
Tepat pukul 05:00 pagi seorang gadis tengah sibuk membereskan dapur yang berantakan akibat semalam dibuat untuk memasak pesanan makanan yang di buat oleh kakak perempuannya.
Dengan bersenandung kecil ia pun mulai bergerak lincah membersihkan perabotan yang kotor. Seperti : panci, piring, gelas, wajan, teplon, juga alat untuk membuat kue.
Ya, gadis itu bernama Miranda Nur biasa di panggil Mira
Seorang gadis berusia 25 tahun, berambut panjang sepunggung, bertubuh tinggi, berbadan sintal, memiliki mata teduh dan berhidung bangir serta memiliki kulit putih khas orang asia..
Disini ia tinggal bersama kakak perempuannya bernama Mayya Sanggita 30 tahun yang kerap di panggil Kak May dan telah menikah dengan seorang pengusaha sukses di bidang property bernama Royan Rahardian 35 tahun. Memiliki 2 oranng anak laki-laki dan perempuan bernama Frans Ayubiya Hardian berumur 10 tahun dan Liliana Putri Hardian berumur 4 tahun.
"Duuhh yang pagi-pagi udah nyanyi-nyanyi kaya orang kesurupan,.Selamat pagi". Sapa kak May dengan tersenyum jahil.
"Issh apaan si. Orang kalem gini kok". Sungut Mira.
"Apa sih, pagi-pagi sudah berantem".
Tanya kak Roy sambil berjalan menuju ruang makan yang
Kebetulan jarak antara dapur dan ruang makan cukup dekat.
Mayya pun tersenyum menghampiri sang suami dan mencium suaminya dengan mesra tanpa tahu malu dan tahu kondisi bahwa disana ada seorang gadis yang tengah meraung-raung dalam hati.
"Cari kamar gih, lanjutin saja lanjut". Cibir Mira dengan memberingut.
Mayya pun hanya tersenyum senang. Sedangkan Roy menaikan sebelah alisnya dan tersenyum miring menggoda sang adik.
Hal itu pun sukses membuat Mira menjadi tambah kesal dan mempercepat pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian semua pekerjaan telah diselesaikan Mira dengan baik. Lalu ia pun membuatkan teh jahe untuk dia sendiri dan kedua kakaknya. Mengingat suhu udara yang selalu sejuk walaupun sudah ada matahari yang muncul.
"Semalam Ayub dan Lili minta di bikinin roti bakar selai kacang, kamu Mira mau kakak bikinin sarapan apa ?". Tanya kak May dengan lembut.
"Apa saja lah kak, aku mah bebas". Ucap mira dengan santai.
"Kamu mas, mau aku bikinin sarapan apa ?". Tanya Maya kepada sang suami dengan bergelayut manja
"Makan kamu saja lebih enak". Goda kak Roy dengan membelai pipi sang istri. Hal itu pun sukses membuat maya tersipu malu dan mencubit kecil perut sang suami.
"Ya sudah aku mau buat sarapan dulu, tolong ya sayang bangunkan Ayub dan Lili untuk sekolah nanti". Ucap Maya sambil berlalu dan di balasi anggukan oleh sang suami.
Saat hendak pergi Roy pun melihat sekilas Mira yang tengah melamun menatap udara kosong membuat Roy mengurungkan niatnya lalu menatap Mira dengan intens.
Merasa di perhatikan Mira pun menoleh kedepan dan menemukan mata tajam sang kakak ipar yang tengah melihatnya secara intens.
Roy pun menarik nafasnya lalu bertanya "Ada masalah apa, Coba ceritakan ?". Tanya Roy dengan memperhatikan Mira.
"Tidak kak, hanya sedikit lelah saja". Ucap Mira dengan lembut.
"Jika ada ceritakan saja Mira. Kamu sudah ku anggap sebagai adik kandungku. Jangan pernah memendamnya sendiri". Jelas Roy dengan serius.
"Terima kasih kak". Ucap Mira dengan lembut.
