
Kemarin aku cuma up satu doang, ada yang nyariin nggak, itu karena rankingnya turun bukannya nambah, jadi kalau mau up dobel setiap hari banyakin votenya biar rankingnya naik.
______________________________________________
Robin mengantarkan Abel pulang ke rumahnya dan saat di depan pintu ada Alvin, kebetulan Alvin yang mendengar suara mobil sudah bisa mengira pasti itu Abel yang diantar oleh Robin, Alvin sendiri penasaran seperti apa Robin aslinya karena hanya mendengar cerita saja dari papa Rey.
"Baru pulang ?". Tanya Alvin datar kepada keduanya.
"Iya". Jawab Abel cukup kesal, mengapa juga sang kakak harus berada di depan rumah, ketara sekali kalau menunggunya pulang. "Kak Alvin ngapain di luar ?". Tanya Abel balik, ia menatap micing kakaknya seolah meminta penjelasan.
"Gue cari angin di dalem panas". Jawabnya namun Abel tak akan percaya begitu saja lagipula di dalam rumah ada AC untuk apa mencari angin sampai keluar.
Robin mendekat ke arah Alvin dan mengulurkan tangan mengenalkan diri sebagai bentuka kesopanan, "Halo aku Robin". Ujarnya kala sudah di jabat oleh Alvin, "gue Alvin kakaknya Merry". Merekapun melepaskan jabatan tangannya.
Entah mengapa Abel merasa kalau Alvin akan melakukan hal yang lain selain menunggunya pulang, "nggak masuk mampir dulu ?". Tawar Alvin kepada Robin tentu lelaki itu mengiyakan dan mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
Mama Dina melihat Alvin dan Abel yang datang dengan seseorang jadi ingin tau siapa tamu yang berkunjung, "eh ini siapa ?". Robin mendekat dan mencium punggung tangan mama Dina, wanita paruh baya itu terkesima dengan kesopanan yang di perlihatkan Robin, " saya Robin tante". Ujarnya.
Mama Dina melihat Robin dan bergantian melihat Abel, ia tersenyum penuh arti ke arah putrinya itu, "udah makan malam belum kalau belum makam disini aja ya bentar lagi masakannya matang". Robin mengiyakan permintaan mama Dina.
"Duduk dulu ya, Mer bantuin mama bentar". Robin dan Alvin duduk di sofa sedangkan Abel dan mama Dina ke belakang untuk menyiapkan minuman bagi Robin. "Itu si Robin ganteng banget kalian cocok banget, udah nggak usah kelamaan langsung nikah aja". Abel mengerjapkan matanya, baru bertemu sekali saja mama Dina langsung suka dengan Robin apalagi kalau sampai beberapa kalia bertemu, "mama jangan asal kita baru tahap pendekatan ma".
Mama Dina menghela nafas kecewa, namun walau begitu ia senang setidaknya Abel terlihat baik-baik saja bersama Robin dan semoga Abel bisa melupakan Excel, karena bagaimanapun mengharapkan seseorang yang tidak ingin di perjuangkan tidaklah baik, "yaudah nih anterin ke Robin".
Abel membawa nampan berisi minuman juga cemilan namun saat ke depan ia tak melihat Robin maupun Alvin dan kembali ke dapur menghampiri mama Dina, "ma Robin sama kak Alvin hilang".
"Masa bisa hilang orang segede itu, coba cari dulu pasti ketemu nanti". Abel menaruh terlebih dulu nampannya dan mencari keberadaan Robin maupun Alvin di semua sudut rumah namun tak menemukan juga, ia jadi teringat kalau belum mencari di kamarnya Alvin dan benar saja kedua laki-laki itu ada disana namun yang membuat heran keduanya bermain ps bersama.
"Ternyata kalian disini". Ujarnya namun tak membuat kedua laki-laki itu menoleh karena asyik main. "Udah jangan ganggu". Alvin mengibaskan tangannya ke arah Abel agar tak menganggunya.
"Ah kalah". Teriak Alvin yang kalah bermain melawan Robin, "kak Alvin ada-ada aja deh masa Robin diajak main beginian". Robin memutar tubuhnya melihat Abel yang berada di belakang, "aku bggak keberatan malah senang karena udah lama nggak main ini".
__ADS_1
Abel merasa malu dan canggung dengan kelakuan Alvin yang langsung mengajak Robin ke kamarnya dan mengajak lelaki itu main game, padahal Alvin sudah dewasa mengapa juga mengajak Robin main. "Maaf ya Robin".
"Kan aku bilang nggak apa-apa".
Mama Dina masuk ke dalam kamar Alvin dan melihat kedua anaknya beserta Robin disana, "kalian disini ternyata mama cariin yuk makan malam dulu sudah siap semua papa juga udah selesai mandi".
