Luluh

Luluh
Episode 36


__ADS_3

Tiga hari berlalu keadan Mira pun sudah membaik. Kepalanya sudah tidak merasakan sakit atau pun pening. Dan benjolan akibat terbentur pun sudah hilang.


Sehari setelah Mira meminum obat dari dokter Jordan. Yash pun langsung mendatangi dokter Jordan di rumah sakit tempatnya bekerja. Tanpa ada janji dan basa-basi sedikit pun. Yash langsung memasuki ruangan dokter Jordan dan langsung duduk dengan angkuh di kursi seberang.


Dokter Jordan yang menyadari kehadiran putra sulung dari sahabatnya itu pun mengernyit bingung akan kehadiran Yash yang tiba-tiba itu.


"Kenapa Yash ?". Tanya Jordan saat menyadari rasa kesal yang tertera di muka anak dewasa itu.


"Kau memberikan resep obat atau rancun paman. Kenapa rasanya sangat buruk. Aku tidak bisa menerima ini". Ucap Yash angkuh dan menatap tajam kepada sang dokter.


Jio yang berdiri di belakang Yash hanya diam menunduk dan dalam hatinya ia merasa jika tuan mudanya ini sungguh berlebihan.


"Bukan kah semua rasa obat itu memang buruk". Batin Jio heran.


"Dimana-mana ya yang namanya obat itu cenderung pahit Yash". Ucap dokter Jordan seraya menatap Yash santai.


"Tetapi ini berbeda pahitnya paman. ketiga obat bubuk yang paman berika itu sangat pahit sekali. Sepuluh kali lipat lebih pahit dari obat biasanya. Lidah ku saja sampai kelu merasakannya. Apa lagi lidah dan tenggorokan Mira. Belum lagi obat sirupnya yang seperti bau muntahan itu". Ucap Yash kesal dan bergidig jijik melalau ekspresi mukanya.


Ajaib. Memang sangat ajaib bagi Jordan saat melihat Yash begitu cerewet mengcomplain dirinya dan berbicara banyak kepadanya. Yash yang biasanya bicara seadanya dan tidak mau ambil pusing untuk sesuatu yang menurutnya tidak penting itu pun sampai mau repot-repot nendatanginya. Apa lagi hal yang sangat mengejutkan bagi Jordan saat Yash sampai mau mencicipi rasa obat itu. Sebegitu besar kah pesona dari seorang nona Mira untuk tuan Yash.


"Tetapi aku sudah melakukan yang kau perintahkan Yash. Itu adalah obat pereda nyeri dan memperlancar peredaran darah yang terbaik di dunia. Khasiatnya pun akan dapat kita lihat tiga hari kedepan. Obat itu juga berguna untuk menetralisir pembekuan darah yang bisa saja terjadi". Ucap dokter Jordan yang mulai menjelaskan dengan santai.


"Tanyakan pada asistenmu itu. Dimana dia menemukan obat yang ku berikan pada kertas resep itu". Ucap Jordan seraya melihat kearah Jio.


Yash yang mendengar itu pun langsung melihat kearah Jio dengan tatapan bertanya yang dapat Jio mengerti.


"Apotik internasional tuan. Yang terbesar di kota ini". Jawab Jio dengan sopan.


"Harganya ?". Tanya dokter jordan santai.


"Perbutirnya dua ratus lima puluh ribu. Di masing-masing obat ada sepuluh butir dan obat butir itu ada tiga bungkus di tambah obat sirupnya sekitar lima ratus ribu perbutirnya. Jadi total semuanya hampir delapan jutaan tuan". Jawab Jio dengan detail.


"Dan kau yang memerintahkan untuk mencarikan obat terbaik untuk nona Mira. Bahkan yang terbaik di dunia. Kau ingat tidak ?". Tanya Jordan memastikan.


Yash pun langsung terdiam di tempat saat mendengarkan semua penjelasan dan jawaban dari dokter Jordan dan Jio.


"Jika memang itu obat terbaik sedunia. Kenapa rasanya seperti racun yang mematikan". Batin Yash merasa kesal dengan sangat.


