
Setelah kejadian di bandara yang sangat memalukan dengan Abel menangis meraung dan di akhiri jeweran di kuping yang membuat daun telinganya benar-benar memerah. Tak perlu di tanya lagi Abel sangat kesal telah berhasil ia dan Alvin tipu.
Excel berencana untuk melamar Abel lagi dan kali ini ia tak mau gagal karena yakin akan di terima, semoga saja. Dulu rencana lamarannya di gagalkan dengan kedatangan Jennie secara tiba-tiba tapi sekarang Jennie sudah berada di penjara jadi ia yakin tak akan ada yang berniat menganggalkan kembali kecuali Abel menolak lamarannya.
Permasalahannya sekarang adalah fikirannya sedang buntu karena tak bisa menyusun acara lamaran di sebabkan tak taunya kesukaan wanita. Padahal ia sudah menyiapkan cincin tapi rasanya masih ragu, untuk itu sekarang ia meminta bantuan Alvin.
"Jadi bagaimana ?". Excel duduk di depan Alvin yang menatapnya sebal lantaran belum kunjung juga mobil yang di inginkan dari Excel datang, tentu itu merubah moodnya dan malas dengan permintaan Excel yang ingin melamar Abel.
"Ngapain tanya gue ? Nggak tau karena gue nggak dapat inspirasi, coba aja mobil gue sampai pasti inspirasi gue sekarang banyak". Sindirnya ke Excel karena sudah tak sabar dan setiap kali ia bertanya tentang mobil selalu saja Excel bilang nanti kalau Abel sudah menerima lamarannya.
Bukan niatan untuk membohongi Alvin, tapi kenyataannya kalau Excel memberikan mobil itu sekarang yang ada Alvin akan berhenti membantunya. Tau sendiri Alvin matrenya minta ampun padahal Abel saja tak pernah meminta apapun darinya.
Alvin malas sekali saat tak ada jawaban dari Excel mengenai mobilnya, dan selalu Excel bilang nanti kalau Abel sudah menerimanya kembali tapi sekarang bilang kalau Abel menerima lamarannya, mungkin lama-lama mobilnya akan di berikan kalau Abel sudah punya anak tiga.
"Kau jangan khawatirkan tentang mobil itu, kalau kau bisa membantuku dan Abel menerima lamaranku pasti akan ku berikan mobilnya tepat di hadapanmu bahkan kau nanti bisa memesan warna yang kau sukai".
Untuk saat ini Alvin memilih untuk percaya namun kalau Excel berani bilang kalau mobilnya akan di berikan lain hari lagi tentu bukan hanya memisahkan Abel dan dirinya tapi juga membuat Excel bangkrut sekalian.
"Gue pegang kata-kata lo kali ini tapi kalau sampai lo ngingkarin, gue lempar lo ke Alaska". Ancamnya dan kini ia menghidupkan hp untuk mencari informasi tentang cara melamar, maklum saja ia sendiri belum pernah melamar jadi belum berpengalaman.
"Inget ya lo tuh harus hias semua tempat pakai bunga kalau perlu kang kembangnya lo datengin buat dekor, lo juga mesti nyanyi lagu romantis". Excel mengernyit, untuk arahan Alvin yang pertama ia tak masalah tapi untuk yang kedua ia keberatan karena sadar diri memiliki suara yang merdu (merusak dunia).
"Jangan menyanyi, aku tidak bisa". Protesnya namun Alvin tetap pada pendirian dimana ia yakin jika semua akan lebih terasa romantis kalau Excel menyanyi, lagipula Abel pernah nyanyi di acara pertunangannya dengan Jennie, maka sekarang gantian.
Walau dulu lagunya bertema kesedihan dan bahkan membuat acara tersebut menjadi tegang tapi ini acara Excel di mana lelaki harus berjuang lagi untuk membuat semuanya menjadi sempurna, barulah wanita akan merasa kagum dan menerima lamaran itu tanpa berfikir lagi.
"Kalau lo mau di terima lo harus nyanyi, fikir dulu mau diterima apa nggak ?!". Tanyanya dengan sedikit memaksa hingga Excel lebih memilih untuk menyerah, biarlah kali ini ia akan menahan malu dan belajar sesuatu yang tak pernah ia lakukan karena ia yakin hasil tak akan mengkhianati perjuangan.
"Baiklah kalau begitu lagu apa yang harus ku nyanyikan ?". Ia pasrah mengikuti saja apa arahan dari Alvin tapi kalau arahannya itu tidak masuk akal tentu ia tak akan mau.
Alvin mengambil hpnya lagi dan kali ini ia menggulir layar untuk memilih lagu yang sekiranya cocok untuk Excel nyanyikan, terbesit di benaknya untuk mengerjai Excel yang telah mempernainkannya tentang perjanjian hingga ia terpaku dengan satu lagu dan memutarnya.
Apa salah dan dosaku, sayang?
