
Sementara di rumah sakit tempat Raina dan Mira dirawat. Kondisi dari Raina sudah mulai membaik hanya kakinya yang belum diperbolehkan untuk berjalan sementara.
Sedangkan kondisi Mira masih tengah berjuang melewati masa keritis. Akibat luka tembak yang hampir saja merenggut nyawanya.
"Selamat siang Nona Raina". Sapa sang suster dengan ramah.
"Siang sus". Sahut Raina dengan senyum ramah.
"Saya suster Nina yang ditugaskan untuk merawat nona menggantikan sementara tugas dari mba Riena". Jelas suster Nina kepada Raina.
"Memangnya kemana Riena ?". Tanya Raina dengan raut heran.
"Saya tidak tahu nona. Dokter Jordan hanya menyuruh saya untuk mengurus sementara nona". Ucap suster Nina.
Mendengar jawaban dari sang suster yang tidak mengetahui kemana Riena berada membuat Raina menjadi sedikit murung dan sedih.
"Nona, saatnya anda makan siang dan meminum obat. Sudah saya siapkan sebelun makan anda harus meminum obat ini dulu ya".
Jelas sang suster memberi tahu seraya menyerahkan obat berwana hijau muda kepada Raina.
Raina pun menerimanya dengaan rasa malas dan bosan.
"Anda harus meminum obat itu sebelum makan. Disarankan dikunyah, tapi kalao nona tidak enak dengan rasanya bisa dibantu dengan air. Tunggu lima belas menit. Baru anda boleh makan nona".
Jelas sang suster dengan penuh kelembutan dan pengertian kepada Raina. Membuat Raina langsung meminum obatnya menggunakan air putih untuk mendorong obatnya masuk.
"Selesai makan siang nanti, kalau sudah ada lima belas menit nona lanjut minum obat yang sudah saya siapkan di piring kecil ini ya nona biar lekas sembuh". Ucap sang suster dengan tersenyum lembut.
"Iya sus". Lirih Raina.
Setelah lima belas menit Raina pun memulai makan siangnya dengan tak bersemangat. Terlihat dari raut wajah Raina yang menandakan bahwa makanan yang tengah ia makan sangat kurang dari segi rasa. Sedikit hambar seperti bubur tim bayi.
Saat tengah menikmati acara makan siang yang hambar di temani suster Nina. Secara tiba-tiba pintu kamar Raina seperti ada yang membuka tanpa mengetuk dahulu pintunya. Membuat Raina dan suster Nina menjadi was-was. Suster Nina yang diam-diam membawa senjata api di balik celana kerjanya mulai bersiap-siap untuk melindungi sang nona dari hal-hal yang tak terduganya.
Dan pada saat pintu terbuka secara bersamaan antara suster Nina dan Darko pengawal pribadi tuan Jonathan pun saling menodongkan pistol satu sama lain dengan tatapan membunuhnya. Membuat Raina merasa terkejut atas tindakan dari suster yang tengah merawatnya itu.
"Relax Nina, dia adalah pengawal pribadiku Darko". Ucap Jonathan di balik punggung Darko.
"Tuan besar".
Ucap Nina dengan hormat lalu menurunkan senjata apinya perlahan diikuti dengan Darko yang juga menurunkan senjata apinya.
"Ayah". Lirih Raina masih dengan raut terkejutnya.
"Ya Rain".
Sahut Jonathan seraya berjalan menuju tempat tidur Raina dan duduk di kursi dekat tempat tidur Raina.
Raina yang masih bingung sekaligus syok itu pun hanya melihat kearah suster Nina dan Jonathan secara bergantian.
"Aku tahu apa yang ada didalam fikiranmu nak". Ucap Jonathan menebak pertsnyaan yang ada di dalam fikiran sang anak dari raut wajahnya.
Raina pun hanya diam menunduk merasa tak enak hati atas sikap dari raut wajahnya.
"Aku sengaja menempatkan Nina untuk menyamar menjadi suster di rumah sakit ini. Dia aku tugaskan untuk menjaga dan melindungimu menggantikan sementara tugas dari Rie".
Ucap Jonathan kepada putrinya atas keberadaan dari suster Nina yang ternyata masih bawahan dari sang ayah.
"Dimana Riena yah. Dan kak Yash kenapa belum menjengukku ?".Tanya Raina dengan penasaran.
Jonathan pun mulai tersenyum ringan menanggapi pertanyaan dari sang anak.
"Yash, Riena dan Jio sedang ada tugas penting sayang. Bersabarlah besok pagi jika tugasnya sudah selesai mereka pasti akan kembali". Jelas Jonatan memberi tahu.
Raina pun mengangguk singat menanggapi penjelasan dari sang ayah tentang perginya Riena dan Yash.
"Kakakmu mengirimkan salam dan permohonan maaf kepadamu nak. Tugasnya terlalu berat, doakan saja supaya mereka bisa menyelesaikannya dengan baik". Ucap Jonnathan dengan lembut.
"Iya ayah". Lirih Raina dengan nada canggung.
Jonathan yang melihat sikap canggung dari Raina putri kandungnya sendiri itu pun memakluminya dengan baik. Karena sudah bukan rahasia lagi jika Raina memang kurang welcome terhadap aysh kandungnya sendiri.
