
Mobil Excel telah memasuki pekarangan rumah Abel tanpa rasa takut lagi karena sekarang ia telah resmi menjadi calon suami Abel jadi tak akan ada yang membuatnya merasa tak nyaman untuk mengunjungi sang kekasih.
Hari ini Excel menjemput Abel untuk bersama-sama pergi ke pernikahan Felly yang merupakan teman Abel. Memang Excel tak mendapat undangan tapi ia datang sebagai pasangan calon istrinya tersebut.
Dan tak perlu menunggu lama suara sepasang sepatu terdengar dari arah tangga yang menampilkan wajah cantik dengan cincin yang melingkar di jari manis, menandakan kalau wanita itu adalah calon istrinya.
"Kau sangat cantik". Sebuah pujian Excel lontarkan saat gadis itu ada di hadapannya dan semburat merah yang ada di pipi gadis itu terlihat. Padahal hanya sedikit pujian saja mampu membuat Abel terlihat sangat menggemaskan.
"Kau juga terlihat sangat tampan kak". Abel melihat Excel dengan jas yang di pakainya juga dasi yang sedikit miring, sontak saja Abel langsung mendekat dan mengikis jarak diantara mereka guna membetulkan dasi tersebut.
Aroma parfum yang keduanya gunakan langsung terasa di indra penciuman masing-masing, dengan segera Abel mundur setelah sebelumya menepuk dada Excel pelan untuk menyingkirkan sedikit debu yang menempel.
"Sekarang sudah terlihat rapi". Ujarnya dan pandangan Excel masih tak lepas memperhatikan Abel hingga gadis itu malu sendiri dibuatnya, ia salah tingkah dan berusaha menghindar dari tatapn Excel.
"Yaudah yuk berangkat nanti acaranya keburu di mulai". Abel menggandeng tangan Excel seraya mengajaknya agar segera berangkat. Namun saat dirasa Excel mengeratkan pegangan tangannya, ia tersenyum dalam hati.
Excel melepaskan tautan tangannya dan membukakan pintu mobil bagi Abel seolah gadis itu adalah tuan putri yang harus di layani dengan baik. "Silahkan".
"Terima kasih". Abel masuk dan giliran Excel yang masuk ke dalam mobil menuju ke hotel tempat pernikahan Felly. Untung saja jalanan tak macet sehingga mereka bisa datang lebih cepat dan lebih mudah mencari tempat parkir yang memang akan penuh tempatnya jika datang beberapa menit lebih lama.
Excel menekuk lengannya sebagai pegangan Abel. Selain untuk memunjukkan bahwa mereka pasangan juga agar Abel tak hilang mengingat banyaknya orang yang sudah datang padahal acaranya masih nanti.
"Abel". Suara teriakan terdengar hingga membuat Abel menoleh mencari sumber suara, ia terkejut mendapat sang mempelai wanita malah melambaikan tangan seraya berjalan kearahnya dengan langkah tergesa.
"Hati-hati jatuh". Abel melepaskan pegangannya dari Excel dan berfokus pada Felly yang ia kira hampir jatuh tapi tak jadi karena berhasil menyeimbangkan badan kembali. "Sembrono deh bukannya siap-siap". Sang mempelai wanita malah terkikik dan beralih melihat lelaki yang ada di sebelah Abel lalu berbisik di telinga Abel.
"Bukannya itu om ganteng yang dateng ke acara ultah gue ?". Tanyanya dan Abel melihat Excel lalu mengangguk ke arah Felly yang terlihat sangat terkejut.
__ADS_1
"Udah baikan sama om ganteng ?". Tanyanga menggoda dam sedikit menyikut lengan Abel hingga malu di buatnya. Dan saat mereka asyik bercanda ada seorang laki-laki yang ternyata pernah menjalin kerja sama dengan Excel juga berada disana, Excel bilang ke Abel untuk berbincang dulu lalu meninggalkan Abel berdua dengan Felly.
"Udah dong, nih lihat". Abel mengangkat tangannya sebelah kiri, memperlihatkan cincin cantik yang tersemat di jari manisnya. "Udah jadi calon istrinya juga".
"OMG G G". Felly begitu terkejut dan tak menyangka jika Abel sudah menjadi calon istri dan akan segera menikah, dalam hati ia turut bahagia mengingat setiap lelaki yang menyatakan cinta untuk gadis itu selalu di tolak, takut kalau sahabatnya akan menjadi prawan tua.
