Luluh

Luluh
Episode 12


__ADS_3

Akhirnya Yash pun keluar rumah dengan ekspresi merah padam yang sangat kentara di wajahnya itu.


Sam yang menunggu di luar mobil dengan sang supir yang berada di dalam mobil pun melihat raut wajah marah sang tuan mudanya.


Melihat sang majikan telah keluar dan berjalan menuju mobil sang sopir pun mulai menyalakan mesin mobilnya dan Sam pun mulai sigap. Ia berdiri di pintu tengah mobil yang sudah terbuka secara otomatis.


"Bisa-bisanya mereka mengaturku. Kedua orang renta dan satu wanita licik itu benar-benar membuatku ingin mematahkan leher mereka". Sungut Yash di dalam hati seraya berjalan kearah mobil yang telah menunggunya.


Saat berada di dalam mobilnya Yash hanya diam membisu dengan raut dingin yang membuat Sam yang duduk di samping supir dan sang supir saling pandang dengan mata yang seolah berkata bagaimana ini kita kemana.


Sebab perintah dari kepala pelayan hanya Sam diminta menemani tuan muda dan tolong siapkan mobil tuan muda segera. Tanpa di beri tahu tujuannya kemana.


"Jalan". Ucap Yash dengan singkat padat dan jelas.


Sang sopir pun langsung melajukan mobilnya dengan rasa bingung dan was-was.


"jalan kemana bos haduuh si bos main bilang jalan saja tidak memberi tahu tujuannya. Dan ini aku harus ke kanan atau kekiri ya. Waahh bingung aku". Batin sang sopir dengan bimbangnya.


Sam yang mengerti raut bingung dari sang sopir pun mengambil tindakan untuk bertanya. Karena pesan dari Jio saat ia menjenguknya tadi siang adalah jangan pernah membuat kesalahan sedikit pun dengan tuan muda. Jika tuan muda berkata singkat tanpa tahu maksud dan tujuannya lebih baik bertanya saja. Tuan muda akan menjawabnya sebab Jio yakin pasti ada saat-saat dimana sang tuan muda akan bertindak membingungkan bawahannya.


"Tuan muda, maaf jika saya lancang. Saya hanya ingin memastikan anda ingin pergi kemana. Sebab paman Gun tidak memberitahukan kami kemana anda akan pergi". Ucap Sam dengan hati-hati.


Yash pun langsung melirik kearah Sam dengan tajam dan dia pun baru ingat jika yang bersamanya itu Sam bukan Jio. Ia pun harus memaklumi kinerja Sam yang tidak seperti Jio yang serba tahu tanpa harus ia ucapkan.


Namun Sam malah merasa pucat dan ketar ketir saat melihat lirikan sang tuan muda yang begitu tajam itu.


"Mati aku Jiooo, cepat lah pulih aku tidak bisa kalau terus menghadapi tuan mudamu ini". Batin Sam dengan raut diamnya.


"Rumah sakit tempat Raina di rawat". Ucap Yash memberitahu Sam dan sang sopir.


Dan akhirnya kedua orang itu pun bernafas dengan lega mengetahui tempat tujuan sang tuan muda.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit. Yash tak henti-hentinya memandang jalanan kota seraya memilin kalung berbandul huruf L itu di tangannya. Dalam fikirannya banyak sekali pertanyaan yang berseliweran dan dalam perasaannya banyak sekali rasa yang ia rasakan saat ini.


"Apa maksud dari mimpiku itu. Mengapa seorang Miranda Nur memasuki mimpiku dan meminta tolong denganku. Apa yang membuatnya kesakitan. Dan apa yang bisa ku bantu untuknya". Ucap batin Yash tentang fikirannya.


"Aku fikir seseorang yang memangku kepalaku dan yang membelaiku ibu Rianthi. Aku sudah sangat berharap kau hadir di mimpiku bu. Karena jika kau merasa khawatir kepada putrimu kau selalu datang di mimpiku. Bahkan saat kau masih hidup pun kau selalu seperti itu. Mendatangiku saat kau bingung menemukan dimana Raina yang hilang entah kemana. Kau pun menyayangiku dan memperlakukanku dengan baik layaknya anak kandungmu sendiri". Batin Yash lagi.


Yash pun mulai berkaca-kaca mengingat ibu sambungnya yang telah tiada itu. Karena sejsk bayi hingga usianya menginjak 19 tahun. ia selalu diurus oleh ibu sambungnya itu. Bahkan ibu sambungnya pun terlalu baik ikut mengurus ketiga adik lelaki tirinya. Sementara ibu dari ketiga adik tirinya selalu saja membuat hati dan batin ibu sambungnya tersakiti dengan ulahnya.


