Love You Brother

Love You Brother
Berbagi Kamar


__ADS_3

Papa rey melihat semuanya telah masuk namun pastinya belum mendapatkan kamar karena baik Excel, Jennie maupun Robin pasti menunggu instruksi akan ke kamar yang mana untuk mereka tidur.


"Jadi tempat ini hanya ada empat kamar, nanti kalian berbagi dan satu kamar diisi dua orang, papa sama mama, Excel sama Robin, Alvin sendiri, dan Jennie sama Merry!!".


"TIDAK". Teriak Abel, Jennie, mama Dina dan juga Alvin.


Mengetahui persoalan Abel mereka tak setuju kala gadis itu sekamar dengan rivalnya walaupun sekarang Abel sudah pacaran dengan Robin tapi bagaimanapun kalau mereka di satukan dalam satu kamar pasti akan menimbulkan sesuatu yang tidak baik.


"Memangnya kenapa ?". Tanya papa yang tak mengetahui apa alasan di balik penolakan atas keputusannya membuat mereka saling berbagi kamar, ia rasa itu sudah tepat mengingat Abel dan Jennie sama-sama perempuan sedangkan para laki-laki yang lain harusnya tak keberatan.


"Nggak mau pa aku maunya tidur sendiri". Abel menatap kesal ke arah Jennie yang berdiri di samping Excel, ia tak sudi berbagi kamar yang ada nantinya ia tak bisa tidur dengan nyenyak.


"Udah cocok kalian tidur satu kamar, papa nggak mau ya ada laki-laki dan perempuan yang tidur satu kamar apalagi papa tau kalian pada belum menikah". Abel hendak membuka suara kembali memberi ketidak setujuan namun ia tak menemukan alasan yang cocok.


"Abel sama Jennie dapat kamar yang deket pohon, Excel sama Robin yang deket daput sementara kamar yang ada di tengah untuk Alvin, papa sama mama Kamar yang ada di ujung". Semua saling melihat teman satu kamarnya tak terkecuali Abel dan Jennie yang langsung memalingkan muka.


"Kok aku dapat kamar yang kasurnya paling kecil pa ?". Alvin mengingat betul jika kamar yang di sebutkan papa Rey adalah kamar yang kasurnya hanya bisa di tiduri oleh satu orang itu juga sangat pas yang pastinya kurang bisa bergerak dengan leluasa.


"Kamu itu nggak ada temen sekemar jadi kasurnya yang kecil aja atau kamu mau satu kamar sama Excel atau Robin dan kamar itu buat yang lain". Alvin dengan cepat menggeleng, berbagi kamar yang ada hanya membuatnya kurang leluasa.


"Udah papa nggak mau tau kalian harus berbagi dengan baik ya".


Abel melihat mama Dina seolah meminta tolong agar bicara dengan papa kalau ia tak mau berbagi kamar dengan Jennie. Namun mama Dina hanya menggendikkan bahu tak tau juga mau mengatakan apa lantaran memang hanya Abel dan Jennie saja yang perempuan selain dirinya.


"Lebih baik cepetan kalian taruh barang kalian ke kamar". Papa Rey mengandeng tangan mama Dina untuk masuk lebih dulu ke kamar utama yang ada di villa itu.


Abel masih berdiri di tempatnya seraya memandang kesal Jennie dan berjalan lebih dulu ke kamar yang ia inginkan diikuti Jennie di belakang yang juga tak kalah kesal harus berbagi kamar dengan rivalnya.


Setelah Abel dan Jennie masuk ke dalam kamar tersebut Jennie langsung menutup kamar itu dan pandangan tajamnya ia arahkan ke Abel tanpa segan karena sudah tak ada orang yang membuatnya harus menjaga image.


"Untuk apa kamu sampai tak tau malu ikut keluargaku liburan ?". Abel melipat tangannya memandang dengan kesal wanita yang berstatus sebagi tunangan Excel.


"Tentu saja untuk mengawasimu agar tak menggoda calon suamiku". Abel melipat tangannya tersenyum dengan tingkah Jennie yang kekanakan mengintili tunangannya hanya karena takut kalau digoda, lagipula tidak akan ada orang ketiga jika lelaki itu tak memberi kesempatan untuk mendekati bukan.


Jika memang lelaki setia mau di goda oleh siapapun itu pasti ia akan tetap setia berbeda dengan lelaki yang memang tak setia, baru di goda sedikit saja sudah langsung kecantol yang lain.

__ADS_1


"Apa yang kau tertawakan ?". Jennie sangat tak suka dengan Abel yang seolah menertawakannya secara terang-terangan.


