
Abel mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang menerpa wajahnya, setelah berjam-jam dirinya tertidur akibat suntikan bius untuk menjalani operasi, kini dirinya terbangun dan orang yang pertama kali ia lihat adalah mama Dina dan yang kedua adalah Excel.
"Ma kak ? ".tubuhnya masih lemah bahkan untuk menggerakan tangannya saja masih terasa berat, bersyukur Ia masih bisa melihat orang yang menyayanginya, setidaknya Iya masih hidup dan bernafas.
" Bagaimana perasaanmu saat ini? ". Mama Dina tersenyum kepada Abel setelah ia melihat gadis itu terbangun, cukup lama tertidur dan ia selama itu sangat cemas menunggu. Kini mama Dina merasa lega karena Abel telah mampu membuka matanya.
Tangan Abel bergerak berusaha untuk meraba wajahnya, Ia kecewa karena wajahnya masih diperban dan perban tersebut belum dibuka. Sekarang dia harus menunggu perbannya dibuka tapi rasa penasaran membuatnya tak sabar.
"Bagaimana operasinya ma, apakah lancar?" . Berharap bahwa operasinya lancar-lancar saja dan tak ada hambatan, ia terlalu takut jika wajahnya masih sama atau malah lebih buruk dari sebelumnya, jika itu terjadi bisakah dirinya masih menjalani hidup ?.
"Kata dokter operasinya lancar hanya saja kita harus tetap menunggu untuk membuka perban, Abel jangan khawatirkan wajahmu nanti karena mau bagaimanapun kami semua tetap menyayangimu". Mama Dina berusaha untuk menenangkan Abel agar tak terlalu cemas, memang dokter mengatakan kalau operasinya berhasil tapi juga mengatakan kalau semua tergantung kulit Abel karena tidak semua kulit sama dan bisa baik pasca operasi.
Jadi tetap ada rasa cemas di hati mama Dina. Walau begitu ia tak boleh sampai memperlihatkan kecemasannya. Karena baik merasa cemas ataupun tidak tetap saja tak merubah keadaan yang ada.
"Mama benar kau jangan terlaku khawatir karena kami menyayangimu". Excel tersenyum teduh kepada Abel dan berharap senyumannya akan menular karena fikiran positif akan meningkatkan perasaan baik juga.
"Iya". Jawabnya dengan nada lemah, ia berharap begitu hingga semakin lama matanya kembali berat dan rasa kantuk kembali datang. Mungkin efek bius yang di berikan masih ada sampai Abel kembali menutup matanya dan menuju ke alam mimpi.
"Lebih baik kita keluar saja Cel agar tak menganggu istirahatnya Abel". Mama Dina beranjak dari sana membiarkan Abel sendiri agar bisa istirahat, dan di belakang di susul dengan Excel yang masih enggan berdiri karena rasa cemasnya, namun lebih memilih Abel agar bisa tidur dengan tenang.
Saat sampai di luar, Excel menutup pintu ruang rawat Abel agar segala macam suara tak bisa menganggu Abel yang berada di alam mimpi. Terdengar bunyi terlfon berdering cukup keras hingga ia melangkah agak jauh agar sampai ke tempai yang tak akan mungkin bisa menganggu pasien yang lain.
"Hallo" ~ Excel
"Excel kapan kau membantu papi disini, karena papi kawalahan apalagi kau tiba-tiba ke Indonesia padahal disini perusahaan sedang membutuhkanmu" ~ papi Jimmy
Selama Excel menemani Abel ia memang mengacuhkan semuanya, bahkan sampai meninggalkan perusahaan yang berada di US juga di Indonesia. Excel telah banyak berkorban untuk Abel hingga ia melupakan kewajibannya yang lain. Ia memang salah telah pulang ke Indonesia begitu saja padahal keadaan disana sedang genting dan memerlukan tenaganya.
"Apa tidak bisa papi tangani dulu, sekarang aku sedang menemani Abel di Thailand papi tau kan kalau Abel juga sedang membutuhkanku" ~ Excel
"Anggota keluarganya banyak Cel sementara anakku hanya kau seorang, papi tidak mau tau secepatnya kau harus kembali kesini kalau kau tidak mau jadi anak durhaka" ~ Papi Jimmy
"Baiklah pi aku akan segera kesana tapi setidaknya sampai Abel membuka matanya kembali" ~ Excel
"Baik tapi cepat" ~ papi Jimmy
__ADS_1
Sambungan telefon telah di putus oleh papi Jimmy, terdengar jelas jika papi Jimmy sangat marah akan kelakuannya yang tiba-tiba pulang ke Indonesia, padahal ia tau jika situasi disana belum kondusif dan masih memerlukan tenaganya.
Excel kembali untuk menemui mama Dina yang masih berjaga di depan ruang rawat Abel, ia bingung bagaimana mengatakannya kepada mama Dina jika ia harus segera secepatnya kembali. Bahkan kebingungan itu tak dapat di sembunyikan dengan baik karena mama Dina masih bisa melihatnya.
