
Excel terdiam di tempatnya berada bahkan untuk bergerak satu inchi saja ia tak berani, melihat adanya papa Rey yang berada di depannya menahan amarah bahkan nafasnya naik turun siap untuk melayangkan bogem mentah kedua.
Papa Rey beranjak dan sedikit berjingkok untuk mencengkram kerah kemeja yang Excel gunakan, hampir saja ia menyakiti Excel untuk kedua kalinya namun Abel menghentikan sebelum kulit wajah Excel dan tangannya bersentuhan.
"Pa udah pa jangan". Abel tak bisa membiarkan papa Rey menyekiti Excel lebih lanjut walau ia tau Excel sangat keterlaluan dengan selalu menciumnya secara paksa kalau marah dan mungkin ini adalah hari kesialan bagi Excel karena harus ketahuan oleh papa Rey yang baru pulang.
"Dasar kau anak tak tau diuntung, kurang ajar kau berani melecehkan putriku". Ujar papa Rey sagat keras hingga membuat mama Dina juga Alvin mendekat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dekat kolam ikan.
Dan alangkah terkejutnya saat mengetahui papa Rey dan Excel bertengkar dan di lerai oleh Abel. "Alvin cepat tenangkan papa". Perintah mama Dina ke putra keduanya itu.
Meskipun enggan dan lebih suka menonton apa yang sebenarnya terjadi, Alvin tetap menuruti mama Dina dan mencegah papa untuk semakin murka akibat kelakuan Excel yang ketahuan.
"PERGI, kau aku tidak butuh anak kurang ajar yang tidak tau balas budi sepertimu untuk tinggal dirumahku ". Teriak papa Rey hingga menggema di kuping Excel, menimbulkan rasa kecewa karena menghilangkan kepercayaan yang selama inj berikan kepadanya.
"Pa jangan gegabah mengusir Excel pa, ingat dia juga anak kita". Mama Dina mencoba untuk membuat papa Rey mengurungkan niatnya namun tekad sang suami sudah bulat.
"Tidak dia sudah berani melecehkan putriku, sekarang aku tidak akan menganggapnya sebagai putraku lagi".
"Pa aku__".
"CEPAT PERGI". Teriak papa Rey lagi, ia sudah tak bisa menahan emosi yang kian membara dan siap memberikan bekas kemerahan yang hendak ia layangkan kalau saja tak di hadang oleh Abel dan Alvin juga mama Dina.
"Aku minta maaf". Hanya tiga kata itu yang terlontar dari bibir Excel tanpa tenaga, karena ia juga kecewa dengan dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol semuanya.
__ADS_1
Excel berbalik dan melangkahkan kakinya dengan lemah bahkan pandangannya terasa kabur dengan tubuh yang terasa berat tanpa semangat. Ia berhenti, diusir, kalah dan di suruh menyerah untuk segera pergi dan mendapatkan Abel.
Excel membawa kopernya dan ia seret keluar dari rumah yang sudah beberapa tahun menaunginya dan membuatnya merasakan bagaimana mempunyai keluarga. Dan saat ini ia berbalik melihat rumah mewah dengan pandangan lesu kemudian kembali melangkahkan kakinya untuk pergi, ia datang disambut dan pergi dengan cara diusir, sungguh miris.
******
Excel kembali ke apartemennya setelah beberapa bulan ia menempati rumah papa Rey dan mungkin tak akan pernah menjadi rumahnya lagi karena ia yakin setelah ini keberadaannya tidak di inginkan.
Ia merasa heran saat menginjakkan kaki di apartemennya dan disana lampu menyala padahal ia sudah lama tak menyalakan lampu dan selama ini kepergiannya tak pernah membiarkan lampu apartemen menyala.
"Kau darimana ?". Tanya seorang laki-laki paruh baya yang melipat tangannya di atas perut serta melayangkan tatapan tajam saat melihatnya menyeret koper yang berukuran besar.
Ia meneguk salivanya dengan sukar karena bingung harus menjelaskan bagaimana ke papi Jimmy kalau selama ini ia tinggal di kediaman papa Rey tanpa sepetahuannya. Ia seperti mendapat kesialan bertubi-tubi hari ini.
