Love You Brother

Love You Brother
Di kacangin


__ADS_3

Abel fokus dengan hp-nya bersamaan dengan itu ada seseorang yang melangkah mendekati mejanya dan berdiri di depannya, "Mariana ya ?"


"Iya eh kenapa kamu bisa tau namaku ?". Lelaki itu tersenyum seraya mengulurkan tangannya untuk berkenalan dan di jabat oleh Abel, "Aku Robin". Ujarnya.


Seketika Abel terkejut dalam diamnya, menatap lelaki berparas tampan dan juga tinggi itu, iya sadar jika lelaki yang papa Rey bilang akan menemuinya bernama Robin, itu berarti inilah pacar masa depan Abel kalau cocok. Ketampanan lelaki itu membuat Abel diam dan terus memandanginya dalam hati ia berkata, "prince charming".


"Boleh aku duduk ?". Abel mengerjapkan mata berusaha menyadarkan dirinya agar tak terlihat memalukan,"iya silahkan".


Sejenak kecanggungan terasa karena ini pertemuan pertaman mereka dan tidak ada topik yang bisa di bicarakan.


"Maaf tadi menunggu lama ya ? Aku harus meeting dulu soalnya tapi nggak tau bakal selama ini". Abel tersenyum tipis menatap lelaki itu dengan malu-malu, "nggak apa-apa aku juga bari sampai". Padahal aslinya Abel sudah berada di sana lebih dari setengah jam atau mungkin hampir sejam.


Robin melihat gelas jus yang berada di meja jus itu sudah tinggal setengah, "kamu udah pesan ya ?". Abel melihat arah pandang Robin dan ia tersenyum canggung, "cuma minum doang haus banget soalnya".


"Gimana kalau kita pesan aja". Robiln mengangkat tangannya memanggil pelayan hendak mengatakan pesanannya. Tak butuh waktu lama pesanan mereka datang dan langsung di santap disertai dengan beberapa obrolan dari keduanya.


Ditempat yang sama Excel dan Jennie datang ke restoran itu juga hendak makan malam berdua namun mata Jennie lebih dulu melihat Abel yang tengah makan, "sayang bukannya itu Abel ya ?". Jennie menunjuk ke arah tempat duduk Abel yang agak jauh dari tempatnya berdiri.


"Iya tapi dia sama siapa ?". Tanya Excel tanpa mengalihkan pandangannya pada Abel, ia menatap penuh tanya terhadap Abel dan lelaki di depannya. "Mungkin pacarnya". Jawab Jennie sepontan membuat Excel menoleh ke arah wanita itu.


"Tapi aku belum pernah melihat lelaki itu, pasti dia bukan pacarnya". Jennie tersenyum manja ke Excel, "masa bukan pacar makannya cuma berdua apalagi mereka kelihatan cocok gitu".


"Kita samperin aja". Excel hendak melangkahkan kaki namun dicegah oleh Jennie, "nggak usah ganggu mereka, kan kita disini mau makan berdua aja". merasa malas membicarakan ini dan memanggil pelayan untuk bertanya tempat duduk yang telah ia pesan.


Pelayan mengarahkan mereka ke salah satu meja disana yang ternyata letaknya tak terlalu jauh dengan Abel hanya ada satu meja sebagai pemisah. Bahkan Excel duduk di kursi yang jelas bisa melihat Abel. "Sayang pesan apa ?". Tanya Jennie saat membaca muku menu di tangannya.


"Apa saja". Jawabnya seraya masih enggan mengalihkan penglihatannya dari abel. Bahkan hingga beberapa kali Excel diajak bicara Jennie ia kurang konsentrasi.


Abel memakan makannya seraya berbincang dengan Robin, ia tak menyangka kalau Robin mempunyai pembawaan yang dewasa namun juga nyaman untuk bicara karena ia kira akan banyak mengobrol mengenai perusahaan mengingat mereka berdua bertemu dengan cara yang tidak jauh menyangkut perusahaan.


Tapi mata Abel melebar kala melihat Excel duduk di belakang Robin berjarak satu meja tersebut, ia menjadi gerogi dan merasa tak nyaman. Abel berusaha mengalihkan perhatian agar tak melihat Excel namun entah mengapa susah karena Excel terlihat jelas disana. "Apa yang mereka lakukan disini ?". Tanyanya dalam hati.

__ADS_1


"Aku aslinya nggak nyangka kalau kamu bakal jadi pemimpin diusia sangat muda, kamu hebat banget lho". Abel tersenyum malu mendapat pujian dari lelaki itu, "sebenarnya masih papa kok yang ceo perusahaan aku cuma jadi direktur aja". Jawabnya.


