Love You Brother

Love You Brother
Test Drive


__ADS_3

Abel memberikan kunci mobil barunya kepada Alvin, setelah sepakat jika yang testdrive dan mencoba mengendarai pertama kali adalah Alvin maka sekarang lelaki itu yang ada di belakang kemudi dan memasang sabuk pengamannya.


"ngapain masih bengong cepetan pasang sabuk lo atau mau gue pasangin kayak di novel-novel ?". Abel dengan cepat memasang sabuk pengamannya sendiri, "nggak perlu lagian kalau di pasangin kak Alvin yang ada bukannya romantis tapi mistis".


"Kirain mau di pasangin kalau lo minta juga gue ogah pasangin". Mereka menuju ke tempat sepi dan lapang agar lebih leluasa dan tak membuat mobil itu tergores, kala sudah sampai di tempat tujuan mereka, Alvin sejenak berhenti dan menoleh ke arah Abel, "Siap ?"


Abel menelan salivanya dengan sukar, pertama kali ia akan testdrive seperti layaknya nonton F1 di tv namun kali ini ia sendiri yang akan merasakannya, "kak inget pesan papa jangan sampai lecet ini masih baru". Pesannya dan Alvin berdecak.


"Iya gue tau percaya aja sama gue paling juga baret dikit". Abel melebarkan mata hendak memukul lengan Alvin namun Alvin sudah menyalakan mesin mobilnya, nampaknya Alvin benaran tak sabar ingin mencoba mobil baru tersebut. "Kak inget sayang nyawa".


Tak menghiraukan perkataan sang adik kini Alvin melajukan mobil dengan kecepatan pelan, sedang dan semakin cepat hingga spedometer menunjukkan angka 80 dan semakin naik. Merasa takut dan khawatir akan keselamatannya sendiri Abel berpegangan pada jok yang ia duduki dan sesekali memejamkan mata kala Alvin berbelok namun tanpa menurunkan kecepatan. "KAAK PELAN-PELAN". Teriaknya.


"WOOOOUUUUU SERU BANGET BEL PEGANGAN GUE MAU TAMBAH KECEPATAN". Tak menghiraukan sama sekali perintah Abel untuk pelan, Alvin malah semakin kencang melajukan mobil, tak peduli jika mobil yang baru dibeli kemarin itu sudah kotor terkena debu dan lainnya.


"KAK AKU BELUM WISUDA AKU NGGAK MAU MATI KAAAK". Teriaknya lagi dan kini Alvin sedikit demi sedikit menurunkan kecepatan mobilnya dan pulang dengan perasaan puas, ia merasa sudah seperti pembalap F1. "Yaudah kita pulang".

__ADS_1


Kurang lebih 1 jam perjalanan dari tempat mereka test drive menuju pulang, mengingat hari itu adalah hari libur sehingga Alvin dan papa Rey tidak bekerja maka saat mereka sampai papa Rey dan mama Dina menyambut mereka pulang, atau lebih tepatnya melihat kondisi mobil apakah masih utuh atau sudah tiada umur oleh Alvin.


"Udah sampai nih turun". Alvin melepaskan sabuk pengamannya dan menoleh ke Abel yang masih gemetaran tak bergerak bahkan nampak sekali wajah syok itu. "Bel are you ok ?". Tanyanya.


Abel yang sedari tadi melihat ke depan dengan tatapan syok tentu saja, ia seperti habis naik roller coaster yang sangat tinggi dan cepat, memberikan tatapan membunuh pada Alvin Abel berkata, "menurut kakak ?". Tanyanya balik dengan kesal.


"Kayaknya nggak ?". Alvin tersenyum nyengir dan membuka pintu mobil untuk keluar, dirinya dan abel disambut oleh mama Dina dan papa Rey. "Gimana kayaknya puas banget tadi sampai kayak gitu".


Mama Dina mengarahkan jari telunjuknya ke mobil yang banyak debunya itu. Alvin mengalihkan perhatiannya pada mobil baru yang sudah tak nampak seperti baru, apalagi di tambah penampilan Abel dengan rambut acak-acakan dan badan gemetar, sudah di pastikan ia sangat semangat tadi, "mobilnya kebagus ma, jadi nggak nyadar sampai keblablasan".


Seolah mencari bantuan lewat Abel tapi nyatanya sang adik malah memberikan tatapan tak suka, dan beralih menatap ke arah papa Rey, "iya pa tadi pelan banget kok pelaaan bangeeet".


"Tuh kan pa pelan tadi". Alvin sebenarnya mengerti kalau Abel mengatakan yang sebaliknya namun kalau bicara yang sebenarnya nanti malah dia yang dimarahi. "Ini mobil habis testdrive apa off-road ? Sampai kotor begini bawa ke tempat cuci atau cuci sendiri sana". Selepas mengatakan itu kepada kedua anaknya papa Rey dan mama Dina masuk ke dalam rumah lagi.


Abel merapikan rambutnya yang berantakan seraya menatap tajam pada sang kakak, "cuci tuh yang bersih". Alvin menaikkan sebelah alisnya, ia sebal disuruh-suruh apalagi sama adik sendiri. "Ngapain jadi nyuruh gue kan itu mobil elo".

__ADS_1


"Kan kak Alvin yang udah ngotorin, inituh sekalian karena kak Alvin bikin aku syok tau". Abel masuk ke dalam rumah tak peduli dengan sang kakak yang mengomel di tempatnya. "Rese lu".


Walau begitu Alvin mengambil ember dan juga spons untuk mencuci mobil tersebut, kalau diingat memang ia yang telah mengotori mobil tersebut hingga debu yang menempel membjat mobil seperti layaknya mobil bekas.


Kurang lebih satu jam lamanya Alvin mencuci mobil itu sendiri, padahal motornya tak pernah ia cuci sendiri begitu juga dengan mobilnya, dan kini ia malah mrncucikan mobilnya Abel, apes sekali rasanya.


"Gimana kak udahs selesai ?". Tanyanya seraya membawa es jus karena ia tau sang kakak pasti haus.


"Usah nih mobil lo udah ganteng lagi". Jawabnya dan menerima jus pemberian dari Abel, dinginnya jus membuat tenggorokannya yang kering kini basah kembali dan terasa sangan menyegarkan.


"Masak ganteng sih yang bener tuh cantik kan aku perempuan ya mobilnya cantik dong". Abel menghentikan minumnya dan menatap remeh pada Abel, "yang bener dong ini mobil tuh kebagusan buat lo paling juga lo bawanya 60 km/jam lihat dong bel ini tuh hampir 2000 cc lagian papa ngapain beliin lo mobil beginian, pantesan juga mini Cooper".


"Nggak pantes ya di pantesin aja kali kak, nggak usah segitunya ngomentarin mobil aku". Dengan raut wajah sebalnya Abel menyahut gelas yang masih ada setengah isinya dari tangan Alvin. "Gitu aja marah".


Perhatian Alvin tertuju pada mobil Abel yang masih agak basah karena belum kering benar dan bergantian melihat mobilnya yang berada tidak jauh dari penglihatannya mobilnya itu adalah mobil hasil jerih payah Alvin yang menabung sendiri walau tercampur dari uang pemberian papa Rey juga.

__ADS_1


"Bedanya jauh banget".


__ADS_2