
Abel sudah di perbolehkan untuk keluar rumah sakit membawa bayinya serta, ia masih lemah hingga mama Dina menyarankan Abel untuk tinggal sementara dengannya sampai kondisi Abel sembuh dan bisa mengurus bayinya sendiri.
Tetapi baik Abel dan juga Excel ingin mandiri, hanya saja mereka akan mempekerjakan baby sitter untuk membantu Abel, apalagi Excel merasa tak tenang jika meninggalkan Abel dengan sang bayi di saat ia harus bekerja. Akhirnya mama Dina dan juga papa Rey pasrah setelah Abel bersikeras untuk tetap tinggal di rumah sendiri.
Kedua keluarga mengusulkan untuk menggelar syukuran atas kelahiran bayi pertama Abel dan juga Excel, sekaligus cucu pertama papi Jimmy dan juga mami Rita setelah sebulan kelahiran Marcel. Walau bilangnya pesta kecil tetapi yang diundang tetaplah mencapai ratusan orang. Bahkan lebih banyak tamu dari papi Jimmy yang hadir.
Tak lupa juga Abel mengundang Felly untuk datang ke acaranya, dan ia disana Marcel begitu banyak mendapatkan doa untuk kebahagiaan dan ucapan selamat. Abel dan Excel begitu bahagia anak mereka banyak yang mendoakan, ia merasa bangga sekaligus bahagia mempunyai Marcel di hidup keduanya.
"Sayang banget anak lo cowok, coba aja cewek pasti udah gue jodohin". Felly mendengus kesal, salah satu perilakunya yang tidak berubah sedari dulu adalah suka dengan kisah perjodohan tetapi ia sendiri tidak suka jika di jodohkan, sangat aneh.
"Udah nggak usah jodoh-jodohan biar aja mereka yang memilih pasangan masing-masing, kita sebagai orangtua mesti menghargai keputusan mereka nantinya, apalagi mereka masih kecil terlalu dini memikirkan tentang pasangan anak kita nantinya".
Teringat Abel yang mengejar Excel setengah mati hingga mencoba untuk menjadi orang ketiga diantara hubungan Excel dengan Jennie dulu, akan tetapi seberusaha apapun ia nyatanya tetap hati Excel tidak goyah. Tetapi Tuhan nyatanya malah menakdirkannya disaat ia mulai menyerah. Walau bersama tetapi Abel berdoa semoga kisah cinta putranya kelak tak serumit dirinya.
Acara belum di mulai tetapi sedari tadi banyak sekali yang datang, bahkan tidak usai sampai sekarang. Abel banyak sekali menerima ucapan selamat dan kata terima kasih ia berikan sebagai jawaban.
Di depan sana Excel berbincang dengan para tamu yang hadir sebagai tuan rumah yang ramah, ingin sekali Abel berdiri di tempatnya dan mengambil minum tetapi ia masih menggendong Marcel dan kesulitan berjalan dengan dress putih panjang yang agak membuatnya repot, padahal dress tersebut sudah ia pilih dengan gaya paling sederhana, tetapi saat di pakai nyatanya tak sederhana yang ia kira karena sambil menggendong Marcel.
Baby Marcel menangis hingga mengalihkan pandangan beberapa orang tamu di sekitar, termasuk juga Excel hingga memilih untuk mendekati Abel, menanyakan apa yang terjadi dengan putranya.
"Ada apa ?". Tanya Excel saat mendekat ke Abel.
"Nggak tau kak mungkin popoknya penuh". Jawab Abel, baby Marcel pindah ke gendongan sang baby sitter yang tadi izin ke belakang. Abel akhirnya bisa berdiri dari duduknya dan mengambil minum untuk meredakan rasa haus yang melanda.
*******
Waktu kian berlalu hingga semua acara telah usai di lakukan, papi Jimmy dan juga mami Rita memperkenalkan cucu pertama mereka kepada semua tamu undangan, seolah memperkenalkan bintang utama hari ini dan beribu sanjungan Marcel dapatkan dari semua tamu yang hadir.
__ADS_1
Kini semua tamu satu demi satu meninggalkan tempat itu dan pamit pulang kepada penyelenggara pesta. Bahkan Felly juga ikut berpamitan pulang, padahal Abel masih ingin bersama Felly lebih lama tetapi ia tau tidak bisa seperti dulu karena sekarang Felly mempunyai anak dan suami yang lebih membutuhkan dirinya begitu juga Abel.
"Gue sama suami pamit pulang ya". Ujar Felly seraya menggendong si buah hati.
"Iya makasih ya sudah datang". Abel menatap kepergian Felly, tidak menyangka jika mereka telah memiliki hidup sendiri dengan keluarga kecil masing-masing, padahal Abel masih ingat saat pertama kali bertemu Felly dan tak terasa waktu bertahun-tahun lalu kini semua berubah.
Mereka telah dewasa dan mempunyai jalan masing-masing. Ada setitik rasa haru dan juga sedih tetapi lebih dominan kepada senang karena sampai saat ini pertemanan Abel dengan Felly masih berjalan dengan baik. Ia bersyukur mempunyai sahabat seperti Felly yang walaupun asal bicara tapi tidak pernah pura-pura.
Dan seketika keterkejutan Abel membuat lamunannya akan masa lalu sirna. Ia menoleh melihat Excel yang menggendong Marcel. "Eh anaknya mommy udah bangun ?". Langsung saja Abel mengambil alih dan menggendong Marcel.
"Marcel doang nih yang di perhatiin daddy-nya nggak ?". Excel melipat tangannya diatas perut, memperlihatkan wajah pura-pura kesal karena semenjak kehadiran Marcel semua perhatian Abel hanya untuk sang putra sementara dirinya sudah berkurang kasih sayang.