"Tidak semuanya yang terasa manis itu menyembuhkan Yash. Dan tidak semua yang terasa pahit itu mematikan". Ucap dokter Jordan menasehati.


"Selama obat itu cocok di tubuh nona Mira dan tidak menimbulkan efek samping yang berlebih maka tidak ada yang harus dikhawatirkan Yash". Ucap dokter Jordan dengan tegas dan kebapakan. Layaknya seorang ayah yang tengah memberikan nasehat dan ketenangan pada anaknya.


"Apa selama meminum ovat itu, nona Mira sering bercomplain kepada mu ?". Tanya dokter Jordan ingin memastikan. Dan Yash pun hanya menggeleng menjawab pertanyaan sang dokter.


"Mira itu orang yang mudah menerima apapun. Pahitnya obat itu pun ia terima dan ia telan dengan baik. Meski terkadang raut wajahnya sering menunjukan betapa tersiksanya dia dalam menerima rasa pahit obat itu". Ucap Yash dengan tatapan kagum dan senyum simpul yang manis.


"Dia tidak pernah merengek untuk obat itu. Hanya kadang sedikit mengaduh saat pusingnya kembali". Ucap Yash denfan tersenyum bangga.


"Sangat menyenangkan ya, Jika melihat wanita setegar dan sekuat itu". Ucap dokter Jordan dengan tersenyum dan mengerling kearah Yash.


Yash yang menyadari itu pun langsung membetulkan kembali raut wajah swnangnnya menjafi datar dan angkuh.


"Jika tiga hari Mira tidak kunjung sembuh. Aku akan memecat mu dari rumah sakit ini dan menutup rumah sakit ini paman". Ucap Yash angkuh dan lalu berdiri hendak pergi.


"Silahkan saja, paman tunggu pemecatanya". Ucap Jordan dengan tersenyum simpul.


Yash pun hanya melirik saja dan keluar begitu saja dari ruang dokter Jordan di ikuti oleh Jio yang setia mengekori di belakangnya.


Dan kini, tiga hari telah berlalu. Mira pun sudah kembali sehat dan ia pun kini tengah duduk di gazebo mewah di taman belakang kediaman Yash. Di temani oleh Raina yang tengah asyik bermain game serta bodyguard Raina yg bernama Riena dan beberapa pelayan. Di temani oleh beberapa cemilan.


Selama empat hari lebih ia menginap di kediaman Leonard, banyak sekali yang perhatian kepadanya seprti kedua orang tua dari paman Jonathan yang terkadang menyapa baik Mira dengan lembut. Namun sedikit aneh saat tatapan mereka yang tertuju kearah nona Raina yang seperti acuh dan tajam. Dan nona Raina pun hanya menunduk takut.


"Nona besar Yasmine pun sama. Ia seolah benci sekali dengan nona Raina. Bahkan aku juga merasa jika nona besar Yasmin juga enggan berbasa-basi denganku". Batin Mira sesikit melamun.


"YAH aakhh kalah deh aku". Seru Raina dengan kesal saat gamenya di kalahkan. Membuat Mira tersadar dengan lamunannya dan melihat kearah Raina dengan tatapan lucu.


"Kak Jasson kau curang sekali aku tidak terima itu !". Seru Raina yang beteriak kesal sembari melihat kearah atas yang di mana terdapat Tuan muda keempat yang tengah duduk di balkon jendela kamarnya.


"Kau saja yang lelet Rain. Jadi bukam salahku jika kau kalah dan dikeluarkan. Musuh di depanmu saja kau tak tahu". Ucap Jasson tak kalah berteriaknya.


"Kenapa tidak melindungiku. Kau ini payah". Ucap Raina kesal membuat Jasson tergelak dari atas balkon.


"KAK, kau mentertawakan ku. Kemari kau !". Seru Raina menantang.


"Malas, aku sibuk Rain". Seru Jasson yang terdengar ogah-ogahan.