"Bilang saja jika sudah tidak sanggup. Kakak akan membantumu dengan cara kakak". Ucap Roy dengan sungguh-sunggu lalu pergi menuju kamar kedua anaknya.
Mira pun tersenyum dan mengerti. Seorang Royan Rahardian tentu tahu tanpa harus bercerita pun dia sudah tahu apa yang tengah terjadi, apa yang tengah dirasakan juga apa yang sudah dilalui orang-orang terdekatnya.
Saat jam sarapan pagi pukul 7:00 pagi mereka pun sudah siap dengan seragam rapihnya masing-masing. Ayub dan Lili dengan seragam sekolahnya, kak Roy dengan pakaian kantornya, kak may dengan setelan overal yang menambah kesan keibuan, dan mira dengan baju casualnya yang terkesan sederhana dengan riasan natural juga rambut kuncir kuda.
"Kak Mira". Sahut Lili dengan mulut penuh.
"Tante sayang, kan tante Mira adiknya mamah". Ucap Mira membetulkan.
"Noo!! aku maunya kakak. tante itu tidak cocok buat kak Mira". Bantah Lili dengan mata bulatnya.
"Ooo keey kakak juga boleh juga". Ucap Mira menyerah.
"Kak Mira nanti anterin Lili kan kesekolah ?". Tanya Lili dengan penuh harap.
"Tentu sayang, apa sih yang nggak buat keponakan kakak". Jawab Mira dengan mencubit pelan pipi sang keponakan dengan gemas.
"Yey asyiikk terimakasih kakak Mira". Ucap Lili senang.
"Sama-sama princess Lili". Ucap Mira dengan senyuman.
"Lili aja nih, aku ngga di anterin tan ?". Tanya Ayub dengan wajah di tekuk.
"Maaf Ayub, tante belum bisa. Tante kan kerja masuk pagi, kalu harus mengantar Ayub. Nanti tante telat". Jelas Mira penuh sesal.
Ayub pun hanya bisa diam dengan wajah kecewa yang kentara. Membuat mira semakin tak enak hati.
"Gimana kalau tante jemput Ayub.pas Ayub pulang les. kebetulan kan tante pulang sore juga jam lima". Tawar Mira dengan lembut.
"Serius tan. oke deh tapi nanti sore aku ngga ada les tan, tapi aku latihan basket. Tante tahu kan tempatnya. Masih tempat biasa ko". Ucap Ayub dengan semangat.
"Iya tahu kok Frans Ayubia". Ucap Mira dengan tersenyum.
"Ya sudah ayok habis kan sarapannya sayang". Tegur Maya dengan lembut.
"Siap captain !!". Ucap mereka dengan kompak.
Setelah sarapan Mira pun pergi mengantar Lili menggunakan motor beat merah miliknya. Sementara kak Royan mengantar Ayub kesekolah bersama kak May yang juga akan menggunjungi toko kuenya yang berada di pusat kota.
Saat setelah Miran dan Lili saling melambai. Mira pun melajukan sepeda motornya lagi. Dan setelah di tengah perjalanan. Motor itu tiba-tiba mogok dan mengalami ban bocor.
__ADS_1
"Ya tuhan, kenapa harus mogok dan pecah ban". Keluh Mira yang merasa hari ini adalah hari tersialnya.
Ia pun lalu mendorong motornya dengan kuat dan berjalan beberapa meter guna mencari bengkel motor yang dekat.
Setelah menemukan sebuah bengkel yang cukup besar dan apik. Mira pun lalu menjalankan motornya kearah bengkel itu.
"Mas, bisa cek motor saya engga. Tadi di tengah jalan mogoh terus pecah ban juga". Ucap Mira dengan sopan kepada pegawai bengkel yang kala itu tengah membetulkan ban motor lain.
"Ohhh, iya iya neng. Sebentar ya saya panggilkan teman saya yang lain". Ucap pegawai bengkel itu.