Selama Yash diurus oleh Rianthi kehidupannya bahagia. Dia mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan meskipun Yash sempat tidak menyukai Raina saat ia lahir sebab ketakutan Yash akan kasih sayang yang akan berbeda jika ibu sambungnya memiliki anak sendiri, namun ibu Rianthi tetap menyayanginya meskipun sudah memiliki anak sendiri ia tetap memperlakukan keempat anak lainnya dengan baik. Bahkan selalu memberikannya pengertian dan mengajarkannya akan kasih sayang terhadap saudaranya.


Dan ia pun sangat bersyukur akan hal itu. Setidaknya ibunya telah benar memilihkannya ibu sambung sebaik ibu Rianthi.


Meski tidak pernah melihat sosok asli ibu kandungnya. Yash selalu diajarkan untuk tetap mengingat ibu kandungnya. Bahkan setiap satu minggu sekali ia pun selalu mengunjungi makam kedua ibunya.


"Apa yang harus ku lakukan bu. Kedua orang renta itu dan wanita iblis itu selalu saja mengusik putrimu. Apa yang salah jika ia lahir pada dirimu yang miskin. Kau hanya miskin harta tapi kasih sayang dan cintamu sungguh lah kaya bu. Dan aku ingat jika malam ini adalah malam hari ibu. Selamat hari ibu bu. Aku sangat menyayangi kalian berdua. Ibu Cinthiya, ibu Rianthi selamat hari ibu". Ucap batin Yash.


"Sudah sampai tuan". Ucap Sam yang membuyarkan lamunan Yash.


"Ekhem...Ya". Jawab Yash sekenanya seraya menormalkan air mukanya menjadi datar.


Yash pun keluar dari mobil yang sebelumnya di bukakan oleh Sam. Ia pun menghirup udara malsm dengan puas dan menghembuskannya secara perlahan.


"Pulang lah bersama supir Sam. Aku ingin masuk sendiri". Ucap Yash memberi perintah.


"Baik tuan muda". Ucap Ssm seraya menunduk hormat.


Yash pun akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Sebenarnya niat Yash ingin menemui Raina dulu sebelum Mira. Namun entah mengapa langkahnya lain dari yang ia niatkan sebelum masuk ke rumah sakit.


Ia pun sedikit terpaku di tempat saat memyadari bahwa ia tengah berdiri di depan pintu ruang Melati nomor dua. Sementara ia tidak menyadari bagaimana ia bisa menuju kesini.


Akhirnya Yash pun memasuki ruangan itu dengan hati-hati dan melihat kedalam ruangan yang sukses membuat Yash sedikit kesal.


"Apa-apaan ini...". Ucap Yash dengan geramnya.


Yash lalu mendekat kearah Mira dan memastikan semua alat bantu Mira bekerja dengan baik atau tidak.


"Aku membayar rumah sakit ini dengan baik tapi mengapa begini pelayanannya. Jangan-jangan kondisi Raina lebih buruk dari ini". Ucap Yash berbicara sendiri.


Ia pun lalu menelfon pihak rumah sakit sekaligus paman Jordan selaku pemilik rumah sakit dengan segera menyuruh mereka datang keruangan tempat Mira dirawat.


Tak beberapa lama kemudian datanglah dua orang suster jaga bersama paman Jordan keruangan itu dengan raut bingung.


"Ada apa tuan muda Yash...?". Tanya Jordan kepada Yash.


"Kau lihat lah sendiri paman. Lihat pasien ini. infus yang hampir habis, kantung kencing yang hampir penuh, dan lihat selimut dan baju pasien yang sudah berapa hari tidak diganti. Begini cara pelayanan rumah sakit anda paman". Ucap Yash melayangkan beberapa perotes.


"Ruangan kelas satu....Ini yang dinamakan ruangan kelas satu. Yang seperti ini ?". Tanya Yash dengan setengah mengejek.


Jordan yang baru tahu menahu tentang kinerja para pekerjanya pun menatap kedua suster jaga dengan garang. Kedua suster itu pun menunduk takut.


"Kk..kami baru saja mendapat tugas jaga Dokter. Sebelumnya yang menangani pasien ini suster Sofiya. Dia yang bertugas untuk melayani dan merawat pasien selagi keluarganya belum datang. Tet..tetapi suster Sofiya malam ini tidak masuk tuan handphonenya pun sulit dihubungi". Jawab salah satu suster itu.


Jordan pun menghela nafas lelah dan merasa aneh dengan suster yang baru masuk satu minggu itu.


"Tuan muda bisa izinkan saya untuk memeriksa pasien ?". Tanya Jordan dengan sopan.


Yash pun mengangguk dengan tatapan seolah berkata bahwa baru ditegur baru tanggap dasar.


