
# Flashback On
Excel yang berada di meja kerjanya itu kini menutup laptop yang telah menemaninya mengerjakan tugas. Ia akan istirahat lebih awal karena sudah merasa lelah akibat tugas kantor yang membuatnya begadang beberapa hari ini.
Baru ia melangkah ke kasur dan hendak menarik selimut tapi dering hp yang tak bersahabat membuatnya beranjak dengan kesal dan melihat siapa orang yang telah menganggunya untuk istirahat. Ia mengernyit melihat nama Jennie yang tertera di sana dan menggeser ikon berwarna hijau.
"Hallo Jennie ada apa menelfonku ? ini sudah malam" ~ Excel.
Excel melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mungkin bagi sebagian orang itu belum terlalu larut tapi untuk Excel yang sudah beberapa hari begadang. Ia tak sanggup lagi menunda tidurnya.
"Hallo maaf apa anda kenal dengan wanita pemilik hp ini ? Jika iya tolong segera ke Night Club x karena wanita pemilik hp ini sedang mabuk dan mengamuk" ~ Seseorang di sebrang sana.
Excel berdecak, ia kembali melihat jam dan menghela nafas berat. Mendengar kalau Jennie mabuk membuatnya kecewa apalagi sekarang wanita itu berada di night club, suatu tempat yang Excel tak sukai.
"Baiklah aku akan segera kesana" ~ Excel
Setelah memutus telfon dengan langkah yang malas Excel mengambil jaketnya dan juga kunci mobil. Mengendari mobilnya dengan kecepatan sedang agar tak membuatnya dalam bahaya. Apalagi jalanan masih terlihat ramai mungkin karena ini adalah malam minggu.
Berselang setengah jam Excel sudah berada di Night Club x tersebut. Matanya berangsur memperhatikan ke kanan dan ke kiri mencari sosok Jennie. Ia berdecak melihat Jennie yang memang benar sedang mabuk namun masih bisa di tenangkan orang-orang disana.
Excel melangkah mendekat ke arah Jennie namun matanya terbelalak saat melihat Abel dari ke jauhan sedang duduk di sofa sendirian. Anehnya Abel memegang kepalanya dan terlihat sedang dalam kondisi tak baik. Apalagi sekarang Abel sedang di dekati oleh dua orang lelaki yang nampak sekali bernafsu dan siap menerkam.
Tangan Excel mengepal erat melihat lelaki itu yang bersikap kurang ajar dengan menyentuh Abel secara sembarangan. Excel bergantian melihat ke arah Jennie juga Abel, ia bingung siapa dulu yang harus ia bawa dan selamatkan.
Salah satu dari lelaki itu memapah Abel yang kesadaran dirinya telah menurun, dan yang satunya terlihat celingukan mengawasi keadaan. "Br*ngsek mereka mau membawanya kemana ?".
Tak lagi memperdulikan Jennie yang mabuk, ia lebih memilih untuk mengikuti Abel yang di bawa ke sebuah ruangan. Excel tau apa isi dibalik ruangan itu dan tentunya sudah sangat terlihat kalau niat kedua lelaki itu tak baik.
Salah satu dari mereka keluar sementara Abel juga lelaki yang satunya masih di dalam. Excel mengepalkan tangannya namun sebisa mungkin ia tahan dan bersikap wajar layaknya pengunjung night club yang lain.
__ADS_1
"Hei apa kau punya korek api ?". Tanya Excel kepada lelaki yang berjaga di depan pintu, ia sengaja bertanya agar mengecohkan lawan sekaligus agar tak menyadari jika Excel bersiap melawan.
Bugh bugh
Excel memukul lelaki itu tepat di perut juga wajahnya, memberikan pelajaran atas apa yang hendak mereka lakukan kepada Abel. Cukup mudah bagi Excel melawan yang satu itu hingga tergeletak tak berdaya dengan kesadaran yang menghilang. Ia membuka pintu yang kebetulan tak di kunci dari dalam dengan mudah.
Guratan kekesalan terlihat di wajahnya saat melihat seorang lelaki yang hendak naik ke atas ranjang tempat Abel di baringkan. Apalagi pakaian lelaki itu yang sudah di lepas beberapa kancingnya.
"Siapa kau ?". Tanya lelaki itu dengan nada kesal yang sangat ketara, karena menganggunya yang hendak menjamah tubuh Abel.
"Aku malaikat mautmu". Tanpa fikir panjang lagi Excel dan lelaki itu saling beradu pukul. Tak peduli lagi dengan apapun, bahkan keduanya mendesis saat merasakan pukulan yang menghantam.
