Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Bersyukur


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang dinantikan oleh Abel dan juga seluruh keluarganya, baik papa Rey, Alvin dan juga mama Dina berada di sebelah Abel untuk menemani gadis itu membuka perban yang menutupi bekas operasi.


Mereka sangat tak sabar dan penasaran bagaimana dengan hasilnya, hingga meluangkan waktu untuk ke Thailand guna menyusul Abel disana dan cuti kerja. Berharap jika semua kesedihan Abel akan hilang bersamaan dengan luka yang ia derita.


Dokter telah berada di sana, bersiap dengan segala macam peralatan yang dibutuhkan untuk membuka perban Abel. Gadis itu memejamkan mata merasakan bagaimana perban tersebut mulai terlepas satu persatu dari tubuhnya.


"Jika merasa ada yang sakit bilang ya? ". Kata sang dokter saat mulai melucuti perban tersebut, dan dibantu oleh salah satu perawat di sana.


"Iya dok". Jawabnya seraya masih memejamkan mata, tak berani melihat apapun sebelum Abel merasakan kalau perbannya telah hilang semua dari tubuhnya. Memejamkan mata adalah keinginan Abel sendiri karena ia tak sanggup melihat raut wajah cemas keluarganya.


Sampai ia merasa jika tubuhnya terasa lebih l longgar dan lebih leluasa di gerakkan karena perban yang selama ini selalu menutupi tubuhnya membuat gerakannya terbatas kini menghilang.


"Sudah selesai kamu sudah bisa membuka matamu, Jangan terlalu tegang". Kata sang dokter diselingi dengan candaan karena ia merasa jika Abel terlalu berlebihan karena yang terbakar adalah tubuhnya bukan matanya, jadi harusnya tak perlu sampai menutup mata.


Sang perawat mempersiapkan cermin untuk Abel, ia tahu jika pasiennya tersebut pasti ingin melihat bagaimana hasil operasi yang telah dijalani. Dan dengan rasa takut yang semakin lama membuat kedua telapak tangannya serasa dingin, ia mencoba membuka mata dan berusaha untuk menerima kenyataan bagaimanapun hasilnya.


Respon Abel berbeda dengan perkiraan seluruh keluarganya, mereka fikir jika Abel akan senang ataupun memeluk salah satu dari mereka. Tapi nyatanya Abel malah menangis dengan tersedu-sedu.


"Hiks hiks". Air mata Abel meleleh membasahi pipi, namun pandangan matanya tak beralih dari cermin tersebut, ia meraba wajah barunya itu dan menutup mata sebentar lalu membuka matanya kembali. Berusaha untuk meyakinkan bahwa pantulan yang ada di cermin adalah dirinya.

__ADS_1


"Eh kok nangis ?". Mama Dina bingung harus bagaimana, padahal wajah Abel telah kembali seperti semula, lalu apa yang gadis itu sedihkan.


"Jangan nangis dong, wajah lo udah bagus lagi tuh". Alvin melihat Abel yang ada di cermin dan yang ada di sampingnya, ia merasa tidak ada yang salah dengan hasil operasi tersebut.


"Wajahku balik lagi ma, pa, kak". Abel memang menangis tapi ia menangis haru lantaran merasa jika wajahnya yang rusak terasa sangat lama sekali dan kini wajahnya kembali seperti semula. Abel sangat bersyukur sekali bahkan menangis haru.


"Iya wajah kamu udah kembali lagi". Mama Dina mendekat dan memeluk Abel, ia bisa merasakan kebahagiaan yang putrinya rasakan karena ia pun juga merasa senang dan lega, akhirnya derita sang Putri kini telah hilang.


Di sana hanya ada kurang satu orang yaitu Excel, jika Excel berada di sana mungkin kebahagiaan Abel akan sangat lengkap. Tapi Abel mengerti jika Excel mempunyai kesulitan sendiri, bahkan harusnya Abel meringankan beban Excel, namun kini bahkan jarak antara keduanya sangatlah jauh. Excel yang berada di US sementara Abel berada di Thailand.


****


"Sayang banget kita ke Thailand cuma bentar doang, harusnya sekalian liburan". Alvin mendengus kecewa karena sangat sulit baginya untuk cuti bekerja dan sekalinya bisa libur sejenak malah hanya di gunakan untuk ke rumah sakit saja lalu pulang.


Sebenarnya ia tidak ada niatan untuk ke Thailand menemani Abel membuka perbannya, hanya saja itu adalah permintaan papa Rey yang sangat mencemaskan kondisi Abel. Sekaligus untuk mengejutkan gadis itu dan membuatnya senang.


"Yaudah nanti kalau kamu udah nikah, mama kasih kamu tiket honeymoon ke Thailand". Kata sang mama yang kembali mengungkit pernikahan. Tidak tahukah kalau soal menikah dan mempunyai pasangan lebih sulit di bandingkan membeli baju bermerek yang tinggal pesan dan bayar dp lalu diantar.


"Kelamaan ma, sekarang aja napa sih". Protesnya seraya melipat kedua tangan. Ia kesal lantaran setelah ini mereka harus ke bandara dan segera pulang. Hanya datang dan menemani Abel menginap satu hari satu malam di Thailand dan seperti itu saja, tentu ia kesal.

__ADS_1


"Nggak bakalan lama kalau kak Alvin nikahnya cepet, makanya cari pacar terus nikahin sana". Abel ikut menimbrung percakapan antara mama dan kakanya yang terasa menarik, baginya menggoda Alvin lebih menyenangkan dibanding dengan menonton drakor.


"Nggak usah ikut-ikutan deh lo". Sautnya kesal sementara Abel hanya terkikik geli dengan respon Alvin kalau membahas masalah menikah. Kakanya itu pasti akan sensitif sekali seperti wanita saat PMS kalau membahas persoalan berumah tangga.


"Dari pada kamu kesel nggak jelas, mending bantu papa angkat barang". Papa Rey memberikan tas yang begitu berat kepada Alvin tanpa aba-aba terlebih dulu, hingga ia sedikit menunduk menerima barang yang tak ia kehendaki dan tak tau milik siapa, mama Dina ataukah milik Abel.


Mereka semua menuju bandara Internasional dan melewati penerbangan yang tak terlalu lama karena jarak antara Thailand dan Indonesia yang tidaklah terlalu jauh. Walaupun begitu tubuh mereka terasa lelah, mungkin karena efek jetlag atau terlalu lama duduk di pesawat.


Mereka keluar dari taxi yang telah di tumpangi ke rumah karena jika meminta jemput yang ada nantinya akan menunggu lama. Abel merasa sangat bersemangat melihat bangunan yang menjulang tinggi dari jendela taxi.


"Kayak anak kecil lo, lihat pemandangan nggak sekalian nyanyi gitu". Saut Alvin yang melihat raut wajah bahagia Abel, entah mengapa lelaki itu masih saja suka membuat orang kesal, apalagi setelah dari Thailand.


"Sirik aja kak Alvin". Alvin menatap Alvin dengan tatapan micing, tak suka apabila kesenangannya di ganggu, tak tahukah Alvin jika setelah semua yang merenggut kebahagian Abel beberapa hari belakangan ini membuat gadis itu bersyukur akan wajah dan hidupnya.


******


Mereka telah sampai di depan rumah yang sangat mereka kenali, tidak lain adalah rumah yang selama ini mereka tinggali dan penuh cerita. Abel menatap binar rumah itu. "I am home". Ujarnya.


"Kalian sudah pulang ?".

__ADS_1


Suara dari seseorang di dalam sana membuat semuanya menoleh, terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar dan mengejutkan mereka akan kehadirannya.


__ADS_2