"Kalian berdua bantu aku mengurus pasien. Setidaknya kita urus dulu pasien ini dengan baik. Setelah ini tolong beri tahu aku dimana alamat suster itu". Ucap Jordan kepada kedua suster jaga itu.


Merekapun akhirnya memulai pekerjaan masing-masing. Sementara Yash menunggu di luar ruangan seraya menelfon seseorang.


Ketika sambungan terangkat ia pun mulai berkata.


"Ada tugas untukmu. Seret dan bawa kemari suster yang bernama Sofiya ke hadapanku. Untuk lokasinya akan aku share lok. Aku butuh segera orang itu. Dia bekerja di rumah sakit Harapan milik paman Jordan". Perintah Yash kepada seseorang di seberang telfon.


Setelah itu Yash kembali mengotak atik handphonenya lalu menelfon Marko. Lama Yash menumggu akhirnya di panggilan ke lima baru terangkat oleh Marko.


"Siapa kau sampai membuat ku menunggu". Ucap Yash dengan dingin.


"Maaf tuan muda. Situasinya sedang tidak mendukung tadi". Ucap Marko di seberang telfon.


"Sedang ada dimana kau ?". Tanya Yash lagi kepada Marko.


"Saya sedang ada di rumah sakit..". Ucap Marko


Yash pun hanya tersenyum setan menanggapi ucapan Marko.


"Rumah sakit mana. Apa kau tahu bagaimana keadaan adik yang kau sayangi itu". Ucap Yash dengan rahang yang mulai mengeras.


"Mira...Apa yang terjadi dengannya ?". Tanya Marko diseberang telfon dengan nada panik.


Dan hal itu justru membuat Yash tersenyum jengah menanggapi pertanyaaan Marko.


"Pasien dengan keadaan keritis seharusnya jangan ditinggal sendirian Marko. Dimana kau dan kedua adikmu itu". Ucap Yash dengan suara yang sedikit mengeras.


"Tadi siang aku menemaninya. Namun saat sore hari aku mendapat kabar jika kekasih ku temgah sakit. Lambungnya kumat Yash. Dia juga hidup sendirian di apartemennya. Dan umtuk Mayya dan Royan aku tidak tahu. Suster bilang mereka sudah tidak datang lagi sejak pagi". Ucap Marko menjelaskan kondisi dan situasinya.


"Ingat saja Marko. Kekasihmu bisa saja berharga untukmu dan menjadi teman hidupmu kelak. Tetapi saat ia meninggalkanmu hanya adikmu lah yang akan kau cari. Jangan sampai kau menyesal". Ucap Yash lalu mematikan sepihak sambungan telfonnya.


Yash pun tak habis fikir tentang kegilaan Marko terhadap Noela kekasih rahasia Marko. Wanita itu mempunyai keluarga dan dua orang anak. Dan Marko mau saja menjalani hubungan gila itu.


"Lihat saja jika nanti sampai kedua adik perempuan mu dan adik iparmu tahu. Tamatlah riwayatmu Marko. Kau memang harus diberi pelajaran". Batin Yash dengan tersenyum evil.


Yash pun baru mengetahui setelah Roni menginfokan nomor telefon Marko serta aktifitasnya yang di lakukan Marko bersama kekasih rahasianya termasuk data diri dari sang kekasih Marko.


Yash pun mulai mengotak atik handphonenya setelah membaca laporan kedua dari Roni tentang Mayya dan sang suami.


Lama Yash menunggu panggilannya untuk diangkat oleh Mayya dan pada deringan kelima Mayya pun baru mengangkat panggilan dari Yash membuat Yash seketika berfikir jika kakak beradik ini memang sama saja. Sama-sama menyebalkan untuk malam ini.


"Ya dengan Mayya sanggita disini". Ucap Mayya dengan nada sedikit lelah.

__ADS_1


"Maaf ini dengan siapa. Jika ada kepentingan bicaralah jika tidak saya akan menutup telfonnya". Ucap Mayya lagi.


"Ada dimana kau ?".


Tanya Yash dengan suara tegasnya. Yash pun sedikit mrngernyit bingung kala mendengar suara tangisan anak kecil di tempat Mayya.


"Sedang di rumah, ada perlu apa. Dan ini siapa ?". Tanya Mayya lagi memastikan.


"Aku Aryasha Leonard. Ingat ?". Tanya Yash dengan suara coolnya.


"Aryasha....Leonard....Ooo ya ampun tuan muda maafkan saya atas ketidak sopanan saya tuan". Ucap Mayya dengan nada sedikit panik.


"Lupakan...Jadi kau dirumah. Sementara adikmu disini sendirian". Ucap Yash kepada Mayya.


"Sendiri...bukanya Marko ada disana". Ucap Mayya demgan bingung.


