Luluh

Luluh
ajakan nikah


__ADS_3

" Habiskan?" Tanya pria duduk di samping Amel yang sedang menikmati sepotong pizza sambil menatap langit malam tanpa bintang.


" Harus?" Tanya balik Amel, menatapnya dengan cemberut.


Selalu memaksa dan suka memerintah.


" Iya. Jangan pul-."


" Jangan pulang kalau enggak habis." Potong Amel, membuat pria di sampingnya tersenyum. menarik hidung Amel hingga mengaduh kesakitan dan mendapatkan pukulan kecil dari Amel.


" Kebiasaan!" Seru Amel, mengusap hidungnya dan menatapnya sebal. " Hidungku gak akan bisa mancung Lagi. Meskipun di tarik setiap hari." Imbuhnya.


" Mangkanya jangan terlalu mungil itu hidung. Gemes kan jadinya."


" Gemes apa penganiayaan?"


" Kalau penganiayaan enaknya di kamar aja sih." Ajak pria itu sambil mengerlingkan mata. Membuat Amel kembali melototkan mata menatapnya.


Entah mulai kapan suka menggodanya?


" ngajak-ajak tiap hari, tapi gak pernah mau ngelakuin." Gumam Amel, masih terdengar oleh pria itu.


" Di ajak nikah gak mau."


" Gak usah bercanda.. Hutangku belum lunas ke kamu." Ketus Amel. Kembali menggigit Pizzanya.


" Sudah aku bilang. Aku gak minta untuk di kembalikan. Dan gak usah bahas lagi soal hutang." Jawab datar, seolah sudah malas sekali bila wanita di sampingnya masih membahas tentang apa yang dirinya lakukan untuknya dengan iklhas dan mementingkan balas budi atau menganggap itu hutang.


Semua itu murni dengan hati kecilnya. Tanpa mau di sanjung.


" Kamu ngelunasin hutang keluargaku itu banyak, enggak dikit. Apa lagi gedung sekolah dua adikku kamu lunasin, gak ada tunggakan atau di larang ikut ujian. Dan kamu cari uang juga gak begitu mudah. Bagaimana bisa kamu gak mau di kembalikan uangnya?"


Bukan tidak bersyukur atau sombong karena menolak pria baik hati melunaskan hutangnya. Tapi memang uang pria itu harus di kembalikan, karena tak mudah sekali mencari uang di kota sebesar ini dan juga kebutuhan yang naik begitu melonjak drastis.


" Amelia!!" Panggilnya. nada yang begitu menekan, seakan sudah ingin marah sekali dengan wanita di sampingnya.


Keras kepala. Pikirnya.


" Iya, Pak Akbar." Jawab Amel, bila sudah di panggil nama lengkapnya. Dan tau bila nada pria di sampingnya ini berubah hingga mereka sama-sama saling menatap.


Ya, Amel sedang bersama Akbar. Kala Akbar memesan ojek online makanan setiap hari dengan driver bernama Amel. Dan setiap malam pula, Amel harus mengantarkan makanan pada Akbar serta menemaninya makan malam bersama atau mengobrol dan mengalir nyambung begitu saja. Hingga mereka sudah saling akrab dan berteman tanpa ada yang tau. Meskipun itu ke tiga sahabatnya.


Akbar pula yang mengambil sertifikat tanahnya di bank dan juga melunasi uang gedung sekolah ke dua adik kembarnya.

__ADS_1


Bagaimana ceritanya?


Semua itu mengalir begitu saja, dan tak tega benerapa kali melihat wajah Amel pucat. Hingga dirinya mendatangi langsung ke rumah Amel dan berbicara pada ke dua orang tua Amel dengan niat baiknya.


siapa yang tidak terkejut dan siapa pula yang paling sedih saat tau akan ada orang baik mau menolong putrinya.


Tentu saja, ke dua orang tua Amel.


Ibu dan Ayahnya yang menangis saat mendengar Akbar ingin membantu melunasi hutang-hutangnya tanpa ada embel-embel apapun.


Awalnya Amel tidak tau bila hutang bank sudah lunas dan sedikit terkejut saat tau bila atasannya telah membantunya melunasi hutang keluarganya.


" Harus berapa kali aku bilang, tidak perlu. Harus berapa kali, aku bilang iklhas. Dan harus berapa kali, aku bilang jangan membahas soal hutang." Tegasnya. " Aku tidak suka dengan penilain kamu, yang buruk itu tentang ku." Imbuhnya.


" Aku enggak pernah menilai pak Akbar buruk."