Sejak ia lahir atas fitnah dan kesalah pahaman yang dilakukan seseorang kepada mendiang ibunya membuat Raina lahir dan tumbuh tanpa kasih sayang dari ayahnya.
Dulu Jonathan sempat mengacuhkan Raina dan tidak mengakuinya. Menganggap Raina tidak pernah ada di rumah besar itu.
Saat Raina kecil menangis meminta pelukan dari ayahnya. Jonathan menghindar dan memilih mendekati Yash yang tengah bermain bola. Saat Raina bertanya kepada ibunya mengapa ayahnya tidak perduli kepadanya sang ibu pun hanya bisa menangis dan memeluknya dengan erat.
Itu terjadi selama tujuh belas tahun. Diusianya yang ke sepuluh tepat wafatnya sang ibu. Raina kecil pun berusaha untuk tidak lagi mengharapkan pelukan dari sang ayah, sapaan dari sang ayah dan perhatian dari sang ayah. Yang Raina lakukan hanya menangis merasa sedih dan sendirian.
Meskipun selama ia berada di rumah besar itu hidupnya memang penuh materi, serba dilayani dan berkecukupan. Namun kurangnya perhatian dari sang ayah lah yang membuat Raina selalu murung dan menjauh dari sang ayah.
Makan malam bersama keluarga Raina ikuti saat usianya tujuh belas tahun. Itu pun karna paksaan Yash sang kaka tirinya.
Yash yang awalnya tidak begitu memperdulikan Raina menjadi memperdulikannya saat Yash sering menemukan Raina menangis di tengah malam sendirian, Murung di taman rumah sendirian, dan merasa senang saat melihat Raina bermain hujan.
Pertama kali Yash mendekati Raina dan mulai berinteraksi kepadanya. Pada saat turun hujan di sore hari. Saat itu Raina kecil yang mulai menangis di bangku taman rumah menjadi tersenyum saat hujan turun dan mulai bermain-main dengan riang.
Hal itu membuat Yash metasa aneh dan penasaran akan sikat Raina. Ia pun membawa payung dan mendekat kearah Raina yang tengah tersenyum di bawah guyuran hujan.
"Apa yang membuat mu sesenang itu terhadap hujan ?". Tanya Yash kecil kepada Raina kecil.
"Rain itu namaku dan Rain itu artinya hujan. Hujan adalah teman ku. Sedihku hilang jika bersama hujan. Ayo ka cobalah bermain hujan dengan ku ayoo kak ayoo".
Ucap Raina seraya menarik-narik tangan Yash dengan tak sabaran. Membuat Yash merasa kesal dan langsung mengibaskan tangannya dengan kesal.
"TIDAK MAU!!!". Bentak Yash kecil kepada Raina kecil.
"Bermain lah sendiri. Dasar anak aneh". Ucap Yash kecil mencibir.
Namun Raina kecil tak mau menyerah. Ia ingin kakaknya yang membenci hujan merasakan langsung bagaimana hujan itu jika diajak berteman dengan baik. Raina pun sekali lagi menarik sang kakak dengan kuat membuat Yash hampir saja tersungkur dan menjatuhkan payung yang ia bawa untuk memayunginya.
"KAU....!". Seru Yash kecil dengan Rasa kesal.
Namun amarah dan kesalnya seketika menguap saat melihat Raina kecil tersenyum dari jarak dekat ditengah hujan.
Senyuman dan keceriaan yang Raina perlihatkan membuat Yash merasa luluh dan iba terhadap Raina. Gadis kecil itu sungguh tegar, sungguh kuat dan sangat ceria. Yash merasa kagum dan simpatik terhadapnya.
Hal itu pun menjadi titik dimana akrabnya Yash dan Raina. Dari situ mereka menjadi dekat satu sama lain. Dan tanpa Yash sadari semua kedekatan itu menjadi perasangka cinta bagi Yash terhadap Raina adik tiri satu ayahnya.
Dan Jonathan pun memaklumi sikap canggung dari anak bungsunya itu. Sudah berulang kali Jonathan mencoba mendekati Raina. Mengajaknya untuk berinteraksi antara ayah dan anak pada umumnya. Namun selalu Raina tolak dan hindari.
Penyesalan Jonathan pun kembali hadir atas ketidak adilanya terhadap putri satu-satunya itu. Atas perilakunya yang selalu mematahkan hati putrinya dan atas pikirannya yang menganggap bahwa putrinya adalah anak dari pria lain.
"Ada yang kau inginkan nak ?". Tanya Jonathan kepada Raina setelah memperhatikan raut dari putrinya itu.
Raina pun sejujurnya ingin sesuatu namun ia masih merasa canggung dan takut terhadap ayahnya.
"Katakan saja nak". Ucap Jonathan dengan tersenyum lembut.
"Aku ingin melihat keadaan Mira secara langsung:. Ucap Raina dengan tertunduk.
"Apa boleh ?". Tanya Raina lagi dengan raut tak yakin.
__ADS_1
"Tentu boleh, biarkan ayah yang menggendongmu ke kursi roda". Ucap Jonathan dengan menunggu persetujuan dari sang anak.
