Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Jangan Dia


__ADS_3

Mentari telah kembali naik dan memancarkan cahayanya menembus celah kaca jendela yang tidak tertutup gorden hingga mengusik Abel dari alam mimpinya. Ia merasakan cayaha yang menyilaukan sampai mengerjapkan mata beberapa kali sebelum matanya bisa menyesuaikan.


Anehnya saat ia sudah bangun terasa berat di bagian pinggangnya seolah ada sesuatu yang menimpa. Abel berbalik dan segera menutup mulutnya agar tak teriak mengetahui jika ia tidur seranjang dengan Excel.


Ingatan tentang kejadian kemarin malam muncul sekelebat, memberinya jawaban mengapa ia bisa tidur bersama dengan Excel. Tak ingin marah karena ia sendiri juga merasa lelah dan membiarkan saja Excel tidur dengan memeluknya.


Abel melihat setiap inchi dari wajah Excel namun matanya berpusat ke bagian pipi yang terlihat keunguan. Tanpa perlu bertanya juga ia sudah tau dari mana asalnya lebam tersebut. Ada perasaan seperti tak rela Excel menerima pukulan dari papa Rey namun di satu sisi ia juga berat menerima Excel kembali.


Tangan Abel terulur hendak menyentuh wajah yang matanya masih terlelap di alam mimpi dengan dengkuran halus. Hanya tinggal 1 cm saja menyentuh wajah Excel namun suara keterkejutan membuatnya berjingkat.


"EXCEL". Abek langsung terduduk mendapati maminya Excel mengetahui dirinya yang tidur satu ranjang dengan Excel.


Begitu juga dengan Excel yang dengan terpaksa meninggalkan alam mimpi untuk kembali ke dunia nyata mendapati sang mami yang nafasnya terlihat naik turun menahan amarah dan siap di ledakkan.


"Mami". Ujarnya lirih dan tatapan sang mami seolah membuatnya terpaku dan tak berkutik di tempatnya. Bersama dengan Abel di sampingnya membuat situasi menjadi ambigu.


"Kita bicara, mami tunggu kau di bawah". Mami Rita berbalik meninggalkan Excel yang masih di tempatnya untuk menyusun banyaknya pertanyaan yang akan ia lontarkan untuk putra semata wayangnya tersebut.


"Gimana ini ?". Abel menyentuh lengan Excel sepontan karena takut dan terasa telapak tangan Abel yang mulai dingin pasalnya keterkejutannya mendapai maminya Excel memergokinya barusan membuat jiwanya Abel terguncang hingga keluar keringat dingin yang muncul dari telapak tangannya.


"Kau jangan khawatir semua akan baik-baik saja". Excel mengusap rambut Abel kembali setelah sekian lama ia tak melakukan itu dan Abel juga tak menghindar ataupun melarang. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk nostalgia atapun merasa senang karena ada masalah baru yang harus ia hadapi.


"Kau tunggulah disini dan jangan kemana-mana dulu". Pesannya dan diangguki Abel dengan patuh. Memperlihatkan jika gadis itu begitu takut hingga menghilangkan sifat ketus yang biasa ia lontarkan ke Excel.


Excel tersenyum lembut ke arah Abel namun saat ia berbalik ke luar dari kamar, senyumnya pudar dan di gantikan dengan rasa cemas yang ia rasakan namun ia tutupi agar Abel juga tak ikut tambah cemas.

__ADS_1


Excel duduk di depan sang mami yang melontarkan tatapan penuh tanya bahkan sebelum ia duduk, rasanya sudah seperti diintimidasi saja. "Ada apa mi, kukira mami pergi dengan dengan papi ?".


"Jangan mengalihkan pembicaraan, kau masih tanya ada apa setelah meniduri putrinya Rey ? Apa kau tau apa yang sedang kau lakukan ? kau itu sepertimengundang malaikat maut Excel". Tanya sang mami dengan ketegasan yang jarang wanita itu perlihatkan namun kini Excel melihatnya dan merasakannya sendiri.


"Kami hanya tidur dengan berpelukan saja, tidak macam-macam". Ia berusaha membela dirinya sendiri dan menjelaskan duduk perkara dimana tak ada yang terjadi antara dirinya dengan Abel sepanjang malam.


