
" Ini banyak sekali beli es creamnya?" Heran Yanna, melihat enam kotak es cream berbagai merek serta rasa berbeda dan dua cup kecil siap makan di dalam stroller kranjang.
" Papa Ma?" Tunjuk Nana, dan di anggukkan Naufal bersamaan kala Yanna menatap mereka bergantian.
" Pengen coba Ma?" Kata Rama, semakin membuat Yanna mengerutkan mata.
Sejak kapan suaminya ini suka es cream, apa lagi dengan rasa strwobery dan juga vanila. Setau dirinya, Rama tidak pernah mau makan es cream seperti itu. Pernah sekali mencobanya saat Nana makan es cream berwarna pink dan dari itu expresi suaminya berubah seperti menahan mual. Hingga cepat-cepat meminum air putih begitu banyak.
Dan ini? Apa yang merasuki suaminya. Begitu banyak es cream yang di belinya, bukan hanya itu saja. Kemasan susu besar rasa vanila dan strwobery pun di beli Rama, dengan alasan yang sama juga.
Lagi pengen coba Ma?
Apa Suami lagi kesurupan? Atau lagi memang ingin saja mencoba minuman yang bukan di sukainya. Tapi untuk apa sebanyak itu juga?
Hidup berumah tangga dengan Rama beberapa bulan saja sudah ia pahami. Mana yang di sukai suaminya dan mana yang tidak di sukai, dan itu terlihat dari raut wajah saat suaminya sedang mencicipi makanan atau minuman.
Atau sebaliknya, saat suaminya melihat dirinya atau anak-anaknya melakukan hal kecil yang mungkin tidak di suka. dirinya sudah tau dan tidak akan melakukannya lagi, berbeda dengan Naufal dan Nana. Akan di beri nasehat untuk tidak mengulanginya lagi.
" Yakin mas mau coba ini semua?" Tanya Yanna lagi, masih tak percaya dengan keputusan Rama.
" Iya Sayang! Gak tau kenapa akhir-akhir ini pengen coba yang di makan sama Nana Yan. Padahal kamu tau sendiri, aku gak suka." Ucap Rama, yang juga merasa sadar dengan kelakuan anehnya.
" Di toko juga gitu, masak lihat pegawai kita makan itu. Aku juga pengen itu, terus pengen yang di beli pegawai satunya lagi. Aneh kan Yan." Keluhnya, sambil berjalan mendorong stroller belanja.
" Kayak orang hamil saja kamu Mas." Cibir Yanna, menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Mana ada laki-laki mengidam, yang ada kebanyakan wanita. Meskipun bukan hamil, wanita selalu ada saja yang di inginkan. Yang terpenting ada uang. Kalau enggak ada, ya harus nunggu awal bulan.
" Ma? Mau cemilan boleh?" Tanya Nana, saat mengitari rak cemilan makanan ringan.
" Boleh? Tapi jangan ambil yang pedas ya." Ucap Yanna, membuat Nana dan Naufal menganggum senang. Berjalam bersama mencari cemilan yang mereka suka.
" Papanya juga boleh gak Ma?" Tanya Rama, mengerlingkan mata sambil tersenyum.
"Astaga!" Geleng Yanna, melihat suaminya kembali seperti anak kecil lagi.
Yanna akan berpikir dua kali, sebelum mengajak Rama lagi. belanja kebutuhan rumah di kala suaminya yang seperti ini sekarang.
Bukan kebutuhan dapur, melainkan kebutuhan cemilan makanan yang begitu banyak di beli Rama, dan juga dua anaknya. Yanna kini seperti mempunyai tiga anak saja, hingga kepalanya merasa pening melihat Suaminya.
Yanna Kembali berjalan menelusuri lorong rak bahan belanja, meninggalkan suami dan anak-anaknya yang masib asyik berburu cemilan ringan. entah siapa yang sengaja atau tidak, Yanna dan pengunjung swalayan saling menabrak stroller kranjang.
__ADS_1
" Maaf, maaf mbak." Ucap Yanna terlebih dulu.
" Tidak apa-apa, saya juga minta maaf." Ucap wanita cantik dengan lembut.
" Terlalu asyik cari bahan sampai saya tidak perhatikan jalan mbak. Sekali lagi saya minta maaf" sambil sedikit menundukkan kepala.