Raina pun diam sesaat merasa ragu mendengar tawaran dari sang ayah. Karena seumur hidupnya selain mencium tangan sang ayah ketika hendak pergi tak ada lagi kontak fisik lain yang raina lakukan bersama sang ayah sedari kecil. Mencium punggung tangan pun ia lakukan setelah tujuh belas tahun hidupnya. Setelah ayahnya mulai memperhatikannya dan mencoba untuk mendekat padanya.
"Mari nona Raina, saya sudah membawakan kursi rodanya". Ucap suster Nina membuyarkan lamunan Raina.
Merasa tak enak dan tak ingin membuat ayahnya merasa sedih. Raina pun mulai mengangguk mensetujui tawaran dari sang ayah.
Jonathan yang melihat persetujuan dari sang putri tersenyum haru dan mulai melangkah mendekati sang anak untuk menggendongnya dan menempatkannya di kursi roda.
Saat Raina sudah berada di gendongan depan sang ayah. Jonathan mu tak kuasa menahan haru dan sesalnya.
"Putri ku, maaf kan atas segala kesalahan ayah di masa lalu. Ayah yang tak pernah menggendong mu sewaktu kau bayi. Tak pernah memperhatikanmu dan tak selalu ada untuk mu. Maafkan ayah naak maaf". Batin Jonathan merasa pilu dan bersalah.
Saat Raina sudah berada di kursi rodanya dan melihat kewajah sang ayah. Raina pun merasa sedikit tertegun di tempat melihat air muka sang ayah yang tengah menahan sedihnya.
"Biarkan aku yang mendorongnya. Aku akan pergi menengok Mira berdua dengan putriku". Ucap Jonathan kepada suster Nina dan para pengawalnya.
Darko yang melihat kode dari sang tuan besarnya pun mengangguk hormat menandakan bahwa ia tahu apa yang dimaksud tuan besarnya.
Jonathan pun mulai mendorong kursi roda putrinya dan berjalan menuju ruang beogenfil tempat dimana Mira berada.
Saat berada di luar ruangan beogenfil tepat di depan pintu ruangan yang Mira tempati. Ternyata suasananya sangat sepi dan tidak ada satu pun yang menjaganya. Hal ini membuat Jonathan merasa heran dan sedikit kesal.
"Bagaimana bisa pasien dengan keadaan keritis tak ada satupun yang menjaga. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya. Aku tidak ingin putriku merasa sedih karena rasa bersalahnya. Bagaimana pun caranya gadis yang bernama Miranda itu harus tetap hidup". Batin Jonathan.
"Sepi sekali". Lirih Raina.
Jonathan pun membuka pintu ruangan dengan hati-hati dan mendorong kursi roda Raina dengan perlahan setelah pintu terbuka lalu menutupnya kembali setelah merrka berada di dalam ruangan.
"Benarkan, tidak ada yang menjaga. Bahkan suster pun tak ada. Benar-benar rumah sakit ini". Batin Jonathan merasa kesal.
Jonathan pun mulai mendorong lagi kursi roda Raina mendekati sisi ranjang pasien milik Miranda. Terlihat wajah pucat Mira yang tengah terbaring dengan alat bantu di samping kanan kirinya.
Raina pun mulai mendekat dan menyentuh jari tangan Mira dengan hati-hati. Dirasakannya rasa dingin pada tangan pucat Mira.
"Telapak tangannya dingin sekali ayah, apa dia benar-benar tidak apa-apa ?".
Tanya Raina sedikit cemas seraya menggenggam tangan Mira dengan erat guna menyalurkan hawa hangat pada telapak tangan Mira.
"Informasi yang ayah terima untuk saat ini keadaanya masih keritis nak. Berdoa saja supaya Mira bisa melewati masa keritisnya". Ucap Jonathan memberi tahu putrinya mengenai kondisi Mira.
Raina pun mulai berkaca-kaca mendengar informasi dari sang ayah tentang keadaan dari Mira.
"Lagi-lagi dia menolongku ayah. Dia yang tak tahu siapa dan dari mana. Sekali lagi menolongku dan bahkan luka temvak yang menyebabkannya keritis itu juga karena menolongku". Ucap Raina seraya menitihkan air mata.
"Aku berhutang nyawa padanya sebanyak dua kali. Ayah, aku tidak ingin dia kehilangan hidupnya karna aku". Ucap Raina dengan tangis pilu.
"Sssstttt Raina, jangan menangis jangan bersedih seperti ini. Dengarkan ayah nak". Ucap jonathan menenangkan sang anak seraya membawanya untuk menatap jonathan.
"Ini mungkin sudah takdir dari tuhan. Takdirnya untuk bertemu dengan mu dan menjadi penyelamatmu. Mira itu gadis yang kuat sayang, insting ayah sangat kuat tentang Mira. Percayalah dia pasti akan melewati masa keritisnya. Sudah jangan menangis lagi ya". Ucap Jonathan menenangkan sang anak dan memeluknya dengan erat.
"Kenapa hidup ku selalu saja membuat orang lain celaka. Kenapa aku selalu di benci. Dan kenapa takdir ku selalu menyakitkan". Lirih Raina dengan pilu.
Jonathan yang mendengar kata-kata sang anak pun merasa sangat perih dan semakin bersalah. Hidup putri satu-satunya menjadi seperti ini karna kesalahannya.
