Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Anak Tiri


__ADS_3

Suasana kamar hening, hanya ada dua orang yang sedang sama-sama mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Excel melihat jam tangannya yang menunjukkan bahwa dirinya hampir terlambat, memang ia adalah pemimpin tapi dirinya tidak suka terlambat dan masuk ke kantor sama dengan para pegawainya.


Ia keteteran antara memasang dasi terlebih dahulu atau mengancingkan lengan bajunya, ia sekilas melihat Abel yang berada di dekatnya, spontan saja dirinya meminta tolong. "Sayang tolong ikatkan dasiku".


Abel yang tadinya hendak memasang sepatu heels kini kembali meletakkan sepatunya dan beralih ke sang suami yang nampak kerepotan. Ia dengan lihainya mengikat dasi tersebut hingga berbentuk sampul yang rapi.


Saat Excel sudah selesai mengancingkan lengan baju, ia melihat ke arah Abel yang ternyata sudah rapi dengan rok dan juga blazer khas layaknya hendak bekerja. Terbesit di fikirannya jika Abel melupakan perjanjian dengan papa Rey yang telah di setujui.


"Sayang kenapa kau sudah tapi ?". Spontan saja Abel memeriksa dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepala, heran dengan Excel bertanya seperti itu karena biasanya juga ia berpenampilan seperti ini.


"Memangnya kenapa kak ?".


"Kan kamu udah nggak kerja, lupa ya sama apa yang aku minta padahal kamu udah setuju loh bahkan papa juga sudah setuju". Tangan Excel mengelus perut Abel yang masih rata. "Inget disini ada anak kita, aku nggak mau kenapa-napa".


"Tapi kan perutku masih kecil kak nggak apa-apa". Abel lupa akan permintaanya Excel yang menyuruhnya berhenti bekerja, kalau difikirkan lagi sepertinya ia ingin menarik kembali ucapannya karena kurang suka hanya duduk dirumah tanpa melakukan apapun.


"Justru hamil muda malah lebih rentan, kamu tenang aja karena kemarin aku udah masukin kamu ke les privat merangkai bunga jadi nggak perlu khawatir bakalan bosan". Excel tersenyum saat melihat wajah cemberut Abel, ia harus tega apalagi demi kebaikan anaknya yang masih berada di kandungan.


Satu ciuman lama dikening mengakhiri debat mereka dan keduanya tutun ke meja makan. Walau waktu sudah sangat mepet tapi ia ingin melihat bagaimana Abel sarapan dan memperhatikan sang istri saat sedang hamil. Excel ingin semua gizi yang Abel perlukan bisa terpenuhi.


Di meja makan sudah ada berbagai macam makanan dari daging merah, ayam sampai ikan, tak lupa sayur dan susu ibu hamil juga masih hangat di meja. Abel menatap semua makanan tersebut dengan mata yang berbinar berbeda dengan Excel yang langsung menutup hidungnya. Mencoba mengusir bau makanan yang berusaha memaksa untuk dihirup.

__ADS_1


"Yuk kak sarapan". Tangan Abel memegang tangan Excel agar duduk di kursi, namun Excel masih enggan dan tetap berdiri disana sampai makanan yang berada di dalam perutnya seperti terdorong untuk di keluarkan, ia merasakan rasa mual yang sangat luar biasa hingga toilet menjadi tujuan utamanya berlari.


"Eh kak mau kemana ?". Abel mengikuti arah Excel, suaminya tadi terlihat baik-baik saja tapi entah mengapa malah terlihat pucat dan sekarang berlari ke arah toilet terdekat yang ada di sana.


"Huek huek huek". Semua yang berada di perut Excel di keluarkan hingga tersisa cairan yang terasa asam dan tidak enak, ia mebasuh mulutnya agar lebih baik. Dan Abel memijat tengkuknya saat setelah selesai muntah.


"Aku kenapa ya ?". Ia bertanya kepada Abel, heran akan kondisinya yang tiba-tiba terasa aneh dan lemas sekaan tulangnya telah copot semua , Excel tak merasa salah makan ataupun sakit tetapi rasa mual masih menghinggapi seluruh tubuhnya, bahkan kepalanya terasa berdenyut.


"Kayaknya kak Excel kena morning sickness, itu loh kak yang biasa di alamin ibu hamil di pagi hari kayak mual muntah gitu". Walau Abel belum pernah hamil tetapi sedikit banyak ia mengetahui jika wanita akan merasakan mual dan muntah yang berlebihan saat sedang hamil di pagi hari, bedanya dalam kasusnya Excel yang mengalami gejala tersebut.