Tangan Abel sebelah kanan mengusap pipi Excel, gemas akan sang suami yang cemburu dengan anaknya sendiri, padahal Excel sudah dewasa dan seharusnya mengerti. Tetapi sepertinya yang namanya cemburu tidak mengenal usia.
"Sabar, nanti malam ya daddy kita kupas pisang aja......itu juga kalau mommy nggak kecapean". Abel menahan tawa seraya berbalik mengajak Marcel berkeliling.
"Hem gitu kan sekarang lebih sayang anak". Excel menggelengkan kepala, melihat perubahan Abel yang kini lebih cenderung menyayangi anak mereka, sedangkan ia di nomor duakan. Ia mengerti dan merasa bahagia, sama sekali ia tak iri ataupun merasa kurang kasih sayang.
Abel, Excel dan juga Marcel ikut bergabung dengan keluarga yang sudah berkumpul. Semua terlihat bersama dengan pasangannya masing-masing. Seperti papa Rey yang berbincang dengan mama Dina, papi Jimmy dengan mami Rita, Andre dengan sang istri, Abel juga dengan Excel sementara Alvin, jangan di tanya lelaki itu lebih fokus dengan benda segi empat yang berbentuk pipih tersebut.
Dan jangan lupakan dengan adanya para anak kecil yang membuat tempat ini kian ramai. Kalau di total kini sudah ada tiga cucu mama Dina dan kurang satu orang yang belum menikah dan menyumbangkan cucu.
"Cucu nenek sini sayang". Abel memberikan Marcel ke tangan mama Dina, hari ini pasti hari yang cukup lelah juga bagi Marcel karena sedari pagi pipinya menjadi sasaran para tamu, padahal bayi itu belum tau apapun.
Sorot mata mama Dina jatuh kepada putra keduanya yang masih asyik dengan hp dan juga dengan kesendirian, ia merasa dua tanggung jawabnya telah selesai dan tinggal satu yang belum berkomitmen. "Andre sama Abel aja udah nikah dan punya anak, kamu kapan kenalin mama sama pacar kamu Vin ?".
"Kapan-kapan ma". Jawabnya di sertai dengusan, kesal setiap ada keluarga yang berkumpul dan ia selalu menjadi target oleh perkataan yang tidak ia sukai. Entah sampai kapan mama dan papanya akan berhenti menanyakan itu.
__ADS_1
"Kamu mau mama kenalin sama anak temen arisannya mama ?". Tanya mama Dina yang serius, khawatir jika anak lelakinya akan kesepian karena di tinggal kedua saudaranya yang telah berumah tangga.
"Nggak usah ma ntar jodohku juga ketemu sendiri". Jawabnya asal.
"Ketemu dimana ? Mending ke apotik sana siapa tahu dapat obat jomblo". Sambar Andre yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dan bisa di tangkis.
"Rese lo bang".
Gelak tawa dari semua yang ada di sana langsung memenuhi ruang keluarga. Alvin berusaha cuek padahal ia sangat berdebat dengan mama Dina, ini melukai harga dirinya dan ia merasa kesal.
*******
Rumah kini sepi, hanya tinggal Excel dan Abel di dalam kamar karena semua telah pulang, sedangkan mami Rita dan juga papi Jimmy telah tidur di kamar mereka dan akan kembali beberapa hari lagi ke US.
Marcel juga gemar sekali menutup matanya, bayi yang baru sebulan Abel lahirkan itu kian berisi tubuhnya, memperlihatkan jika bayi itu bahagia dan mendapat perawatan yang baik dari kedua orangtuanya.
Abel melihat ke box bayi Marcel, ia merasa teduh melihat sang putra yang terlelap dalam mimpi. Tapi tiba-tiba sepasang lengan besar melingkar di perutnya, tanpa berbalik juga ia sudah tau siapa pemilik tangan dan bau parfum ini.
"Ada apa kak ?". Abel merenggangkan tangan Excel dan menaruh tangannya di leher sang suami, tersenyum heran saat melihat Excel hanya menggeleng kecil.
"Nggak ada apa-apa, cuma aku bahagia sekali mendapatkan kamu sebagi istriku dan Marcel sebagai anakku, terima kasih ya sayang sudah melahirkan anakku dan terima kasih sudah membuat hidupku berwarna, aku mencintaimu istriku dan menemaniku untuk membesarkan anak kita juga menua bersama sampai akhir hayatku".
Abel terkejut sejenak ia terdiam tetapi lelehan air mata nyatanya mampu menjawab semua rasa harunya, ia bahagia bukan hanya menjadi istri Excel tetapi mendapat pengakuan cinta dari lelaki yang dari dulu ia sayangi dan sulit untuk di lupakan.
"Aku juga terima kasih karena telah memilihku untuk menjadi istrimu kak, siapapun nggak akan ada yang tau bagaimana bahagianya aku saat ini, rasanya aku ingin menghentikan waktu agar kita bisa bersama lebih lama karena sampai tua juga sepertinya tidak akan cukup bagiku, kau dan Marcel adalah segalanya bagiku, aku mencintaimu suamiku, selalu dan selamanya".
"Sejauh apapun kita mendekat nyatanya tidak akan membuat dia semakin dekat jika dia memang bukan jodohmu, dan sejauh apapun kamu menghindar dia akan semakin terasa dekat kalau memang jodohmu, maka jangan pernah memaksakan cinta karena cinta akan datang kalau memang dia untukmu".
__ADS_1
...~FIN~...