
Abel membulatkan mata kala melihat memang benar saat itu ada Jennie dan juga Excel, mengingat terakhir kali mereka bertemu Abel mengatakan cinta yang berbalas penolakan ia tak sanggup bertemu dengan Excel lagi, ia terlalu malu dan sedih.
Hanya jarak beberapa langkah saja dan deretan baju yang menutupi, ia segera berjongkok sembunyi di balik baju-baju yang tergantung di sana, "gawat kalau bertemu mereka, semoga mereka segera pergi". Batinnya.
"*Yank gimana kalau ini".
"Ya bagus tapi aku kurang suka warnanya*".
Abel semakin lama kakinya semakin kesemutan, ia sudah merasa pegal karena harus berjongkok apalagi Jennie semakin mendekat membuatnya bergidik ngeri dan takut, kalau sampai ketahuan mau ditaruh dimana mukannya.
"Tadi disini bu"
"Ya sekarang mana ?".
Abel bisa mendengar percakapan yang ia sangat yakini itu bu puji dan pegawainya, benar-benar Abel bingung dan juga takut, ia takut keluar namun kakinya sudah sangat kesemutan. Dan matanya terus mengawasi Jennie dan Excel siapa tau mereka sudah pergi.
"Aku coba terlfon".
Bu puji mengeluarkan telfon yang ia yakini akan menghubungi Abel, ia lumayan lega karena hp-nya ada di dalam tas dan bukannya di saku celana karena nada panggilan yang cukup keras pasti membuatnya ketahuan.
"Bu ini hp-nya tapi nggak ada pemiliknya".
"Yaudah kamu tanya pengunjung siapa tau ada yang lihat dia, kalau hp-nya ada berarti orangnya juga masih ada disini".
Pegawai bu puji yang berjumlah 3 orang tersebut semua ia kerahkan mencari Abel, hingga membuatnya ingin menepuk dahi karena telah membuat bu puji sampai seperti itu, mengingat Abel adalah anaknya mama Dina yang merupakan teman arisan pasti membuat bu puji cukup khawatir kalau ia hilang padahal usianya sudah 20 tahun lebih.
Abel melihat ada salah seorang pegawai bu puji yang mendekat ke arah Jennie dan Excel membuatnya takut kalau-kalau pegawai itu bertanya tentang keberadaanya pada Excel, ia takut Excel mengetahui kalau ia ada di butik ini juga.
"Permisi tuan apa anda melihat seorang gadis tingginya segini cantik, rambutnya panjang dan dia tadi pakai kaos warna ungu sama celana jeans panjang".
__ADS_1
Abel melihat ke bajunya memang itulah yang digambarkan oleh pegawai bu puji dan ia bersyukur karena pegawai itu tak mengatakan namanya. kalau tidak tamat riwayatnya.
"Tidak kami tidak melihat wanita dengan ciri-ciri seperti itu".
"Oh ya kami sudah selesai memilih bungkus yang ini ya juga ini".
Abel tetap mengamati bu puji dan Jennie Excel di saat yang bersamaan, ia merasa kalau Jennie dan Excel akan segera pergi dan benar saja kini mereka sedang membayar baju yang mereka pilih, dan saat ia melihat mereka berdua sudah keluar dari butik tersebut membuatnya bernafas lega.
Ia segera beranjak dari jongkoknya sebelum orang lain memegokinya sedang sembunyi dan karena kakinya sudah sangat pegal juga kesemutan, ia jalan agak pincang ke arah bu puji yang masih menyuruh pegawainya untuk mencari.
"Tante". Bu puji menoleh mendapati Abel yang jalan pincang ke arahnya dan ia sangat khawatir.
"Abel kamu tadi kemana aja ? itu kaki kenapa kok jalannya gitu?". Tanya bu puji membuat Abel bingung harus menjawab apa, tidak mungkin juga ia bilang lagi menghindari Excel dan Jennie kan.
"Nggak apa-apa tante ini cuma kesemutan jadi tadi aku keluar dulu". Abel melihat raut muka bu puji nampaknya bu puji percaya dengan alasan yang ia buat.
"Yaudah tadi tante cemas banget lho kamu tante kira ilang".
"Yaudah yang penting kamunya nggak apa-apa tante udah lega sekarang".
Bu puji lalu menyuruh ketiga pegawainya untuk berhenti mencari dan mengambilkan kebaya pesanan Abel. Kebaya yang ia pesan ternyata sudah jadi dan hanya mengepaskan ukuran tubuhnya saja, bahkan model yang ia inginkan juga sudah sesuai.
