Love You Brother

Love You Brother
Nyindir


__ADS_3

Alvin menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan memang berencana untuk tidak pulang dulu. Ia agak merasa bersalah telah mengajak Abel untuk ke pesta pertunangan Excel hingga membuat Abel menangis sepanjang jalan. Ia merasa bersalah tapi sama sekali tak merasa menyesal, biarlah Abel menangis sepuasnya tapi Abel akan kembali bangkit di kemudian hari dan melupakan Excel.


"Kenapa kita berhenti kak ?". Abel bingung lantaran mobil yang mereka kendarai berhenti dan menepi bahkan sekarang Alvin mematikan mesin mobil. Abel melihat keluar kaca jendela, ia baru sadar jika jalan tempat berhenti mereka saat ini bukanlah arah jalan pulang akibat terlalu lama menangis.


" Yuk turun". Ajak Alvin dan Abel mengikutinya, ia melihat tempat permberhentian Alvin adalah di pinggir jalan dimana banyak pedagang kaki lima disana dan mobil Alvin ia parkirkan di dekat pedagang wedang ronde.


"Lo duduk dulu gue pesenin". Abel memilih tempat duduk kayu yang bisa di duduki dua orang dibanding dengan lesehan di bawah, bukan bermangsung tak mau duduk dengan khalayak ramai namun ia memilih tempat itu agar bisa melihati kendaraan yang melintas di malam itu.


Abel melihati banyak kendaraan yang mrlintas dengan wajah datarnya, bahkan kebisingan banyaknya kendaraan dan senda gurau para pengunjung tempat itu tak mengganggunya sama sekali dari lamunan.


" Udah jangan di fikirin lagi, nggak guna tuh cowok lo fikirin apalagi dia bakalan nikah". Seru Alvin yang kembali seraya membawa dua mangkuk kecil berisi wedang ronde tersebut dan salah satunya ia berikan untuk Abel.


Abel mengaduk wedang rondenya dan melihat bayangannya pada kuah wedang tersebut, pantulan bayangannya yang kurang jelas namun masih nampak dirinya yang tengah bersedih itu. "Aku nggak lagi mikirin dia".


" Terus lo mikirin siapa sampai ngelamun gitu kalau nggak ngelamunin dia ?". Alvin krmbali menyendokkan isian wedang ronde tersebut kedalam mulutnya, Tadi di pesta ia tak makan apapun dan wedang ronde jadi menu pilihannya sebagai pengganjal lapar, apalagi makannya di pinggir jalan sambil menikmati kendaraan yang melintas seperti ini, sangat ia sukai.


Alvin memang anak orang kaya yang suka menghamburkan uang untuk membeli pakaian dengan merek ternama, dan pakaiannya adalah pakaian dengan nominal yang tidak sedikit tapi jangan salah soal makanan ia tak pernah pilih-pilih.


"Kalau lo nggak mikirin dia terus lo mikirin apa ?". Tanyanya penasaran.


" Aku lagi mikir dari tadi truk yang lewat kok tulisannya nyindir aku mulu ya, kayak tau apa yang aku alami". Jawabnya membuat salah satu alis Alvin naik, ia tak faham dengan yang Abel maksudkan.


"Emang apa aja tulisannya ?". Tanyanya lagi.


"ada yang tulisannya 'mohon sabar ini ujian' ada lagi tulisan 'semua indah pada waktunya' dan ada lagi yang paling nyindir 'hujan masih air dan dia masih milik orang lain', nyindir banget kan kak ?". Jawabnya seraya nyinyir.

__ADS_1


Alvin tersedak ketika mendengar perkataan Abel yang sangat ingin membuat tertawa itu, untung saja isian wedang rondenya tidak sampai meloncat dari mulut akibat tersedak, sekuat tenaga ia menahan ketawanya kalau tidak bisa gawat, yang ada Alvin tertawa diatas penderitaan Abel.


"Udah jan difikirin tulisan asal kayak gitu mah suka-suka yang nulis bukan nyindir lo doang, cuma kebetulan doang itu mah". Alvin mencoba menghibur Abel suapa Abel tak sedih lagi, setidaknya sebagai seorang kakak yang telah di beri mandat dari papa Rey saat keluar kota ia bisa menjalankan mandat itu dengan baik.


