Love You Brother

Love You Brother
Terlalu Khawatir


__ADS_3

Setelah up yang kedua kemarin kok malah turun lagi rankingnya, apa aku up sehari sekali lagi aja ya, malah yang pagi upnya naik drastis, setelah aku up yang kedua malah turun drastis, aneh.


______________________________________________


"Jennie". Excel menghampiri Jennie yang berada di belakang para tamu, ia berjalan dengan langkah yang lebar, telah lama tak bertemu Jennie dan saat bertemu malah mendapati Jennie dengan penampilan yang kacau.


"Kak Excel". Teriak Abel menghentikan langkah kaki Excel, lelaki itu menoleh ke arah gadis yang beberada detik lalu telah sah menjadi istrinya dan Abel juga tengah menangis bahkan terisak.


"Abel". Excel melihat ke arah Abel dan Jennie bergantian entah siapa wanita yang hendak ia pilih saat ini, apakah Jennie ataukah Abel ?.


Bhuuug


Excel mengusap kepalanya yang sakit, ia membuka mata dan melihat sekitar menyadari kalau ia sedang berada di kamarnya berarti yang tadi itu hanyalah mimpi semata dan ia terjatuh dari kasur. Excel menyenderkan kepalanya pada pinggiran ranjang dan menghembuskan nafas lega karena itu semua hanyalah mimpi kalau tidak bagaimana ia akan menyikapinya.


Lelaki itu melangkahkan kaki ke ruang kerjanya yang berada tepat di sebelah kamar tidurnya, ia membuka laci meja dan mengambil sebuah kalung. Kalung itu adalah kalung yang Abel lemparkan kepadanya dan ia sudah ingat kalau kalung itu ia sendiri yang memberikannya kepada Abel dengan sebuah janji di masa kecil.


"Apa yang harus aku lakukan ?". Excel mengusap kepalanya dengan gusar, tak peduli jika rambutnya berantakan karena ia sendiri sedang bingung dan tak tau harus mengambil keputusan apa.


Mungkinkah mimpi tersebut memberinya petunjuk kalau ia harus menikahi Abel karena sudah memperkosa gadis itu, tapi itu ia lakukan tanpa kesadaran bahkan ia tak ingat apapun yang terjadi. Tapi di lain sisi ia kefikiran bagaimana dengan Jennie yang kini menjadi calon istrinya.


Excel mengambil dua figura yang berada di laci yang menampilkan foto dua wanita yang berbeda yang satu adalah foto Jennie dan yang satu lagi adalah fotonya dengan Abel kala masih kecil. Excel tidak punya foto Abel kala masih dewasa jadi hanya itu yang ia punya.


"Aku sangat menyayangi kalian berdua dan aku tidak bisa memilih salah datu dari kalian". Excel menatap lekat-lekat kedua foto itu, ia merasakan pusing memikirkan ini semua dan mengembalikan foto itu ke laci.


Karena mimpinya tadi membuatnya tak bisa kembali tidur dan memilih untuk mengerjakan pekerjaan yang ia bawa pulang sampai matahari terbit.


*******


Hari ini adalah hari pertemuan Excel dan Abel untuk yang kesekian kali dan akan terus begitu hingga proyek keduanya selesai. Dalam meeting mereka tiada hal pribadi yang di bahas dan hanya ada profesionalisme.

__ADS_1


Dengan Abel yang bersikap biasa dan Excel juga begitu hanya saja sesekali Excel mencuri pandang melihat apakah ada gejala hamil karena mimpinya tempo hari membuat lelaki itu parno sendiri.


Sesi meeting mereka telah selesai dan bertepatan dengan itu Excel memaksa agar mereka berempat termasuk Bagas dan Luci makan siang bersama, lagipula mereka sedang berada di kafe saat ini dan tempo hari mereka gagal makan bersama karena Jennie.


Excel dan Bagas memilih steak sapi untuk makan siang mereka sedangkan Luci memesan nasi goreng dan Abel memesan Udang asam manis. "Kau yakin ingin makan itu ?". Tanya Excel karena yang ia tau udang memiliki bau yang amis apalagi untuk ibu hamil yang lasti akan membuat muntah walau ia tak tau apakah Abel hamil atau tidak.


"Memangnya kenapa aku tak boleh makan itu ?". Excel hanya diam, dia lupa kalau Abel hanya hamil dalam mimpinya dan bukan di dunia nyata, keparnoannya kadang membuat lelaki itu merasap aneh sendiri. "Tidak apa-apa". Jawabnya singkat.