"Apa ini semua karma dari ibuku untuk ku". Lirih Raina di dalam pelukan sang ayah.
Mendengar perkataan sang anak. Jonathan pun seketika melepas pelukan eratnya dan langsung memandang sang putri dengan raut penasaran.
"Apa maksudmu nak, ?". Tanya Jonathan kepada sang putri.
"Helena bilang jika aku adalah anak haram. Ibu ku telah berbuat curang kepada ibu kak Yash sehingga membuatnya meninggal". Ucap Raina dengan nada sedih.
"Ayah katakan pada ku. Apa yang dibicarakan Helena itu benar. Apa ibu ku sejahat itu. Sebab yang aku lihat, ibu adalah wanita lembut wanita yang santun dan murah senyum. Apa benar aku adalah anak haram ?".
"Itu semua tidak benar Raina. Ayah tahu betul ibu mu tidak seperti yang Helena katakan". Ucap Jonathan dengan lembut.
"Tetapi Helena tahu itu dari mama Yasmine yah. Tidak mungkin kan kalau mama Yasmine berbohong". Ucap Raina melepas pelukan sang ayah.
Jonathan pun mengusap wajahnya dengan lelah dan memandang Raina yang tengah menangis dalam diam.
"Apa yang sudah kau bicarakan Yasmine".
Batin Jonathan merasa kesal sekaligus marah. Istri ketiganya itu memang benar-benar pembuat masalah.
"Percayalah nak, apa yang dikatakan Helena dan mama mu itu salah. Mereka hanya melihat dari sebelah sisi saja. Ayah yang paling tahu bagaimana ibumu". Ucap Jonathan mencoba membuat putrinya percaya dengan perkataanya.
"Baik lah, ayah akan membwritahukan mu tentang kisah ayah, ibu Yash dan ibu mu. Tetapi tidak disini. Mira masih dalam kondisi keritis. Kita tidak boleh berlama-lama disini". Jelas Jonathan memberi pengertian.
"Kita bicarakan ini di ruang rawat mu. Ok". Ucap Jonathan memberi penawaran. Dan di balasi anggukan setuju dari Raina.
Sebelum pergi, Raina pun menyempatkan diri untuk menggengnggam kembali tangan Mira dan berucap.
"Berjuang lah Mira, Aku akan selalu mendoakan mu. Terimakasih untuk pertolonganmu padaku. Aku pergi dulu, besok aku akan kembali menjengukmu. Aku harap kau bisa melewati masa keritismu".
Setelah mengucapkan kata-kata perhatian untuk Mira. Raina pun kembali ke ruang rawatnya bersama sang ayah.
Dilam ruangan itu hanya ada Jonathan yang tengah duduk di kursi samping dekat dengan ranjang pasien dan Raina yang tengah duduk pada kursi roda tak jauh dari Jonathan duduk. Raina menunggu dengan penasaran akan cerita ibunya itu.
Jonathan pun mengambil sebuah foto dari dalam dompet kulitnya itu dan memberikannya kepada Raina untuk dilihat.
Raina pun menerima selembar foto ukuran sedang itu dengan raut bingung. Dan setelah ia lihat ternyata itu foto muda ibunya, ayahnya dan ibunya Yash.
"Kau pasti tahu siapa mereka". Ucap Jonathan dengan tersenyum Membuat Raina pun ikut tersenyum juga.
"Itu foto kami dua puluh tahun lalu saat masih di bangku kuliah. Ibu mu adalah sahabat dari Cinthiyana. Ibunya Yash". Jelas Jonathan kepada sang putri.
Raina pun sedikit terkejut mendengar fakta bahwa ibunya dan ibu kak Yash adalah sahabat dekat.
"Sejujurnya ayah lebih dulu menyukai ibumu. Tetapi karena perbedaan keyakinan dan kasta membuat hubungan ayah dan ibumu renggang". Ucap Jonathan dengan menerawang mengingat masa lalunya bersama Rianthi.
"Dan lucunya kedua orang tua ayah dan kedua orang tua dari ibunya Yash menjodohkan ayah dengan ibunya Yash. Sungguh percintaan yang rumit bukan". Ucsp Jonathan dengan kekehan diakhir kalimatnya.
Raina yang sedari tadi mendengarkan cerita sang ayah pun tersenyum membenarkan perkataan sang ayah tentang kisah percintaanya.
"Aku dan Cinthiyana saat itu tidak bisa melawan bahkan menolak perjodohan yang di lakukan oleh kedua orangtua masing-masing. Karena itu ayah menjalani hubungan diam-diam dengan ibumu dari kedua orang tua ayah di bantu oleh Cinthiyana". Ucap Jonathan dengan tersenyum lucu.
"Ayah dan ibunya Yash kala itu sering sekali ribut. Seperti kucing dan anjing. Cinthiyana itu sangat galak, cerewet dan tidak mau kalah dengan ayah. Sikapnya sedikit tomboy dan banyak makan". Celoteh sang ayah dengan tersenyum lucu mengingat kejadian di masa lampau.
"Sementara ibu mu yang anggun dan cerdas sangat pas bagi ayah yang kala itu terkenal badboy. Kata orang-orang sih". Ucap Jonathan.
