Luluh

Luluh
balik ke kota


__ADS_3

" Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai rumah telpon ibu." Ucap Ibu Yanna, memeluk putrinya yang sedang meminta doa serta berpamitan untuk berangkat ke kota.


" Iya. Kalau sudah sampai rumah nanti aku kabari ibu." Jawab Yanna, melepas pelukan ibu dan mengusap air mata yang tak kunjung berhenti dari wanita yang sudah mengandung dan merawatnya.


" Jaga Naufal di sana. Jangan biarkan cucu ibu telat makan dan tidur. Nana juga jangan lupa di perhatikan, sekarang kamu sudah punya dua anak. Harus adil."


" Iya buk? Pasti aku jaga Naufal sama Nana. Aku akan berusaha adil." Ujar Yanna.


Dimana ibunya sudah tau tentang Nana, Anak Rama. Dan hanya ibu serta sigit saja yang tau Nana, anak Rama. Karena semua saudara Yanna, Mengira Rama seorang bujang, meskipun umur sudah berkepala tiga. Di status dalam berkas nikah, paklek Yanna memberitahu kalau Rama masih single. Hingga Yanna yang mendengarnya pun sedikit terkejut. Bukan Yanna saja, ibunya juga sama terkejutnya.


Yanna sudah pernah bercerita tentang Rama, tentang Nana siapanya Rama. Dan ini seperti tidak ada yang beres.


Masih bujang? tapi kenapa sudah punya Anak?"


Dan tentang Rama, Yanna belum sepenuhnya mengerti kehidupan Rama dulu. Satu persatu, tentang Rama muncul, seperti teka-teki yang harus di usut tuntas.


" Mbak pamit ya, jaga ibuk. Jangan di tinggal sendiri, kasihan. sudah gak ada naufal lagi." Tutur dan Pamit Yanna pada Sigit.


" Kabari aku ya mbak kalau ada apa-apa di sana. Kalau aku sudah lulus sekolah, aku akan ke kota bawa ibu. Mau kuliah di sana. Biar ibu juga gak jauh lagi sama cucu dan anak-anaknya." Kata Yanna.


" Aku tunggu kamu lulus, nanti kita kumpul bersama." Saut Rama. Membuat Yanna dan Sigit menatapnya.


" Iya mas." Jawab Sigit tersenyum.


" Pak? Yanna sama Nuufal pamit ya. Jangan kepikiran, sering-sering telpon Yanna kalau kangen naufal. Maaf kalau Yanna punya salah selama ini sama bapak." Pamit Yanna pada pak Minto, membuat pak minto mengusap lengan mantan menantunya.


" Bapak juga minta maaf kalau bapak punya salah." Kata pak Minto.


" Bapak gak punya salah, bapak justru sudah menjadi akung yang baik bagi Naufal." Sergah Yanna, membuat pak Minto tersenyum


" anak sama istri bapak punya salah besar sama kamu. Buat bapak jadi jauh lagi sama cucu bapak." Lirih pak Minto, menyalahkan semua ini ulah anak dan istrinya. " Hati-hati di jalan ya, nanti kalau sudah sampai telpon bapak." Imbuhnya lagi, membuat Yanna mengangguk dan sedikit tersenyum. Mengambil Naufal dalam gendongan pak Minto.


" Iya pak." Jawab Yanna.

__ADS_1


" Saya berangkay pak, asalamuaikum." Pamit Rama.


" Walaikum salam, hati-hati." Jawab Pak minto, Rama hanya mengangguk dan tersenyum.


Melangkah beriringan menuju mobil, dengan ibu yang yang ikut mengantarnya hingga Yanna dan naufal masuk ke dalam mobil Rama.


" Kabari ibu kalau sudah sampai rumah." Ucap ibu Yanna. Di depan cendela mobil yanna terbuka.


" Iya buk, sudah jangan nangis lagi." Kata Yanna, mengusap kembali pipi basah ibunya. hingga membuat dirinya ikut menangis.


" Jangan nakal ya Le? Nurut sama mama sama papa." Ucap Ibu menciumi naufal kembali di pangkuan Yanna. Naufal hanya mengangguk, wajah sedikit muram memandang ibu Yanna.