Dibanding dengan yang berjaga di pintu, Excel lebih kewalahan melawan yang satu ini, namun ia tak mau menyerah, ia dengan sekuat tenaga memberikan pukulan di wajah lelaki itu hingga seketika terkapar di lantai.
"Abel bangun Abel". Excel menepuk pelan pipi Abel namun nihil, kesadaran gadis itu sudah hilang dan tak bergerak sedikitpun. Excel mengecek kondisi Abel untuk memastikan kalau ia belum terlambat, ia bernafas lega mendapati pakaian Abel yang masih rapi dan berada di tubuhnya, itu berarti Abel beluk di apa-apakan.
Dengan sekuat tenaga yang masih tersisa Excel menggendong Abel ala bridal style keluar dari tempat itu dan memasukkan Abel ke dalam mobil. Ia tak tau harus membawa Abel kemana karena tak mungkin mengantarkan Abel pulang dengan kondisi seperti ini, yang ada nanti semua keluarga akan sedih.
"Panas...sangat panas". Abel mengigau tak jelas bahkan membuka resleting gaunnya, dan tak sadar jika kini tubuhnya terlihat dengan jelas dan hanya bagian gundukan yang masih terbungkus juga penutup di bagian bawah.
"Abel apa yang kau lakukan cepat pakai pakaianmu". Excel menaikkan kembali gaun yang Abel lepaskan dan memakaikannya kembali pada tubuh Abel tapi ia sangat sulit dengan Abel yang tak mau diam dan malah mencim bibirnya.
"Jangan seperti ini, kau seperti kena obat perangs*ng". Excel melepaskan ciuman Abel dengan sekuat tenaga dan memundurkan langkah yang tak bisa Abel jangkau. Tapi nyatanya Abel begitu berhasrat dan meraih lengan Excel hingga terjatuh ke ranjang.
"Kau sangat tampan, tubuhmu juga nyaman". Abel menangkup kedua pipi Excel dan beralih menyelinapkan tangannya untuk meraba tubuh Excel yang masih berbalut kaos tersebut. Ada gelenyar aneh yang membuatnya begitu menginginkan lelaki di depannya, padahal saat ini penglihatannya kurang jelas.
Excel memejamkan matanya, ia menikmati sentuhan lembut yang di berikan oleh tangan Abel hingga membuat pertahananya goyah dan membalik tubuh Abel, kini ia yang berada di atas.
"Ini kau yang memancingku". Excel mencium bibir Abel dengan rakusnya seolah apa yang seharusnya tak di ganggu kini malah bangun dan murka.
__ADS_1
Ada perasaan aneh yang Excel rasakan, entah mengapa ia benar-benar tak tahan dengan godaan yang Abel berikan padahal Excel masih bisa tahan jika Jennie yang menggodanya, tapi kali ini berbeda ia sudah tak tahan dan menyatukan tubuhnya dengan tubuh Abel.
Terdengar jeritan kecil kala ia sudah menyatu dengan abel, namun ia mengesampingkan hal itu dan menikmati setiap sensasi seperti pijatan yang di rasakan tubuh bagian sensitifnya.
Tak peduli dengan hubungan kakak adik yang selama ini ia ungkapkan. Malam ini ia hanya ingin menyalurkan hasratnya dan tak sungkan menanamkan bibitnya ke rahim Abel. Karena yang ia rasakan hanya ada kenikmatan yang selama ini belum pernah ia rasakan.
Desahan kembali muncul saat Excel masih setia menyalurkan kenikmatan yang membuat sudut bibirnya tertarik keatas, bersamaan dengan itu keringat membasahi keduanya dan tak menyangka kalau ini akan menjadi malam panjangnya bergelut dengan kenikmatan bagai sebuah candu.
# **Flashback Off
.
.
.
.
.
.
.
Bagi yang mengeluh ini itu tentang novelku, aku hanya bisa bilang "maaf".
Karena kalian mau alur gimanapun aku akan tetap menyuguhkan cerita yang sudah aku rancang sebelum membuat novel ini.
Dan kalau kalian membaca bab ini masih kurang puas, silahkan kalian pindah dan membaca novel yang lain, karena aku nggak bisa menyuruh semua orang buat suka sama karyaku.
__ADS_1
Karena aku tau semua orang punya selera yang berbeda.
Untuk yang Bersedia nyumbang like dan votenya aku ucapkan makasih buat yang nggak ya aku nggak maksa. Seiklasnya aja 🤧**