"Tentu saja menertawakanmu, kau tau semakin erat kau menggenggam sesuatu pasti yang kau genggam akan semakin ingin pergi". Abel kembali tersenyum sepertinya ia berhasil mempengaruhi Jennie, lihat saja wanita itu berubah ekspresi seperti tak terima tapi juga tak membantah perkataan Abel.


*******


Dikamar yang lain


Excel dan Robin berada di dalam satu kamar tersebut, keduanya saling diam dan kecanggungan sangat terasa karena ini pertama kali mereka bertemu bahkan tak ada obrolan apapun berbeda dengan kamar kedua pasangan mereka yang saling cekcok.


"Lemarinya hanya ada satu". Robin membuka obrolan kala melihat hanya ada satu lemari dan itu juga tak terlalu besar, melihat itu keduanya ragu barang siapa yang akan di letakkan di lemari tersebut.


"Itu masih cukup untuk kita, kita bagi dua saja kau yang di barisan atas aku yang di barisan bawah". Mereka berdua telah sepakat dan mengeluarkan isi pakaian untuk di taruh di lemari tersebut dengan 4 baris pada lemari tersebut membuat mereka berbagi 2 barisan untuk Excel dan 2 barisan yang lain untuk Robin.


"Jadi kau dan Abel maksudku Marry sudah pacaran ?". Robin sejenak berhenti dan mengulas senyum di bibirnya.


"Iya kami sudah pacaran sekarang". Jawabnya singkat dan kembali merapikan pakaiannya untuk di taruh di lemari pakaian.


"Sudah berapa lama kalian kenal ?". Entah Excel memang ingin tau atau ingin mengorek lebih dalam namun Robin tak mempermasalahkannya dan tetap menjawab.


"Aku dan Merry baru kenal dua minggu dan kami langsung jadian".


"Aku rasa tidak lagipula kalau sudah saling cocok untuk apa berlama-lama, aku juga punya firasat kalau kita akan menikah sebentar lagi". Excel langsung menoleh ke arah Robin tanpa menaruh terlebih dulu pakaian yang sedang ada di tangannya.


"Kenapa kau sangat yakin ?". Tanyanya.


"Karena biasanya firasatku selalu benar". Jelasnya singkat dan Excel tak bertanya lagi.


Mereka kembali merapikan barang bawaan masing-masing dan tidak melanjutkan obrolan lagi, hening hingga barang yang mereka bawa sudah tersusun rapi di tempat yang seharusnya.


******


Abel ke dapur membuka kulkas untuk mencari air dingin, ia merasa kehausan setelah pertengkaran lisan dengan Jennie hingga tenggorokannya kering dan minta di siram dengan sesuatu yang menyejukkan tenggorokan.


Namun saat pintu kulkas di tutup ia sangat terkejut dengan hadirnya. Robin di balik pintu kulkas yang tak ia ketahui sejaka kapan lelaki itu berada disana. "Robin kau sedang apa disini?".

__ADS_1


Robin tak menjawab pertanyaan Abel dan malah semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Abel hingga nyali gadis itu menciut dan memundurkan langkahnya hingga terjepit antara Robin dan kulkas.


Robin semakin mendekat bahkan jarak mereka semakin terkikis, Abel bahkan kini bisa merasakan hembusan nafas Robin yang menerpa pori kulitnya. Bibir Robin semakin mendekat dan membenamkannya ke bibir bulat nan mungil milik Abel.


Abel tak membalas namun juga tak menolak, ia tau akan salah jika ia menolak karena Robin memang pacarnya dan ciumannya memang seharusnya untuk kekasihnya bukan untuk seseorang yang bahkan tidak memikirkannya. Abel hanya berdiri disana dengan mata terpejam menerima semua perlakuan Robin.


Gerakan lembut bibir Robin yang menjelajahi bibir mungil itu membuat seseorang yang ada di belakang sangat terkejut hingga menjatuhkan barang yang di bawanya.


PRAAANK


Suara piring terjatuh membuat Robin dan Abel terhenti dan langsung menoleh kebelakang, tak menyangka ada orang yang melihat kejadian yang barusan mereka lakukan.


"Kalian sedang apa ?".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hayo tebak tebakan siapa yang melihat Robin sama Abel ?


Aku udah kasih tau di grup kalau kemarin nggak up dan lagi ada acara, bagi yang nggak gabung di grup dan nanyain di kolom komen maaf nggak aku bales satu-satu.

__ADS_1


Kalian yang minta up terus rasanya aku kayak lagi di kejar depkolektor, bedanya kalau depkolektor nagihnya sendirian kalau kalian rame-rame. 😂😂😂


Karena udah up minta timbal balik like dan votenya dong. 😏


__ADS_2