Ini seperti pertama kali Yanna merantau ke kota, meminta doa dan pamit pada ibunya yang seperti tak rela anaknya jauh darinya. Itupun hanya dua bulan, tapi selanjutnya sudah seperti biasa saja. Karena Yanna setiap bulan selalu pulang ke kampung untuk menemui putra dan ibunya.


Dan ini ibu kembali lagi seperti dulu, tidak rela Yanna dan Naufal pergi darinya. Tapi Yanna berharap semoga ibu bisa menjaga dirinya dan tak terlalu memikirkannya. Agar ibunya tidak terjatuh sakit nantinya.


Lambaian tangan ibu Yanna, pak Minto dan Sigit saat mobil Rama mulai meninggalkan halaman rumah, membuat Yanna semakin meneteskan air mata. Sungguh ini akan menjadi kehidupan barunya di kota bersama anak dan suami barunya.


Rama, yang melihat istrinya menangis. Hanya bisa mengusap pipinya untuk mencoba menenangkannya. meskipun sebenarnya Rama tak tega juga memisahkan cucu dan nenek.


" Makasih mas."


" Untuk?"


" Mas Rama baik sama aku. Mas Rama mau menikahiku." Jawab Yanna.


" Aku menikahi kamu, memang aku cinta kamu Yanna. Bukan terpaksa atau kasihan. Jadi jangan pernah bilang makasih sama aku." Kata Rama.


" Mas sudah berkorban banyak demi aku."


" Namanya sudah cinta, apapun rela aku korbankan. demi istriku sekarang." Jawabnya, membuat Yanna tersenyum malu.


" Naufal mau duduk di belakang atau sama mama." Tanya Rama.

__ADS_1


" Sama mama?" Jawab Naufal.


" Nanti kalau mau tidur, pindah di belakang ya. Ada bantal di sana."


" Iya." jawab Naufal lagi.


Perjalanan pulang, kini tidak lagi sendiri. Bersama istri dan anak, pulang ke rumah yang sudah dirinya persiapkan dulu sebelum mengenal Yanna. Tak ada lagi kesendirian dan tak ada lagi masa lalu. Rama akan memulai kehidupan yang baru, bersama Yanna dan juga anak-anaknya.


Naufal menikmati perjalanan bersama Mama dan juga papa barunya, anak lelaki ini tau kemana akan di bawa dan akan tinggal dengan siapa. Tidak mudah juga bagi anak kecil harus jauh dengan orang yang di sayang, apa lagi setiap hari dua puluh empat jam selalu bersamanya. Perpisahan dengan neneknya membuatnya merasa sedih, tapi Nuafal tipe anak kecil yang selalu menutup diri dan tak menunjukkan rasa sedihnya di hadapan semua orang. termasuk mamanya.


Status Om Rama yang sudah menikahi mamanya, ia pun juga tau. Lelaki yang dulu mengambil paksa dirinya dari neneknya, Naufal pun juga tau. Memori sedikit, demi sedikit ucapan orang-orang tentang mama dan ayahnya, Naufal sudah mengingatnya dan mencerna dalam otak serta hatinya.


Bukan tidak mau berbagi dengan mama dan neneknya, tapi dirinya lebih nyaman menyuarakan isi hatinya dalam tangisan. Tidak tau Naufal sudah mulai kapan membenci ayahnya. Apa karena itu dirinya dengar dari orang-orang, atau dari mamanya sendiri saat menghadapi lelaki yang menculiknya.


Ayahnya tidak menginginkannya, ayahnya tidak mau menerima ibu dan dirinya dulu. Tapi sekarang, Ayahnya mau mengambil dirinya dari ibunya. Rasa benci sudah tertanam pada hati Naufal pada Ayah. Meskipun mamanya tidak pernah mengajarkan kebencian atau mengenalkan sosok ayah padanya.


Pengaruh ucapan orang-oranglah Naufal membenci ayahnya.


" Ma? Ngantuk." Ucap Naufal. mulai tidak kuat dengan matanya yang ingin memejam.


" Tidur di belakang? Ada bantal di sana." Kata Yanna, membuat Naufal mengangguk. dan mulai pindah ke kursi belakang, membenarkan bantal dan mulai memejamkan mata.


" Kamu kalau ngantuk tidur Yan. perjalanan masih jauh. Naufal juga sudah tidur." Kata Rama, menatap sekilas ke arah istrinya. sambil mengusap pipinya.


" Iya mas." jawab Yanna tersenyum.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2