Raina pun tersenyum mendengar bahwa sang ayah dulunya adalah seorang badboy. Karna yang Raina lihat saat ini ayahnya penuh wibawa dan cool. Jauh dari apa yang dikatakan oleh ayahnya tadi. Seorang badboy.
"Ibu mu sangat susah di dapat kala itu. Dia seperti burung merpati yang sususah-susah gampang untuk ayah dekati. Tetapi berkat kegigihan ayah akhirnya ibu mu luluh pada ayah".
"Perjodohan ayah dengan Cinthiyana dan hubungan ayah denga Rianthi pun masih berlanjut sampai ayah dan Cinthiya bertunangan. Namun sayang, kedua orang tua ayah mengetahui hubungan ayah dengan ibumu. Mereka pun mencoba untuk menjauhkan ayah dengan ibumu. Dan berhasil, ibu mu menghilang bak ditelan bumi".
"Ayah sangat frustasi kala itu. Mencari dan terus mencari ibumu dimana pun ia berada. Sulit pada waktu itu. Mengingat ayah masih belum bisa mandiri. Dan dari situ ayah bertekad untuk bisa melebihi dari kedua orang tua ayah. Lima tahun ayah berjuang untuk membangun usaha sendiri dan bekerja dengan giat serta mengejar gelar sarjana denga cepat. Agar ayah dapat mandiri dan bisa mencari ibumu dengan bebas".
"Tetapi pada saat itu ayah dari Cinthiyana terkena serangan jantung. Pada saat-saat terakhirnya ia meminta ayah untuk menikahi Cinthiyana di rumah sakit itu. Ayah tidak kuasa untuk menolak dan akhirnya pernikahan itu pun terjadi dengan sederhana didalam ruang rawat kakekmu. Dan setelah ayah selesai membaca janji suci, kakekmu pun wafat".
"Satu bulan kemudian ayah dan ibunya Yash menggelar pesta pernikahan. Dan pada saat itu ibumu datang dengan laki-laki lain ia mengatskan bahwa lelaki itu adalah tunangannya. Hati mana yang tak hancur nak, mendengar hal itu. Sejatinya aku dan ibumu sama-sama hancur kala itu".
__ADS_1
"Dan ayah pun mencoba untuk ikhlas menerima jalan takdir yang diberikan ayah. Ayah mencoba untuk mencintai ibunya Yash. Ayah mencoba untuk membuka hati. Dan dengan kesabaran hati juga semangat dari ibunya Yash, ayah dapat mencintainya. Setelah tiga tahun kemudian, lahirlah kakakmu Yash sebagai putra pertama ayah".
"Namun takdir seolah tengah mempermainkan ayah. Beberapa bulan setelah kelahiran Yash Cinthiya difonis oleh dokter terkena kanker rahim. Usianya pun sudah tidak lama lagi. Dan pada saat itu Cinthiya meminta ayah untuk mencari ibumu lagi".
"Cinthiyana bilang jika dia sangat ikhlas jika yang menggantikannya sebagai ibu sambung Yash adalah ibu mu. Ayah saat itu menolak karena ayah sudah sangat mencintai Cinthiyana. Lagi pula ibu mu sudah memiliki tunangan dan ayah ridak berani untuk mengusik kebahagiaan ibu mu". Jelas Jonathan dengan raut sedihnya.
"Lalu bagaimana bisa ayah bersama dengan ibu lagi ?". Tanya Raina dengan penasaran.
"Itu karena campur tangan dari Cinthiya. Dia yang kembali mempersatukan kami disaat-saat terakhirnya. Ibumu yang sangat menyayangi ibu Yash tidak kuasa untuk menolak permintaan terakhirnya. Dan dengan cara yang sama di depan Cinthiyana di rumah sakit itu ayah mengucap janji untuk menikahi ibumu tanpa persetujuan dari kedua orang tua ayah".
"Kau tahu nak, menjalani hubungan tanpa restu dari orang tua itu sangat sulit dan rumit. Ibu mu banyak tersakiti oleh kedua orang tua ayah. Tapi dengan begitu ibu mu tetap sabar dan merawat Yash dengan penuh kasih sayang".
"Tiga tahun berlalu kami jalani dengan penuh rintangan. Dan kedua orang tua ayah masih berusaha untuk tetap memisahkan ku dengan ibumu. Ada satu kejadian dimana ibumu hampir saja tiada karna kedua orang tua ayah yang menyewa suruhan untuk memisahkannya denganku. Ibumu mengalami kecelakaan mobil dan hampir merenggut nyawanya". Ucap Jonathan dengan raut berkaca-kaca.
Raina pun membekap mulutnya secara tiba-tiba merasa syok dengan apa yang ayahnya ceritakan tentang ubunya.
"Dia hampir saja kehilangan banyak darah. Ayah sangat kebingungan mencari donor darah yang bergolongan O. Semua sudah di rencanakan oleh kedua orang tua ayah. Mereka selalu mencegah ayah untuk bisa mendapatkan golongan darah itu melalui ancaman tak terbaca kepada orang-orang yang memiliki golongan darah O yang ayah dapatkan. Ada yang menghilang, ada yang pergi begitu saja dan ada yang tiba-tiba terluka". Lanjut Yash memulai ceritanya lagi.