"Sibuk apa. Kerjamu juga hanya bermain Game. Jika tidak keluyuran apa lagi. Menyebalkan !". Ucap Raina kesal. Dan Jasson pun hanya tertawa saja seraya berjalan memasuki kamarnya.


Namun tanpa mereka sadari, Yasmine yang mendengar dan melihat sendiri percakapan putra kesayangannya dan Raina itu pun menjadi naik pitam dan geram. Ia pun tanpa aba langsung mengambil batu besar segenggaman tangannya yang berada di depannya dan lalu melemparnya tepat mengenai kening samping Raina.


Membuat Mira, Riena dan pelayan yang bersama Raina pun terkejut dan menjerit panik kala kening samping Raina mengucurjan sedikit darah segar.


"YA TUHAN. Nona Raina !". Seru Mira dan yang lainya.


Jasson yang mendengar teriakan Mira pun memunculkan kembali kepalanya dari atas balkon dan menengok kebawah. Dan terkejutlah Jasson saat melihat Raina terduduk memegangi kepalanya dan ibunya pun sudah berdiri menantang di hadapan Raina dan yang lainnya.


"Oh shit !". Seru Jasson merasa panik dan langsung bergegas memasuki kamarnya dan turun ke lantai bawah menuju ke tempat di mana Raina dan yang lainnya berada.


"Kenapa wanita itu bisa ada di rumah di jam seperti ini. Siaal ini pasti akan menjadi masalah besar". Batin Jasson dan langsung berlari menuruni anak tangga dengan cepat.


"Beraninya kau mengatakan putra bungsuku seperti itu anak haram. Tidak sadar kau pun juga parasit disini !".


Seru Nyonya Yasmine dengan pedasnya.


Raina pun hanya menunduk diam di bentak dan di sakiti oleh ibu tirinya di hadapan semua orang.


"Kesini kau anak haram. Biar ku bunuh kau. Sejak awal kau itu memang pembawa sial, parasit dan pembawa masalah besar di sini". Ucap Yasmine seraya berjalan kearah Raina dengan geram.

__ADS_1


Yasmine pun langsung menjambak rambut Raina dan memukulinya dengan tangan di seluruh tubuhnya. Mira yang melihatnya pun langsung melerai dan berusaha melindungi Raina. Sementara para pelayan pn ikut ribut di hadang oleh pelayan nona Yasmine dan bodyguar riena pun di hadang oleh Sesa asisten pribadi nyonya Yasmine. Dan pertengkaran itu pun berlanjut dengan ramai.


"Nyonya besar jangan seperti ini. Tolong lah berbaik hati sedikit kepada nona Raina". Ucap Mira menengah. Namun bukannya reda. Justru nyonya Yasmine malah menampar kuat pipi kanan Mira. Sehinggah tubuhnya terhuyung dan jatuh tengkurap mencium sepatu hitam seseorang yang berdiri tepat di hadapannya.


Jasson pun ikut melerai dan mendekap ibunya dengan sekuat tenaga. Ia menyadari jika sang raja serigala sudah hadir dan melihat semua keributan ini dengan tatapan tajam.


"Hentikan lah semua keributan ini. Kau sangat kekanakan bu. Aku sangat nembencimu". Ucap Jasson tepat di telinga Yasmine. Membuat Yasmine swmakin marah.


Kenapa ketiga anaknya selalu saja nemusuhinya. Padahal yang ia lakukan pun untuk membela ketiga anaknya.


Mira yang terkejut itu pun langsung mendongak keatas dan wajah tegas Yash pun terlihat jelas di mata Mira. Yash pun lalu membimbing Mira untuk berdiri dan melihat luka lebam di pipi Mira membuat Yash langsung terpejam marah.


"Sial. Baru saja aku lega karena ia telah membaik. Sekarang aku melihat luka lain lagi berada di pipinya. Wanita iblis itu sungguh memuakan untuk ku". Ucap Yash geram.


Yash pun langsung mengeluarkan pistol kecil dari balik jasnya dan mengarahkannya keudara. Membuat Mira yang melihatnya pun menatao horor dan ingin menjauh namun terlambat. Yash sudah menarik erat tubuh Mira untuk maduk kedalam pelukannyadan langsung menembakan pistol itu keudara.