"Kenapa diam ? Dan kenapa pipimu memerah ?". Excel gusar dan memilih untuk mengedarkan pandangan menghindari tatapan mata papi Jimmy yang menuntut jawaban atas segala pertanyaan yang di lontarkan.
"APA". Pekik papi Jimmy sepontan setelah mendengar salah satu dari pertanyaan yang ia lontarkan, merasa kesal dan tak puas ia kembali menuntut penjelasan secara lengkap kepada Excel.
Excel terlebih dulu menyuruh papi Jimmy untuk duduk begitu juga dirinya yang duduk dihadapan papi Jimmy yang hanya terpisah meja kecil diantara mereka. Excel menghembuskan nafas berat dan mulai bercerita mengenai ia yang tinggal dirumah papi Rey dan mencium Abel, sampai akhirnya papi Jimmy mendelik tajam.
"Kau yang benar saja, mencium anaknya Rey ?". Tanya Papi Jimmy memastikan dan diamnya Excel cukup untuk menjawab pertanyaan papi Jimmy bahwa lelaki itu tak sedang bercanda.
"Jadi kau memutuskan hubunganmu karena dia siapa tadi namanya ? Abel ?". Excel membenarkan pertanyaan papi Jimmy, karena memang alasan utama ia dan Jenny putus adalah perasaan Excel yang telah berpaling ke Abel.
__ADS_1
Tapi sekarang mendekati Abel nyatanya akan jauh lebih sulit daripada sebelumnya, dengan papa Rey yang malah meninjunya hingga masih menyisakan rasa sakit, cukup untuk mengetahui jika hubungannya dengan Abel tak akan mudah di restui jika nantinya Abel sudah bisa menerima perasaannya.
Papi Jimmy melihat ke arah koper yang Excel letakkan di samping tempat duduknya dan menyimpulkan kalau papa Rey langsung mengusir Excel begitu tau jika Excel mencium Abel. "Kau sudah kembali kesini kan ?". Tanyanya memastikan.
"Iya pi dan mungkin papa tidak akan mengizinkan aku untuk kesana lagi". Excel menundukkan pandangannya, mengingat kejadian yang sulit ia lupakan tadi dan fikirannya masih terpaku dengan Abel.
Gadis itu mengapa tak mencegahnya untuk pergi dan menyarankan papa Rey untuk mrmbiarkannya tinggal ?. Hal yang bisa Excel simpulkan adalah Abel masih sangat marah kepadanya.
Papi Jimmy mengatakan tujuannya ke apartemen Excel hanya untuk pamitan secara langsung karena hendak ke US untuk sementara karena perusahaan yang ada disana sedang mengalami masalah dan menyuruh Excel untuk segera mengompres memar di pipi lalu pergi.
Excel mengantarkan kepergian papinya sampai di depan pintu dan mengambil hpnya untuk memeriksa apakah ada pesan atau panggilan dari Abel yang menanyakan keadaannya, tapi nyatanya tidak.
*******
Abel melihat ke arah hpnya di mana ia masih dilema antara mengirimkan pesan untuk Excel atau tidak. Karena setelah keributan yang terjadi dan tadi papa sampai memukul Excel pastilah lelaki itu sedang dalam kondisi yang tidak baik.
Beberapa kata ia tulis namun kembali ia hapus karena masih ragu, disatu sisi ia khawatir dan di sisi lain ia masih marah atas semua ucapan Excel yang kadang ingin ia percaya namun buktinya lelaki itu selalu terlihat dikelilingi oleh wanita.
Meong Meong
Kucing yang selama ini Excel pelihara di rumahnya nyatanya tidak lelaki itu bawa dan tetap di tinggalkan disini padahal siapa juga yang hendak mengurusinya, mungkinkah Excel tak terfikirkan untuk mengurus kucingnya dan tidak takut jika sang kucing akan kelaparan akibat di tinggalkan.
"Sekarang aku harus apa kucing, kamu kasih saran dong". Abel mengangkat tubuh kucing yang terasa kian berat saat terakhir kali ia menggendongnya. Sangat terlihat kalau Excel mengirus kucingnya dengan baik.
__ADS_1
Meong Meong
"Kok aku ngomong sama kucing ya". Abel menghela nafas berat saat hanya mendengar suara kucing yang sama setiap harinya, mungkin karena semua yang telah terjadi membuatnya seperti orang bodoh.