"Oiii... Arif. Sini ada pelanggan nih. Aku masih repot soalnya !". Ucap si pegawai itu dengan lantang memanggil seseorang yang bernama Arif itu.
Seseorang yang dipanggil Arif itu pun langsung berlsri mendekat seraga mengacungkan ibu jarinya kepada pegawai yang memanggilnya tadi.
"Iya, kenapa neng motornya ?". Tanya Arif sopan.
"Mogok mas, terus bannya juga pecah kayanya". Ucap Mira menjelaskan.
"Sebentar ya saya cek dulu". Ucap Arif dan langsung mengotak atiknya.
"Waah ban luar dan ban dalamnya harus di ganti neng. Olinya juga harus di ganti, kampas rem dan kalbulatornya juga sudah parah. Lama engga di servis ys neng". Ucap Arif menjelaskan dan sekaligus bertanya.
"Iya sih, sudah lama engga aku perhatikan". Ucap Mira lirih.
"Bakalan lama engga ya mas. Soalnya aku mau kerja juga". Ucap Mira memastikan.
"Kemungkinan lama neng. Bengkel juga lagi ramai soalnya. Nanti sore apa besok si eneng balik lagi saja kesini". Ucap Arif memberi saran.
"Iya udah engga apa Mas. Biar nanti aku naik busway saja. Emm..Disini tempat halte bus dimana ya mas ?". Tanya Mira kepada Arif.
"Waduh rada jauh neng. Lurus saja, terus belok kanan, lewatin apartemen MAHARS terus luruus nanti kelihatan itu tempat haltenya". Ucap Arif memberi tahu.
"Ohh, ya udah makadih ya mas". Ucap Mira berterima kasih lalu berjalan dengan cepat setengah berlari menuju halte bus.
Saat Mira tengah berjalan menuju tempat kendaraan umum sehabis mengantar Lili kesekolah dan dari bengkel motor. ia seperti mendengar suara seseorang menangis tersedu-sedu diantara gang sempit.
Antara penasaran dan takut Mira pun bimbang untuk memeriksanya atau pergi. Menginat jam sudah menunjukan angka delapan lebih yang artinya ia sudah sangat terlambat untuk masuk kerja.
HIKKS HIIKSSS HHHH HIKSA HIKSSS
"Ya tuhan. Apa mungkin di pagi hari ada hantu". Cicit Mira dengan sedikit takut.
Suara tangisannya pun semakin pilu. Membuat Mira mau tak mau harus mencari sumber suara.
TAP TAP TAP TAP
Suara sepatu kerja Mira berbunyi di antara gang-gang mencari sumber suara tangis yang membuatnya penasaran.
Rambutnya berantakan dan kotor seperti dilumuri tepung dan berbau busuk menyengat. Baju yang di pakai pun koyak tak berbentuk. Kedua lututnya berdarah dan kedua pergelangan tangannya pun lebam.
Sungguh keadaan yang memprihatinkan sekali. Manusia mana yang tega berbuat seperti ini kepada seorang perempuan.
Dengan hati-hati Mira pun mencoba mendekat dan memegang bahu sang wanita.
"Maaf mba, non, kak, dek emmmm kamuu...".
"JANGAANN!! HIIKKS hikks hikks aku mohon jangan lakukan ini. Aku salah apa sama kalian". Racau sang wanita dengan ketakutan.
Mira pun di buat bingung karena sang wanita mulai histeris.
"Tidak, saya bukan orang jahat. Sungguh, justru saya kesini karena mendengar nona menangis". Ucap Mira menjelaskan.
Perlahan tangis histerisnya pun mulai mereda dan memandang Mira balik.
Betapa terkejutnya Mira melihat wajah yang penuh dengan lebam dan sembab itu.
"YA TUHAN NONA. Ada apa dengan wajah mu ?". Tanya Mira dengan rasa terkejunya.
Yang di tanya pun hanya menangis pilu dan memeluk Mira dengan erat seraya mengguman tak jelas.
