Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Berhenti Kerja


__ADS_3

Seketika genggaman tangan Excel ia lepaskan saking terkejutnya, bahkan kaki Abel melangkah sedikit mundur ke belakang, ia masih sulit percaya jika Excel mengatakan itu, rasanya tidak mungkin dan ia tak ingin mempercayai apa yang di dengarnya barusan.


Mungkin saja karena efek Excel sedang lelah atau mungkin karena marah sebab Abel pulang lebih telat di bandingkan dengannya hingga Excel mengatakan itu, namun seharusnya itu bukan alasan untuk menyuruh berhenti kerja begitu saja.


"Kak Excel bercanda kan ?". Tanyanya lagi di sertai dengan tawa sumbang untuk memastikan kalau dirinya tadi salah dengar.


"Aku nggak bercanda, kamu berhenti kerja ya biar aku yang aja yang kerja buat hidupin kamu".


Dan detik itu juga Abel membalikkan tubuhnya, melangkah dengan cepat menjauhi Excel sampai ia masuk ke kamar dan menutup pintu, namun tak di kunci dan duduk di atas kasur. Merasa marah akan keinginan Excel yang egois dan tak bertanya dulu apa pendapatnya.


"Abel....Abel tunggu". Excel mengejar Abel sampai di kamar, untunglah kamar tersebut tidak di kunci sehingga ia bisa masuk dan melihat sang istri yang duduk di kasur, ia merasa tak salah bicara karena hanya merasa mengungkapkan apa yang ada di hatinya saja, namun tak menyangka jika respon Abel akan seperti ini.


Abel menekuk kakinya dan menyembunyikan wahnya di kedua lutut, malas dengan Excel yang terlalu menuntutnya ini dan itu. Ia ingin sendiri saat ini dan rasa senang saat Excel telah pulang kini menghilang berganti dengan kekecewaan.


"Abel". Excel mengenyentuh bahu Abel namun dengan cepat di tepis, ia tak menyangka jika akan menjadi seperti ini, tapi haruskah ia hanya memendam pemikirannya saja, ia hanya ingin mempunyai waktu lebih banyak dengan Abel namun sepertinya lebih sulit dari yang ia fikirkan.


"Sayang dengar dulu".


"Apa sih kak ? Kak Excel nyuruh aku ini dan itu aku mau tapi aku nggak bisa berhenti kerja kak". Ujarnya dengan air mata yang menetes membasahi wajahnya dan raut kekecewaan terlihat jelas di wajahnya.


"Dengar dulu ya". Excel berusaha untuk menenangkan Abel, ia menangkup wajah Abel dengan kedua tangannya agar bisa menatap Abel dengan jelas, "Kamu lihat sendiri kan tadi siapa yang pulang lebih terlambat dan siapa yang lebih sibuk akhir-akhir ini, aku cuma waktu kamu buat aku aja tapi kamu sibuk terus, bahkan kita mau program hamil kan ? Tapi gimana kamu mau hamil kalau kamu aja sering sibuk dan nggak ada waktu".


Excel melepaskan kedua tangannya, melihat Abel yang sudah lebih tenang ia membiarkan Abel agar berfikir lebih dulu. Ia yakin jika kata-katanya tadi mampu membuat hati Abel luluh, atau setidaknya berfikiran lebih terbuka dan mau menerima pendapatnya.

__ADS_1


"Kekayaanku sudah cukup untuk kita berdua hidup sampai anak cucu kita nanti, apa bagusnya terlalu banyak uang kalau kita tidak punya waktu untuk menikmatinya".


"Tapi kalau aku nggak kerja nanti jadi pengangguran dong kak". Sedari dulu Abel selalu punya aktifitas, ia bahkan langsung kerja setelah lulus kuliah dan tak betah berdiam diri saja dirumah menunggu Excel pulang, karena menganggur bukanlah gaya Abel sama sekali.


"Ya nanti kan kamu bisa ikut kursus menjahit atau merangkai bunga". Jawabnya dengan lega, setidaknya Abel sudah tak marah dan ia harus pintar mencari alasan agar sang istri menyetujui keinginannya.


"Tapi nanti papa gimana ? Papa udah bagi warisannya ke aku sama kakak-kakakku dan pasti papa akan kecewa kalau perusahaan yang di kasih ke aku nggak jadi aku pimpin". Abel memegang lengan Excel, ia tak ingin membuatnya kecewa namun juga tak ingin melihat papa Rey yang kecewa. Karena kedua orang itu adalah orang yang ia sayangi.


"Nanti biar aku yang bicara sama papa masalah ini, kamu tenang aja". Excel mencium dahi Abel, gadis itu sedikit menunduk dengan fikiran yang berkecamuk, bingung antara berbakti sebagai anak atau istri disaat keduanya tidak saling berkesinambungan.


"Iya deh".


******


Rumah besar dengan dekorasi yang sangat ia kenali kini menjadi terasa asing, entah karena tujuan mereka atau apa, tapi rasanya berkali-kali Abel seperti ingin mengurungkan niat datang ke sini. "Yakin kak ?". Tanyanya memastikan.


"Kita sudah niat jadi tenang saja, yang akan kita hadapi adalah papa kita sendiri jadi tidak mungkin terjadi hal buruk". Excel mengeratkan genggaman tangannya ke Abel, ia sendiri takut dan gugup, tapi berusaha untuk tenang.


Setelah dulu menerima bogem mentah dari papa Rey, ia jadi mempunyai ketakutan tersendiri saat berhadapan dengan sang mertua yang dulu menjadi papa angkatnya, dan bahkan rasa sakit dari tinju sang papa masih terbayang sampai sekarang.


Dan saat ini mereka duduk berhadapan dengan Excel dan Abel duduk berdampingan sementara papa Rey dan mama Dina duduk di seberang sana menunggu mereka bicara.


"Katanya tadi mau bilang sesuatu, kok sekarang malah diam ?". Tanya mama Dina saat ruangan itu hanya diisi oleh keheningan, ia dan sang suami tadi di beritahu Excel jika ada yang akan mereka bicarakan dengan serius, tapi sedari mereka duduk nyatanya tidak ada yang membuka suara.

__ADS_1


Abel menyenggol kecil lengan Excel, bermaksud agar segera bicara karena ia sendiri tak mampu untuk mengatakan dan Excel sendiri yang bilang masalah papa Rey biar dia yang urus, tapi sejauh yang di lihat nampaknya Excel tak terlalu berani.


"Begini aku dan Abel sebenarnya jarang bertemu karena kami sibuk bekerja, dan waktu untuk kami bersama sangat sedikit". Excel menyusun kata-kata yang sangat teliti agar papa Rey tidak tersinggung dengan ucapannya, namun sepertinya sang papa masih belum faham benar.


"Sebenarnya apa maksud kalian ? Katakan dengan jelas". Mata papa Rey menyipit, melihat Excel dengan tajam hingga ia menelan ludahnya dengan sukar, berharap tidak akan salah bicara dan papa Rey akan menyetujui keinginannya.


"Aku harap papa bersedia untuk Abel agar di rumah saja dan berhenti dari pekerjaannya, aku yang bekerja".


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Dukung author dengan cara klik like, komen,vote dan tip


__ADS_2