DORRR DORRR DORRR !!!


Tiga tembakan Yash layangkan keudara dan Mira pun langsung memeluk erat Yash dan menyembunyikan kepalanya di dada bidang Yash. Ia merasa takut yang teramat sangat saat menyaksikan amarah dari seorang Yash.


Semua orang yang berada di sana pun yang tadinya ribut itu pun terdiam dan berjongkoh seraya mengangkat tangan atau menutup telinga dengan reflek. Sedangkan Jonathan dan kedua orang tuanya yang kala itu tengah berdiskusi itu pun langsung keluar melihat apa yang terjadi pada halaman belakang rumahnya.


"Apa disini sedang mengadakan ajang perkelahian '. Ucap Yash tajam dan tegas.


Para pelayan yang tadi ikut ribut pun hanya nenunduk. Sementara Riena yang sudah babak belur dan kacau itu pun memeluk nona mudanya yang ketakutan dan tak kalah kacau dan berantakannya.


Sedangkan Vikram yang baru saja masuk ke dalam area taman belakang itu pun juga ikut terkejut melihat banyaknya,manusia-manusia yang berdiri kacau.


"Ada yang bisa menjelaskan ?". Tanya Yash kepada semua orang yang berada di sana.


Semuanya pun hanya tertunduk diam. terkecuali nyonya Yasmin yang membuang muka dengan angkuhnya di hadapan Yash.


Yash pun lalu melihat kearah Mira yang berada di pelukannya dengan bergetar takut. Ia pun lalu memandang lembut Mira dan mengelus pipi Mira dengan lembut.


"Apa ini sakit ?". Tanya Yash lembut membut Mira hanya tertunduk diam.


"Hhhhh, aku menyesal tidak pulang lebih awal. Bisa kau menceritakannya semua yang terjadi disini". Ucap Yash lembut.


Mira pun melihat kearah sekitar dan menatap semua orang yang berada disana. Ia merasa bimbang dan ragu. Dirinya hanya orang baru di sini. Ia takut jika ia jujur memberi tahu, maka semua orang yang bersalah akan dendam kepadanya Dan pasti juga akan menyakiti hati tuan muda Jassson. Karena yang sedari awal memulai itu adalah nyonya Yasmine.


Tetapi jika ia diam tidak memberi tahu. Maka sudah pasti tuan Yash akan marah besar kepadanya. Sungguh ini adalah situasi tersulit bagi Miira.


"Katakan saja, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi". Ungkap Yash lembut.


Dan akhirnya Mira pun menceritakan semua yang terjadi kepada Yash dari awal sampai akhir dengan detail. Membuat Yash harus beberapa kali mengatur nafasnya akibat di selimuti oleh rasa amarah.


Yash pun lalu memandang tajam kearah ibu tirinya itu. Dan Yasmine pun balas memandang Yash anak tirinya dengan angkuh.


"Aku hanya membela putra ku. Yang diperolok oleh anak haram itu". Ucap Yasmine pedas seraya menunjuk kearah Raina.


"YASMINE !!". Seru Jonathan dari arah belakang Yash yang berdiri bersama kedua orang tuannya dan Vikram yang di temani oleh Ram.


"Tidak kak. Sebenarnya kami hanya bercanda. Aku tidak sedikit pun merasa tersinggung. Karena memang itu yang sedang ku lakukan saat ini sembari menunggu hari kelulusan kuliahku". Ucap Jasson jujur.


"Kau dengar itu ?". Ucap Yash dan melihat tepat kearah Yasmine dengan tajam.


"Wanita tua yang begitu kekanakan. Kau telah membuat adik perempuanku terluka dan Mira pun mendapatkan luka lagi. Setelah ini apa yang harus ku katakan kepada kakaknya HAH !". Seru Yash dan membentak di akhir kalimat.


Yash pun lalu mengarahkan pistolnya kearah Yasmine dari jauh. Membuat semua yang ada disana pun terkejut. Mira pun ikut terkejut dan hendak mencegah Yash. Namun nyalinya menciut saat melihat raut merah padam Yash.