"Ayo kita pergi dari sini nona, jangan sampai mereka kembali kesini. Ayo nona, mari aku bantu".
Mira pun membantu dengan sekuat tenaga mengingat bahwa yang di tolong berbadan mungil tapi berat ia pun berjalan sambil memapah sang wanita dengan hati-hati.
Sesampainya di jalan menuju taman. Mira pun terus memapah sang wanita menuju bangku taman guna memperbaiki juga mengobati sang wanita.
"Ayo nona bertahan lah. Kita duduk di bangku taman itu biar aku obati luka-lukanya". Ucap Mira dengan nafas yang tersengal-sengal.
Sesampanya di bangku taman yang dekat dengan pohon rindang. Mira pun mendudukan sang wanita dengan hati-hati lalu beranjak untuk mencari obat merah, anti septik, air alkohol, plester, salep lebam dan air mineral yang besar.
Saat mira kembali membawa semua obat-obatan dan juga dua botol besar air mineral , handuk sedang serta satu ember air yang ia minta dari pemilik toko dan satu stel pakaian hangat yang ia dapat dari toko baju seberang jalan taman.
"Mari nona cuci dulu rambut nona". Ucap Mira seraya menuntun sang nona.
Setelah selesai mencuci dan nenggulung dengan handuk kecil mulai lah Mira menyuruh sang nona untuk memakai bju atasan guna menutup baju dalam yang terlihat jelas.
Setelah itu baru mira menyuruh sang nona untuk minum air mineral yang ia beli tadi guna menetralkan perasaan takut sang nona.
"Air putih bagus untuk menetralkan tubuh nona. Setelah ini saya obati luka-luka anda ya". Ucap Mira seraya menyiapkan air untuk membersihkan luka, air alkohol, kapas, obat merah, plester dan perban.
Sang nona pun hanya diam membisu membiarkan Mira melakukan pekerjaannya untuk menolongnya.
"Tahan ya nona, ini sedikit perih". Jelas Mira seraya menempelkan kapas basah yang sudah di beri air alkoho untuk membunuh kuman pada luka.
__ADS_1
"Ssshhh, perih". Ringis sang nona.
Mira pun dengan telaten meniupi luka sang nona, memberi obat merah lalu menutupinya dengan perban dan merekatkannya dengan plester.
"Selesai. Maaf ya jika hasil perbannya kurang bagus heeheee". Ucap Mira dengan tawa tak enaknya.
Sang nona pun memakluminya dan memberikan senyum terimakasih.
"Nama ku Mira nona. Boleh aku tahu nama anda ?". Tanya Mira dengan sopan seraya mengoleskan salep pada pergelangan tangan sang nona yang lebam.
"Ra..Ra Raina Aa..Aghata". Ucap sang nona dengan terbata.
"Rain, boleh kan kalo aku panggil anda nona rain". Tanya Mira dengan lembut.
Yang di tanya pun hanya mengangguk tersenyum menandakan bahwa ia setuju.
"Boleh aaa...aku meminjam ponsel mu?". Tanya nona Rain dengan takut.
"Tentu nona, ini tida aku kunci. Pakai lah". Ucap Mira seraya memberikan ponselnya.
Nona Rain pun mengambil ponsel itu lalu mengetik beberapa digit angka dan menelpon seseorang.
Saat pangglan terangkat nona Rain pun menangis tersedu-sedu dan berkata "Jio tolong aku hiikss hikkss tolong aku cari aku". Ucap nona Rain dengan pilu.
Tak ada suara tak ada jawaban apa pun membuat Mira mengernyit heran.
"Jio...Jangan beri tahu kakak". Ucap nona Rain lalu mematikan telvonnya.
"Sudah ?". Tanya Mira dengan lembut.
yang di tanya hanya mengangguk pelan dan meminum air mineralnya lagi.
"Temani aku sampai Jio datang". Ucap nona Rain dengan sendu.
"Tentu nona". ucap Mira dengan senyuman.