Mereka semua menuju ke meja makan dan disana papa Rey sudah duduk, Robin duduk di samping Abel dan menyapa papa Rey, "hallo om".
"Iya gimana kabar orangtua kamu ?". Tanya papa Rey.
"Baik om". Acara makan malam itu diisi dengan perbincangan antara papa Rey dan Robin karena papa Rey lah yang mempertemukan Abel dengan Robin jadi dari semua anggota keluarga dia yang lebih mengenal Robin.
Sesekali mama Dina dan Alvin ikut bertanya kepada Robin, sedangkan Abel hanya diam dan merasa tak enak hati karena keluarganya menanyai Robin ini dan itu. Tapi di satu sisi Abel merasa senang karena keluarganya tak bertanya tentang hal yang sensitif.
Setelah selesai makan mama Dina menyuruh Robin untuk berada di sana lebih lama namun karena hari sudah larut, ia memutuskan untuk pamit lagipula besok masih harus bekerja jadi tak ada yang memaksanya lagi. "Maaf ya keluargaku emang kayak gitu".
"Nggak apa-apa keluarga kamu menyenangkan kok, nggak kayak keluargaku yang sepi apalagi aku anak satu-satunya jadi ya sepi kalau ada satu aja yang gak dirumah". Dalam hati Abel merasa lega karena tak nampak ketidaknyamanan pada Robin.
"Hati-hati".
Robin memasuki mobilnya dan Abel terus melihati mobil Robin sampai pergi dan tak terlihat lagi, barulah ia masuk ke dalam rumah.
********
Hari ini Robin kembali mengajak Abel ke suatu tempat dan lagi-lagi ia tak di beri tau kemana tujuan mereka. Di perjalanan Abel menatap ke jendela memperhatikan cuaca yang gerimis membasahi jalan, banyak orang yang kehujanan dan berteduh.
"Kita udah sampai". Abel tak menyadari jika mereka sudah sampai ke tempat tujuan karena terlalu serius melihat orang yang berada di jalan tanpa transportasi tadi. Dan saat sudah sampai ia tak merasa heran karena tempat itu adalah sebuah kafe, "mungkin Robin akan mengajakku makan". Fikirnya .
Abel dan Robin turun dari mobil dan berjalan masuk ke kafe itu tapi sebelum masuk Abel tak melihat ada pengunjung kafe satupun, entah memang kafe itu terlalu sepi atau bagaimana ia tak tau. Dan setelah masuk ke dalam juga tak ada orang kecuali satu pelayan namun pakaiannya terlalu rapi kalau cuma untuk seorang pelayan mungkin itu adalah manager disini.
"Silahkan tuan dan nona lewat sini". Lelaki itu mengantarkan mereka ke sebuah ruangan yang mengharuskan mereka untuk masuk lebih dalam. Pintu ruangan itu di buka dan Abel terperangah ketika melihat dekorasi lilin dan bunga tempat tersebut, "indah sekali". Ujarnya pelan namun masih bisa di dengar Robin.
__ADS_1
"Kau menyukainya ?". Abel menolehkan kepalanya ke arah Robin, "iya bagus sekali, apa ini kau yang mempersiapkan ?". Robin hanya tersenyum ringan dan menggeleng, "yang menyiapkan para pelayan disini tapi atas instruksiku".
Seorang pelayan membawakan buket bunga mawar merah pesanan Robin dan lelaki itu terima, Robin menatap Abel dengan pandangan serius hingga membuat Abel merasa bingung.
"Merry aku tau kita memang baru berkenalan tapi saat pertama melihatmu aku langsung punya perasaan terhadapmu, mungkin ini terlalu cepat tapi kalau kau tidak keberatan aku ingin hubungan kita lebih dari ini setidaknya kita lebih dekat lagi dan kita bisa menjalaninya pelan-pelan, Merry maukah kau menjadi pacarku ?".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kemarin aku baca komen kalian waktu Excel mimpi nikah sama Abel ada yang pro ada yang kontra.
itu yang pro kalau ceritanya dilanjutin entar gini :
Excel nikah sama Abel tapi Excel tetap memikirkan Jennie dan kembali menjalin hubungan dengan Jennie di belakang Abel hingga akhirnya Abel tau dan minta cerai, terus Excel sama Jennie nikah.
Terus kita sama-sama nyanyiin lagunya Rosa "ku menangis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku" 🎵🎵 😂😂
__ADS_1
Ajak semua temen kalian, bapak, ibu, om, tante, pacar, suami pokoknya semua suruh baca ni novel terus suruh up yang banyak karena kalau rangkingnya naik banyak aku akan bahagia dan kalau aku bahagia ntar semangat nulisnya dan kalau aku semangat nulis aku juga akan cepat up 😌