Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Kondisi Abel


__ADS_3

Andre berteriak kencang malihat kondisi Abel yang tergeletak tak berdaya dengan tubuhnya yang terbakar. Dengan panik ia menggotong tubuh Abel keluar dari dapur yang masih memercikkan api dan juga kepulan asap.


"Bi cepat kabari semua orang, aku akan membawa Abel ke rumah sakit". Teriaknya karena ia benar-benar kalang kabut, bingung apa yang harus di lakukan karena yang ada di otaknya saat ini adalah cepat menolong Abel ke rumah sakit.


Tak jauh berbeda dengan bi Asih yang juga bingung dan terkejut akan ini semua, bahkan air mata bi Asih menetes melihat kondisi Abel yang di gotong oleh Andre dalam keadaan yang memprihatinkan. "Iya den".


Dengan tubuh yang gemetar bi Asih mengangkat gagang telefon dan mengabarkan kepada mama Dina, papa Rey, juga Alvin akan kondisi rumah juga abel yang mengalami kebakaran. Setelah menelfon bi Asih hendak ikut namun Andre terlalu tergesa hingga sudah meninggalkan dirinya ke rumah sakit.


Diperjalanan Andre mengemudikan mobilnya dengan batas kecepatan diatas rata-rata berharap agar mereka segera sampai di rumah sakit dan Abel segera di tangani. Ia bahkan tak segan untuk menerobos lampu lalu lintas beberapa kali.


"Cepat tolong adikku". Teriaknya saat mobil sampai di depan rumah sakit, hingga beberapa perawat membantu Andre yang tengah menghotong Abel dan di masukkan ke dalam UGD agar segera di tangani.


Keringat mengucur deras di pelipis juga seluruh tubuhnya tanpa ia sadari. Andre menunggu cukup lama Abel yang berada di dalam sana dan ia masih menunggu keluarganya juga yang sampai saat ini belum juga datang.


Ia menunduk, melihat ubin lantai yang berada di bawah seraya berdoa meminta agar Abel tak kenapa-napa, dan segala ketakutannya lekas sirna. Sampai tak menyadari jika 3 pasang kaki melangkah dengan tergesa menuju ke arahnya.


"Andre bagaimana dengan keadaan Abel ?". Tanya papa Rey mewakili pertanyaan semuanya yang juga ingin tau perihal kondisi Abel. Secepat mungkin mereka datang setelah menerima telefon dan sepanjang jalan di hinggapi rasa penasaran.


"Aku juga belum tau pa, karena dokter belum juga keluar". Andre kembali melihat ruangan tempat Abel sedang di tangani, masih tertutup rapat sedari tadi bahkan satupun belum ada yang keluar untuk memberinya penjelasan.


"Bagaimana bisa terjadi, ceritakan semuanya kepada kami". Mama Dina sangat khawatir, bahkan air matanya sudah jatuh membasahi pipi sedari tadi, mencoba tenang dan tegar tapi nyatanya sangat sulit.

__ADS_1


"Aku tadi berkunjung dan mendengar ledakan dari arah dapur, saat masuk Abel sudah pingsan lalu aku membawanya ke sini san menyuruh bibi untuk mengabari kalian". Jelasnya.


Walau sudah menjelaskan namun rasa gelisah tetap terlihat. Salah seorang dokter yang keluar dari ruangan itu, sontak tatapan penuh tanya langsung mereka lontarkan. "Bagaimana dokter kondisi putriku ?".


"Saat ini kondisinya sedang tidak baik karena 60 % tubuhnya terbakar". Ujar sang dokter yang seketika membuat mereka syok, apalagi mama Dina yang hampir jatuh jika tak di tumpu segera oleh Alvin.


"Astaga Abel". Air mata mama Dina kian deras membasahi wajah, hingga ia tak peduli lagi dengan apapun selain Abel, dunianya serasa hancur saat mengetahui kalau Abel tidak baik-baik saja bahkan Abel akan menikah sebentar lagi tapi kondisinya malah seperti ini.


"Tapi Abel masih bisa sembuh kan dok ?". Kali ini alvin bertanya, ia tak kalah sedihnya dengan kedua orangtuanya yang menghawatirkan kondisi Abel, tak menyangka kalau hari ini akan terjadi hal buruk, bahkan ia tak sedang berada di dekat Abel saat musibah terjadi. Alvin ingin merutuki dirinya sendiri.


"Kami masih belum bisa memastikan karena saat ini pasien harus dirawat lebih lanjut".


"Apakah kami bisa melihatnya sekarang ?". Dokter mempersilahkan namun hanya mengizinkan satu orang saja untuk saat ini karena Abel masih belum sadarkan diri dan butuh ketenangan.


Mama Dina menutup mulutnya yang hendak bersuara karena tangis kian deras, ia tak sanggup melihat Abel dalam kondisi seperti ini. Lalu bagaimana dengan pernikahan yang telah di rencanakan selama ini. Dan ingin memegang tangan Abel juga mama Dina tak kuasa saat melihat perban disana, ia takut menyakiti Abel jika terkena sentuhan, padahal Abel belum terbangun.


"Sayang bangun ya". Sebuah bisikan mama Dina berikan, berharap Abel mendengar dan segera bangun, tapi nyatanya tidak karena Abel masih enggan membuka mata. Rasanya ia ingin menggantikan Abel saja daripada Abel yang harus menderita seperti itu.


Mama Dina keluar dari ruangan, masih dalam kondisi sedih dan terpukul hingga badannya terasa lemas. Bahkan papa Rey langsung memeluk mama Dina dan menenangkannya agar sang istri lebih bisa sabar dan tabah, meskipun dirinya sendiri tak jauh khawatir sama dengan apa yang di rasakan mama Dina.


"Apa Excel sudah di kabari pa ?". Mama Dina melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Andre juga yang lain, menanyakan apakah Excel sudah mengetahui ini semua ataukah belum karena bagaimanapun Excel berhak mengetahui kondisi Abel.

__ADS_1


"Papa akan telefon". Papa Rey meraih hp yang berada di sakunya dan mencoba menelfon Excel, berharap rentang waktu disana tak sedang malam hari karena takut apabila Excel belum bangun atau malah baru tidur.


*******


Suara dering telfon yang berbunyi membuat Excel mendekat dan mengambil hpnya, ia mengernyit saat melihat ada nama papa rey yang tertera di sana, lantaran papa rey bukan orang yang suka basa-basi, dan akan menghubungi jika ada hal penting saja.


"Hallo pa" ~ Excel


"Hallo Excel, kapan kau akan segera kembali ke sini ?" ~ Papa Rey


Excel merasa ada yang aneh seakan papa Rey yang menanyakan kapan kepulangannya, seolah ada yang di sembunyikan dan ia merasa punya firasat tak enak.


"Pa semuanya baik-baik saja kan ?" ~ Excel


Sebenarnya Abel mengalami kecelakaan, segeralah pulang" ~ Papa Rey


Excel begitu terkesiap, tak menyangka akan kabar buruk yang ia dapat bahkan rasanya masih sangat sulit di cerna hingga sejenak ia diam tak bergerak bahkan suara papa rey di seberang sana seakan terasa sulit ia dengar.


"Excel kau masih disana ?"~ papa Rey


"Iya pa, aku akan segera pulang sekarang" ~ Excel

__ADS_1


Excel lalu memesan tiket pesawat yang akan membawanya pulang ke Indonesia dengan penerbangan paling awal, ia sangat cemas bahkan tak memikirkan apapun lagi selain cepat sampai dan segera melihat kondisi Abel.


__ADS_2