Makanan telah datang dan tersaji di meja, mereka bertiga mengambil sendok dan garpu masing-masing namun Excel masih ragu dan masih diam-diam melihat Abel memakan udang itu, sejenak Abel berhenti makan karena merasakan ada udang yang kulitnya tidak di bersihkan dengan benar namun Excel kira Abel merasa mual.


"Kau kenapa ? Apa udangnya terasa amis atau kau mau muntah". Tanyanya khawatir hingga membuat Bagas dan Luci memandang kedua bos mereka. "Aku baik-baik saja". Jawab Abel pelan namun penuh penekanan lantaran Excel menanyakan hal yang aneh menurutnya.


" kalau kau kurang suka dengan makanan itu lebih baik pesan yang lain, lagipula udang memiliki bau yang amis". Abel mengernyit mengapa hari ini Excel banyak sekali bertanya dan bicara kepadanya, apalagi ia bahkan tidak bisa makan dengan tenang.


Abel menatap Excel dengan wajah kesalnya, bahkan hanya untuk makanan mengapa lelaki itu sangat berisik, ia geram dan menyelesaikan makannya walau masih tersisa banyak. Abel mengajak Luci untuk segera pergi dari saja karena ia sudah tak betah.


********


Abel melihat Robin yang duduk di lobi perusahaan, setelah mendapat chat kalau Robin telah sampai Abel langsung berjalan menghampiri lekaki itu yang berada di lobi.


"Udah lama nunggunya ?". Tanya Abel kala sudah berada di depan Robin. "Nggak kok aku baru nyampai, yaudah yuk". Mereka berdua menuju ke arah mobil dan lagi-lagi sebelum Abel membuka pintu mobil Robin terlebih dulu membukakan pintu untuk Abel. "Makasih". Ujarnya.


Robin berjalan memutar dan masuk ke dalam mobilnya membelah jalanan yang sedikit macet karena memang mereka pergi saat jam pulang kerja. Abel bertanya arah tujuan mereka tapi Robin tak mengatakannya dan bilang rahasia.


Kurang lebih satu jam mereka menuju ke lokasi itu dan mobil Robin berhenti di hamparan pasir putih di bawah dan terlihat disana ada ombak yang tidak terlalu tinggi tapi cukup membuat kagum siapapun yang melihatnya.


"Pantai ?". Robin mengangguk dan keluar dari mobil, lelaki itu kembali membukakan pintu mobil untuk Abel, suatu hal sederhana namun membuat hati wanita tersanjung dan merasa diistimewakan.


Abel merasa sangat takjub dengan deburan ombat di sertai warna langit yang berubah agak jingga karena sebentar lagi malam akan tiba. Gadis itu tertegun sejenak hingga suara Robin membuatnya sadar, "gimana bagus nggak pantainya ?".

__ADS_1


"Iya". Robin mengajak Abel berjalan di atas pasir tanpa menggunakan sepatu, Abel yang menggunakan heels di lepas begitu juga dengan Robin. Terakhir kali Abel ke pantai saat itu bersama dengan Excel namun lelaki itu hanya memberikan kesedihan setelahnya.


Mereka bermain air layaknya anak kecil dan Robin mengajak Abel minum air kelapa muda dari kelapanya langsung yang di jual di sekitar tempat itu. Dahaga mereka sirna sudah dan terakhir mereka melihat matahari terbenam yang begitu indah sebagai penutup.


"Kenapa kamu ngajak aku ke pantai ?". Tanya Abel, ia bukannya tak suka ke pantai bahkan sangat suka hanya saja dari sekian banyaknya tempat kenapa kepantai.


"Mungkin karena udah lama aku nggak ke pantai, terakhir waktu kecil sebelum aku masuk SMP". Jawabnya.


Setelah matahari sudah terbenam dan langit berubah menjadi gelap mereka memutuskan untuk pulang. Tak enak juga kalau Robin mengajak Abel pergi hingga terlalu larut apalagi daat ini status mereka masih dalam tahap pendekatan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Siapa yang kena tipu kalau Abel hamidun.

__ADS_1


jangan lupa kasih like, komen, subscribe dan bintang.


Dan juga votenya jangan lupa karena vote kalian memperngaruhi apakah akan up lebih cepet atau lebih lama.


__ADS_2