"YASH, nak kendalikan dirimu". Ucap Johan sang kakek yang mencoba menyadarkan cucu sulungnya itu.


Namun ucap sang kakek tidak diindahkan oleh Yash. Ia masih fokus kepada kepala Yasmine yang kala itu tengah berdiri tegang.


"Jonathan, tolong lah hentikan putramu itu. Dia bisa membunuh Yasmine". Seru Mariana sang ibu dengan panik memegang dadanya.


"Putra ku sudah dewasa mom, aku yakin dia bisa menyelesaikannya dengan baik. Kita lihat saja. Jika pun adaa yang harus mati. Ya mungkin itu sudah takdir". Ucap Jonathan acuh. Membuat Yash menjadi tersenyum setan dan merasa menang.


"Kau lihat itu. Bahkan suamimu tidak pernah bisa membelamu atau melindungimu dariku. Jangan pernah macam-macam denganku INGAT ITU !". Seru Yash di akhir kalimat dan langsung menembakan pistolnya kearah Yasmine.


DORRR DORRR !!!


"KAKAK !". Teriak Raina dengan syok.


"YASH !". Seru Sang kakek dan nenek itu.


"TUAN YASH !". Cegah Mira yang terlambat.


Dua tembakan dilayangkan Yash kearah Yasmine dan beruntung kedua tembakan itu meleset sedikit. Hanya rambut dan anting berlian dari Yasmine lah yang terkena tembakan itu.


Sejujurnya Yash memang ingin melayangkan tembakan itu ke arah punda Yasmine swbagai peringatan keras jika seorang Aryasha Leonard. Tidak akan pernah main-main dengan amarahnya.


Namun seruan dari Mira lah yang membuat Yash tidak fokus dan langsung menengok kearah Mira kala itu. Yash seakan tersadar dari amarahnya dan mengingat mendiang kedua ibunya melalui Mira.


Saat Yash menengok lagi kearah Yasmine. Ternyata tembakannya meleset. Cukup menyelamatkan. Namun dapat membuat Yasmine dapat berfikir ulang jika harus macam-macam lagi kepada dua gadis yang Yash lindungi dan sayangi itu.


"Huh sayang sekali. Tembakan ku meleset jauh". Ucap Yash tanpa dosa.


"Jasson. Bawa Raina dan bodyguardnya serta para pelayan Raina masuk. Obati Mereka dengan baik. Dan Jio, bawa nona Mira masuk. Aku akan menyusul nanti". Perintah Yash kepada asisten dan adik lelaki bungsunya itu.


"Iya kak". Ucap Jasson patuh dan langsung meninggalkan Yasmine sang ibu kandungnya begitu saja.


Membuat Yasmine merasa tertohok akan perlakuan dari anak kesayangannya yang selalu ia bela mati-matian itu.


"Jass, sungguh kau tidak memanggap ibu mu ini ?". Tanya Yasmine dalam batinnya.


"Mari nona, kita masuk kedalam". Ajak Jio yang dengan sopan membimbing Mira untuk masuk kedalam keruang keluarga.

__ADS_1


Vikram pun langsung menyusul Raina masuk kedalam dan langsung mengambil alih tugas Jasson yang membimbing Raina. Vikram malah langsung menggendong Raina dengan lembut.


Jasson pun hanya bisa mengendikan bahunya dan mengekor saja dengan santai seolah yang telah terjadi adalah sesuatu yang biasa baginya.


Sementara Yash yang masih berdiri di sana hanya bisa terdiam acuh melihat ibu tirinya hancur oleh sikap dari anak kandungnya sendiri. Ia merasa sakit dan tubuhnya pun luruh kelantai. Dan semua kesakitan itu Yash nikmati dengan puas di matanya.


"Ini baru awal. Tunggu saja yang selanjutnya". Batin Yash tersenyum licik dan berlalu meninggalkan Yasmine dan para pelayan yang berysaha menenangkan nyonya besarnya.