"Dikala putus asanya ayah entah bagaimana caranya Yasmine teman kecil ayah datang menemui ayah dirumah sakit itu bersama kedua orang tua ayah. Dia memberi tahu bahwa golongan darahnya sama dengan golongan darah ibumu. Namun Yasmine memberikan satu syarat kepada ayah". Ucap Jonathan senum sinis mengingat perkataan Yasmine kala itu.
"Apa syaratnya ayah ?". Tanya Raina dengan penasaran.
"Ayah harus menikahinya secara syah setelah Yasmine mendonorkan darahnya kepada ibumu". Ucap Jonahan seraya melihat kedalam mata sang anak.
Raina pun lagi-lagi merasa terkejut akan kisah hidup dari ibunya yang sudah dipastikan penuh dengan kesedihan.
"Saat itu ayah menolak mentah-mentah tawaran dari mama tirimu itu. Ayah lagi-lagi mencoba untuk berusaha sendiri mencara pendonor darah. Namun kala itu ibumu sudah sangat keritis harus segera ditangani dan mendapatkan donor darah sesegera mungkin. Akhirnya dengan berat hati demi menyelamatkan hidup ibu mu. Ayah menerima tawaran dari Yasmine untuk menikahinya secara syah". Lanjut Jonathan dengan rasa sedih sekaligus sesal yang mendalam.
"Kau tahu nak, pernikahan ayah dan ibumu hanya pernikahan siri. Karena kedua orang tua ayah tidak mensetujui hubungan kami. Sedangkan ibu hanyalah anak yang tumbuh dari panti asuhan. Kedua orang tua ibumu sudah meninggal akibat kecelakaan mobil saat ibumu masih bayi. Dan beruntungnya ibumu selamat dari kecelakaan itu lalu ibumu diasuh oleh seorang yang mengurus panti asuhan". Ucap Jonathan memberi tahu satu informasi lagi tentang ibunya.
"Sekarang aku baru mengerti mengapa kakek dan nenek tidak begitu menyukaiku. Sebab aku anak dari seseorang yang mereka tak sukai". Lirih Raina dengan raut sedihnya.
"Lalu bagaimana dengan ibuku yah. Bagaimana reaksinya saat tahu bahwa ayah menikah lagi dengan mama Yasmine ?". Tanya Raina kepada sang ayah.
"Ibu mu hanya menangis di pelukan ayah. Bahkan ia menyuruh ayah untuk meninggalkannya dan hidup bahagia bersama Yasmine. Tentu ayah menolak. Karena ayah sangat amat mencintai ibu mu dan tidak bisa berpisah darinya. Maka dengan tekad yang kuat Ayah membawa ibumu kerumah besar untuk hidup bersama mama Yasmine. Beruntungnya Yasmine mensetujui keinginan ayah dan kedua orang tua ayah tidak bisa berbuat apa-apa lagi".
"Satu tahun berlalu, kedua orang tua ayah kembali mendesak ayah untuk memberikan mereka cucu lagi sebagai teman main Yash. Namun mereka ingin cucu dari Yasmine. Ayah yang kala itu masih belum menerima sepenuhnya Yasmine mencoba menghindar dari permintaaan mereka".
"Ayah tidak ingin menyakiti ibu mu lebih banyak lagi. Dengan memberikan Yasmine anak ayah rasa itu pukulan terberat untuk ibu mu. Mengingat bahwa sudah empat tahun menikah dengan ibumu belum juga mengandung".
"Dan satu tahun kemudian entah bagaimana caranya Yasmine pun mengandung anak ayah. Lahir lah dua kaka kembarmu Attalarick Marteen Leonard dan Artaniel Muntaza Leonard". Ucap Jonathan memberi tahu.
"Setelah kelahira dua putra kembarnya. Yasmine menjadi berubah. Dia yang semula terlihat anggun, berkelas dan pengertian berubah menjadi pencemburu dan gila akan sosialita. Hidupnya dan waktunya ia habiskan dengan teman-teman sosialitanya. Berbelanja, berkumpul, berlibur keluar negeri setiap tahun dan belum lagi acara-acara penting seperti amal, arisan, pertemuan dan lainnya. Membuat kaka kembarmu kurang perhatian dari ibunya". Ucap Jonathan lalu menghembuskan nafas beratnya di akhir kalimat.
"Aku tahu semua yang Yasmine lakukan semata-mata hanya ingin mengalihkan rasa kecewa dan kesalnya atas sikap ku yang tak adil. Aku lebih banyak memperhatikan ibumu dan Yash di kala itu. Meskipun Yasmine sudah memberiku dua orang putra kembar. Namun tetap hal itu tidak pernah bisa merubah perasaan ayah terhadapnya. Dan akhirnya Attala dan Artaniel diurus oleh ibumu dibantu dengan dua orang pengasuh". Ucap Jonathan masih dengan ceritanya.
"Dua tahun kemudianya lagi Yasmine kembali melahirkan putraku yang keempat dihitung dari Yash kakamu lagi yang kau tahu betul namanya". Ucap Jonathan dengan tersenyum jahil kepada sang putri.