"Gimana ada yang kurang atau kekendoran bilang aja nanti tante ubah". Abel melihat dirinya di cermin, ia rasa sudah sesuai semua dan akan mengambilnya hari ini, lagi pula ia tak mau berada disini lagi karena takut Excel dan Jennie datang lagi saat ia ada.
"Udah sesuai semua kok tante, aku ambil sekarang aja ya". Bu puji lalu melihat hasil karyanya yang melekat pada tubuh Abel, ia merasa ada jahitan yang kurang pas dan itu hanya bisa dilihat olehnya dan orang lain karena terletak di belakang.
"Kamu ambil sekarang ? Yaudah sebentar ada yang kurang rapi ini". Bu puji lalu mengambil jarum dan benang, ia menjahit kebaya itu saat masih di pakai oleh Abel.Dan saat sudah selesai merapikan bagian yang kurang ia meneliti lagi.
"Kayaknya udah pas dan rapi ya, yaudah kamu bisa ambil hari ini". Abel lalu berjalan ke ruang ganti dan kembali memakai pakaiannya, ia melepas kebaya itu dan memberikan kepada pegawai bu puji agar di lipatkan.
__ADS_1
"Berapa tante ?". Tanyanya namun bu puji mengajaknya ke kasir.
"Abel kasih diskon 10% ya". Abel langsung melihat bu puji, "yaampun tante nggak usah". Ia tak enak hati setelah membuat ribut semua gara-gara mencarinya kini bu puk malah memberinya diskon.
"Udah nggak apa-apa, semoga wisuda kamu lancar dan jangan lupa salam buat mama ya". Pesannya lalu seorang pelanggan menghampiri Bu puji, "tante tinggal ya".
Abel mengeluarkan salah satu kartunya untuk membayar kala bu puji masih berbicara dengan pelanggan yang nampaknya juga akan memesan baju, ia menghampiri bu puji untuk berpamitan karena takut tak sopan jika pergi begitu saja, "tante makasih banyak ya, aku pamit pulang"
"Iya jangan lupa salam buat jeng Dina".
"Iya tante". Setelah itu Abel melangkahkan kaki dan saat ia membuka pintu, ia sangat terkejut karena Excel dan Jennie masih berada di sana, nampaknya mobil Excel mogok. kembali ia menutup pintu kaca tersebut.
Kalau sudah begini yang bisa ia lakukan hanya menunggu sampai mobil Excel di perbaiki tapi itu akan membutuhkan waktu yang lama. Yang ada nanti sore keburu jadi malam apalagi ia sudah berpamitan dengan bu puji pastilah akan merasa aneh jika ia menunggu di dalam tapi kalau sampai keluar sekarang juga yang ada bahaya.
Pundak Abel seperti ada yang menyentuh, ia terkejut dan takut melihat ke belakang hingga menutup matanya rapat-rapat. "Abel katanya mau pulang ? Apa ada yang ketinggalan ?".
Abel membuka matanya, ia mendengar suara bu puji dan bukannya suara Excel ataupun Jennie, dengan nafas lega ia menoleh ke balakang, "iya tante".
Abel menyengir ia bingung harus mengatakan alasan apa yang rasional dan membuat bu puji percaya,"Ayo Abel mikir-mikir". Gumamnya dalam hati.
"Kenapa bel ?". Tanya bu puji lagi.
"Eh itu tante aku rasa ada yang ngikutin aku diam-diam jadi aku takut keluar, bisa nggak ya tante aku pergi tapi nggak lewat pintu ini ?". Tanyanya lalu bu puji nampak berfikir.
"Yaudah kamu lewat belakang aja". Bu puji lalu mengajak Abel melalui pintu belakang di mana di pintu itu bertuliskan 'selain karayawan di larang masuk'.
Saat melaluinya Abel bisa melihat jika di dalam itu ada banyak rancangan bu puji yang belum jadi bahkan ada juga yang masih berupa pola, nampaknya tempat itu adalah tempat bu puji bekerja.
Dan saat melalui pintu terakhir yang menghubungkan butik bu puji dengan jalan ia merasa lega, lagi-lagi ia lolos dari Excel dan Jennie, "makasih banyak ya tante".
__ADS_1
"Iya hati-hati ya pulangnya kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi tante". Abel lalu berpamitan pergi dan menghentikan taxi yang lewat untuk pulang, akhirnya drama petak umpet di butik telah selesai.