Johan dan Mariana pun langsung menghampiri menantunya itu dan menenangkannya dengan lembut. Membuat Jonathan sang putra semata wayangnya merasa kesal.


"Sebenarnya yang anak kandung kalian itu siapa. Aku atau dia. Mengapa sedari dulu kalian lebih banyak menyakitiku dan membela Yasmine". Batin Jonathan merasa muak dan getir.


Memang sedari ia kecil, setelah mom dan dady nya mengenalkannya dan bertemu dengan keluarga Yasmine. Sikap mereka begitu banyak berubah. Dia yang selalu di marahi saat Yasmine mereka menangis, dan ia yang selalu harus mengalah dan menurut untuk seorang Yasmine kala perempuan itu menginginkan sesuatu darinya. Benar-benar memuakan. Dan sampai sekarang pun dirinya masih harus mengalah. Ia tidak pernah bisa untuk melawan kedua orang tuanya. Sungguh sangat mengesalkan.


Di ruang keluarga duduk lah Jio yang mengobati Riena dengan penih perhatian. Vikram yang membersihkan luka di kening Raina. Dan Jassson. yang dengan telaten mengompres pipi lebam Mira.


"Bodoh. Melawan sesa saja kau sampai kalah begini. Ke aku saja kau bisa melawan. Dassr payah". Ucap Jio berucap pedas kepada Riena si bodyguard cantik nona Raina.


"Diam kau. Jika hanya memarahi saja, lebih baik pergi sana". Ucap Riena dengan jutek. Jio pun hanya tersenyum saja menanggapi ucapan jutek Riena.


"Babak belur begini saja kau masih bisa jutek dan marah-marah. Dasar cewek pemarah". Ucap Jio masih mengajak ribut Riena seraya mengibati.


Tak tinggal diam, Rienna pun membalas dengan menginjak kuat kaki Jio dan Jio pun hanya menatap gemas kepada Rienna.


"Wamita licik itu sungguh sangat keterlaluan sekali. Dia berani membuat princess ku terluka dan berdarah". Ucap Vikram geram.


"Mama Yasmine memang seperti itu kak. Entahlah sampai kapan ia akan terus membenciku dan memusuhiku". Ucap Raina merasa sedih.


"Dia itu ratunya iblis Rain. Mustahil jika ia bisa berubah baik". Ucap Vikram dengan mendengus geli dan menempelkan plester kearah pelipus Raina dan mengecupnya dengan lembut.


"Semoga sakitnya hilang". Ucap Vikram layaknya merapal mantra.


Raina pun hanya tersenyym malu. Dan kedua pipinya pun mulai merona karena malu. Membuat Mira yang melihatnya pun ikut tersenyum senang.


"Maaf kan sikap ibuku ya. Dia sangat keterlaluan terhadapmu". Ucap Jasson dengan penuh menyesal.


"Tak apa Jass, wajar setiap ibu di dunia tidak akan pernah mau mendengar kata-kata yang nenyakitkan untuk anaknya. Dia sangat menyayangimu". Ucap Mira mencoba menenangkan.


"Tidak,, ibu ku tidak seperti itu. Nanti kau pun akan tahu sendiri". Ucap Jasson sendu dan menempelkan konpresan di pipi kiri Miea.


"Kenapa aku merasa. Jasson sangar menyedihkan. Tatapan itu kosong dan hampa. Ada satu kerinduan yang menganggunya dan ada satuvkebencian yang menghantuinya". Batin Mira seraya menatap kedalam manik mata kelam Jasson.


"Kenapa, apa aku terlihat sangat menyedihkan ?". Tanya Jassson yang tahu arti dari tatapan Mira.


"Tidak, bukan seperti itu ko". Ucap Mira canggung.


"Kak Yash lah yang paling menyedihkan diantara kami dan Raina lah yangbpaling tersiksa diantara kami". Ucap Jasson dengan sedikit berkaca-kaca pada matanya.