"Tak ada". Jawab Yash singkat.


"Orang itu benar-benar eekhhh". Geram Mayya di seberang telfon.


"Aku sedang tidak bisa menjaga Mira tuan muda. Kedua anak ku mendadak sakit. Ayub anak pertamaku tengah dirawat di rumah sakit Mulia karena DBD. Sementara Liliana putri ku tengah mengalami diare. Kau dengar tangisannya. Dia tidak berhenti menangis. Aku juga rencananya akan berangkat kerumah saki Mulia malam ini untuk memeriksakan putriku". Jelas Mayya panjang lebar.


Penjelasan dari Mayya pun membuat Yash merasa tenang. Setidaknya Mayya jujur dan informasi dari Roni pun benar. Sudah sepatutnya Mayya dan Royan mendahulukan anak-anak mereka terlebih anak-anak itu tengah sakit.


"Tuan muda, boleh kah saya meminta tolong ?". Tanya Mayya dengan ragu-ragu.


"Apa ?". Tanya Yash dengan suara kalemnya.


"Untuk malam ini aku memohon untuk menjaga adikku Mira. Saya sangat takut sesuatu terjadi kepadanya jika ditinggal sendirian kondisinya masih keritis. Dia hanya mempunyai aku, suamiku, dan kakak lelakinya". Pinta Mayya kepada yash.


"Kau percaya kepadaku ?". Tanya,Yash memastikan.


"Tentu tuan muda, saya sangat percaya kepada anda. Tolong jagalah adikku". Pinta Mayya.


Yash pun terdiam sesaat dan menimbang lalu kemudian ia pun berkata.


"Ya akan aku jaga adikmu dengan baik".


Tepat pada saat Yash menyudahi kalimatnya seolah sebuah janji sakral alam pun merespo ucapan Yash dengan hadirnya sebuah petir yang bergemuruh dengan dahsyatnya membuat lampu rumah sakit sedikit berkedip sesaat. Yash yang melihatnya pun tersentak kaget akan melihat ke sisi jendela rumah sakit yang memperlihatkan awan hitam yang cerah tanpa adanya tanda-tanda akan turun hujan.


"Tidak ada tanda-tanda turun hujan. Tetapi mengapa petirnya bergemuruh menakutkan".


Ucap Dokter Jordan diambang pintu membuat Yash reflek langsung menengok kearah sang dokter seraya berdiri.


"Mari masuk tuan, kita bicarakan di dalam". Ajak sang dokter kepada Yash. Ia pun lalu mengikuti sang dokter untuk maduk keruangan.


Terlihat Mira yang sudah segar dan rapih serta selang infus yang sudah full serta kantong kencing yang terlihat baru dan paksian serta selimut yang baru dan segar.


"Sekali lagi saya meminta maaf atas kinerja para perawat yang kurang memuaskan anda tuan muda. Untuk kedepannya saya akan berusaha untuk lebih baik lagi".


Ucap sang dokter dengan penuh penyesalan dan rasa malu yang kentara di raut wajahnya.


"Lalu bagaimana dengan keadaannya ?". Tanya Yash kepada sang dokter.


"Masih sama tuan, belum melewati masa keritis dan hampir memburuk jika saja tadi tuan sampai terlambat memberi tahu kami". Jelas sang Dokter dengan raut menyesalnya.


"Pastikan kedepanya pasien yang bernama Mira ini diberikan pelayanan yang baik paman. Aku tidak akan segan-segan untuk menutup rumah sakit ini jika sekali lagi para perawat mu bekerja dengan tak baik". Ancam Yash kepada sang dokter.


Dokter Jordan pun menelan ludahnya dengan susah payah tak kala mendengar ancaman dari anak sahabatnya itu.


"Anak Jonathan ini benar-benar mengerikan. Persis seperti ayahnya". Batin Jordan dengan senyum simpulnya.


TOK TOK TOK


Suara ketukan pintu yang terdengar diketuk dari luar pun sukses membuat Yash, Dokter Jordan dan dua suster itu menengok kearah pintu.


"Masuk...". Ucap Yash dengan tegas.


Mendengar suara yang mereka kenal seseorang itu pun mulai membuka pimtu dan terlihatlah sang tangan kanan dari Jonathan. Darko tengah berdiri denga dua orang bodyguard yang membawa seorang wanita yang berada diantara dua bodguard itu.


"Saya sudah membawa seseorang yang anda minta tuan muda". Ucap Darko dengan nada sopan.


Yash pun merasa sangat senang dengan kinerja Darko. Sosok tangan kanan ayahnya itu sungguh luar biasa dalam menjalani tugas. Selalu cepat, apik dan rapih.