Raina pun langsung memperlihatkan ekspresi jengahnya mengingat kakak ketiganya yang bisa dibilang cukup menyebalkan baginya.
"Uffffhh....Siapa yang tidak kenal dengan pemilik nama itu. Seseorang yang mengaku paling tampan dan melankolis menyerempet ke lebay kalau bukan kak Jasson Wiliam Leonard". Sungut Raina dengan kesal.
Bukan Rahasia umum lagi jika sedari kecil Raina dan Jasson itu mirip seperti kucing dan tikus dalam film kartun legen jaman dulu. Jika bertemu sudah di pastikan Jasson akan selalu menjahili Raina habis-habisan. Namun itu berlaku bagi Jasson seorang. Jika ada pihak lain selain Jasson yang menjahili Raina atau meledeknya secara berlebihan. Sudah dipastikan orang itu akan kapok keesokan harinya.
Namun sayang, saat lulus sekolah menengah atas ia lebih memilih sekolah di luar negri mengambil jurusan busines.
Jonathan pun terkekeh melihat raut wajah sang anak jika mendengar atau menyangkut dengan Jasson putra ketiganya itu.
"Percayalah nak, meskipun dia menyebalkan di matamu. Tetapi dia adalah orang yang paling menyayangimu lebih dari apa pun. Dia juga yang paling benar menganggapmu sebagaai seorang adik". Ucap Jonathan penuh arti.
Raina pun hanya bisa tersenyum senang mendengar ucapan sang ayah tentang kaka ketiganya itu. Meskipun sangat jahil tetapi bagi Raina, Jasson adalah kakak yang paling waras baginya.
"Lalu setelah itu apa lagi yang terjadi pada ayah, ibu, dan mama Yasmine yah ?". Tanya Raina masih ingin mendengarkan kisah hidup dari ketiga orang penting dalam hidupnya.
"Masih sama Rain, ibu mu masih mengurus Yash, Attala, Artaniel ditambah lagi Jasson. Dan Yasmien pun masih sibuk dengan kegiatanya. Ada Satu kejadian yang pasti akan membuatmu bertambah sedih Rain. Tapi ini dapat membuka pikiranmu tentang ucapan Helena dan Yasmine terhadap ibumu". Ucap Jonathan memulai ceritanya lagi.
"Ceritakan ayah aku ingin tahu". Ucap Raina dengan penuh semangat.
"Pada saat ulang tahun perusahaan yang sukses ayah dirikan sendiri kala itu ibu mu di jebak oleh seseorang. Dia dibuat rekayasa agar terlihat tengah tidur dengan seseorang di hotel tempat ayah menyelenggarakan pesta ulang tahun perusahaan. Kala itu ayah pun berhasil terhasut oleh informan misterius yang entah datang darimana. Informan itu mengatakan bahwa ibumu bukan wanita baik dia tengah bersenang-senang dengan lelaki lain selain ayah". Ucap Jonathan memulai cerita perihnya.
"Ayah yang kala itu di selimuti api cemburu dan amarah pun mulai mempercayai seseorang itu. Ayah pun mulai mendatangi kamar hotel yang diinformasikan. Ayah dobrak dan ayah lihat. Benar ibu mu tenga tertidur satu selimut dengan lelaki asing tanpa sehelai pakaian. Ayah saat itu tidak dapat berfikiran jernih ayah kalap dan emosi lalu menghajar habis-habisan lelaki asing itu". Ucap Jonathan penuh amarah pada ceritanya.
"Ibu muu pun terbangun dengan keadaan linglung dan berteriak histeris melihat keadaanya dan ayah yang tengah memukuli orang asing. Saat ayah sudah merasa puas, ayah pun mendekati ibumu dan langsung nenyuruhnya untuk berpakaian dan pulang kerumah".
"Dirumah pun kami bertengkar habis-habisan. Itu adalah pertengkaran besar untuk yang pertama kalinya dalah rumah tangga ayah dan ibumu. Dan mulai saat itu ayah kehilangan rasa percaya pada ibumu. Dan sialnya dua bulan kemudian ibumu mengandung kau Rain".
"Ayah mengira kau adalah anak dari lelaki asing itu sebab bukti sudah ada dan ayah melihatnya secara langsung ibu mu tidur dengan lelaki asing itu". Ucap Jonathan dengan frustasi.
Disini Raina pun mulai mengerti dan mendapatkan jawaba atas semua pertanyaannya dulu tentang ayahnya dan semua orang yang tidak menyukainya dan ibunya. Bahkan setiap malam ibunya pun selalu menangis sambil memeluknya erat.
"Jadi itu sebabnya ayah mengacuhkanku. Itu sebabnya ayah tidak menganggapku dan selalu menjauhiku. Karena ayah menganggap bahwa aku bukan putri kandung ayah". Ucap Raina dengan berkaca-kaca.
"Maaf kan ayah nak, maafkan ayah". Ucap Jonathan lalu memeluk sayang sang putri.
Raina pun akhirnya menitihkan air matanya dengan rasa sedih bercampur menjadi satu.
"Jika pun aku anak dari orang asing itu. Lalu apa salah ku ayah, apa kesalahanku....". Ucap Raina dengan tangisannya.
