Love You Brother

Love You Brother
Kencan Pertama


__ADS_3

Abel saat ini berada di supermarket hendak berbelanja untuk kebutuhan pribadinya sekalian refreshing dari segala rasa penat akibat melihat tumpukan berkas dan janji meeting. Lagipula belanja adalah salah satu hobi wanita apalagi kalau milih-milih dan dapat diskon rasanya mendapat kepuasan tersendiri.


"Kebetulan sekali bertemu denganmu". Abel menoleh mendengar suara lelaki yang tak asing di telinga, ia terkejut dengan adanya Excel di supermarket tersebut dalam hati ia berkata, "kenapa ada dia lagi dia lagi".


"Yah sangat kebetulan". Jawabnya datar dan kembali memilih barang yang Abel butuhkan lalu ia masukkan ke troly. "Aku melihatmu tempo hari di restoran tapi karena kau dengan seseorang jadi aku tidak menyapa".


Seakan enggan mendengarkan apa yang sedang Excel katakan, gadis itu memilih pura-pura sibuk dengan belanjaannya. "Siapa dia ?". Tanya Excel.


"Teman". Jawab Abel singkat namun Excel seolah ingin tau lebih jelas siapa lelaki yang bersama Abel hingga melontarkan pertanyaan yang membuat Abel kesal. "Benarkah tapi aku tidak pernah melihat lelaki itu denganmu sebelumnya". Abel menoleh ke arah Excel dengan wajah datarnya padahal hatinya sangat kesal.


"Kau tidak tau apapun tentang diriku, dan sangat bagus kalau kita bertemu lagi tapi pura-pura tak saling kenal, aku permisi". Abel berjalan membawa trolynya melewati Excel yang masih diam disana.


Segera Abel membayar belanjaannya di kasir padahal ia belum selesai membeli dan memilih barang, namun karena Excel disana entah mengapa ia enggan lebih lama berada di supermarket. Sebelum Abel benar-benar pergi ia menoleh ke arah Excel yang berjalan membelakanginya, "kita tidak punya hubungan apapun sebagai saudara lagi jadi aku harap kau tidak mencampuri dan ingin tau apapun lagi tentang diriku". tuturnya dengan nada pelan hingga tak kedengaran.


Abel berjalan keluar dari supermarket dan menuju ke parkiran mobil seraya memasukkan barang belanjaanya ke bagasi mobil untuk pulang.


********


Seperti biasa Abel mengerjakan pekerjaannya di kantor dan suara telfon menghentikannya sejenak untuk melihat siapa yang menghubunginya. Ia sedikit terkejut dengan nama Robin yang tertulis di sana, seakan masih belum terbiasa dan masih canggung Abel mengangkat telfon itu.


"Hallo" ~ Abel


"Hallo aku ganggu nggak ?" ~ Robin


Kalau boleh jujur sebenarnya Robin menganggu kesibukannya memangnya siapa yang tidak sibuk di jam kerja seperti ini. Tapi ia tak mungkin juga memarahi Robin pasti Robin juga sebenarnya sedang sibuk.


"Nggak kok, memangnya ada apa?" ~ Abel


"Aku mau ngajakin kamu jalan sehabis pulang kantor besok mau nggak ?". ~ Robin

__ADS_1


Abel tak langsung menjawab, ia mengingat terlebih dulu apakah punya jadwal lain besok sepulang kerja, mengingat kadang meeting atau pekerjaan membuatnya pulang tak sesuai dengan waktu yang seharusnya.


"Iya aku bisa besok" ~ Abel


"Yaudah besok aku jemput di kantormu ya" ~ Robin


"Iya" ~ abel


Abel menatap hpnya yang masih memperlihatkan nama Robin di sana. "Kalau kamu memang laki-laki yang di takdirkan Tuhan untukku maka tolong buat aku jatuh cinta sama kamu".


Abel menghembuskan nafas berat, padahal ketemunya besok tapi ia sudah gerogi duluan. Sebenarnya Robin lelaki yang tampan dan juga terlihat baik namun entah mengapa rasanya tetap seperti yang sebelumnya, ia masih sulit membuka hati bagi yang lain.


Abel akan menjalani ini pelan-pelan saja seraya menghilangkan jejak Excel dari dalam hatinya, ia teringat pesan Alvin 'jika tak bisa mencintai lebih baik cari yang membuat nyaman'. Abel belum mencintai Robin tapi sebisa mungkin akan berusaha dan mencari kenyamanan bersama dengan lelaki itu.