"Tapi nggak ada direktur yang muda banget kayak kamu, udah gitu cantik lagi". Pujinya lagi, Abel menunduk ia malu mendapat dua kali pujian.


Abel dan Robin telah selesai berbincang, sebagai pertemuan awal bisa dikatakan sukses walau tadi Abel harus menunggu lama tapi ia tak mempermasalahkan itu. Saat ini mereka beranjak dan Robin menawarkan Abel untuk mengantar pulang. "Rumah kamu dimana aku antar ya".


Abel mengibaskan tangannnya, "nggak usah aku bawa mobil sendiri kok". Robin terlihat terkejut dan kembali tersenyum, "ternyata kamu orangnya mandiri ya". Abel hanya tersenyum tapi dalam hati, "padahal mandirinya juga baru setelah dibeliin mobil". Gumamnya dalam hati.


Mereka berdua pergi dari sana namun tanpa mereka berdua sadari sepasang mata melihati mereka sedari tadi. Ia adalah Excel yang menerka siapa lelaki tersebut dan ada hubungan apa lelaki itu dengan Abel.


"Yank kok kamu dari tadi aku ajak ngomong malah nggak nyaut sih". Jennie sebal dan melampiaskan ke makannya dengan cara memotong daging itu tak sabaran. "Gimana ?". Tanya Excel.


Merasa dicuekin Jennie sengaja membanting pisau dan garpu diatas piring hingga menimbulkan suara nyaring yang membuat semua pengunjung disana menoleh ke arah mereka. "Jennie apa yang kamu lakukan semua orang melihat kita".


"Bodo aku dari tadi di cuekin, emang lihatin apa sih ?". Jenie menoleh ke arah belakangnya, dimana meja Abel tadi sudah kosong di di tempati oleh orang lain. "Lihatin siapa ?". Tanyanya lagi.


"Nggak bukan siapa-siapa". Dalam hati Excel merasa lega, untung saja Jennie lupa jika tadi Abel duduk di belakangnya dan sekarang sudah perhi hingga wanita itu hanya melihat tamu yang mereka tak kenali.


*******


"Gimana tadi Robin ganteng nggak, tinggi apa pendek terus kalian tadi ngomongin apa ?". Seperti itulah pertanyaan beruntun yang langsung di tanyakan kepada Abel kala ia baru masuk ke dalam rumah.


"Iya ganteng ma, lebih tepatnya ganteng banget". Jawabnya datar, sungguh ia capek dan ingin istirahat. "Gantengan mana sama gue ?". Sambar Alvin.


Lelaki itu ikut dalam perbincangan adik dan juga mamanya, penasaran seperti apakah calon adik iparnya nanti setelah tadi Abel ketemuan dengan lelaki itu. "Gantengan dialah, kak Alvin nggak ada apa-apanya bahkan nih jungkook aja kalah gantenganya sama dia".


Alvin mencebikkan bibir mendengar jawaban Abel yang nampak serius, berbeda dengan mama Dina yang tersenyum, "yang bener mer kapan-kapan ajak main kerumah kenalin ke mama". Abel melongo padahal ia saja baru pertama kali bertemu, kenapa mamanya lanhsung minta di kenalkan. "gitu banget ma". saut Alvin.


"Kan baru ketemu sekali mah masa langsung di kenalin ?". Tanyanya heran.


"Kalau gitu kamu sering-sering aja ketemuan sama dia lagi, punya nomor hp-nya kan ?". Tanya mama yang di jawab anggukan oleh Abel. "Iya tadi udah tukeran nomor telfon".

__ADS_1


"Bagus kalau gitu, mama tunggu pokoknya calon mantu mama datang". Alvin ikut mendudukkan diri di sebelah Abel, ia aneh sendiri melihat mamanya yang seyakin itu kalau benar lelaki itu memang jodoh Abel.


"Kenapa mama bisa yakin kalau itu bakalan jadi calon mantu mama ?". Tanyanya.


"Ya siapa tau kan, mama cuma doain yang terbaik buat kamu sama Alvin". Mama Dina langsung mengalihkan perhatiannya ke Alvin, "Abel aja udah ada Vin kamu mana ? Kapan dikenalin mama pacar kamu".


"Kapan-kapan ma". Ujarnya singkat lalu pergi sebelum mama minta papa Rey jhga mencarikan jodoh untuknya, atau lebih parah lagi dicarikan anak teman arisan mama Dina, memikirkan itu membuat Alvin merinding.


.


.


.


.



gantengan mana Excel apa Robin ??


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak dan vote sebanyak-banyaknya ya.

__ADS_1


salam


cahaya_Bintang


__ADS_2