Cinta suciku kau buang-buang
__ADS_1
Lihat jurus yang kan 'ku berikan
Jaran goyang, jaran goyang
Sayang, janganlah kau waton serem
Hubungan kita semula adem
Tapi sekarang kecut bagaikan asem
Semar mesem, semar mesem
Ini terakhir, cara 'tuk dapatkan kamu
Jika ini gagal, kan 'ku racuni dirimu
Seketika raut muka Excel berubah dan menatap Alvin dengan nyalang, ingin sekali ia yang meracuni lekaki di depannya satu ini. Bisa-bisanya Alvin berusaha untuk membodohi Excel dengan lagu tersebut.
"Mana ada orang melamar menggunakan lagu itu yang ada mereka akan langsung di tolak, kau carikan yang benar kalau tidak mobilnya batal". Excel melemparkan satu bantal sofa yang berada di dekatnya dan langsung di tangkis Alvin dengan sigap.
"Iya iya ini gue cariin ah elah sensi banget kayak cewek". Alvin kembali menggulir layar di hpnya dan memilih salah satu lagu yang ia yakini akan pas sekali untuk melamar Abel walaunia tidak yakin Excel akan membawakan lagu itu dengan baik. Semua tetap kembali ke Excel.
"Yang ini bagus, lalu selanjutnya kau yang harus mengajariku". Tunjuknya membuat mata Alvin membola, mendengarkan lagu saja jarang apalagi di suruh mengajari menyanyi, apalagi muridnya bahkan lebih tua darinya.
"Dih ogah sana lo cari guru les musik sampai lo jago nyanyi baru lamar adek gue terserah lo mau cepet apa lama kalau lama yang ada adek gue keburu disamber orang". Alvin berusaha untuk memanasi Excel namun sepertinya itu tak berhasil bahkan Excel tersenyum.
"Kalau itu aku tak khawatir karena setelah sekian lamanya Abel menungguku pasti ia akan bersedia menungguku sedikit lagi". Kini satu lemparan bantal sofa Alvin layangkan ke Excel namun berhasil menghindar.
"Sebel gue lihat cowok kepedean kayak lo, nggak yadar apa di tungguin udah lama masih di suruh nunggu lagi".
Hening sejenak saat mereka berdua tiada yang bersuara karena Alvin sedang memikirkan cara lain lagi yang sekiranya bisa melancarkan rencana ini sedangkan Excel sedang mencari lirik dari lagu yang telah ia setujui untuk di nyanyikan.
Baru beberapa bait lagu yang ia coba nyanyikan namun tetap ia rasa suaranya perlu diasah lebih lama karena tak pernah bersenandung. Mungkin ia perlu mencari guru vokal agar lancar menyanyinya, tapi yang jadi persoalan adalah bisakah ia menguasai lagu tersebut di saat waktunya semakin mepet dari rencana yang telah ia rencanakan dengan Alvin.
"Lo telfon mama gih". Seruan Alvin membuat Excel terkejut hingga seketika ia tak memikirkan mengenai menyanyi lagi, tatapan mata penuh tanya ia layangkan ke arah Alvin. Mengingat dirinya keluar dari rumah papa Rey secara tak hormat membuatnya agak canggung dengan anggota keluarga itu kecuali Alvin yang memang kurang menyukainya sedari awal.
__ADS_1
"Buat apa ? Aku tidak yakin apakah hubunganku dengan mama Dina masih baik-baik saja setelah malam itu". Tanyanya.
"Ya makanya di telfon dulu, kalau mama nggak mau nolongin lo ya terima nasip tapi kalau mau yang ntar rencana kita bisa lebih gampang di jalanin". Jelasnya dan Excel mengerti, hanya saja ia kurang yakin.
Tangan Excel meraih hp dengan ragu mencoba mencari nama mama Dina yang berada di deretan kontak hpnya. Ada rasa takut saat Excel mencoba menekan tombol yang berbentuk telfon rumah.
Cukup lama Excel menunggu hingga ia berulangkali mendekatkan juga menjauhkan hpnya dari telinga guna mengecek apakah benar mama Dina masih belum mengangkat telfonnya atau memang sengaja tidak diangkat.
Hingga Excel memutuskan untuk mengakhiri panggilan itu namun jarak jempol dengan layar yang hanya berjarak satu inchi membuat Excel mengurungkan niat saat terdengar suara dari seberang sana yang sudah tersambung.
Hallo ~ Mama Dina
Excel terdiam di tempatnya sambil memandangi layar ponsel yang memperlihatkan kalau watunya semakin jalan namun ia semakin tak berani dan memilih menatap Alvin.
"Kau saja yang bicara". Suara Excel yang tipis bahkan hampir tak terdengar membuat Alvin mendelik saat Excel mengarahkan telafon ke dekatnya.
"Lo yang angkat cepet". Perintahnya dengan nada pelan tapi penuh penekanan.
Terpaksa Excel mengangkat telfon itu dengan takut dan keraguan yang menghampiri, ia perlahan mendengarkan suara bariton yang mengatakan hallo sejak tadi dan membalasnya.
Hallo Ma aku butuh bantuan ~ Excel
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sengaja di potong biar episode yang melamar jadi episode selanjutnya. Nggak tau apakah besok aku bisa up atau nggak soalnya aku sibuk banget, doain aja moga sempet nulis.
Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