"Bawa dia kehadapan tuan muda". Ucap Darko dengan tegas kepada kedua bodguard itu.


Kedua bodyguard itu pun langsung mendorong sang wanita kedepan dengan tersungkur begitu keras menuju bawah kaki Yash.


"Ampuni aku tuan, ampuni aku". Ucap sang perempuan dengan gemetar dan takut.


Yash pun mulai mendekat dan berjongkok seraya mengangkat wajah wanita itu dengan kasar.


"Kau wanita yang bernama Sofiya itu ?". Tanya Yash memastikan.


Sang wanita pun hanya mengangguk dengan ekspresi takutnya.


"Kau tahu apa kesalahanmu ?". Tanya Yash lagi dengan tatapan tajamnya kearah sofiya yang sekali lagi mengangguk menjawab pertanyaan dari Yash.


"Katakan...". TUcap Yash dengan tegas seraya membuang muka sofiya yang sedari tadi ia jepit dengan kedua tangannta dengan kuat diantara kedua pipinya.


Sofiya pun hanya bisa menangis dengan rasa takut yang luar biasa pada batinnya. Karena ini baru pertama kalinya ia berurusan dengan orang-orang yang tidak bisa ia anggap remeh.


"Me..Memm...Hiksss hikss...Membuat adikmu celaka dengan menelantarkannya di ranjang pasien ta...Tanpa...Aaa..Aku merawatnya dengan baik". Ucap Sofiya dengan sedikit terbata dan terisak.


Yash berserta semua orang yang berada disana pun merasa bingung dengan kata-kata adik yang di bilang Sofiya itu. Adik siapa dan siapa mereke pun belum begitu paham.


"Apa yang kau maksud huh. Bicara yang benar Sofiya". Ucap Jordan merasa bingung.


"Di...Dddia itu adik tuan Yash kan". Ucap Sofiya.


Yash ,Jordan, Darko , dan kedua bodyguard itu pun langsung mengerti. Sepertinya disini ada kesalahan yang hampir saja fatal untuk Mira.


"Siapa yang menyuruh mu ?". Tanya Yash langsung kepada tujuannya.


Sofiya pun hanya menangis seraya menggeleng enggan untuk berkata yang sejujurnya mengingat jika ada nyawa yang harus ia selamatkan.


"Kau tidak mau menjawabnya. Apa ada yang mengancammu atau..". Ucapan Yash terpotong tak kala Sofiya berteriak dengan kencang di depan Yash.


"AKU TIDAK MAU SAMPAI IBUKU TIADA..!!!". Teriak Sofiya dengan histerisnya.


"Mereka akan menghentikan biaya pengobatan ibuku jika sampai aku membuka mulut. Kau...Tuan Yash yang terhormat aku lebih baik mati dibandingkan aku harus membuka mulut". Ucap Sofiya demgan tegas dan tanpa bantahan itu.


Yash pun akhirnya menyeret kasar Sofiya dan membawanya kehadapan Mira yang tengah terbaring lemah diatas ranjang pasien.


"Lihat baik-baik orang ini Sofiya LIHAT..!!!". Ucap Yash dengan lantang.


"DIA...Wanita ini...Wanita yang tengah terbaring ini bukanlah ADIKKU BODOH..". Ucap Yash memberi tahu sekaligus mengejek.


Ucapan Yash pun sukses membuat Sofiya membulat dan terkaget-kaget setengah tak percaya. Ia pun menggeleng dengan tak percaya ucapan Yash.


"Adik ku yang sesungguhnya ialah Raina Agatha dia bukan berada di ruangan ini. Kondisinya pun tidak lah keritis. Dan hanya kaki kanannya saja yang tidak diperbolehkan untuk berjalan". Jelas Yash kepada Sofiya.


"Sekali lagi aku bertanya pada mu. Siapa orang yang menyuruhmu". Ucap Yash dengan nada tegas.


Namun Sofiya tetap pada pendiriannya untuk tidak mengatakannya kepada siapapun termasuk Yash.


"Ingat baik-baik Sofiya. Kau hampir saja membuat seseorang yang sedang keritis itu kehilangan nyawanya. Dan jika sampai nyawanya tiada maka nyawa ibu mu pun juga ikut tiada Sofiya. Karena satu nyawa yang kau hilangkan akan membuat nyawa orang-orang yang kau sayangipun ikut menghilang".


Ucap Yash dengan tegas membuat Sofiya menggeleng tak terima atas ucapan dari Yash.


"Berapa biaya pengobatan dari ibumu itu. Aku sanggup untuk menggantikannya sekarang juga. Asal kau beri tahu aku siapa yang memyuruhmu". Ucap Yash seraya membuka aplikasi transfer uang dan menunjukan nominal angka yang ada dalam tabungan Yash.


