
" Permisi! Antar pesanan Buk!" Teriak Amel dari luar pagar. Di malam hari, kala dirinya harus terpaksa menjadi ojek online kembali untuk mengembalikan kekurangan uang bank.
" Permisi!" Teriaknya sekali lagi, sambil tangan mengetuk pagar dengan kencang. Agar pemilik rumah cepat keluar dan dirinya bisa kembali lagi mengojek.
Amel berbalik badan sambil memeriksa ponsel, memastikan bila alamat rumah memang benar. Dan akan mencoba menghubunginya, tapi terlebih dulu mendengar suara pria yang menegurnya pelan.
" Maaf, pesanannya." Ucap Pria dari bekalang, membuat Amel berbalik dan membulatkan mata saat melihat siapa yang memesan makanan online.
Pak akbar?" Gumamnya dalam hati.
" Amel?" Tegur Akbar. Membuat Amel tersadar dan tersenyum.
" Pesanan atas nama pak Mirza." Tanya Amel.
Mirza, bukan Akbar!
" Iya, saya sendiri." Jawab Akbar.
Pantesan rumahnya gak asing.
" Ini pesanannya Pak." Ucap Amel, mengulurkan bungkusan plastik ke Akbar. Tanpa mau basa basi dan rasa ingin segera pergi dari hadapan atasannya itu.
Bukan malu karena mengambil job sampingan ojek online, hanya saja malas bila ada yang bertanya.
Kenapa kerja sambilan lagi!
Kenapa mau jadi ojek online.
Cantik-cantik kok ngojek mbak.
Dan ini, kenapa pelanggannya harus atasannya yanv banyak di gemari oleh bawahannya. Tidak termasuk dirinya, yang tidak terlalu tertarik oleh ketampanan atasannya sama seperti Yanna dan berbeda dengan Sari.
" Makasih juga pak tipsnya." Ucap Amel, dalam pembelian transaksi opo. mendapatkan tips lumayan banyak dari Mirza alias Akbar.
" Mari pak." Amit Amel, dan berbalik untuk menuju motornya.
" Tunggu!" Cegah Akbar, sambil menarik kerah jaket belakang Amel.
" Eh, eh!!" Pekik Amel, melangkah mundur karena kerah jaketnya yang di tarik atasannya.
" Apa sih pak!" Seru amel, menatap Akbar dengan sebal.
" Kamu kenapa jadi ojek online."
Tu kan tu kan benar! Malas sekali kalau ada yang tanya seperti ini.
__ADS_1
" Kenapa memangnya. Ada yang salah!" Tanya balik Amel.
" Memang kamu gak capek, kerja terus pulang kerja, kerja lagi?"
Perhatian sekali nich orang.
" Enggak akan capek, kalau tunggakan masih banyak." Jawab sewot Amel. membuat Akbar mengerutkan kening. " Saya permisi pak." Imbuhnya lagi dan kembali kerah jaket belakang di tarik Akbar.
" Apa lagi sih pak!!" Gerutu Amel, sebal Akbar kembali menarik jaketnya.
" Gak sopan!" Cibir Akbar. " Memang kamu punya tunggakan apa! Motor kamu juga udah lunas."
" Tau dari mana motor ku udah lunas! Tunggakan itu banyak. Gak hanya kredit motor saja pak."
" Memangnya tunggakan kamu apa aja." Sambil mengerutkan kening melihat wajah Amel, yang membuat Amel mengendus sebal.
" Kenapa tanya-tanya, Mau ikut bayarin utang keluargaku! Aku sih makasih kalau mau ikut bantu? Tapi jangan sampai nanti akhir bulan di tagih, karna baak gak punya uang." Ucap Amel. Tanpa malu mengucap pada Atasannya.
Kesal, sungguh kesal bila ada orang yang ingin tahu tentang urusannya. ingin tahu tentang kehidupannya. Tak ingin di kasihani, seoalah-olah dirinya tak sanggup untuk membayar semuanya. Memang sedikit tak sanggup, tapi selagi ada jalan rejeki yang masih terbuka lebar, Kenapa harus meminta dan di kasihani.
Dirinya wanita tangguh, ya walaupun sebenarnya sama seperti Yanna. Rapuh di dalam hatinya. Bukan tidak mau berbagi masalahnya dengan para sahabatnya, tapi para sahabatnya mungkin juga ada masalah dalam kehidupannya. Cukup kesenangan saja yang harus ada dalam persahabatan, jangan libatkan sahabatnya dalam kesusahannya. Meskipun mereka juga akan mengerti.
" Sudah ya pak! Saya mau lanjut. Ada orderan yang nyantol. Permisi." Tekan Amel, mata seperti memperingatkan Akbar untuk tidak lagi menghalanginya kembali lagi bekerja.