Jonathan pun hanya bisa menggeleng pelan diatas kepala sang anak yang tengah ia peluk. Kata maaf pun selalu Jonathan ucapkan saat ini.
"Lalu apa benar aku ini memang bukan anak aysh ? ". Tanya Raina memastikan.
"Kau itu anak ayah, kau itu putri ku. Putri kandungku". Ucap Jonathan meyakinkan Raina.
"Ayah tidak sedang berbohong kan ?".
Tanya Raina seraya melihat kedalam mata sang ayah guna mencari kebohongan di nata ayahnya. Namun semya itu nihil. Raina melihat kejujuran disana dan keyakinan kuat atas jawaban sang aysh kepadanya.
"Saat usiamu sembilan tahun ayah semakin ragu akan pikiran ayah tentang mu dan ibumu. Ayah pun diam-diam menyelediki lagi. Ayah juga diam-diam mengambil sdikit rambutmu untuk ayah bawa kerumah saki untuk dilakukan tes DNA. Dan lagi-lagi ibu dan ayah bertengkar. Kau pasti ingatkan tentang pertengkaran itu". Tanya Jonathan kepada sang putri.
"Ingat. Saat itu aku tak sengaja dengar kalau ayah kecewa kepada ibu". Jawab Raina kepada sang ayah.
"Karena ibumu sekali lagi mencoba untuk meyakinkan ayah tentang mu dan dia yang tidak bersalah. Namun ayah tidak mendengarkannya. Ayah terus saja menuduh ibu mu. Sampai akhirnya ibumu menyersh dan pergi membereskan barangnya dan membawamu pergi menaiki taksi. Dan tak lama kemudian hasil dari rumah sakit serta penyelidikan yang dilakukan Darko datang. Ayah pun baru mengetahui jika kau adalah anakku dan ibumu memang tidak bersalah melalui info dan bukti yang Darko bawa kepada ayah".
"Ayah sangat menyesal saat itu dan mulai panik mengingat ibumu dan kau sudah pergi meninggalkan ayah. Saat itu ayah mulai mencarimu dan ibu mu bersama Darko. Namun pada saat ayah menemukan mu dan ibumu yang berada di dalam taksi sebuah truk besar tiba-tiba saja menabrak taksi yang kau dan ibumu tumpangi".
"Kau tentu masih ingat kecelakaan itu kan nak ?". Tanya Jonathan kepada sang anak.
"Tentu ayah, ibu yang mendorongku keluar mobil saat itu. Dia mengorbankan dirinya untukku". Ucap Raina dengan sedih dan masih dengan tangisannya.
"Saat itu ayah sangat terpukul sekali nak. Ayah merasa menjadi orang bodoh di dunia. Ayah belum meminta maaf kepada ibu mu. Ayah juga belum bisa membahagiakannya. Hidupnya terlalu banyak rasa sakit dari ayah. Ayah sangat menyesal". Ucap Jonathan seraya tertunduk sedih dan menangis pilu.
"Maaf jika ayah baru mengakui mu pada kalayak saat umur mu tujuh belas tahun. Sebab ayah mencari tahu siapa tang menjebak ibumu setelah ibumu dimakamkan. Dan ayah memang sengaja untuk tetap berpura-pura membencimu agar pencarian ayah berhasil. Dan al hasil ayah menemukan dalang di balik semua itu". Ucap Jonathan.
"Siapa dalangnya ayah ?". Tanya Raina penasaran.
"Kedua orang tua ayah, dan juga paman Bram adik dari Yasmine". Ucap Jonathan memberi tahu.
Raina yang mendengarnya pun merasa syok dan tak percaya akan paman Bram yang juga ikut andil dalam kejahatan ini.
"Ayah tidak bisa langsung menjebloskan kedua orang tua ayah juga Bram kedalam penjara. Mengingat kuasa penuh dari kedua orang tua ayah yang sulit untuk ditaklukkan. Jadi ayah mencoba cara lain. Yaitu membuat kedua orangtua ayah bangkrut dan tertipu habis-habisan. Berkat kerja sama ayah dengan teman-teman ayah akhirnya kekuasaan kedua orang tua ayah runtuh. Dan karna sebab itu kedua orang tua ayah menjadi sakit-sakitan. Mereka belum tahu harta dan kekuasaan mereka jatuh karena siapa. Yang mereka tahu mereka bangkrut dan ayah sukses dalam perusahaan yang ayah bangun dari nol. Sehingga sekarang mereka tidak lagi bisa menekan ayah dan memaksakan kehendak mereka kepada ayah". Ucap Jonathan dengan tersenyum sinis.
"Ayah pun masih menyelidiki Bram sejauh apa keterlibatannta dalam masalah yang datang kepada ayah dan Yash putra ayah. Dan sampai sini kau bisa menyimpulkan sendiri seperti apa ibumu nak". Ucap Jonathan seraya mengelus surai rambut sang anak.
__ADS_1
Raina pun akhirnya bernafas lega sekarang. Semua pertanyaaanya sudah terjawab. Dan rasa kecewanya terhadap ibunya pun menguap berubah menjadi rass bangga dan sayang.
Setidaknya kini Raina tahu betul siapa ibunya, bagaimana perilaku dan sikapnya juga perjalanan hidupnya.