"Kau fikir mama akan percaya kalian tidak melakukan apapun ? Apa dia yang membuatmu membatalkan pernikahan dengan Jennie ?". Tanya sang mami setelah mendengar dari sang suami bahwa memang Excel dekat dengan Abel namun ia masih ingin mendengar semuanya sendiri.


"Iya dan aku mencintainya mi, aku mohon restui kami karena aku ingin menjadikannya istriku". Excel ingin mengatakan ini kepada orangtuanya namun karena ia sendiri belum bisa mendekati Abel jadi ia urungkan sampai di waktu yang tepat.


Dan sekarang ini adalah waktu yang sangat tepat baginya karena memang sedang membahas dirinya juga Abel, ia berharap kedua orangtuanya bisa menerima keputusan yang ia buat.


"Excel jangan gila, kau sendiri kena pukul oleh Rey karena mencium putrinya dan sekarang kau malah meminta restuku, apa kau tidak ingat kalau mereka keluarga angkatmu ?". Mami Rita berusaha mengingatkan Excel jika ada hubungan yang harus mereka jaga dan pernikahan hanya akan menghancurkan hubungan itu.


"Tapi aku mencintainya mi, hanya dia yang aku inginkan untuk menjadi pendampingku, bukan yang lain". Excel mengatakan itu dengan nada lirih yang masih bisa di dengar oleh mami Rita, ia berusaha untuk menyakinkan sang mami yang telah melahirkannya selama ini.


"Mami tidak mau mendengar ini lagi, cepat kau suruh ia kembali ke rumahnya dan jangan membahas ini lagi karena mami pusing". Mami Rita beranjak dari duduknya dan menyentuh gagang pintu namun sebelum ia keluar kembali ia menoleh. "Mami harap calon menantu mami bukan dia, dan mami juga harap kau menyadari apa alasannya".


Mami Rita pergi namun ucapannya masih terasa menggema di telinga Excel hingga membuat tubuhnya merasa lemas dan kepalanya terasa pusing. Semua yang telah ia lakukan rasanya berat untuk memenuhi permintaan kedua orang tuanya kalau ia harus berpisah dengan Abel bahkan sebelum hubungan ini di mulai.


Rasanya sangat tak adil dan rasa ingin marah. Fikirannya berkecamuk dan banyak pertanyaan yang ada di benaknya. Memangnya kenapa kalau ia dan Abel adalah saudara angkat ? mengapa memangnya kalau Abel menjadi istrinya ? dan banyak pertanyaan lain.


Excel memutuskan untuk membuang jauh fikiran itu dan kembali menemui Abel yang ia yakini pasti sedang menunggunya dengan harap-harap cemas. Dan benar saja begitu pintu kamar terbuka, sorot mata penuh tanya Excel dapatkan dari Abel.


"Kau tenang saja tidak ada masalah, jadi jangan di fikirkan". Ujarnya dengan santai di sertai senyuman lembut namun itu tak membuat semua kegelisahan Abel hilang.

__ADS_1


Abel beranjak memilih untuk melupakan ini semua dan bersikap seolah-olah tidak ada yang harus di fikirkan namun pergerakannya terhenti saat merasakan tangannya yang di pegang oleh Excel.


"Kau mau kemana ?". Tanyanya saat melihat Abel mengambil tas dan ia kaitkan di bahu. "Aku mau pulang". Jawabnya dan melepaskan tangan Excel yang berada di lengannya.


"Akan kuantar". Excel segara mengambil kunci mobil yanga tergeletak dia atas nakas dan mengantarkan Abel pulang. Awalnya Abel menolak namun Excel terus saja memaksa hingga gadis itu menyerah dan naik ke mobil Excel.


Kini sampailah mereka di depan rumah papa Rey namun saat Abel hendak membuka pintu, ia kembali melihat Excel agar di bukakan pintunya yang masih terkunci. Sebelum membuka Excel melihat Abel dengan tatapan tak rela saat gadis itu hendak pergi.


"Apa kau tidak mau ke tempat lain atau sarapan dulu ?". Tawarnya dan Abel hanya diam seraya memberikan tatapan marah, tentu Excel tau jika jawabannya adalah tidak.


Dengan perasaan malas dan terpaksa Excel membuka pintu mobil dan melihat gadis itu yang masuk ke dalam rumah, barulah saat bayangan Abel juga ikut menghilang mobil kembali Excel nyalakan dan pergi dari sana.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak 🙂


__ADS_2