" Gak apa-apa mbak, namanya juga gak sengaja. Saya juga terlalu asyik cari-cari bahan dapur." Jawabnya dengan senyum, sedikit menggeser stroller kranjang berdempetan dengan stroller Yanna.
Merasa sedikit lega, Yanna juga ikut tersenyum.
" Pusing ya mbak kalau masalah dapur. Lupa apa saja yang mau di beli." Keluh Yanna. Merasa seperti sudah akrab saja.
" Iya, mau catet juga males. Pas di beli, ternyata masih ada di rumah."
" Sama, saya juga gitu mbak." Kata Yanna, tertawa kecil kala apa yang di keluhkan pengunjung ternyata bukan dirinya saja yang mengalaminya.
" Sendiri mbak?" Tanya pengunjung wanita cantik. Ramah dan juga mau bertanya terlebih dulu pada orang yang tak di kenalnya.
" Enggak mbak, sama-."
" Mama?" Panggil Nana, berlari ke arahnya sambil menenteng satu cemilan sudah terbuka.
" Iya Ma, maaf."
" Papa sama adik mana?"
" Masih di sebelah ma." Jawab Nana.
Wanita cantik yang berbicara dengan Yanna menegang, saat melihat Nana berbicara dengan Yanna dan juga memanggil Yanna 'Mama' .
Anak itu?
" Ma? Sudah?" Panggal Rama, membuat wanita cantik berbalik ke belakang dan mata membulat sempurna saat melihatnya.
" Rama." Lirihnya.
Begitu juga dengan Rama, tubuhnya menegang dan mata menajam sempurna saat melihat siapa yang sedang ada di hadapan istrinya dan berbalik melihatnya.
" Mbak Anggun." Lirih Rama.
" Sayang?" Panggil pria dengan semangat. berjalan ke arah Anggun melewati Rama yang semakin menegang mendengar suara pria itu.
__ADS_1
Mas Ryan.
" Sudah selesai belanjanya? Aku nemuin kue kesukaan mama, ini!" Kata Ryan senyum mengembang ke arah Anggun. Masih diam menatapnya dan melirik berganti menatap ke arah yang lain.
" Ayo pulang?" Ajak Ryan lagi, mengambil stroller di belakang tubuh istrinya. Tanpa sengaja pandangannya menatap wanita di depannya. Tersenyum dan membeku saat melihat anak kecil di samping wanita itu.
Nana?
Masih teringat jelas, ucapan seseorang dan juga wajah yang pernah di lihatnya pertama kali oleh Nana kala liburan bersama neneknya.
Om Ryan.
Yanna, melihat perubahan wajah suaminya dan dua sepasang suami istri yang juga sama diam menatap Nana. Serta wajah Nana yang ketakutan membuat Yanna dengan cepat membawa tubuh anaknya ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah Nana dalam pelukannya.
Ryan menatap Yanna, berganti menatap istrinya yang kini menatapnya, seakan mengerti apa yang ada di dalam isi hati serta pikirannya. Dan tanpa sengaja, Ryan bersitatap dengan pria yang tanpa di sengaja menyakiti hatinya, membuatnya marah dan membenci dirinya.
" Rama?" Gumam Ryan.
Tatapan yang masih sama, enam tahun lalu.
Enam tahun. tatapan marah, kecewa, benci dan ingin membunuhnya masih terlihat jelas di mata Rama, adiknya.
Ya, untuk pertama kali. Enam tahun lalu, saat dirinya memutuskan pergi dan tidak lagi berani menginjakkan kakinya di rumah orang tuanya lantaran kesalahan yang sangat fatal di buatnya.
Kini, takdir harus bertemu kembali dengan adiknya. kala dirinya sudah sangat siap untuk bertemu dengannya dan menyelesaikan dengan cara baik-baik.
Karena ini, tujuannya untuk pulang ke rumah Mama.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
Maaf ya, sekali lagi aku minta maaf. Karena kesibukanku akhir-akhir ini, aku jarang sekali update. Bukan aku malas, hanya saja benar-benar sibuk.😴😴
akan aku usahakan kembali update, tapi gak janji ya, bisa setiap hari atau enggak. 🙏
__ADS_1