
Di dalam kamar ada sebuah cermin besar yang mampu membuat Abel betah untuk berlama-lama bercermin dan melihat pantulan dirinya di sana. Tubuh yang tak terlihat kurus itu lebih berisi sekarang dan perut buncit yang ikut serta membentuk tubuhnya menjadi seseorang yang nampak berbeda dari sebelum menikah.
Bajunya di lemari semuanya bahkan sudah tak ada yang muat lagi selain yang desainnya agak besar dan ia harus membeli baju khusus ibu hamil. Bertambah berat badan adalah sesuatu yang wajar bagi ibu hamil, tapi hal ini membuat Abel belum terbiasa untuk menerima bentuk tubuh serta bertambahnya berat badan.
"Kak aku gemuk banget ya". Abel menangkup pipinya sendiri dengan kedua tangan, bukan hanya pipinya yang kian tembam tapi jari- jemarinya yang juga terlihat menggemuk. Kehamilan di usia ini membuat Abel kian sensitif terhadap omongan apapun, jadi Excel harus bisa memilih dengan benar kata-katanya.
"Wah pertanyaan menjebak ini, kalau bohong salah kalau jujur tambah salah". Batinnya dalam hati lalu berusaha untuk meyakinkan Abel dan mencari kata yang pas agar terlepas dari jebakan batman. "Nggak sayang kamu tuh tambah sexy banget". Jawabnya.
"Kak Excel bohong ya masak badan kayak gajah gini di bilang sexy". Abel berdecak sebal, ia kembali melihat tubuhnya yang sekarang tidak ada lekukan, tangan yang kian berisi juga adanya stretch mark di bagian perut yang baru sesikit namun terlihat dan ia sedih akan perubahan tubuhnya yang terlalu signifikan.
"Kalau aku jadi jelek nanti kak Excel cari wanita lain nggak ?". Tanyanya lagi namun kini dengan wajah sendu, nampaknya Abel dalam mode super sensitif dan Excel sudah tak terkejut tetapi hanya belum terbiasa saja.
"Ya nggak lah". Excel memegang kedua tangan Abel dan mengarahkannya diranjang, mereka duduk di tepian tempat tidur dan Excel mendekap Abel begitu erat, tubuh yang kian berisi itu semakin empuk saat di peluk. "Untuk apa mencari wanita lain kalau istri aku aja udah sangat sempurna, kamu tuh baik, ceria dan apa adanya bahkan aku mencintai kamu bagaimanapun kondisi kamu nantinya".
Elusan demi elusan Excel berikan di rambut lebat milik sang istri, jujur ia sangat menikmati bagaimana hari demi hari Abel berubah menjadi seseorang yang nampak berbeda. Dari mulai perubahan bentuk fisik sampai sifatnya yang kadang naik turun dan jangan lupakan soal ngidamnya yang ikut menyeretnya juga hingga Excel merasakan bagimana kesalnya saat ngidamnya tak di turuti.
"Tapi kok kakak ipar hamil nggak tambah besar ya badannya, cuma perutnya aja yang besar". Membahas tentang sang kakak ipar yang juga hamil untuk kedua kali, Abel teringat akan seauatu dan ia merenggangkan pelukan Excel lalu mendongak melihat wajah suaminya. "Aku lupa habis di kabarin kalau kakak ipar habis lahiran".
"Kok kayaknya cepet ?". Tanya Excel yang heran karena terakhir mereka ketemu saat sang kakak ipar menghadiri pesta pernikahannya dan saat itu hanya terlihat buncit sedikit.
"Nggak emang sesuai sama perkiraan kok katanya kak, mungkin karena kita jarang ketemu sama mereka jadi nggak tau perkembangan kehamilan kakak ipar. Jelasnya.
"Yaudah ntar kita kesana lihat anaknya Andre".
******
__ADS_1
Malam telah tiba, sesuai dengan apa yang Excel katakan sebelumnya jika mereka akan mengunjungi istri dan anaknya Andre yang baru lahir. Rumah sakit tempat bersalinnya sebenarnya tidak terlalu jauh namun karena itu adalah akhir pekan jadi jalanan agak macet dengan banyaknya orang yang juga melintasi jalan membuat jalan kiat terasa sempit.
Dimana yang harusnya hanya memakan waktu satu jam kini membutuhkan waktu sampai satu setengah jam dari perkiraan sebelumnya. Untung saja mereka datang lebih awal untuk mengantisipasi agar nantinya mereka tak pulang terlalu larut malam. Excel tak ingin Abel dan juga calon anak mereka kenapa-napa.
Mereka telah sampai dan memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, Abel dan Excel turun setelah sebelumnya Excel menyuruh Abel untuk memakai jaket agar lebih hangat. Mereka menanyakan dimana letak kamar istrinya Andre dan langsung ke sana.
