lapisi oleh jaket berwarna hitam langsung duduk tanpa meminta persetujuan Excel lebih dulu.


"Kau sagat terlambat". Excel memberikan tatapan kesal saat di haruskan menunggu setengah jam lebih lamanya untuk lelaki yang bahkan merasa tak perduli dan hanya menggendikkan bahu sebagai jawaban.


"Lo mungkin yang kecepatan datangnya". Alvin tak mau di salahkan dan memilih untuk bersikap acuh terhadap Excel yang ia yakini sedang sangat kesal. Karena memang sengaja ia bersantai di rumah sebelum berangkat.


"Ngapain lo ngajak gue ke mall ? Mau belanjain gue ?". Tanyanya menggoda karena memang tempat pertemuan mereka di mall jadi sejauh mata memandang ada banyak barang yang terlihat menggiurkan untuk di beli.


"Jangan gila, aku menyuruhmu datang kesini untuk membahas perjanjian kita sekaligus membahas aku yang telah diusir papa dan setelah ini pasti papa akan membenciku". Suara Excel melemah memperlihatkan kalau ia sangat frustasi.


"Ya lo sendiri sih nyosor mulu, itu bibir manusia apa bibir bebek". Hina Alvin dengan santai dan mengambil gelas berisi jus yang Excel pesan dan belum berkurang karena di landa gelisah membuatnya tak berselera lagi terhadap minuman ataupun makanan.


"Aku kesini bukan untuk mendengar kau menghinaku tapi untuk mencari bantuan, apa kau lupa kita sudah sepakat dan aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk kesepakatan kita". Pandangannya berubah sangat serius seakan memberitahu jika ia sedang tak ingin mendapat candaan dari lelaki di depannya.


"Mana mobil baru gue dulu baru gue bantuin lagi". Excel menggeleng dengan tingkah Alvin yang tak melihat kondisi di mana dirinya sendiri sedang dihadapkan oleh situasi sulit dan tak menguntungkan sedang Alvin malahan tetap tak punya malu dengan menanyakan mobilnya.


"Aku akan mengirimkan mobilnya jika Abel sudah bersamaku karena tidak ada jaminan jika aku mengirimkan mobilnya sekarang tapi Abel tetap membenciku dan tak mau melihatku". Ia melipat tangannya di atas perut, memperlihatkan kesungguhan di depan Alvin.


Karena jika tak begitu Alvin akan bersikap seenaknya saja tanpa memikirkannya sedikitpun. Memang ia tau jika Alvin tidak menyukainya sedari kecil namun ia tak menyangka kalau Alvin juga akan tak punya nurani dan malu dengan mempertanyakan kesepakatannya sedangkan situasi sudah berbalik.


Ia tak mau rugi dan tidak mau kalah sampai disini saja, kalau ia berhenti berjuang tentunya sampai kapanpun dirinya dan Abel tak akan mungkin bisa bersama. Meskipun harus kembali membuat papa Rey percaya kepadanya tentu akan ia lakukan walau sulit.


"Rese ya lo, tau aja lo cara main curang". Alvin tak kalah kesalnya.


"Aku tidak bermain curang tapi hanya berjaga-jaga saja jika setelah kau mendapatkan mobil yang kau mau terus malah tak membantuku lagi". Excel menautkan jari tangannya dan memberikan tatapan serius kepada Alvin, ia tak mau lagi semua menjadi seperti ini, ia ingin keadaan berubah dan menikmati keuntungan dari perjanjiannya dengan Alvin.


"Ok gue bakal bantuin lo". Alvin menatap malas seolah ini adalah sebuah keterpaksaan yang ia lakukan padahal ia sudah menikmati keuntungan di awal dan akan menikmati keuntungan lagi jika perjanjiannya dengan Excel dianggap berhasil.

__ADS_1


*****


Abel merasakan hpnya bergetar karena memang sedang di aktifkan mode getar agar tak menganggunya bekerja. Walau ini sudah bukan di kantor tapi pekerjaan yang terlalu banyak membuatnya harus membawa pekerjaannya ke rumah.


Alhasil setelah makan malam ia harus kembali melihat tumpukan berkas yang minta untuk di selesaikan secepatnya. Namun setiap kali ia mengerjakan selalu saja ada gangguan dan kini gangguan berasal dari hpnya.


Abel mengernyit saat mendapai nama Excel yang tertera di layar ponsel pintarnya, sedikit ragu untuk menjawab namun ia akhirnya memutuskan untuk menggeser ikon berwarna hijau.