Kebersamaan mereka terganggu saat ada seseorang yang datang dan memberitahu Felly kalau acara akan di langsungkan sebentar lagi dan ia di suruh siap-siap disana. Abel kemudian menghampiri Excel yang juga kebetulan telah usai berbincang.
Mereka memilih tempat duduk saat acara hendak di mulai dan Abel mengedarkan pandangan melihat dekorasi pernikahan Felly yang sangat bagus menurutnya. Terbesit dalam hati ini menambahkan dokorasi yang sama di beberapa sudut kalau nanti ia menikah.
"Kak tempatnya bagus ya ?". Abel memegang tangan Excel, memberitahu tentang dekorasi yang membuatnya kagum.
"Iya bagus, apa nanti kau mau yang seperti ini ?". Tanya Excel dan Abel mengangguk sebagai jawaban. Pernikahan Felly adalah contoh kesempurnaan menurutnya jadi ia sangat suka walau mungkin nanti pernikahannya tidak sama persis.
"Aku akan buatkan yang jauh lebih bagus, mau ?".
Bila diingat ia tak pernah membawa pasangan kemanapun dan selalu menghindari acara yang mengharuskan membawa pasangan. Bukan tanpa alasan karena ia hanya mau bersama Excel saja. Bahkan Felly dampai di buat miris melihatnya karena merasa Abel terlalu banyak menampik.
Tapi sekarang tak lagi, di sebelahnya ada Excel yang akan selalu menemani ke depannya dan ia akan menggenggam tangan Excel dengan erat lalu memperkenalkan kepada seluruh dunia bahwa lelaki itu adalah calon suaminya dan wanita lain tidak ada kesempatan lagi. Ia sudah pernah kehilangan hati Excel sekali karena jarak memisahkan tapi sekarang ia tak akan membiarkan itu terjadi.
Felly sekarang telah menjadi seorang istri dan lelaki yang berada di sampingnya sekarang telah mejadi suaminya Felly, kebahagiaan juga kesedihan kini Abel rasakan karena masih tak menyangka sahabatnya sekarang punya teman hidup.
Air mata Abel luruh tanpa permisi meninggalkan seberkas butiran bening yang menetes di pipi juga masih menggenang di matanya, tak dapat di pungkiri jika ia merasakan kebahagiaan yang Felly rasakan saat ini.
"Eh kok nangis?". Excel membantu Abel membersihkan cairan bening yang masih enggan untuk mengering. Ia tersenyum dan menggeleng. "Aku ikut bahagia kak temenku nikah".
"Iya aku bisa melihatnya". Excel mengusap lengan Abel untuk memberikan rasa tenang, ia tak menyangkan pertemanan Abel bisa membuat mereka saling merasakan perasaan masing-masing.
__ADS_1
Beberapa acara telah usai di lakukan, namun hal yang paling di tunggu oleh para lajang adalah mendapatkan buket bunga pengantin.
"Kak ayo ikut". Abel mencoba mengajak Excel agar ikut kumpulan orang lajang yang menatikan pelemparan buket bunga pengantin. Di kisahkan kalau yang mendapat bungat tersebut maka sebentar lagi juga akan menikah.
Dan dulu setiap ada acara pelemparan bunga, selalu saja Abel tak ikut karena ia merasa baik dengan lelaki manapun jika bukan Excel maka ia enggan untuk menikah atau sekedar memikirkan pernikahan.
"Nggak perlu ikut yang begituan juga kita akan segera menikah". Jawabnya dan itu berhasil membuat wajah Abel beehasil muram dalam seketika. Ia sedih karena mengira Excel akan mau tapi ternyata tidak.
"Baiklah jangan sedih, tapi nanti kalau tak dapat kita akan tetap menikah, ingat itu". Abel mengangguk dengan senang dan mengajak Excel untuk ikut kerumunan para lajang.
Pengantin sudah berbalik badan dan bersiap melemparkan bunga ke arah para kerumunan dan terlihat bunga tersebut terlempar jauh ke atas sebelum mendarat ke tangan Abel dan juga Excel. Mereka saling melempar senyum saat mendapat bunga itu bersama-sama.
"Sepertinya kita memang berjodoh". Ujarnya dan melepas buket bunganya untuk di genggam di tangan Abel, sontak wajah Abel kembali bersemu memikirkan betapa kebetulannya bunga itu mereka dapatkan secara bersama-sama.
"Kayaknya iya".
.
.
.
.
.
.
__ADS_1