"Tolong, buatlah hidup kak Yash berwarna. Bahagiakan ia dengan ketulusan mu dan luluhkan ia dengan kasih sayangmu. Aku ingin kau dan kak Yash berbahagia bersama". Ucap Jassson setengah sumbang akan suaranya.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan Jass. Aku hanya orang asing yang tanpa sengaha masuk kedalam keluarga kalian. Setelah tugas ku selesai untuk tuan Vikram. Aku sudah berjanji kepada kakak ku kak May untuk menjauh dari kalian". Ucap Mira menjelaskan.


"Menjauhlah swbisamu Mira. Bagi seorang Artasha Leonard. Itu semua tidak akan berpengaruh. Kau terus lah berlali dan biarkan serigalamu mengejar".


Ucap Jasson begitu ambigu dan sedikit tersenyum lucu. Membuat Mira sesikit mengernyit tak mengerti dan lalu berfikir acuh. Mungkin memang putra keempat dari paman Jonathan itu memang sedikit unik. Pikir mira dalam diam.


Tak berapa lama Yash pun datang dan langsung duduk di sebelah kanan Mira yang artinya Mira sedang duduk di antara Yash dan Jasson.


Jasson yang tahu situasi dan kondisivpun beralih duduk dengan Jio dan Rienna yang kala itu tengah saling injak san sikut diam-diam. Memang dasar Rie dan Jio itu seperti tom and jeriy.


Yash pun langsung mengambil handuk kompres yang menempel di pipi Mira dan lalu membasahinya lagi dan menempelkannya dengan sedikit di tekan setelah memeras handuk itu.


"Sepertinya kau memang selalu sial ya jika berada di dekatku danbkeluarga ku". Ucap Yash kalem.


"Tidak ada yang bamanta kesialan tuan, semua kepahitan, luka, dan kebahagiaan sudah ada yang menakdirkan". Ucap Mira membantah pemikiran Yash dengan lembut.


Yash yang mendengarnya pun hanya tersenyum tipis dan mulai fokus kembali pada luka lebam Mira.


"Anda...Baik-baik saja tuan ?". Tanya,Mira yang sedikit peka akan tatapan nata dari seorang Yash.


"Kepalaku rasanya mau pecah. Aku butuh alkohol saat ini". Ucap Yash jujur.


"Ada cara lain selain alkihol tuan". Ucap Mira dengan tatapan lembut.


"Apa ?". Tanya Yash seeaya mengerutkan dahi.


"Mandi lah dengan air dingin setelah itu cobalah untuk tidur. Pasti setelah bangun fikiran anda fress kembali". Ucap Mira memberi tahhu.


"Hmmm.... Ide bagus. Bisa kah kau memandikan ku dan menidurkan ku hari ini Mira ?". Tanya Yash dengan tatapan jenakanya. Membuat Mira yang tadinya tersenyum lebar pun menjadi canggung dan memerah.


"Tuaaan, ". Lirih Mira dengan merengut kesal.


Yash pun sukses tertawa melihat tingkah Mira yang lucu itu. Pipi putihnya mulusnya nemerah sampai ke hidung dan telinga membuatnya terlihat lucu dan menggemaskan di mata Yash.


"Ahaku hanya bercanda. Sudah jangan fikurkan itu".Kekeh Yash merasa lucu.


Ternyata interaksi dari keduanya pun tak luput dari pandangan yang lainnya termasuk Vikram dan Raina yang menyaksikan sendiri kelucuan dan keuwuan antara Yash dan Mira.


"Kau cemburu Princess ?". Tanya Vikram dengan berbisik.


"No dady". Bisik Raina setengah menggoda Vikram.


Membuat Vikram pun langsung menatap penuh minat terhadap Raina yang tanpa Raina sadari itu.


"Aku bahkan senang melihat kak Yash fokus ke kak Mira. Aku merasa jengah dan risih dengan sikap brother complexnya". Ucap Raina jujur.


"Semoga Mira dapat meluluhkan hati seorang Aryasa Leonard". Ucap Vikram penuh harap.

__ADS_1


"Ya , semoga saja". Imbuh Raina penuh harap juga. Dan di amini oleh semua pasang mata yang ada di ruang kelyarga itu.


__ADS_2