"Kok nggak enak gini ya".


Abel memapah Excel agar beristirahat dahulu di kamar dan jangan melakukan apapun, namun baru juga hendak menaiki tangga menuju ke kamar, terdengar suara orang yang datang dengan hebohnya.


"Aku disini". Abel menjawab suara yang mirip seperti suara mertua perempuannya dan benar saja karena yang datang adalah mami Rita dengan papi Jimmy. Beserta beberapa kado untuk bayi yang tidaklah sedikit.


Mami Rita langsung memeluk Abel, mencium pipi kanan dan kirinya tak lupa juga memeluknya hingga yang tadinya Abel memegang Excel kini terlepas seakan keberadaan Excel disana tak dianggap. "Bagaimana kabarmu dan juga calon cucuku ?".


"Baik mi". Jawab Abel, sejenak ia menoleh ke arah Excel yang memegang kepalanya dan wajahnya nampak pucat, mungkin masih terasa morning sickness itu. "Kak Excel masih pusing ?".


"Iya masih". Jawabnya berharap jika sang mami atupun papi akan memperdulikannya walau sedikit karena semenjak tadi ia tak dianggap bahkan seperti bukan dia yang anak kandung melainkan Abel lah yang anak kandung mereka. Dan dirinya merasa di anak tirikan.

__ADS_1


Mami Rita menggandeng tangan Abel sampai ke meja makan yang memang berada di sana, berniat untuk mengajak Abel sarapan, dan seperti yang ia duga setelah melihat meja makan yang masih lengkap tentunya Abel belum sarapan.


Mami Rita mengambilkan berbagai macam menu ke dalam piring Abel hingga terlihat penuh lalu mengisi satu sendok dan hendak ia suapkan ke Abel. "Ayo buka mulutmu sayang".


"Yang anaknya mami kan aku kenapa mami malah melupakanku ?". Excel melayangkan tatapan tajam, ia masih berdiri tidak jauh dari mereka sambil menutup hidungnya agar tak mencium bau yang bersumber dari daging dan membuatnya mual.


Heran akan sang mami yang malah memperhatikan Abel sebagai anak dan bukannya menantu, bukan ia tidak suka tapi sikap sang mami sepertinya terlalu berlebihan sekali. Bahkan sang papi nampak biasa saja menghadapi sikap sang mami dan lebih ke membiarkan saja.


"Kau ini sudah besar untuk apa cemburu, lagipula kenapa nemutup hidungmu seperti itu ?".


"Ini karena aku tidak tahan bau daging yang membuatku mual". Jawabnya dengan mengibaskan tangan mencoba mengusir bau agar tak mengusiknya. Dan yang membuatnya lebih jengkel adalah saat ini ia ada hal penting yang harus di kerjakan di kantor namun tidak bisa karena rasa mual yang sangat menganggu.


"Kau ini ada-ada saja, kenapa belum bekerja sampai jam segini padahal harusnya kau bekerja untuk anak istrimu". Ketus sang mami seraya masih menyuapi Abel, tak mengizinkan mulut sang menantu untuk kosong dan terus menyuapinya.


Bahkan Abel nampak menikmati makanan yang mami Rita berikan karena kebetulan perutnya minta diisi dan makanan yang ia makan mengapa terasa lebih enak dua kali lipat dari biasanya.


"Mami mengusirku ?". Excel terkejut, tidak biasanya sng mami bersikap ketus dan mengusirnya terang-terangan seperti ini.


"Mamimu tidak mengusirmu tapi yang dia katakan benar, sana kau carilah uang yang banyak untuk anak dan juga istrimu bukannya malah bermalasan saja dirumah". Bahkan papi Jimmy juga sependapat dengan Excel.


Excel berdecak dan pergi dari rumah untuk ke kantor, walau masih pusing tapi masih bisa ia tahan selama berada jauh dari yang namanya bau makanan ataupun daging. Perutnya belum diisi dan terasa lapar.

__ADS_1


Saat di perjalanan Excel melihat ada penjual rujak dan membeli 2 bungkus rujak dengan buah-buahan yang terlihat sagat segar sekali. Ia tidak langsung ke kantor dan memilih untuk memakan rujak tersebut di dalam mobil. Rasa segar dari buah dan juga pedasnya cabai membuatnya kembali bersemangat, ia tak menyangka jika rasa rujak akan begitu enak. Padahal dulunya ia sangat tidak suka.


__ADS_2