Sofiya pun mulai memelototkan matanya saat melihat digit angka yang begitu banyak disana. Ia pun merasa bimbang sekarang.

__ADS_1


"Ibumu pasti akan sedih jika kau mengobati ibumu dengan cara kotor Sof. Pikirkan lah rasa kemanusiiaan yang ada didirimu. Dan pikirkan juga rasa sedih ibu mu, bagaimana ekspresinya dan kecewanya ia jika tahu putrinya berbuat demikian". Ucap dokter Jordan menasihati.


"Dia hidup hanya dengan dua orang kaka dan saru orang kaka ipar Sofiya. Kau masih beruntung sampai sebesar ini masih bisa merasakan kasih sayang dari ibumu. Meskipun hanya berdua setidaknya kau itu adalah orang yang paling beruntung di dunia". Ucap Yash dengan sedikit rasa nelangsa.


Sofiya pun mulai menangis menyadari kesalahannya atas tindakannya yang sangat amat bodoh.Ia pun terduduk dengan lemas di lantai ruangan rumah sakit dengn raut pucat pasinya.


"Saat itu ada satu orang wanita yang menghampiriku di bangku taman rumah sakit di malam hari. Ibuku dirawat di rumah sakit Lain jauh dari tempat ku bekerja di rumah sakit ini.". Ucap Sofiya memulai bercerita.


"Saat itu aku tengah kebingungan mencari uang untuk biaya pengobatan gagal ginjal ibu ku. Setiap minggunya harus cuci darah dan belum lagi biaya operasi ginjal ibu ku beserta pendonornya yang belum ada kecocokan. Dan tepat di malam itu seorang wanita menyuruh ku untuk menjalani tugas darinya. Melenyapkan seseorang yang berada di rumah sakit tempat ku bekerja di kamar melati kelas satu kamar nomor dua". Ucap Sofiya melanjutkan ceritanya.


"Aku...Tidak ada pilihan lain saat itu. Nyawa ibuku lebih penting. Aku pun mendengar seseorang itu berbicara di telfon dengan orang tuanya mengenai seseorang yang aku bunuh itu. Dia bilang jika anak haram itu harus segera ia singkirkan jauh-jauh seperti mendiang ibunya". Ucap Sofiya memberitahukan seseorang yang menyuruhnya.


"Wanita iblis itu..." Ucap Yash langsung tepat pada sasaran dengan geram dan marahnya.


"Apakah itu Nona Yasmin Tuan ?". Tanya Dokter Jordan setengah tak percaya.


"Siapa lagi memangnya". Ucap Yash singkat.


Jordan pun tak habis fikir tentang istri ketiga dari sahabatnya itu. Wanita itu benar-benar pembuat masalah bagi sahabat kecilnya Jonathan. Memang sedari kecil sifat Yasmine selalu seperti itu. Tak mau kalah dan egois.


"Lalu siapa yang menginformasikan keadaan Raina yang salah kepada ibu Yasmin. Siapa yang menukar informasi itu ?". Tanya Yash dengan janggal.


"Ekhem sebenarnya tuan pada saat saya mengikuti tuan besar dan nona Raina yang tengah memasuki ruangan nona Mira. Saya melihat Tio si tangan kanan dari nona besar tengah mengamaati tuan besar dari jauh. Mungkin pada saat itu Tio mengira jika itu ruangan nona Raina. Sebab Tio hanya melihat tuan besar yang memasuki ruangan. Dan saat hendak mengintip kedalam ruangan itu, saya mendekatinya dan menegur". Ucap Darko memberi penjelasan.


"Tio yang kaget saat itu hanya melihat sekilas Mira yang terbaring dan mungkin menganggap jika pasien itu nona Raina. Sebab saat itu ia menanyakan keadaan orang yang berada di dalam tanpa memastikan dulu siapa orang itu. Dan saya menjawab jika ia terkena luka tembak dan tengah keritis. Mungkin dari situ Kesalah fahaman informasi itu datang tuan muda". Ucap Darko.


Yash pun mulai berfikir jika perkataan Darko ada benarnya juga. Bisa saja kesalahan informasi itu terjadi berkat sibodoh Tio yang dungu itu.


"Urus wanita ini Darko. Bawa ia pergi dari hadapanku. Atur saja pengobatan ibunya dengan baik". Perintah Yash dan mulai duduk disamping ranjang tempat Mira berbaring.


"Baik tuan muda. Kami pamit undur diri" Ucap Darko seraya menunduk horkat dan berlalu pergi bersama Sofiya dan ,dua bodyguar.


Sementara dokter Jordan dan dua suster jaganya itu pun ikut pamit undur diri meninggalkan Yash yang tengah berdua di dalam ruangan bersama Mira.