" Tapi kamu selalu mengingatkan hutang itu padaku Mel. Seakan-akan aku menagih dan gak iklhas bantu keluarga kamu." Jawab cepat Akbar suara yang tak pernah meninggi pada wanita di sampingnya. meskipun rasa ingin sekali berteriak, karena keras kepalanya Amel.


Amel terdiam, menatap wajah Akbar, sebelum kembali ke arah depan dan menundukkan kepala.


Entah kenapa dirinya selalu membahas hutangnya pada Akbar. Bila di ingat-ingat, akbar tidak pernah menangih atau membahas tentang kebaikannya yang sudah membantu keluarganya dan mengambil sertifikat rumahnya dari bank. Atau biaya sekolah dua adik kembarnya.


Tidak pernah.


Akbar menghembuskan nafas kasar beberapa kali. Hingga amarahnya teredam kembali dan menatap Amel yang menunduk.


" Maaf." Ucap Akbar.


Pertama kali mendengar atasannya, meminta maaf terlebih dulu padanyan.


Kembali mendongak, menoleh untuk menatap Akbar. " Aku juga minta maaf pak. Maaf, selalu mengingatkan tentang kebaikan bapak." Kata Amel.


" Sudah malam, Aku pulang dulu. Makasih makanannya, Makasih juga tipsnya pak." Imbuhnya, berdiri dari duduknya. Memakai jaket sebelum pergi dari rumah Akbar.


Akbar meraih pergelangan tangan Amel yang akan melangkah. Membuatnya berhenti dan berbalik menatap Akbar.


" Menikah denganku, kalau kamu ingin melunasi semua hutang kamu padaku." Ucap Akbar, membuat Amel melebarkan mata menatap tegasnya wajah Akbar tanpa keraguan.


****


" Mbak, besok aku ingin jalan-jalan keliling surabaya. Mbak Amel bisa di sewa gak." Ucap Sigit.


" Sewa gimana maksudnya!" Yanna mengerutkan kening menatap adiknya.

__ADS_1


Sahabatnya mau di sewa, sewa untuk apa?


" Di sewa sebagai pemandu wisata mbak. Kan mbak Amel tau semua tempat bagus buat di kunjungi. Intagrameble gitu." Jawab Sigit.


" Oohh.. Jangan aneh-aneh ya, mbak tau lho maksud tujuan kamu! Diam-diam kamu selalu kirim chat ke Amel, perhatian juga. Mau deketin sahabat mbak!" Seru Yanna.


" Di chat setiap hari, balasnya juga jarang sekali. Mbak Amel itu cewek yang susah ya ternyata di dekatin, beda sama mbak Sari, di chat selalu di balas. Jadi semangat aku kalau gini deketin Mbak Amel. Liat fotonya saja manis, apa lagi lihat aslinya kemarin. Cantik." Puji Sigit dengan senyum. Membuat Yanna mengendus sebal dan melempar sofa bantal ke muka adiknya.


" Buk. Gimana, pilihan untuk calon istriku. Manis, baik, sopan juga kan?" Sambil memeluk bantal sofa, tersenyum ke arah ibunya.


" Kuliah dulu yang benar. Kerja yang mapan. Baru boleh cari calon istri." Saut Rama. Berjalan menuju tempat duduk istrinya, kala selesai dengan pekerjaannya.


" Tau tu adik kamu. Kuliah belum masuk, kerja belum ada. sudah mikirin calon istri Mas. Mau di kasih makan apa istri mu nanti, kalau kamu gak kerja. Cinta! Aku sih mana mau." Ketus Yanna. menatap sinis adiknya.


" Dengerin itu kata Mas sama Mbak kamu." Tambah Ibu Yanna, seperti menyudutkan Sigit. Kembali Sigit mengendus sebal.


Lagi-lagi ibunya tak membelanya.


" Tapi pacaran boleh kan!" Tanya Sigit.


" Engg-,"


" Boleh." Potong Rama, sebelum istrinya menjawab. " Tapi ingat, ada batasannya." Imbuhnya lagi. Membuat Sigit tersenyum lebar.


" Ih.. Mas kok di bolehin sih."


" Kayak kamu dulu gak pernah pacaran saja Ma." Ucap Rama. " Gak apa-apa biar cari pengalaman patah hati." kekeh Rama.


Yanna hanya bisa berdecak menatap sinis adiknya. sedangkan Sigit senang, mendapat ijin dari kakak iparnya meakipun sedikit menyebalkan dengan ucapan yang terakhir.


Pengalaman patah hati.


Menyebalkan.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2