" Makan nih jangan di aduk doang, lo tadi belum makan apapun kan ?". Abel menyendokkan isian wedang ronde kedalam mulutnya, sebenarnya ia tak nafsu sama sekali makan wedang ronde tersebut, bukan maksud tak suka makanan pinggir jalan hanya saja ia tak ingin melakukan apapun.


"Gimana enak nggak ? tempat langangganan gue nih". Abel hanya mengangguk sebagai jawaban, padahal ia tak merasakan apapun saat ini bahkan wedang ronde itu rasanya hambar namun untuk menghargai Alvin ia iyakan saja.


" Kak Alvin pernah gak sih benar-benar mencintai seseorang sampai dalam ?". Abel menengok ke arah Alvin yang tengah berusaha mengingat bagaimana ia pacaran dulu.


"Belum pernah, kalau udah ntar gue cerita deh, tapi moga aja cerita cinta gue nggak setragis lo". Abel mencebikkan bibir memangnya ia mau kisah cintanya akan setragis ini siapapun juga pasti maunya cinta yang berbalas dan bahagia.


Abel mengembunyikan wajahnya di kedua telapak tangan, ia sangat sedih mengenai tadi bagaimana bisa membenci jika hatinya dan fikirannya selalu ada Excel. " Kak gimana ini aku nggak bisa benci sama dia aku masih sayang kak kenapa dia tega banget sama aku memangnya aku salah apa, memangnya aku kurang apa sampai nggak dianggap prasaanku kayak gini hiks hiks".


Alvin langsung tersentak dan menaruh mangkuknya di samping lalu memrluk Abel guna menenangkan adiknya yang tengah kalut tersebut. "Udah bel udah jangan nangis".


" Masnya jangan jahat dong masa mbaknya yang cantik gitu masih nyari yang lain, cewek itu sensitifan mas ngertiin dong cewek jangan di sakitin dan di sia-siain dong". Alvin tercengang ia baru saja di salahkan oleh wanita yang tak tau apapun bahkan dikira ia pacarnya Abel.


"Mbak jangan salah gue ini kakaknya dia bukan cowoknya, adik gue nangis karena patah hati sama cowoknya bukan sama gue". Jelasnya namun seolah tak percaya wanita itu tetap memberikan tatapan kesal.


" Bel bantuin gue napa, ini gue di fitnah nih". Bisiknya pada Abel lalu Abel membuka telapak tangannya hingga memperlihatkan wajahnya yang basah akibat menangis.


"Bener mbak dia ini kakak aku, aku nangis bukan karena dia". Setelah mendengar penjelasan dari Abel barulah mereka semua percaya termasuk mbak-mbak yang menuduh Alvin.


" Maaf ya mas saya fikir mas pacarnya kan lagi tranding cowok selingkuh kirain masnya selingkuhin mbaknya ini". Tuturnya.

__ADS_1


"Iya makanya jangan asal nuduh mbak, lagipula mana mungkin gue nyakitin perasaan adek gue sendiri".


" Kak ayuk pulang". Alvin menaruh mangkuk tersrbut dan membayar pada pedangan wedang ronde itu, setelah itu mereka kembali masuk ke mobil dan pulang.


Kalau difikir-fikir Abel sudah sangat rugi mencintai Excel sangat lama dan menunggu kedatangan Excel seumur hidupnya tapi setelah Excel kembali malah membawa duka dan luka, kalau begini lebih baik Excel tidak usah kembali saja, tapi apa yang paling Abel kesalkan adalah ia tidak bisa dengan mudah melupakan kenangan bersama Excel, memang benar apa kata orang mudah melupakan seseorang namun sangat sulit melupakan semua kenangan yang ada.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kak Alvin baik banget I still wit you kak Alvin.

__ADS_1


kemarin-kemarin udah menguras emosi ya guys sekarang jeda dulu emosinya ntar emosian lagi, emang di novel ini bikin mengobrak-abrik hati kalian lewat cerita.


__ADS_2