Lama Yash terdiam di tempat memandangi seluruh tubuh Mira yang terbaring lemah. Ia pun mulai menggenggam perlahan tangan Mira dan merasa sedikit terkejut merasakan tangan dingin Mira. Yash pun akhirnya menggenggam. erat tangan Mira lalu meniupinya dengan nafas dalamnya. Menyalurkan hawa hangat pada tangan Mira.


"Jadi karena ini kau sampai mendatangi ku di dalam mimpi. Karena ini pula langkahku seolah ingin tertuju padamu. Karena keselamatanmu tengah terancam". Ucap Yash


"Terima kasih ya, sudah hadir untuk menyelamatka Raina adik ku. DIA pasti mengirimu karena kecemasan dari ibu Rianthi. Maaf karena takdirmu yang mengharuskan untuk menyelamatkan adikku membuat mu selalu diambang kematian". Ucap Yash lagi.


"Aku...Juga ingin mengembalikan kalung ini padamu. Ini milikmu dan hakmu. Kau pantas mendapatkannya". Ucap Yash lalu mengenakan kalung itu di leher Mira dengan penuh hati-hati.


Saat kedua ujung kalung menyatu dan berbunyi suara klik saat itu juga angin berhembus sangat lembut menyisakan Yash yang tengah terpaku pada waja Mira yang terpejam.


Dan tanpa Yash sadari tangan kanan Mira yang ia gengngam mulai bereaksi dengan sedikut gerakan-gerakan kecil.


Mira yang tengah terpejam pun merasa bahwa ada sesuatu yang mengharuskannya untuk membuka matanya dengan segera. Dan pada detik berikutnya mata Mira pun mulai terbuka dengan sempurna.


Yash yang tadinya terpaku pun berubah ekspresi menjadi tersenyum senang saat melihat Mira membuka mata indahnya dan melihat kearahnya.


"KAU...Sudah sadar". Ucap Yash masih tak percaya.


Mira pun memejamkan kembali matanya dan menghela lelah di balik tabung pernafasan yang ia kenakan. Ialu melepas tabung itu dan mulai berbicara.


"Ha...Us". Ucam Mira dengan nada lemah.


Yash lalu mencari botol mineral di samping nakas dan beruntung ia menumaknya lalu membukanya dengan tak sabaran dan mengambil sedotan yang telah di siapkan lalu meminumkannya kepada Mira.


Mira pun menerimanya dan meminumnya dengan rakus. Setelah menghabiskan setengah botol air mineral yang di berikan Yash Mira pun memberikan ucapan terima kasih melalui senyum lemahnya.


Yash lalu memencet tombol yang berada pada sisi ranjang guna memerintahkan suster jaga dan Dokter masuk memeriksa Mira.


Selang beberapa menit kemudian. Dua suster dan satu dokter pun datang keruangan Mira.


"Pasien sudah sadar ". Ucap Yash kepada Dokter Jordan.


"Biar saya periksa tuan". Ucap Dokter Jordan meminta izin.


Yash pun lalu menganggukkan kepalanya menandakan ia mengizinkan Mira untuk diperiksa.


Lalu dokter Jordan dan dua suster itu pun memeriksa Mira. Sementara Yash menunggu dengan cemas dengan mondar-mandir di tempat.


"Bagaimana paman dengan keadanya ?". Tanya Yash kepada dokter Jordan.


"Syukur lah tuan, pasien sudah melewati masa keritisnya dengan baik". Ucap Jordan memberi tahu.


Yash pun akhirnya bernafas lega dan sedikit tersenyum senang membuat Jordan merasa takjub dengan apa yang ia lihat. Terakhir yang jordan lihat senyum bahagia Yash terpancar saat ibu sambungnya masih hidup. Setelah ibu sambungnya meninggal senyuman dan keramahaan Yash menguap begitu saja menjadi kemurungan.


"Lalu mengapa ia terpejam kembali". Tanya Yash yang kembali merasa cemas.


"Itu wajar tuan. Dia baru saja melewati masa kritisnya. Sudah dipastikan ia juga merasa lelah dan butuh istirahat". Jelas Dokter Jordan kepada Yash.


Yash pun mengangguk paham dan mulai duduk kembali pada kursi samping tempat tidur Mira.


"Kalau begitu saya permisi tuan muda. Besok pagi sekali pukul tujuh ada suster yang akan membuka semua alat bantu Mira dan mengganti baju pasien serta merawat tubuh Mira agar segar kembali". Ucap Dokter Jordan memberi tahu. Dan Yash lagi-lagi menanggapinya dengan anggukan.