Hallo ada apa ? ~ Abel


Aku sedang sakit bisakah kau menjengukku ke apartemen karena tidak ada siapapun disini yang bisa menemaniku ~ Excel


Kalau sakit ya ke dokter untuk apa menelfonku ~ Abel


Aku mohon uhuk uhuk aku membutuhkanmu ~ Excel


Abel seketika diam bingung memikirkan apakah menuruti Excel untuk ke apartemen lelaki itu atau tidak namun suara batuknya Excel membuat hati nuraninya seolah tak tega bersikap acuh dan tak peduli, ia yakin jika ia masih mempunyai nurani jadi ia memutuskan untuk ke sana.


Setelah mengatakan itu Abel menutup telfonnya dan mengambil salah satu tas yang ia letakkan di lemari khusus tas tersebut lalu ia kaitkan di bahu kirinya menuju ke apartemen Excel. Entah mengapa fikirannya jadi tak tenang dan terasa was-was sendiri.


Setelah selesai menempuh perjalanan kini ia telah sampai di depan pintu apartemen Excel, namun tangannya ragu untuk memencet bel karena teringat peristiwa dulu dimana ia kehilangan hartanya paling berharga sebagai seorang wanita dua kali disana.


Abel menyingkirkan segala keraguan dan memencet bel apartemen namun penghuninya tak kunjung keluar juga hingga tangannya seolah memikirkan untuk menekan password apartemen. Abel menutup matanya rapat-rapat sesaat sebelum pintu berhasil ia buka.


"Aku datang, kau di mana ?". Tanya Abel saat masuk kedalam apartemen namun tiada satupun orang yang berada di rumah, entah penghuninya sedang bersembunyi atau memang tak ada siapapun disana. Bahkan sangat sepi seperti rumah hantu dengan kesenyapan yang membentang.


"Excel kau dimana ?". Teriaknya lagi namun kali ini lebih keras untuk memastikan keberadaan seseorang yang tinggal disana.


"Aku di dalam kamar, masuklah". Teriak seseorang dari jarak yang agak jauh bahkan tak terjangkau pandangan Abel.


Didalam kamar Excel sedang duduk dan mengompres dahi juga tangannya dengan air hangat yang telah ia masukkan ke wadah khusus karena tujuannya memang agar badannya terasa lebih panas.

__ADS_1


Ini merupakan idenya Alvin dan ia menurutinya namun ia tak sepenuhnya berbohong karena pada kenyataannya memag dirinya sedang sedikit demam namun tak terlalu parah hingga membuatnya memilih untuk meletakkan air panas pada tubuh.


Dan saat mendengar suara Abel yang sudah sampai dengan segera Excel menyembunyikan air panas tersebut ke bawah tempat tidur sambil menunggu kehadiran Abel di dekatnya.


Gadis itu mencari kamar yang Excel maksudkan tadi dan menghembuskan nafas lelah saat melihat Excel terbaring di kasur dengan mata yang tertutup. Tangannya tergerak untuk menyentuh dahinya yang memang sangat panas.


"Panas sekali mengapa ia tak memanggil dokter atau berobat saja, kalau di biarkan bisa gawat". Gumamanya saat telapat tangannya menyentuh permukaan kulit Excel yang lain dan menarasakan hawa panas yang keluar dari sana.


Abel mengguncang tubuh Excel agar ia bisa membantu lelaki itu untuk ke rumah sakit guna mendapat perawatan. "Ayo bangun aku akan membawamu ke rumah sakit, bangunlah".


Excel membuka matanya sedikit dan tersenyum saat melihat kehadiran Abel di depannya langsung saja ia menarik tangan Abel hingga terjatuh dan ikut berbaring di kasur namun Abel meronta. "Lepaskan aku, cepat lepaskan".


Abel tek hentinya bergerak dan berusaha untuk beranjak namun Excel dengan erat mencegahnya pergi. "Kumohon jangan pergi sebentar saja seperti ini".


Suara lemah dengan deru nafas panas yang menyentuh kulit leher Abel bagin belakang membuatnya tak tega untuk beranjak pergi, sekali ini saja ia akan menyerah dalam dekapan Excel karena lelaki itu sedang tak sehat.


Jadilah Excel menutup matanya seraya memeluk Abel dari belakang, ia tersenyum namun demamnya bukanlah tanpa alasan karena ia memang sedikit demam dan mengantuk, begitu juga Abel yang terlalu lelah dengan pekerjaan hingga tanpa sadar memejamkan mata.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ♥️


__ADS_2