Tak lama sekelompok rombongan mobil mewah pun datang membuat heboh seluruh taman. Dan saat pintu mobil terbuka semua orang di taman di buat menjerit tertahan melihat seorang lelaki bak seorang dewa khayangan.
"Aku benci ini". Desis sang lelaki dengan mempercepat langkahnya.
Dari jauh Mira yang melihat hal itu pun di buat heran dengan tingkah cewek-cewek di taman yang heboh karena beberapa orang pria yang turun dari mobil mewah itu.
"Apa yang terlihat menarik dari mereka. Modal tampang mah biasa". Lirih Mira dengan sepontan dan di balasi senyum dari sang nona.
"Nona anda baik-baik saja". Tanya sang pria yang tadi sempat di puja oleh beberapa wanita ditaman.
"Ehhh". Guman Mira dengan tak sengaja.
"Ji...aku baik-baik saja". Cicit nona Rain
"Ini yang dinamakan baik-baik saja nona...Ini..Luka ini..Lebam ini. Semuanya ?". Tanya Jio memastikan dengan suara tegasnya . Yang di tanya pun hanya menunduk diam.
Jio pun mengalihkan tatapannya kepada Mira, mengedarkan pandangannya dan melihat Mira lagi lalu hendak melangkah menuju Mira. Namun langkahnya terhenti akibat sentuhan dari sang nona.
"Bukan dia Jio. Kumohon, jangan sakiti dia". Pinta sang nona penuh harap.
"Aku tahu". Ucap Jio dengan tenang.
"Rie bawa nona muda pulang". Titah Jio kepada sang maid.
"Baik tuan JI". Ucap Rie dengan patuh lalu membawa sang nona yang terlihat enggan.
"Jio..Ku mohon". Lirih nona Rain yang tak di hiraukan Jio.
Saat mobil yang di tumpangi sang nona dan pelayannya benar-benar menghilang. Jio pun kembali menatap Mira dengan intens. Sedangkan Mira menatap Jio dengan tenang.
Jio pun menghela nafasnya dengan lelah lalu berucap "Dimana anda menemukan nona kami ?".
"Di ujung jalan gang sempit dekat apartemen MAHARS". Ucap Mira dengan tenang.
Melihat ketenangan yang ada pada diri sang wanita membuat Jio yakin bahwa memang ia tidak tahu menahu tentang dirinya dan nonanya. Dia memang bnar-benar menolong. Tetapi masih ada satu hal lagi yang harus di pastikan.
"Terimakasih sudah menolong nona kami. Saya ingin memberikan ini sebagai rasa terimakasih". Ucap Jio dengan sopan seraya mengeluarkan satu lembar kertas yang sudah di bubuhi tanda tangan.
Mira yang masih bingung pun mengambilnya dan membacanya lalu mengernyit seolah tak suka.
"cek ?". Tanya Mira memastikan.
"Yap. Sudah di tanda tangani. Terserah anda ingin menulis berapa nominalnya". Jelas Jio dengan santai.
Mira pun tersenyum maklum lalu mengulurkan kembali kertas cek itu kepada Jio.
"Ambil lah, aku tidak pantas menerimanya". Ucap Mira dengan menunduk. Jio pun hanya diam menatap Mira dengan begitu intens.
Tak kunjung di terima Mira pun menaruhnya di atas bangku taman seraya berkata "Maaf tuan Jio yang terhormat. Saya pamit undur diri. Semoga nona Rain lekas baik-baik saja".
Mira pun pergi dengan tenang menuju halte bus dan membuat Jio dan ke sepuluh orang pria itu terdiam di tempat. Hal itu pun tak luput dari pandanga Jio.
"Menarik". Lirih Jio dengan senyum misteriusnya.
Dilain tempat Mira yang tengah menunggu di halte pun di buat ketar ketir mengingat hukuman apa yang akan di berikan oleh madam Ghina kepadanya.
"Mati aku tuhaan. Kenapa busnya lama sekali". Lirih Mira dengan rasa khawatir.
__ADS_1