
Ucapan Excel terhenti saat melihat Abel yang sedang berolahraga di treadmill dengan hanya memakai sport bra dan juga celana pendek. Memperlihatkan perutnya yang terbuka dan juga beberapa tetes keringat yang meluncur dengan sempurna di area leher hingga ke bagian gundukan, juga di perut dan tak lupa paha putih nan mulus tersebut.
Tanpa sadar Excel meneguk salivanya dengan sukar hingga jakunnya naik turun. "Ini sih namanya godaan berat". Gumamnya dalam hati.
Sedangkan Abel sendiri belum menyadari kehadiran Excel hingga masih fokus berlari. Tapi saat sudah selesai olahraga ia mematikan treadmill dan menoleh, seketika matanya membulat.
"Aaaaa pergi". Abel melempar handuk kecilnya yang tadi ia gunakan sebagi lap keringat namun jarak yang agak jauh membuat handuk tersebut tak sampai di tempat Excel berdiri.
"Tunggu kau jangan teriak". Excel dengan panik mendekat dan menutup mulut Abel agar tak teriak dan membuat yang lain terkejut. "Sssst jangan berisik, aku akan lepaskan dan pergi oke tapi kau jangan teriak".
Excel mulai melepaskan tangannya yang menutup mulut Abel dan berjalan mundur dengan pelan seraya meletakkan satu jari di mulutnya sendiri, mengisyaratkan ke Abel agar tak bersuara dan saat sampai di pintu Excel berbalik tapi saat itu juga Abel melepas sepatu olahraganya dan ia lemparkan ke arah Excel.
"Aduh".
"Rasain".
Excel mengusap kepalanya yang ia rasa agak benjol akibat lemparan sepatu yang tepat mendarat mengenai kepalanya. Ia keluar dan menutup pintu sebelum Abel melemparkan benda lain ke arahnya.
*******
Abel menuju ke meja makan dan mendudukkan dirinya ke salah satu kursi yang berada disana. Ia langsung mengambil dan menggigit apel yang berwarna merah tersebut seraya melihat Excel yang juga baru datang dan mendudukkan diri dengan tangan yang masih mengusap kepala.
"Itu kepalamu kenapa Cel ?". Tanya mama Dina, namun Excel masih menatap Abel dengan tatapan kesal karena gadis itu seperti sangat tak bersalah.
"Nggak apa-apa ma cuma habis kena sepatu melayang aja". Ujarnya kepada mama Dina namun hanya membuat Abel menggendikkan bahu.
"Sepatu melayang gimana ?". Tanya mama Dina lebih lanjut namun sebelum Excel membuka mulutnya, terlebih dulu Abel menyela.
"Ma kayaknya kita mesti hati-hati takut kalau ada maling atau orang mesum sembarangan masuk". Abel mengatakan itu seraya melihat ke arah Excel, sontak saja Excel menudukkan tangannya yang tadi mengusap kepala, ia takut ketahuan padahal ia tak berniat melihat Abel yang hanya menggunakan sportbra.
Tapi pemandangan itu lumayan menggugah hasratnya untuk kembali bermain sodok-sodokan di atas kasur. Dengan cepat Excel menggeleng untuk menyingkirkan pemikiran tak pantas tersebut.
__ADS_1
"Ngapain geleng-geleng ? Pasti mikirin aku ?!". Tuduhnya seraya menunjuk Excel dengan garpu di tangan.
"Kayaknya kamu ngarep banget aku fikirin ?". Excel tersenyum karena berhasil menggoda Abel dan membuat gadis itu kesal, terlihat dari garpu yang Abel pegang kini di tancapkan ke ayam dengan keras.
"Siapa yang ngarep, ngawur".
Mama Dina kembali sehabis mengambil beberapa lauk ke meja dan bersamaan dengan itu papa Rey juga Alvin ikut mendudukkan diri di kursi dan mereka makan dengan tenang, namun sesekali Excel melirik ke arah Abel.
Suara telfon berdering mengalihkan semuanya yang semula hendak makan jadi menoleh mendapati Excel yang melihat hp-nya. Ia berdecak dalam hati melihat nama papi Jimmy yang tertera di layar hp.