Di kamar itu ternyata sudah ramai orang karena ada juga papa dan mama yang telah lebih dulu mengunjungi sang menantu sekaligus cucu baru mereka. Kini anggota keluarga bertambah dengan adanya anak kedua Andre yang berjenis kelamin perempuan dan keluarga mereka juga nantinya akan bertambah satu lagi setelah Abel melahirkan.
Abel mendekat ke arah bayi yang masih telihat merah warnanya sedang berada di gendongan sang kakak ipar. Makhluk kecil nan menggemaskan tersebut mampu membangkitkan keinginan Abel untuk segera melahirkan juga, akan tetapi ada satu hal yang ia takuti hingga terbesit pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada sang kakak ipar.
"Kak melahirkan itu sakit nggak sih ? aku rada takut". Ia masih terlalu takut setelah mendengar jeritan ibu hamil yang melahirkan di vidio melahirkan yang ia cari, sedikit demi sedikit disetiap harinya tak pernah lupa belajar bagaimana pengetahuan mengenai kehamilan dan juga melahirkan yang harus di lalui dengan baik. Ini adalah kehamilannya yang pertama dan ia ingin semua berjalan baik dan akan lancar sampai persalinan.
Sang kakak ipar tersenyum teduh, guratan lelah masih nampak jelas di wajahnya dan juga lingkaran di sekitar mata. Abel merasa prihatin akan kondisi sang kakak ipar yang terlihat berbeda, nampak lebih kurus dari dulu dan berbanding terbalik dengannya yang tambah gemuk.
Sedikit pengalaman yang telah sang kakak ipar alami ia bagikan kepada Abel, wajar jika Abel merasa khawatir dan cemas berlebihan. Gadis itu belum berpengalaman apalagi ia adalah anak terakhir di mana kasih sayang biasanya akan di dapat lebih banyak dan tidak ada pengalaman merawat adik atupun anak kecil.
Berbeda dengan Abel yang berbincang dengan sang kakak ipar, Excel lebih memilih untuk berbincang dengan keberadaan mertua dan juga Andre di sana sedangkan Alvin di suruh untuk menemani anak pertamanya Andre yang ada di rumah. Karena mereka berfikir kurang baik jika anak kecil berada di tempat orang yang sakit karena daya tahan tubuh mereka masih rentan.
"Terus kamu perkirakan hari lahirnya kapan ?". Sang kakak ipar balik bertanya, di saat melihat perut Abel kian membesar semenjak mereka terakhir bertemu, tak menyangka jika mereka akan sama-sama memberikan dua cucu bagi mama Dina dan juga papa Rey dalam kurun waktu setahun.
"Baru awal trimester kedua sih kak tapi badan aku udah lebar kayak karpet rumah". Abel melihat dirinya dan membandingkan dengan sang kakak ipar, terlihat sangat jauh di mana ia terlihat sangat besar maka sang kakak ipar terlihat sangat kurus bahkan saat mengandung anak pertama juga terlihat kurus dan hanya perutnya saja yang membesar.
"Kamu jangan gitu, mau badan kamu tambah besar juga nggak apa-apa di jalanin aja dan di nikmati prosesnya karena ini adalah anak pertama kamu, pasti akan menjadi kenangan berkesan suatu hari nanti". Abel mengangguk, ucapan sang kakak ipar ada benarnya dan ia percaya kepadanya karena ia senang bisa hamil.
Pembicaraan mereka terhenti saat Excel ikut bergabung dengan dua wanita itu, ia bertanya nama sang bayi yang di jawab oleh Andre. "Adriana Geraldine Admaja".
__ADS_1
Andre langsung mengambil alih putrinya yang tadi berada di gendongan sang istri, ia menatap teduh putri kecilnya yang masih ringkih dan berwarna merah. Takjub akan kehadiran anggota keluarga baru yang melengkapi hidupnya.
Dan tatapan Andre beralih kepada sang adik ipar rasa kakak angkat, walau ia enggan untuk menganggap Excel sebagai adik iparnya. "Lo nggak akan pernah ngerasa jadi lelaki sesungguhnya kalau belum punya anak.
Dan perkataan Andre seolah menancap tajam ke Excel, ia tersenyum dengan di paksakan menanggapi perkataan Andre yang seolah menyepelekannya, tapi Andre lupa akan satu hal kalau saat ini Abel sedang mengandung dan ia menaruh tangannya di bahu sang istri lalu tersenyum bangga.
"Jangan khawatir aku tentu akan menjadi laki-laki sesungguhnya sebentar lagi". Dan tangannya ia pindahkan untuk mengelus perut buncit Abel. "Iya kan sayang ?".
"Iya iya".
.
.
.
.
.
.
.
Tuh udah ku kasih tau nama anak keduanya Andre kalau yang pertama entar ya di novelnya Andre sendiri.
__ADS_1