"Ada apa Cel ? Apakah ada masalah ?". Tanya mama Dina, ia takut jika hal buruk kembali menimpa orang terdekatnya, seakan membuat dirinya trauma dengan wajah sedih yang di perlihatkan.
"Papi baru menelfonku untuk segera kembali ke US karena perusahaan disana sedang dalam masalah dan aku malah meninggalkannya saat mendengar kabar tentang ledakan yang Abel alami sampai membuat papi marah". Jelasnya.
Jujur mama Dina tak enak hati mendengar pengorbanan yang telah Excel lakukan. Ia sangat mengerti jika Excel adalah orang yang sibuk jadi ia memaklumi. "Jadi kapan kau akan kembali ke sana ?".
"Aku meminta izin untuk kembali kesana setelah Abel tersadar kembali, sekaligus memberitahu Abel akan kepergianku, tapi secepatnya aku akan kembali ke Indonesia jika urusan di sana sudah selesai". Katanya seraya tersenyum masam.
"Mama mengerti dan semoga Abel juga bisa mengerti kesulitanmu".
****
Mama Dina dan Excel kembali masuk ke dalam setelah mereka merasa jika tidurnya Abel terlalu lama, mereka takut jika Abel terlalu lama tidur, jadi tadi mereka meminta dokter untuk memeriksa dan saat mengatakan kalau Abel baik-baik saja, mereka merasa lega.
"Kak..". Suara lemah Abel mengejutkan mama Dina dan juga Excel, seketika mereka menoleh mendapati Abel dengan mata terbuka dan senyuman tipis yang menghiasi wajah penuh perban tersebut.
"Kau ingin sesuatu ?". Tanya Excel saat kelihatannya Abel terulur dan menunjuk sebuah gelas yang berada di atas nakas samping tempat tidur. Excel meraih gelas itu dan mencoba untuk membantu Abel minum dengan sedotan.
"Aku lapar". Ujarnya kini dengan nada yang lebih jelas setelah minum, mungkin Abel merasa kehausan dan juga kelaparan setelah menjalani operasi yang berlangsung berjam-jam lamanya.
Excel keluar untuk mencari makanan bagi Abel, setelan mendapatkan makanan segera Excel menyuapkannya ke Abel, namun gadis itu enggan membuka mulutnya setelah tau makanan apa yang Excel bawakan untuknya.
"Kenapa, bukannya tadi lapar ?". Tanya Excel, tangannya masih menggantung dengan sendok yang belum juga mendarat di mulut Abel.
"Iya bukannya tadi bilang lapar ? Excel sampai beliin keluar lho". Imbuh mama Dina.
Dengan terpaksa Abel membuka mulutnya, satu suapan bubur telah berhasil mendarat dan ia kunyah dengan berat hati lantaran bosan karena lagi-lagi harus makan bubur. Padahal ini di Thailand, ia bingung sendiri bagaimana Excel bisa menemukan makanan tersebut di negri orang.
"Papi tadi menelfonku untuk segera menyusulnya karena ia membutuhkan bantuanku, aku nanti harus pergi". Katanya seraya mengaduk bubur tersebut dan menyendok satu bubur menanti yang ada di mulut Abel habis.
Abel berhenti mengunyah, ia terkejut dengan izin Excel, tidak lelaki itu tidak minta izin tapi pamitan akan kepergiannya. Jujur ia ingin Excel berada disini bersamanya sampai ia pulang ke Indonesia, tapi dirinya sadar kalau tidak boleh egois.
__ADS_1
Bahkan yang meminta Excel pergi adalah papinya sendiri, ia tak mau menjadikan Excel anak yang tidak berbakti dan mempengaruhinya agar menjauh dari kedua orangtuanya. Ia bukan wanita seperti itu.
"Tapi kalau sudah selesai cepet temuin aku ya kak dan pulang ke Indonesia". Mohonnya.
"Iya pasti".
.
.
.
.
.
.
.
Sedikit curcol, mau baca Alhamdulillah, nggak ya nggak apa-apa.
Sebenarnya aku udah mulai bosan untuk menulis di mt karena kebijakan-kebijakan baru yang semakin lama semakin membuat para author pergi.
Dan aku salah satu yang mulai patah semangat untuk menulis di lapak ini. Apalagi dengan komenan kalian yang kadang isinya menghujat saja. Bahkan untuk sekedar tekan jempol aja pada lupa, atau susah.
Nulis memang gampang, tapi cari inspirasi dan waktu adalah hal yang sulit dan tidak semua orang bisa melakukannya.
Aku harap para reader maklum akan beberapa author yang hengkang dari sini, karena tidak semua orang bisa memenuhi permintaan kalian juga peraturan disini.
Jika aku ada mood ya aku lanjut, jika tidak ya aku bye bye 🙏
salam
Cahaya Bintang
__ADS_1