"Maaf semuanya aku angkat telfon dulu". Excel beranjak dari duduknya dan mencari tempat yang sekiranya semua orang tak bisa mendengar dari meja makan.
Namun ia tak tau jika sedari Excel berdiri, Abel melihatinya menjauh dan di sudut hatinya ia merasa penasaran akan siapa yang menelfon apalagi melihat Excel yang menjauh dan tak ingin percakapannya di dengar yang lain. Entah kenapa ia sebal karena merasa ada yang Excel sembunyikan.
"Mer itu salad ngapain di potong ?". Tegur Alvin saat melihat Abel memotong salad tanpa gadis itu lihat.
Seketika Abel menoleh melihat piringnya yang berisi salad dan ayam tapi malah megang garpu dan juga pisau. Sontak ia mengganti pisau tersebut dengan sendok dan memakan makanannya.
"Excel kau dimana ? Ku cari di apartemenmu kenapa tidak ada ?" ~ Jimmy
"Pi aku ada urusan jadi sekarang aku di luar, ada apa papi mencariku ?" ~ Excel
Excel memang tak memberitau ke orangtuanya kalau ia kembali tinggal di rumah papa Rey karena takut nanti papi Jimmy tidak akan setuju walau ia sendiri belum tau entah apa nanti reaksi kedua orang tuanya kalau sampai tau.
"Ini mengenai pernikahanmu yang batal, papi mau minta penjelasan" ~ Jimmy
Excel menghela nafas berat, lagi-lagi persoalan tentang pernikahannya yang batal. Ia fikir ini akan selesai tapi sepertinya tak semudah yang ia bayangkan. Kalau sudah begini mau tak mau ia harus bicara dengan papi Jimmy.
"Baiklah pi aku akan segera ke apartemen, papi tunggu aku" ~ Excel
Setelah mematikan telfon Excel kembali melangkah ke meja makan hendak pamit karena tak enak mama Dina sudah memasak sedangkan ia malah mau pergi, lagipula tak sopan jika pergi begitu saja.
__ADS_1
"Maaf ya ma pa aku ada urusan penting dan harus pergi".
"Tidak mau makan dulu ? Perutmu harus diisi". Tawar mama, ia khawatir dengan Excel yang pergi sebelum makan bahkan dari tadi piringnya masih kosong.
"Tida apa ma nanti aku akan makan dijalan". Setelah mengatakan hal tersebut Excel pergi dan mengambil kunci mobil dan melajukannya di jalan raya.
Jujur Abel tak suka dengan Excel yang langsung pergi begitu saja setelah menerima telfon. Ia berfikir itu pasti dari seorang wanita hingga mengharuskan Excel untuk menjauh saat tadi menerima telfon.
Di jalan Excel kembali menghela bafas, bagaimana tidak bahkan ia harus mendengar suara perutnya yang keroncongan minta diisi sedangkan jalanan sedang macet. Bahkan sedari tadi papi Jimmy sepertinya tak sabar menunggu kedatangannya hingga menelfon beberapa kali.
Setelah berhasil membelah kemacetan, akhirnya Excel sampai di apartemennya dan disana papi Jimmy sudah menunggu dengan tangan yang di lipat di depan dada bahkan tatapannya Excel kurang suka. Ia punya firasat sepertinya ini tak akan baik.
"Duduk". Perintah sang papi dengan cukup tegas hingga belum bicara yang lain saja rasanya suasana sudah agak tegang.
Keheningan membentang di tempat itu bahkan hanya terdengar bunyi detik jam yang lebih mendominasi. Mungkin jika ada jangkrik yang berada di sana akan lebih terdengar tidak sesunyi ini dan tidak semencekam ini situasinya.
"Ada apa pa ?". Excel mencoba membuka suara, sebenarnya ia takut dengan sorot mata sang papi tapi mereka diam juga nanti tidak akan selesai yang ada, jadi lebih baik Excel yang memulainya.
"Ini tentang pernikahanmu dengan Jennie yang kau batalkan secara sepihak, orang tua Jennie kemarin mendatangi rumah papi dan mereka merasa tersinggung dengan keputusanmu".
.
.
.
.
.
Aku minta tolong banget bagi yang masih punya poin di sumbangin ke aku, ntar aku minta ke Tuhan moga pahalanya di tambah.
__ADS_1