Akbar bergeming menatap Amel yang mulai memasang helm dan mulai menyalakan motornya. Saling menatap lama sebelum Amel benar-benar melajukan motor maticnya pergi dari rumah Akbar.
Seakan mengerti tentang kesengsaraan wanita itu.
Tapi dia tidak terlihat seperti orang kesusahan.?
Akbar mendesah berat. bagaimana, dirinya bisa memikirkan Amel. Wanita itu dua kali sudah membuatnya berpikir terus-menerus tentangnya.
Sedangkan Amel, menggerutu sendiri saat herkendara. Atasannya kenapa begitu ingin tau tentang dirinya dan sejak kapan atasannya itu akrab dengannya. Tak pernah Akbar bertegur sapa dengannya dulu di luar, hanya pekerjaan saja mereka saling berbicara.
" Dasar, eko dua!" Umpat Amel. Dan kembali ke markas, di mana para ojek online berkumpul.
*****
" Ciye-ciye! yang semalam di apelin cewek!" Goda Yanna.
" Siapa?" Tanya Rama, duduk bersandar di ranjangnya. Sambil menatap istri yang sibuk menata baju di lemari.
" Masak lupa sih, padahal baru semalam di apelin. terus di anggurin juga ceweknya. Sampai gak tega loh aku mas lihat muka tu cewek."
" Gak tega apa gedeg!" Goda Rama, membuat Yanna memanyunkan bibir.
__ADS_1
" Kasihan ya, boleh aku nikahin Yan?" Imbuhnya lagi, dan berbalik melotot horor pada suaminya yang cengar-cengir tanpa rasa salah.
" Bercanda sayang!" Ucap Rama, dengan dua jari berbentuk V.
" Tidur di luar!" Ketus Yanna, meninggalkan Rama yang membulat sempurna mendengar ancaman Istrinya.
" Waduh. Sayang! Aku cuma bercanda!!" Ujarnya, mengejar Yanna untuk merayunya.
Salah siapa pagi-pagi sudah membuat emosi Yanna. Sudah tau sifat Yanna bila sedang merajuk, dirinya akan di usir dari kamar. Dan berakhir harus tidur di ruang tamu atau kamar anak-anaknya.
Nasib. Dan salah sasaran, bila menggoda istrinya di saat dia sedang cemburu. Semalam, istrinya memang cemburu dan kecemburuannya begitu agresif di atas ranjang. Membuatnya semakin suka dengan istrinya yang cemburu.
Tapi sial, pagi ini harus membuat kembali istrinya ngembek karena ucapannya. Mana mau sih dirinya menikahi wanita genit seperti Aurel. Gak ada selera-leranya sama sekali Rama menatap Aurel.
Cantik, tapi bukan tipenya.
Mama Rama dan cucu-cucunya sudah menunggu di meja makan. Memicingkan mata saat melihat Yanna berjalan lebih dulu dengan wajah cemberut di ikuti Rama yang gelisah mengejar istrinya.
Melihat putranya yang gelisah, sudah di pastikan bila putranya membuat salah dengan istrinya di pagi hari. Mama Rama mengulum senyum dan menggelengkan kepala menatap Putranya. Seakan putranya mengingatkannya pada mendiang suaminya, yang sama persis perlakuannya mirip dengan putra bungsunya.
" Banyak banget Yan nasinya?" Protes Rama, meihat nasi di dalam piringnya yang di ambilkan oleh istrinya begitu banyak.
" Itu dikit kok mas. Habiskan ya, jangan ada yang tersisa. Kalau enggak habis nanti sapi Naufal mati." Kata Yanna.
Seperti balas dendam dengan suaminya. Dan tidak bisa membuat Rama berkutik saat Naufal menatapnya.
" Habiskan Pa? Aku gak mau sapinya mati." Ucap Naufal, menatap sendu ke arah Rama. Takut bila memang nanti sapiny mati hanya karena makanan papanya gak habis.
" Eh?" Kejut Rama, hanya bisa tersenyum paksa dan mengangguk. kala wajah putranya memelas di hadapannya. Dan mau tidak mau Rama harus menghabiskan makanan dmbegitu banyak di piringnya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
Minal aizin walfaizin. Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏
Maaf kalau seminggu ini gak bisa update. Kalian tau sendirikan, dua tahun belakangan gak ada lebaran. Dan di tahun ini, lebaran begitu meledak. Macet berkepanjangan, sanak saudara ngumpul dan saling bersilahturahmi ke para kerabat.
Senang tau gak, sampai aku lupa jadwalnya update 😁😁 Tap tenang, insyaallah akan mulai update rutin kembali.
__ADS_1
Salam Cuuzie