Abel membuka galeri fotonya dan menatap satu foto laki-laki yang tersenyum lebut, ia selalu suka senyuman itu, foto tersebut adalah fotonya Excel yang terakhir dan satu-satunya yang dia punya di hpnya karena yang lain sudah ia hapus.


"Akhirnya seperti ini, kau dan aku harus melangkah ke jalan masing-masing". Abel hendak menekan ikon tong sampah untuk menghapuf foto tersebut namun entah mengapa ia masih berat tapi ialah yang harus ia lakukan, dan Abel menghapus foto itu juga mengiklaskan orangnya.


******


Setelah mendapat pesan jika Robin telah tiba, Abel melangkahkan kakinya menuju ke lantai bawah dan menghampiri Robin. Senyuman terukir di wajah Robin kala Abel sudah berada di depannya, "siap ?". Tanyanya.


"Iya kita akan kemana ?". Sebelumnya Robin tak memberitau tujuan mereka akan kemana hingga membuat Abel penasaran namun bukan jawaban yang ia terima tapi Robin malah membukakan pintu mobil. "Nanti kamu juga tau, silahkan". Abel tak menuntut jawaban lagi, ia masuk ke mobil dan mengikuti kemanapun arah tujuan mereka nantinya.


Mobil Robin berhenti di sebuah mall yang letaknya agak jauh dari perusahaan Abel. Sudah bisa mengira kalau ini akan menjadi kencan pertama mereka, Robin keluar dari mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Abel. "Terima kasih".


Mereka masuk ke dalam dan seperti mall pada umumnya, mata mereka langsung di suguhkan dengan banyaknya barang yang terjual disana. "Pilih aja apapun yang kamu suka jangan khawatir aku yang akan bayar". Ucap Robin kala mereka sudah dihadapkan dengan banyaknya pakaian.


"Eh nggak bisa gitu, aku bawa uang sendiri kok". Abel tak enak hati, lagipula ia juga punya uang yang cukup banyak tentunya. "Udah nggak apa-apa". Abel hendak menolak lagi tapi Robin lebih dulu memanggil pelayan untuk mencarikan pakaian yang cocok bagi Abel.

__ADS_1


"Di coba dulu ya". Ujarnya kala pelayan sudah memilihkan beberapa pakaian untuk Abel. Merasa tak enak hati untuk menolak Abel menurut dan mencoba pakaian yang di berikan pelayan tersebut.


Beberapa baju telah Abel coba dan Robin menyuruh pelayan untuk membungkus semuanya, Abel hendak membayarnya sendiri namun Robin tak mengizinkan hingga akhirnya Robinlah yang membayar padahal nominalnya tidak sedikit.


Setelah berbelanja mereka makan malam di kafe yang masih ada di dalam mall tersebut. Lagi-lagi Robin yang membayar, walau sebenarnya Abel tak enak hati. "Robin orangnya royal banget". Gumamnya dalam hati.


Robin memutuskan untuk mengantarkan Abel pulang karena ia tau jika Abel sendiri pasti sudah lelah karena sudah seharian bekerja. Mobil Robin telah sampai di depan rumah Abel, "Aku langsung pulang aja ya lagian udah malem juga".


"Yaudah kamu hati-hati ya, oh ya makasih". Ujarnya.


"Aku yang makasih sama kamu udah nemenin aku". Abel tersenyum tipis tak enak hati padahal ia yang telah banyak di belanjakan, "harusnya kan aku yang lebih terima kasih".


"Kita akan debat nih siapa yang lebih berhak berterima kasih sampai pagi ?". Mereka berdua tertawa karena berdebat untuk hal yang sepele, "yaudah aku pulang ya salam untuk tante sama om".


"Iya". Abel masih berdiri di sama sampai mobil Robin menghilang dari pandangannya barulah ia masuk ke dalam rumah.


.


.


.


.


.


.


Jadi aturannya gini ya guys aku akan up sekali saat pagi dan melihat ranking votenya kalau bisa naik signifikan aku akan vote entah sore atau malam. tapi kalau rankingnya tetap atau tidak naik aku hanya akan up satu kali saja dalam sehari, dan libur up kalau tugas di real life numpuk.

__ADS_1


moga nggak ada yang salah mengartikan lagi 😊😊😊


__ADS_2