Setelah para dokter dan suster keluar ruangan Yash pun kembali memandangi wajah terlelap Mira yang begitu lain di mata Yash. Sampai ia pun merasa lelah dan tsrpejam di kursi itu dengan kepala yang menindih punggung tangan Mira yang tengah ia genggam.


Saat pagi menjelang pukul lima Yash pun mulai terbangun dengan rasa pegal di seluruh badan. Yash akhirnya mulai tersadar jika ia semalaman menunggui Mira dan tak sengaja tertidur di sana.


Ia pun melihat kegenggaman tangannya di tangan Mira dan tersenyum simpul saat melihatnya. Ia pun mulai membelai surai rambut Mira dengan lembut dan berucap.


"Pagi Miranda. Semoga kau terbangun dengan keadaan baik dan pulih dengan cepat". Ucap Yash mendoakan Mira dan mengaminkannya dalam hati.


Yash pun lalu pergi ke kamar mandi yang ada di ruangan Mira guna membasuh mukanya yang terasa berat. Setelah itu Yash pun keluar dengan wajah dan rambut segarnya. Ia pun mengeringkannya dengan handuk bersih yang ia temui di lemari kamar mandi rumah sakit. Setelah itu ia pun menaruhnya diatas kursi tunggu dekat ranjang pasien.


Ia pun mulai bersiap mengenakan jaketnya dan kembali kearah Mira guna melihatnya lebih dekat lalu pergi meninggalkan ruangan setelah mengetahui bahwa sudah pukul enam lewat. Ia pun pergi menuju kamar Beogenvile tempat adiknya dirawat..


Saat Yash membuka pintu ruangan terlihat Raina yang sudah terbangun tengah menikmati sarapan paginya ditemani denga ketiga adik lelakinya. Attalarick, Artaniel dan Jasson. Membuat Yash langsung mendesah tak suka. Sebab untuk yang peetama kalinya ia keduluan oleh ketiga adik lelakinya.


"Hai kak selamat pagi". Ucap mereka berempat secara berbarengan.


Yash pun hanya mengangguk dengan santainya lalu masuk dan duduk di kursi panjang seraya menyalakan televisi. Mengabaikan mereka berempat yang tengah memandang aneh sang kakak.


"Ada yang berbeda dari kak Yash". Batinn Raina berkata dengan raut anehnya.


"Tumben kak Yash hanya menanggapi para adik-adiknya dengan santai. Biasanya mukanya langsung tertekuk masam jika kami berada lebih dulu diruangan ini sebelum kak Yash datang". Batin Jasson.


"Apa ini ada kaitanya dengan wanita itu". Batin Artaniel merasa curiga.


"Pasti karena wanita itu yang membuat kak Yash sedikit berbeda. Yeah jika benar bagus lah. Setidaknya kakak ku akan jauh dari cinta yang menyimpang". Batin Attalarick merasa senang.


Sementara di ruangan milik Mira. Mira yang mulai terbangun perlahan membuka matanya dengan sayu. Ia pun menengok kekanan dan kekiri seolah tengah mencari sesuatu.


Sepi, hampa dan kosong. Itu lah yang Mira rasakan saat terbangun dari tidurnya.


"Kemana kak may, kak Roy, kak Marko dan....Tuan Yash...Benarkah yang semalam ia lihat itu tuan muda,Yash". Batin Mira merasa ragu.


Ia pun mulai meraba lehernya yang terasa ada sesuatu yang melingkar di sana. Dan setelah ia pastikan ternyata itu kalung miliknya yang sempat di rebut paksa oleh para pereman itu.


"Tapi mengapa tiba-tiba ada di sini ya. Apa mungkin yang semalam itu nyata". Ucap Mira dalam hati merasa galau.


Ia pun mulai mengingat dengan pasti beberapa kejadian yang ia alami bersama sang tuan muda. Dan Mira pun mulai tersenyum sendiri mengingatnya. Sampai datanglah tiga orang suster ke ruangan Mira.


"Selamat pagi nona Mira". Sapa ketiganya dengan ramah.


"Pagi sus". Jawab Mira dengan nada lemah.


"Selamat ya nona, anda berhasil melewati masa keritis dengan baik. Hari ini kami akan merawat nona dan mengurus nona dengan baik. Di mulau dari pencopotan semua alat bantu ini, lalu mengompres tubuh nona, Kemudian membersihkan rambut, mengganti baju pasien, Selimut dan bantal, mengganti perban dan yang terakhir memastikan nona memakan sarapan paginya serta meminum obat". Ucap salah satu suster.


Mira pun hanya tersenyum dan mengangguk lemah menanggapi perkataan para susternya. Dan mereka pun langsung menjalani tugas mereka setelah mendapatkan persetujuan dari Mira.


__ADS_1


( Aryasha Akhsen Leonard ). 😍😍😍😍


__ADS_2